SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 384



Mama Elea datang ke rumah orangtua Aditya, membawa Asi untuk cucu mnya sekaligus ingin melihat kondisi dari Friddie. Cahya membuka pintu saat mendengar bel berbunyi, ya Cahya dan Aditya juga baru saja sampai kesini sebelum nanti kembali ke rumah sakit.


"Tante??? Kau ada disini? Mari masuk..." Cahya mempersilahkan Ibu dari sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah.


" Tante membawa Asi untuk Friddie, dimana dia Ca???"


"Friddie ada dibawah, Kyra dan Ky sedang mengajaknya bermain, aku akan memanggilnya, tapi ku rasa tante ikut saja denganku ke bawah, mari...!"


Cahya dan Mama Elea berdiri dan berjalan ke belakang untuk turun ke lantai satu dimana disana ada Friddie dan yang lainnya. "Bagaimana keadaan Danist sekarang tan? Apa ada perkembangan yang bagus??"


"Belum ada perkembangan apapun dia masih belum sadar Ca, tetapi tadi pagi dokter sudah mengijinkan Elea untuk masuk melihatnya tetapi hanya 5 menit saja" Jawab Mama Elea dengan sedih.


"Danist pasti akan segera sadar! Kita harus bersabar!"


Dan mereka berdua akhirnya sampai di ruang keluarga yang ada di lantai satu. Ada Aditya yang sedang mengobrol dengan Papanya, sementara Mama Aditya sedang menggendong Friddie dan Ky serta Kyra tengah bermain di depan bayi itu. Melihat kedatangan Mama Elea, Nyonya Harry langsung berdiri dan menghampirinya, memberikan Friddie karena tahu bahwa Mama Elea pasti sangat merindukan cucunya itu.


Mama Elea menanyakan keberadaan Gienka, karena dia tidak melihat cucu perempuanya itu ada disini. Cahya pun menjelaskan jika saat Gienka sedang bersama dengan Ariel. Dan mengenai keadaan Gienka pasca kejadian kemarin juga Cahya sampaikan kepada Mama Elea, tetapi dia meminta agar tidak terlalu khawatir karena Gienka sudah mendapat penanganan dari seorang psikolog anak.


Cahya dan Aditya harus segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Elea disana juga untuk memastikan secara langsung keadaan Danist. Selain itu Cahya juga sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Elea dan Mama Danist. Aditya meminta agar Mama Elea berada disini saja untuk sementara waktu supaya bisa memiliki teman mengobrol sambil menjaga Friddie, karena jika di rumah sendirian, Aditya takut hanya akan ada kekhawatiran yang dirasakan oleh Mama Elea. Untuk Gienka, dia nanti akan menghubungi Ariel agar bisa membawa Gienka kesini, dan akan menanyakan perkembangan anak itu pada Brianna.


★★★★★★


Tidak ada yang memperdulikan kesedihan dan permintaan maaf Ariel. Maysa pun mendekatinya dan mengajak Ariel agar segera bisa pergi dari tempat ini. Maysa masih bisa melihat dengan jelas kemarahan dari Elea dan Papanya, sementara Mama Danist juga pergi. Saat ini Ariel pasti membutuhkan ketenangan setelah mendapat penolakan dari keluarga Danist dan Elea. Dengan sopan Maysa mengucapkan permisi dan permintaan maaf karena kedatangan Ariel kesini justru membuat suasana menjadi tidak baik.


Maysa dan Ariel sampai di parkiran, sebelum masuk ke mobil, Maysa meminta kunci mobil Ariel karena dia yang akan mengemudikan mobil itu. Maysa tidak bisa membiarkan Ariel mengemudikan mobil dalam keadaan kacau seperti ini. Maysa membuka pintu untuk Ariel dan menyuruh lelaki itu duduk di kursi sebelah kemudi.


Saat Maysa masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Ariel menangis dan tangisan lelaki itu begitu memilukan. Ariel tampak begitu hancur dan ini pertama kalinya bagi Maysa melihat kesedihan dari seorang laki-laki.


