
"Kaaaaa....uuu belum tii.. tiduuuur...." Suara Cahya terbata karena takut bercampur terkejut.
"Kau yang membuatku tidak bisa tidur, kau tahu kan bagaimana efek permen itu? Selama ini aku tidak memakannya saat aku tahu kau sedang hamil jadi aku tetap menyimpannya agar aku tidak membuatmu kesulitan karena efeknya tetapi rupanya kau justru memberikannya padaku dengan sukarela itu artinya kau sudah siap dengan konsekuensinya, kau sangat merindukanku ya? Karena beberapa hari ini kita tidak melakukannya, istriku yang cantik ini memang pandai sekali menggoda suaminya"
"Kau tidak boleh melakukannya, aku belum memaafkan kesalahan yang kau perbuat lagipula aku sedang hamil jadi jangan memaksakan"
"Benarkah demikian? Aku tahu caranya agar bayi kita tetap aman, aku ingin menghukum ibunya karena telah membuat susah ayahnya" Aditya melepaskan pegangannya kebahu Cahya dan dia turun dari atas tubuh Cahya lalu berpindah disampingnya.
Tangan Aditya mulai bergerak menelusup kedalam baju tidur Cahya dan menjelajah disana. Meremmas lembut buah dada istrinya lalu menyesapnya dan memainkan lidahnya disana. Aditya menurunkan tangannya, jemarinya menyibakkan baju tidur Cahya menelusuri pahanya dengan lembut, sampai kemudian menyentuh kewaniitaannya. Jemari Aditya memainkannya dengan lembut, tahu bahwa tempat itu sangatlah sensitif.
Cahya melingkarkan kedua tangannya dileher Aditya, dia meracau merasakan sensasi aneh yang menyengat di pusat kewaniitaannya ketika jemari Aditya bermain di sana. Aditya begitu ahli, mengetahui titiknya yang paling sensitif, lalu menggerakkan jemarinya memutar di sana membuat Cahya mengerang merasakan kenikmatan. Saat tubuh Cahya mulai menegang, Aditya menghentikan aksinya dan saat itu juga wajah Cahya terlihat kesal padanya.
Aditya melepaskan baju tidur Cahya dan melemparkannya ke lantai. Aditya mencium lagi bibir Cahya menjelajah seluruh isinya, kemudian melepaskannya. Aditya menciumi leher istrinya turun kebawah sampai lagi didadanya dan menelusurinya memberi hadiah kecupan lembut ke kedua putiingnya. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi perut istrinya, membuat Cahya merasakan sensasi panas menjalari perutnya lalu menuju kewanitaannya.
Lidah Aditya menelusup, menemukan titik paling sensitif di kewanitaann istrinya, dan memainkannya dengan ahli. Lidah Aditya sepanas bibirnya yang ******* dengan ahli, dengan penuh pemujaan.
Cahya terbaring di sana dengan mata berkabut, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada kewaniitaannya. Gerakan bibir dan lidah Aditya begitu ahlinya, membuat Cahya berkali-kali mengerang ketika suaminya dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik sensitifnya. Membuat Cahya seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian terindahnya. Cahya memejamkan matanya dan menekan kepala Aditya agar tidak berhenti melakukannya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melandanya dan menggetarkannya. Hendak membawanya ke suatu tempat yang luar biasa dan akan membuatnya melayang. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu. Tetapi kemudian, Aditya berhenti.
Lelaki itu menghentikan cumbuannya di area sensitifnya, membuat Cahya membuka matanya memprotes. "Please Adit jangan berhenti lagi..."
Adit mengangkat kepalanya dan memandang Cahya dengan senyumnya lalu mengangkat badannya dan menindih Cahya bertumpu dengan 2 sikunya lalu menggesekkan miliknya di kewaniitaan istrinya. Mengirimkan getaran listrik yang membuat tubuh Cahya semakin membara merasakan kenikmatan.
"Yupz Adit sayang, c'mon lets have fun together with me" Suara Cahya terdengar sangat sensual saat berbisik ditelinga Aditya.
