
Cahya membawa box berisi frame foto-fotonya bersama Aditya ke gudang dan menaruhnya disana. Cahya merasakan kram diperutnya, bergegas dia keluar dari gudang dan harus bisa menenangkan dirinya. Dia berjalan menuju kamar tamu untuk beristirahat karena sejak tadi dia tidak beristirahat sama sekali, tertidur sebentar saat dikantor Aditya pun dia merasa tidak nyaman. Perutnya terasa kram itu pasti karena dia terlalu emosional dan tegang, saat ini dia harus menenangkan dirinya agar tidak terjadi hal yang buruk terhadap bayinya.
Saat Cahya sedang berjalan menuju ke kamar tamu, Aditya mengejarnya dan menghalanginya. Aditya memegang bahu Cahya tetapi dengan sigap Cahya melepaskannya. "Please don't touch me Aditya, aku sedang tidak ingin diganggu saat ini, minggirlah jangan mengganggu jalanku dan jangan coba-coba kau berani mengganggu waktu istirahatku"
Cahya menatap tajam Aditya sehingga membuat lelaki itu menyerah dan tidak menghalangi jalannya. Cahya langsung pergi dan masuk ke kamar tamu, dan mengunci pintunya. Cahya langsung duduk ditempat tidur dan menyandarkan kepalanya, menarik napasnya dalam dalam dan membuangnya melalui mulutnya berharap dia merasa lebih tenang sambil terus mengelus perutnya berharap tidak terjadi apapun dengan janinnya.
"Kalian kuat ya sayang, maafkan sikap Mama hari ini, kalian harus baik baik saja oke?" Cahya terus mengelus perutnya berharap kram perutnya segera mereda.
****
Aditya tertunduk menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan Cahya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Cahya akan marah besar seperti ini, bahkan dia tidak bermaksud untuk melakukan itu dan berpikir jika semua ucapan Olivia hanyalah sebuah candaan agar bisa lebih dekat dengan Cahya dengan menceritakan masa kecil mereka. Tetapi ternyata justru membuat Cahya tidak senang mendengarnya.
Saat sore hari Cahya terbangun, setelah merasakan perutnya kram dia mencoba untuk memejamkan matanya agar merasa rilex dan tidak sadar dia tertidur. Dia merasa sudah lebih baik dan perutnya sudah tidak terasa kram lagi. Cahya keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi, dia tidak bisa untuk terus menghindari Aditya, jadi dia tetap harus ke kamarnya dan menyikapi semuanya dengan lebih bijak walaupun perasaannya masih sangat sakit.
Cahya membuka pintu kamarnya dan masuk, Aditya terperanjat dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya tetapi Cahya langsung mengangkat tangannya menghentikan suaminya memberi tanda agar tidak mengganggunya tetapi Cahya tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke kamar mandi.
Aditya merasa sangat frustasi tidak tahu harus berbuat apa, Cahya benar-benar tidak mau berbicara padanya bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. Aditya akhirnya memilih untuk keruang kerjanya memberi ruang Cahya agar bisa mengontrol emosinya dan berharap nanti malam mau berbicara dengannya.
****
Cahya turun kebawah karena Mbak Tina memanggilnya mengatakan jika mertuanya sedang menunggunya untuk makan malam. Benar saja ternyata semua orang menunggunya diruang makan termasuk Aditya juga ada disana. Cahya duduk disebelah Aditya dan menyapa Mama dan Papa mertuanya. "Mama dan Papa kapan kalian kembali?"
"Sayang, Mama dan Papa sudah kembali sejak sore, kau tidak keluar sama sekali dari kamarmu, tapi tidak apa-apa mungkin kau sedang beristirahat" Ucap Mama mertuanya.
"Maafkan aku Ma, tadi perutku terasa kram jadi aku memilih untuk beristirahat agar sakitnya tidak terlalu parah"
Mata semua orang langsung tertuju pada Cahya saat dia mengatakan perutnya kram, termasuk Aditya yang memandnag Cahya lalu menundukkan kepalanya merasa menyesal atas semua yang terjadi tadi siang. Dia bahkan tidak tahu jika Cahya mengalami kram diperutnya.
"Ya Tuhan, kenapa bisa kram? Pasti kau tadi kelelahan ya atau kau sedang memikirkan sesuatu? Dan Adit kenapa kau tidak bilang pada Mama jika perut istrimu sedang kram?"
"Aku tidak tahu Ma, Cahya tidak mengatakan apapun padaku"
"Kau harusnya mengerti, istrimu sedang hamil dia sangat butuh perhatian khusus dan jangan dibiarkan stres atau memikirkan hal yang berat, baru sehari Mama tinggal kau membiarkannya seperti itu bukankah kau seharian bersamanya dan tadi Tina bilang kalian kembali dari kantor sejak siang itu berarti kalian ada didalam rumah dan kenapa bisa Cahya merasakan perutnya kram dan kau tidak tahu"
"Sudah Ma, aku sudah tidak apa-apa kok, Mama tenang saja"
"Adit kau benar-benar keterlaluan, jika terjadi sesuatu lagi dengan menantu dan calon cucuku, Mama tidak akan memaafkanmu"
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Cahya langsung berpamitan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Aditya juga langsung menyusul Cahya dan akan meminta maaf karena telah membuat istrinya mengalami kram diperutnya. Saat sampai dikamar Cahya langsung masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya, sedangkan Aditya sudah menunggunya.
