SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 142



Mendengar suara tembakan, Rama yang berada diluar langsung berlari masuk ke dalam bangunan itu. Dia sangat berhati-hati sampai kemudian menemukan Aditya yang sedang terikat di kursi, bergegas dia pun membantu Aditya melepaskan itu.


Sementara itu Cahya berteriak histeris melihat Adri yang terbaring dihadapannya. Cahya meraih sebuah botol kaca kosong di atas meja dibelakangnya dan mengambil botol itu. Cahya melempar botol itu tepat mengenai kepala Cheryl dan botol itu langsung pecah disusul Cheryl yang langsung jatuh ke lantai, dia menjatuhkan pistolnya karena terkejut Cahya melempar kepalanya dengan botol.


Cheryl merasa sangat kesakitan dikepalanya tetapi dia mencoba bangkit. Cahya menggoyangkan badan Adri dan menangisinya karena adik iparnya itu tidak sadarkan diri. Cheryl yang sudah bangung langsung menghampiri Cahya yang duduk bersimpuh dilantai sambil menangis, Cheryl pun langsung menarik rambut Cahya dan menyeretnya dnegan penuh amarah.


"Berani-beraninya kau melemparkan botol ke arahku, dia sudah mati jadi kau tidak perlu menangisinya" Cheryl pun menyeret Cahya dnegan kasar membuat Cahya berteriak kesakitan.


Aditya dan Rama yang masuk pun terkejut melihat Cheryl menyeret Cahya dan Cahya terlihat meronta kesakitan. "Ram, panggil ambulance" ucap Aditya.


Saat itu juga tanpa pikir panjang Aditya langsung menendang Cheryl dengan sangat kuat hingga membuatnya terjatuh. Aditya sudah tidak memperdulikan Cheryl seorang wanita atau bukan, baginya ini sudah diluar batas. Cheryl pun tidak berdaya setelah ditendang Aditya beberapa kali.


Aditya membatu Cahya untuk berdiri lalu memeluknya.


"Adri.... Adri lakukan sesuatu padanya dia tidak mau membuka matanya sayang..." Gumam Cahya sambil terisak dan melihat ke arah Adri yang tidak bergerak sama sekali.


"Dri.... Adri..... Buka matamu Dri....." Teriak Aditya sambil terus menggerakkan badan Adri.


"Dit polisi sudah datang, aku juga sudah menghubungi Ambulance"


"Suruh mereka mengurus perempuan gila ini dan suruh juga mengamankan senpi miliknya"


Polisi datang dan Rama langsung menyuruh mereka untuk membawa Cheryl, dia juga mengatakan jika sudah memanghil ambulance untuk mengurus Adri. Cahya terus menangis dan berusaha membangunkan Adri, disisi lain Aditya merasa bingung melihat keadaan Adiknya dan Cahya juga terlihat sangat shock berat.


Terdengar suara ambulance sudah datang, para petugas medis itu langsung masuk. Dengan sigap mereka langsung mengurus Adri dan membawanya masuk ke ambulance. Cahya menyuruh Aditya untuk mendampingi Adri, dan dia akan mengukuti dibelakang bersama Rama.


*****


Ponsel Cahya sejak tadi berdering dan puluhan panggilan yang berasal dari mertua dan ibunya, dia tidak bisa menjawabnya, saat ini pasti mereka semua dalam keadaan khawatir. Cahya mengambil ponselnya dan menghubungi Mama mertuanya. Sambul terisak Cahya mengatakan bahwa Adri tertembak dan saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Saat Cahya menutup teleponnya tiba-tiba dia pingsan, Rama yang mengemudikan mobil mulai panik. Beruntungnya mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Rama keluar dari mobil dan berteriak ke Aditya yang baru turun dari ambulance mengatakan jika Cahya pingsan dimobil.


Aditya berlari ke mobil Adri dan benar saja Cahya pingsan, dia menyuruh Rama untuk memanggil perawat agar segera menangani Cahya. Setelah Cahya dibawa masuk untuk diperiksa, Rama menyuruh Aditya untuk mendampingi Adri.


"Adri sepertinya lebih membutuhkanmu Dit, dampingi dia, urusan Cahya untuk sementara biar aku saja sambil menunggu keluarga kalian datang, Cahya mungkin hanya shock dan tadi dia juga sudah berbicara dengan ibunya lewat telepon, jika ada sesuatu aku akan langsung memberitahumu"


"Oke thanks Ram, aku akan mengurus Adri lebih dulu, bawa sementara ponsel Adri mungkin kau memerlukannya, ada nomorku disana, aku pergi dulu" Aditya menepuk bahu Rama dan langsung pergi ke ruang operasi untuk menunggui Adri.


*****


Tadi setelah mendengar kabar dari ibunya bahwa Cahya diculik, Chika langsung menghentikan pekerjaannya dan meminta ijin kepada Danist untuk pulang. Danist menanyakan apa yang terjadi karena Chika terlihat cemas dan menangis, dan Chika menceritakannya saat itu ada Elea juga yangtidak kalah panik. Akhirnya Danist mengantar Chika, Elea juga ingin ikut karena khawatir kepada Cahya, dia mengesampingkan urusan pelariannya menghindari Ariel karena dia lebih cemas dengan Cahya. Kini mereka bertiga sudah dalam perjalanan untuk kembali.