Aditya terus membuat kegilaan mempermainkan Cahya dengan terus menggesekkan kejjantanannya dan tidak segera menenggelamkan dirinya pada Cahya. Seolah ingin menyiksa istrinya karena tadi menolaknya. Setelah dirasa cukup, Aditya melemparkan tubuhnya disisi Cahya dan berbaring disana, seketika wajah Cahya berubah kesal karena dia sudah berada hampir dipuncak kenikmatan tetapi justru Aditya tidak melanjutkannya.
"Apa yang kau lakukan kenapa berhenti lagi?" Teriak Cahya protes.
"Aku sangat mengantuk Ca, aku mau tidur, kau juga tidurlah sana" Aditya menarik selimutnya dan membelakangi Cahya lalu tertidur. Dia sengaja melakukannya untuk membalas istrinya yang sudha berani mengerjainya, walaupun dia merasa sangat nyeri karena hasratnya tidak tersalurkan tetapi dia cukup puas melihat kekesalan diwajah Cahya.
Cahya menatap punggung Aditya dengan kekecewaan. "Kau benar-benar sungguh menyebalkan Aditya, pembalasanmu menyakitkan sekali, kau sudah membuatku terbang tapi dengan mudahnya kau membuatku jatuh" Gerutunya dalam hati.
****
Keesokan harinya Cahya terbangung dan melihat Aditya masih tidur tetapi sudah berpakaian menandakan jika lelaki itu tadi sudah bangun dan kembali tidur lagi. Cahya bergegas ke kamar mandi sebelum dia kehabisan waktu subuh.
Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Cahya kembali ke tempat tidurnya dan berbaring menghadap kearah Aditya yang sedang pulas disampingnya. Lama dia memandangi suaminya dengan penuh cinta seraya menyesali perbuatan yang dilakukannya semalam. Cahya mengusap lembut wajah Aditya mengagumi semua yang ada dihadapannya. Aditya membuka matanya akibat usapan lembut diwajahnya dan terkejut melihat Cahya ada dihadapannya.
"Kamu ngapain pagi-pagi senyum-senyum sendiri, bikin kaget aja"
"Ih aku kan suka kalau liat kamu tidur, maafin aku ya atas kejadian semalam"
"Iya dimaafkan tapi jangan diulangi, aku juga minta maaf karena ga peka sebagai suami, aku janji ga bakal kayak gitu lagi sama wanita lain, aku mandi dulu" Aditay hendak bangkit dari tempat tidurnya tetapi Cahya menahannya dengan menaruh kepalanya didada Aditya.
"Tunggu dulu, aku masih ingin memelukmu, apa kau tidak ingin berolahraga pagi?"
"Kalau aku yang mengajakmu berolahraga pagi apa kau masih mau menolak?" Tangan Cahya bergerak menulusuri tubuh Aditya, dari dadanya turun ke perut dan sampailah diantara paha Aditya. Mengusap lembut diarea itu, bergerak naik turun membuat Aditya memejamkan matanya dan mendesah kecil.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, kau mau berolahraga pagi denganku atau tidak?" Cahya mengangkat kepalanya dan menatap Aditya menunggu jawabannya.
"Kau tidak perlu jawaban apapun dariku, karena kau pasti bisa merasakannya bahwa dia sudah semakin siap untukkmu"
Aditya melepaskan pakaian Cahya dan dengan lembut dia mengecup biibir Cahya dan mellumatnya lembut, mencicipinya dengan penuh perasaan, seakan bibir istrinya adalah buah yang sangat berharga yang harus disesap pelan-pelan agar semakin nikmat terasa. Ketika Aditya mengangkat bibirnya, napas mereka berpadu, terengah-engah.
Cahya melepaskan Tshirt yang dipakai Aditya dan juga berusaha menurunkan celana yang dipakainya. Mereka berdua sudah tidak memakai apapun dan saling berpelukan, menikmati rasa kulit masing-masing yang berpadu, panas bertemu dengan panas yang menggetarkan. Setiap sentuhan dan gesekan kulit mereka terasa begitu nikmat. Aditya yang keras dan Cahya yang lembut.
