
Ariel datang ke kantor Aditya membahas urusan pekerjaan dan selain itu ada hal yang ingin dibicarakan oleh Aditya. Aditya ingin meminta bantuan Ariel untuk mencarikan tempat yang bisa digunakannya untuk berlibur bersama keluarganya dalam rangka merayakan ulang tahun Cahya. Sebuah villa atau cottage yang memiliki pemandangan lautan.
"Aku punya banyak tempat di Bali, kau tinggal bilang kau ingin dimana?" Ucap Ariel.
"Ah tidak Iel, kurasa itu terlalu jauh jika hanya untuk 2sampai 3hari saja, lagipula pasti butuh banyak persiapan karena melibatkan seluruh keluarga, mungkin nanti saja jika yang pergi hanya aku dan Cahya saja haha"
"Lalu kau menginginkan dimana?"
"Jangan jauh-jauh, aku yakin kau memiliki banyak tempat atau koneksi, aku ingin suasana yang private, Adri dan Chika nanti akan pulang, jadi kalau bisa tempat itu harus memiliki setidaknya 5 kamar"
Ariel tampak berpikir cukup lama. "Sepertinya ada Dit, diwilayah Jakarta Utara, ada pulau pribadi disana ada banyak private villa, dan aku kenal dengan pemiliknya, aku akan mencoba menghubunginya" Ariel mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, cukup lama dia berbicara lalu menutup teleponnya.
"Bagaimana?" Tanya Aditya.
"Bisa, dia akan mengirim detail villa itu nanti kau bisa melihatnya, atau jika kau ada waktu kita bisa bertemu dengannya hari ini"
"Hari ini aku ada janji makan siang dengan Cahya siang ini"
"Setelah pulang kantor saja, aku akan mengajaknya bertemu di restoran hotelku saja, kurasa dia bisa, bagaimana denganmu"
"Baiklah, kurasa memang lebih cocok jika langsung menemuinya"
Setelah pembahasan liburan yang akan dilakukannya, Aditya dan Ariel melanjutkan membahas pekerjaan dan kerjasama mereka. Hari sudah siang, dan sebentar lagi sudah jam makan siang, Aditya dan Ariel masih sibuk dengan obrolannya.
Ariel menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Aditya. "Apa ini?" Tanya Aditya penasaran.
"Kau bisa menggunakannya jika kau mau, bisa kau gunakan kapan saja, anggap saja itu hadiah dariku untukmu"
Aditya membuka bungkusan itu, dan membongkarnya, tatapan tajam Aditya ke Ariel sangat menakutkan. "Ah ya Tuhan ini lagi, aku bilang aku tidak akan memakannya, kau bawa saja" Ujar Aditya jengkel.
"Aku bilang ini hadiah, terima saja kau tidak akan rugi, dan berhentilah mengeluh, jika kau siap dengan reaksinya ku yakin kau akan bisa mengatur dirimu, wajar saja dulu kau tidak tahu bagaimana cara menanganinya, aku pergi dulu, mungkin Cahya sudah dalam perjalanan kemari, tapi ingat jangan kau gunakan itu saat dikantor hahaha" Ariel pergi meninggalkan ruangan Aditya sambil tertawa.
"Temanku memang sudah tidak waras"
Aditya mengambil permen itu dan ingin membuangnya ditempat sampah, tetapi mengurungkannya dan memasukkannya kedalam kantong jasnya yang tergantung.
****
Cahya memasuki lobi kantor Aditya, tidak sengaja dia bertemu dengan Ariel disana dan menyapanya. Setelah mengobrol sebentar Ariel berpamitan untuk segera pergi sedangkan Cahya langsung masuk lift menunu ruangan Aditya.
Cahya mengetuk pintu ruangan Aditya dan masuk, langsung mengajaknya untuk segera pergi, karena dia sudah sangat lapar. Dia mencoba menanyakan kemana Aditya akan membawanya pergi untuk makan siang tapi suaminya itu tetap tidak mau memberitahunya.
Setelah makan siang dengan Aditya, saat pulang nanti Cahya berencana untuk mampir ke Apotik, dia harus benar-benar memastikan dia sedang hamil atau tidak. Besok adalah saat yang tepat jika memang dia hamil, itu akan jadi hadiah yang diterimanya bertepatan dengan ulangtahunnya.
"Sayang, aku ada meeting dengan client jadi mungkin malam ini aku akan pulang terlambat, nanti kamu kalau udah ngantuk tidur aja, ga usah nungguin aku ya?"
"Memangnya kamu ga bisa pastiin akan selesai jam berapa??"
"Aaaaahhhh kamu membawaku kesini ternyata" Seru Cahya.