Ponsel Chika berdering dan melihat nama ibunya disana, bergegas dia mengangkatnya. Elea menyuruh Chika untuk mengaktifkan loud speakernya agar dia bisa mendengar.


"Nak, apa kau sudah diperjalanan??" Tanya ibunya diujung telepon terdengar suaranya tertelan.


"Iya ibu, sebentar lagi kami akan sampai, bagaimana bu apa kak Cahya sudah pulang?"


Isakan ibunya semakin pilu, dan Chika mulai merasakan perasaan tidak enak. "Nak, kakakmu dalam keadaan baik-baik saja dan sekarang dlama perawatn dokter karena tadi dia pingsan, tetapi....." Ibu Chika semakin terisak dan menangis.


"Tetapi apa bu? Ayo katakan jangan membuat kami khawatir.."


"Apa???? Baik kami akan segera ke rumah sakit"


*****


Aditya berjalan mondar-mandir didepan ruang operasi, dia benar-benar merasa sangat frustasi memikirkan keadaan Adiknya dan Cahya. Tadi Rama mengatakan jika Cahya sempat siuman tetapi Cahya histeris dan terus menanyakan keadaan Adri. Aditya pun berpesan pada Rama agar memberitahu perawat untuk memanggil psikiater karena Cahya punya trauma buruk dengan penculikan dan sempat mengganggu kesehatan mentalnya.


Saat Aditya dirundung kegelisahan dan frustasi, akhirnya keluarganya datang. Mama, Papa dan ibu mertuanya, mereka terlihat sangat sedih. Mamanya langsung menangis sambil memeluk Aditya, kesedihannya sangat jelas mengingat Adri adalah putra kesayangannya. "Mama, tenanglah semua akan baik-baik saja" Aditya mengusap lembut punggung mamanya agar merasa tenang dan tidak panik.


"Adikmu, bagaimana dia sekarang Dit, mama tidak bisa melihat putra mama seperti ini"


"Sssssttttt..... Mama tenang ya, dokter sedang berusaha didalam, ayo duduklah"


Aditya menelepon Rama agar datang ke ruang operasi menemuinya. Setelah menelepon, Aditya menghampiri ibu mertuanya yang tak kalah sedih. Aditya menyuruh ibu mertuanya itu untuk mendampingi Cahya agar Cahya bisa merasa lebih baik, jika urusan Adri selesai dia akan menemui Cahya.


Beberapa saat kemudian Rama datang. "Maaf Ram, aku memanggilmu, tolong antar dan temani ibu mertuaku ini ke ruangan Cahya, agar istriku merasa lebih baik" Ucap Aditya.


"Baik Dit, mari bu" Rama pun berjalan bersama ibu Cahya dan meninggalkan ruang operasi.


****


Akhirnya Danist, Chika dan Elea sampai dirumah sakit. Elea menyuruh Danist dan Chika untuk masuk lebih dulu karena dia ingin ke toilet. Elea berpesan sebaiknya Danist dan Chika melihat kondisi Adri sednagkan dia nanti akan menemani Cahya, karena pasti saat ini Aditya sedang sibuk mengurus Adri. Chika serta Danist akhirnya masuk lebih dulu.


Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan menanyakan apakah ada yang memiliki golongan darah O negatif atau tidak, karena Adri telah kehilangan banyak darah dan butuh segera, sedangkan golongan darah tersebut saat ini stoknya dirumah sakit sedang kosong. Kepanikan sekali lagi mulai terjadi, karena dikeluarga Aditya tidak ada yang memiliki golongan darah itu, mengingat Adri bukanlah anak kandung dari orangtuanya.


Disaat kepanikan itu, datanglah Chika serta Danist.


"Kenapa kak?? Bagaimana keadaan Adri sekarang??" Tanya Chika.


"Dia sedang di operasi tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini golongan darah itu stoknya sedang habis" Ungkap Aditya sedih.


"Memangnya golongan darah apa? Aku akan membantu mencarinya" Ucap Danist.


"O negatif"


"O negatif? Golongan darahku O negatif, aku bisa mendonorkannya"


"Ahhh ya Tuhan syukurlah, thanks Dan" Aditya memeluk Danist dan mengucap terima kasih. Perawat pun akhirnya mengajak Danist untuk melakukan transfusi darah.


****


Setelah dari toilet, Elea pergi ke resepsionist untuk menanyakan keberadaan ruangan dimana Cahya dirawat. Disaat bersamaan Ariel datang ke rumah sakit itu karena mendengar kabar dari Randy bahwa Cahya diculik dan sekarang Aditya disana karena Adri dalam perawatan. Elea berjalan menuju lift, sedangkan kini giliran Ariel yang bertanya ke resepsionist dimana ruang operasi berada.


Elea menekan tombol lift dan menunggu lift itu terbuka. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan Elea langsung masuk. Setelah mendapat informasi itu, Ariel langsung berjalan menuju lift, dan melihat pintu lift hampir tertutup, dia pun berlari dan setengah berteriak.


"Tunggu.... Tolong tahan dulu...." Teriak Ariel sambil berlari menuju lift.