"Lihatlah ... Betapa hina dan buruknya diriku selama ini hingga saat aku benar-benar menyesali semua perbuatanku tidak ada yang mau memaafkanku....!!! Kesalahanku sudah begitu banyak, aku telah menyakiti banyak orang, aku benar-benar pantas mendapatkan hukuman ini...!"


Tangis Ariel pecah, dan dia berucap dengan sesenggukkan. Maysa tidak tega melihat keadaan Ariel yang begitu buruk. Dia pun memeluknya dan menenangkannya. "Setidaknya kau sudah meminta maaf atas semua kesalahanmu, diterima atau tidak itu adalah hak masing-masing orang, mereka masih dilingkupi kesedihan dengan keadaan ini, dan pasti butuh waktu untuk bisa memaafkanmu, hanya saja kau tetap harus berusaha dengan keras membuktikan bahwa kau benar-benar menyesali perbuatanmu Iel..!"


"Aku benar-benar menyesal May, sungguh, aku sangat menyesal telah meragukan semua kebaikan Danist selama ini, menyesal telah sering menghinanya, dan aku ingin sekali bertemu dengannya dan meminta maaf kepadanya tetapi mereka tidak mengijinkanku melakukan itu, pupus sudah harapanku untuk menemui Danist, aku ingin sekali memeluknya, memanggilnya sebagai kakakku, tetapi lihatlah, semua kesalahnku selama ini seolah menjadi boomerang untuk diriku sendiri..! Dan aku akan hidup dalam penyesalan seumur hidupku...!"


"Kau bisa melakukannya nanti saat pak Danist sembuh, doakan dia agar segera pulih dan aku yakin dia pasti akan memaafkanmu, dia sangatlah baik, bumtinya dia sudah menyelamatkanmu artinya dia sangat menyayangimu, dan jangan sampai kau mengulangi semua perbuatan burukmu lagi, sekarang kita pulang...!" Maysa menyalakan mobil dan membawa Ariel pulang agar lelaki itu bisa menenangkan dirinya. Maysa tidak ingin menghakimi Ariel, manusia memang tidak pernah luput dari kesalahan dan dia yakin Ariel benar-benar menyesali perbuatannya.


★★★★★★


Brianna akhirnya kembali dari ruang dokter dengan senyumnya, setelah bujukan dan menceritakan tentang kondisi Gienka, dokter mengijinkan bocah itu untuk bisa bertemu dengan Danist. Walaupun dokter hanya memberi waktu 3 menit saja dan Gienka harus didampingi olehnya nanti, tetapi bagi Brianna itu tidak masalah, setidaknya Gienka akan merasa lebih baik karena keinginannya bisa terwujud. Tetapi selain itu, Brianna sendiri ingin sekali melihat Danist juga, sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya dulu.


"Loh... Kok sepi?? Ariel mana??? Gienka juga???" Brianna bertanya pada Elea.


"Dokter mengijinkan Gienka untuk bertemu dengan Danist tetapi aku harus bersamanya nanti, hanya diberi waktu 3 menit saja, tetapi aku berharap itu bisa membuat Gienka merasa lebih baik.."


"Amin...!! Aku akan memanggil Mama agar bisa membawa Gienka, dan kalian bisa masuk...!"


Brianna pun menganggukkan kepalanya, lalu Elea pergi untuk mencari keberadaan Mama mertuanya pasca kemarahannya pada Ariel dan dia juga sudah mengusirnya tadi.


Beberapa menit kemudian Elea kembali bersama dengan Mama Danist, dan Gienka masih tertidur di gendongannya. Brianna pun menyarankan agar menunggu Gienka bangun saja, tidak baik jika membangunkan anak itu yang tidurnya begitu lelap daripada nanti jika dipaksa bangun Gienka malah akan menangis.