"Aku sudah bilang bahwa kau pasti akan menyukainya ternyata tebakanku benar"
"Makasih ya suamiku sayang, ayo cepat kita keluar, aku sudah tidak sabar untuk makan Ayam pop, perkedel, gulai kikil, dan juga rendang"
"Makan saja semua yang dihidangkan jangan khawatir aku yang akan membayarnya"
Mereka berdua pun tertawa lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan itu. Cahya sangat bersemangat saat makan begitu juga dengan Aditya bahkan lelaki itu sempat meminta untuk menambah nasi satu porsi lagi. Cahya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, Aditya seolah seperti lupa dengan pola hidupnya yang sehat.
"Kenapa tersenyum, abaikan saja untuk hari ini, biarkan aku menikmati ini semua" Ucap Aditya.
Setelah makan, Aditya mengemudikan mobilnya untuk kembali ke kantor. Supir Cahya juga sudah menunggu disana, tidak lupa Aditya mengingatkan agar istrinya segera pulang dan tidak pergi kemana-mana.
Dalam perjalanan pulang, Cahya meminta supirnya untuk berhenti di sebuah apotik dengan alasan akan membeli obat sakit kepala. Akhurnya mobil itu berhenti di sebuah apotik sesuai permintaan Cahya. Supirnya membukakan pintu untuknya dan mengikutinya dari belakang mengikuti arahan Aditya agar terus mengawasinya saat berada ditempat keramaian.
"Kau tunggu disini saja, aku hanya sebentar, lagipula kau masih bisa mengawasiku dari sini" Ucap Cahya.
Cahya masuk ke dalam apotik dan membeli beberapa alat tes kehamilan setelah itu keluar dan kembali ke mobilnya.
****
Sudah pukul 9 malam tetapi Aditya belum juga pulang, Cahya merasa sangat cemas walaupun tadi suaminyabsudah memberitahunya. Cahya mencoba beberapa kali menghubungi Aditya tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Sampai akhirnya dia tertidur disofa kamarnya.
Sebuah gedoran pintu terdengar sangat keras menbuat Cahya terbangun dengan perasaan kaget dan terkejut. Keadaan sedang gelap, pikirnya listrik sedang padam mungkin, dia mencoba mencari ponselnya diatas meja dan menemukannya lalu menyalakan flashnya. Terdengar suara Aditya dibalik pintu, Cahya bingung kenapa suaminya menggedor pintu begitu keras, apakah tadi saat mengetuk dia tidak mendengarnya sehingga kini Aditya merubah ketukannya menjadi gedoran. Cahya membuka pintu sedetik kemudian lampu diseluruh rumah menyala.
"Happy birthday........!!!!" Teriak semua orang.
Cahya sangat terkejut melihat Aditya membawa Cake,ada banyak orang terkasihnya dihadapannya, selain mertuanya ada juga ibunya, Elea, Ariel, Randy dan juga Chitra, bahkan Adri serta Chika juga ada.
Mata Cahya berkaca-kaca tidak menyangka dengan apa yang ada dihadapannya saat ini."Kalian semua ada disini?" Ucapnya pelan.
"Ayo Ca, ucapkan permintaanmu dan tiup lilinnya" Sela Elea.
Cahya pun menutup matanya seraya mengucapkan pengharapannya agar semua orang yang disayanginua bahagia. Lalu meniup lilin diatas Cake yang dibawa Aditya dan semua orang bertepuk tangan. Aditya menaruh Cake yang dibawa keatas meja yang sudah disiapkan dan menyuruh Cahya untuk memotong Cake itu.
Cahya memberikan potongan pertama pada Aditya dan menyuapkannya. "Happy birthday my wife, I believed that God created you for me to love and take care" Ucap Aditya mengecup bibir Cahya dan memeluknya.
"Thanks for everything my husband"
Semua orang menyalami dan memberikan ucapan selamat serta doa pada Cahya. Karena hari sudang sangat larut, Aditya menyuruh semua orang untuk beristirahat dikamar yang sudah disiapkan sebelumnya.
Aditya dan Cahya masuk ke kamar, dan sekali lagi Cahya mengucapkan terima kasih pada suaminya karena telah memberikan kejutan yang luar biasa dihari ulang tahunnya. "Berhentilah mengucapkan terima kasih itu sudah kewajibanku sebagai suami yang harus membuat bahagia istrinya, sekarang kau kembali beristirahat, aku akan mandi terlebih dulu"
"Baiklah kau mandi saja, akan aku siapkan pakaian tidurmu" Cahya lalu masuk ke ruang ganti, dan mengambil piyama untuk Aditya. Besok pagi dia harus memastikan apa benar dia sedang hamil saat ini atau tidak.