Cahya tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh bibir Aditya yang ada di atasnya dengan jemarinya, Aditya mengecup jemari itu. "Aku sangat mencintaimu suamiku" Bisiknya dalam napas yang mulai terengah. Aditya sudah menyentuhkan miliknya di area milik Cahya, menggeseknya dengan lembut dan menggoda di bagian luarnya, dengan sengaja menyentuh titik sensitif di luar area istrinya sehingga menimbulkan getaran yang membuat gelenyar panas mengaliri tubuh Cahya.
Wajah Aditya makin melembut mendengar pernyataan cinta Cahya, dia menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Cahya "Aku juga mencintaimu istriku sayang"
Akhirnya Aditya menenggelamkan dirinya membuat Cahya merasakan panas, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Cahya mengerang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Aditya. Dorongan itu membuat Aditya menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Cahya yang hangat dan basah.
Aditya memejamkan mata, menikmati panas dan basah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga. Cahya terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggairahkan. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, tubuh yang pasrah menerimanya, dan perempuan itu sedang mengandung anaknya.
Dengan hati-hari Aditya bergerak pelan, melakukan ritme bercintanya dengan hati-hati. "Apakah nikmat?" Aditya berbisik pelan, menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras, terlalu dalam.
Cahya menganggukkan kepalanya, "Yupz, f*ck me like this babe" Cahya juga mulai menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Aditya, membuat lelaki itu mengerang.
Aditya menggerakkan badannya makin intens, menggesek seluruh titik kenikmatan di dalam tubuh Cahya dan memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Cahya mencapai kepuasannya. Dan ketika Cahya melengkungkan punggungnya dan mengerang pelan, Aditya mengikutinya. Akhirnya mereka meledak bersama dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.
****
Aditya sudah selesai bersiap ke kantor, tetapi Cahya malah merasa mual dan muntah, membuatnya harus menemani istrinya dan memijat lehernya agar merasa lebih baik. Saat ini mereka sudah sangat terlambat untuk sarapan karena tadi mereka lupa waktu karena berciinta. Aditya keluar dari kamar mandi karena mendengar suara ketukan pintu, benar saja Mbak Tina memberitahunya jika dia dan Cahya sudah ditunggu oleh yang lainnya untuk sarapan.
"Kami akan turun dalam 2menit, karena Cahya masih dikamar mandi" Ucap Aditya.
****
Mereka berdua akhirnya turun, dan melihat sepertinya memang sangat terlambat karena sarapan yang ada dipiring orangtua dan adiknya tinggal setengah. "Ini sudah jam berapa kenapa kalian baru turun?" Tanya Mamanya.
"Mereka terlambat karena kakak tidak membiarkan Kak Cahya tidur semalam jadi terlambat bangun" Sahut Adri sambil tertawa.
"Adri diam kau..!! Tadi Cahya mual dan muntah-muntah Ma jadi aku menemaninya" Jawab Aditya.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga tidak akan seperti itu, oh iya Dit semalam Olivia menelepon Mama, dia bilang beberapa hari yang lalu dia datang kesini dan bertemu denganmu, kenapa kau tidak mengatakannya pada Mama kalau dia datang? Dan nanti sore dia bilang akan datang lagi, kau jangan pulang terlambat kita makan malam bersama"
Aditya tersedak mendengar ucapan Mamanya dan langsung mengambil minum. Dia lupa bercerita pada Mamanya karena setelah kedatangan Olivia dia jadi bertengkar dengan Cahya. Aditya menengok kearah Cahya yang juga menghentikan gerakan sendok dan garpunya juga kunyahannya setelah mendengar ucapan Mamanya lalu melirik tajam ke arahnya. "Haduh baru saja aku berbaikan dengan Cahya malah mama membahas Olivia, dan dia mau datang lagi, ya Allah pasti nanti Cahya marah lagi padaku" Gumam Aditya dalam hati.