"Sayang, aku mohon maafkan aku, please??"
Cahya tetap diam dan menyingkirkan badan Aditya yang menghalangi jalannya. Cahya langsung naik ke tempat tidur menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Aditya mencoba menyentuh Cahya dan tetap berusaha agar istrinya mau memaafkannya tetapi Cahya tetap tidak memperdulikannya.
****
Pagi harinya, setelah mandi Aditya masuk ke ruang ganti dan terkejut karena tidak ada pakaian untuknya yang biasa disiapkan Cahya, istrinya masih tidak mau memaafkannya. Dengan langkah pelan Aditya akhirnya membuka lemari dan mengambil pakaiannya sendiri.
Aditya akhirnya turun untuk sarapan, hari ini ingin rasanya Aditya berada dirumah dan mencoba berbicara lagu dengan Cahya tetapi dia harus ke kantor karena belum melaporkan hasil rapatnya kemarin kepada staffnya karena kemarin siang dia tidak kembali ke kantor. Cahya duduk dan mengobrol dengan Mamanya dan tidak memperdulikan kedatangannya.
"Adit, Mama dan Papa berangkat siang ini agar bis amembantu Adri mengemasu barangnya, kau jaga Cahya baik-baik, dan ingat jaga istrimu dengan baik, besok kalian menyusul dan hati-hati dalam perjalanan"
"Iya Ma, kalian hati-hati" Jawab Aditya pelan.
"Cahya sayang, bagaimana dengan ibumu apa nanti dia akan menyusul kami?"
"Iya Ma, nanti ibu berangkat bersama Paman"
"Baiklah kami akan menunggunya, dan bagaimana dengan kondisi Bibimu?"
"Sudah membaik"
"Syukurlah, nanti saat pulang kita akan mampir untuk menjenguknya, Bibi dan Pamanmu itu sangat baik sekali dan juga ramah, sangat tidak baik jika kita tidak datang menjenguknya"
Mereka akhirnya sarapan, seperti semalam saat makan Malam, Aditya dan Cahya tidak banyak berbicara seperti biasanya. Membuat Nyonya Harry menaruh kecurigaan kepada anak dan menantunya yang sepertinya sedang tidak dalam keadaan yang baik. Tetapi dia mencoba untuk mengabaikannya berharap mereka berdua bisa menyelesaikan masalahnya jika memang ada yang terjadi kepada mereka berdua.
****
Keesokan harinya, suasana masih sama, Cahya masih tidak mau berbicara dengan Aditya, membuat Aditya semakin dirundung kesedihan dan penyesalan yang luar biasa. Setelah mandi Aditya keluar dan melihat Cahya sudah bersiap dan berdandan dengan cantiknya, Aditya tersenyum dan berjalan menuju ruang gantinya ternyata Cahya sudah menyiapkan kemeja yang senada dengan dressnya. Walaupun masih dalam keadaan marah, Cahya tetap ingin dia dan Aditya terlihat baik-baik saja didepan keluarganya.
Selama perjalanan keadaan masih sama, Cahya tetap diam dan tidak mau berbicara dengan Aditya walaupun sesekali Aditya mengajaknya mengobrol. Rasa frustasi Aditya semakin memuncak dan bingung harus bagaimana agar istrinya mau berbicara dan memaafkannya. Keadaan seperti ini sangat menyiksanya, Aditya yang terbiasa dengan sikap manja Cahya dan mereka selalu menghabiskan waktu untuk bercanda dan mengobrol berbagai hal saat ini justru hubungan mereka sedang memburuk. Bahkan saat Aditya mencoba memegang tangan Cahya dengan sigap Cahya langsung menghindarinya, saat ini Aditya hanya bisa pasrah dengan keadaannya.
Akhirnya mereka sampai digedung dimana Adri dan Chika melaksanakan Wisuda. Aditya keluar dari mobilnya dan berniat membukakan pintu mobil untuk Cahya tetapi ternyata Cahya sudah melakukannya sendiri,membuat Aditya lagi-lagi merasa tidak berdaya dengan semua penolakan istrinya.
Mereka berjalan mencari tempat untuk istirahat sambil menunggu acara selesai tetapi kemudian ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang. Saat dirasa pas, orang itu menyentuh pundak Cahya dari belakang seketika Cahya berhenti dan langsung menengok kebelakang dengan waspada. Tetapi kemudian pandangan Cahya mengarah ke orang itu dari bawah sampai ke atas dan akhirnya mereka saling bertatapan. Cahya langsung disambut dengan senyuman manis orang itu, melihat istrinya menghentikan langkahnya dan berbalik arah, Aditya juga langsung membalikkan badan menatap kearah seseorang yang kini sedang berhadapan dengan istrinya.