Brianna duduk di samping Elea dan mengobrolkan tentang kondisi Gienka. Sementara Mama Danist memilih untuk mendengarkannya saja. Masih ada perasaan kecewa dihatinya pada Brianna, tentang bagaimana dulu Brianna telah meninggalkan luka begitu dalam pada Danist, membuat putranya itu mengalami kesedihan yang begitu mendalam saat ditinggalkan oleh Brianna. Danist bahkan tidak mau menjalin hubungan dengan perempuan lain pasca berpisah dengan Brianna hingga akhirnya Danist bertemu dengan Elea. Kehadiran Elea membuka kembali lembar kebahagiaan yang selama ini sudah ditutup rapat oleh Danist. Saat dulu Danist bercerita tentang Elea kepadanya dan dia bisa merasakan kebahagiaan putranya itu. Dan fakta tentang masalalu Elea membuatnya sempat ragu, tetapi melihat kebahagiaan Danist lagi setelah sekian lama membuatnya akhirnya memberikan restu. Pernikahan Danist dan Elea selama ini begitu harmonis semakin membuatnya yakin bahwa putranya itu benar-benar bahagia. Brianna hanya bagian masalalu Danist, dan mungkin saat ini Brianna juga sudah berbahagia dengan kehidupannya sendiri.


Tubuh Gienka perlahan mulai bergerak, bocah itu membuka matanya. Dia tampak melirik ke berbagai arah, kemudian dengan suara pelan dia memanggil Elea. "Mama...!" Gumamnya.


Elea yang sedang mengobrol dengan Brianna menoleh dan tersenyum. "Kau sudah bangun????"


Gienka perlahan turun dari pangkuan neneknya dan mendekati Elea, kemudian memeluknya. Elea membalas pelukan putrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Gienka dengan polosnya menengok ke segala arah terlihat sedang mencari sesuatu.


"Papa Yel mana??? Dia bilang akan membawaku beltemu papa Dan...!"


"Papa Iel mu sudah pulang, tetapi Gienka akan bertemu Papa Dan sekarang sesuai janji Papa Iel padamu..!" Sahut Brianna.


Brianna membungkukkan badannya dan menatap Gienka dengan senyum manisnya. "Tante akan membawa Gienka yang cantik ini bertemu dengan papa Dan, tetapi Gienka tidak boleh berisik ya saat nanti ada di dekat Papa Dan, karena dia sedang tidur, terus Gienka juga harus memakai rompi khusus, ingat ya tidak boleh berisik dan mengganggu Papa Dan... Promise???" Brianna mengangkat jari kelingkingnya di depan Gienka untuk mengikat janji bersama bocah itu.


"Plomise...!" Jawab Gienka dan membalas acungan jari kelingking Brianna.


"Oke...! Sekarang Gienka ikut tante dan kita akan menemui papa Dan di dalam....!"


Brianna kemudian berdiri dan menggandeng tangan Gienka, membawa anak itu masuk ke ruang ICU. Brianna memakaikan baju khusus berwarna hijau itu pada Gienka, baju itu besar sekali karena memang bukan untuk anak kecil tetapi Gienka harus tetap memakainya. Perlahan mereka berdua masuk, detik itu juga Gienka berlari mendekat ke ranjang perawatan Danist, bicah kecil itu langsung memengan punggung tangan Danist dan menciumnya. Sementara Brianna tidak bisa lagi membendung airmatanya saat melihat Danist yang sedang terbaring dengan berbagai alat penunjang hidupnya yang tertempel di tubuh dan mulut Danist.


Ini pertemuan pertama kalinya Brianna dengan Danist setelah bertahun-tahun. Danist lelaki yang masih sangat dia cintai sampai detik ini, dan perasaan itu tidak pernah berubah sama sekali. Dia dulu meninggalkan Danist tanpa mengatakan apapun kepada lelaki itu, dan pergi begitu saja tanpa memberi kabar. Brianna begitu marah besar ketika Danist menolak permintaannya, padahal menurutnya itu adalah satu-satunya cara untuk bisa mempertahankan hubungan mereka, tetapi Danist tetap menolaknya, hingga membuatnya terpaksa meninggalkan Danist. Berharap dengan meninggalkan Danist tanpa memberinya kabar, lelaki itu akan mencarinya dan mau memenuhi keinginannya, tetapi justru Danist tidak melakukan itu. Danist tetap pada pendiriannya dan tidak mencarinya padahal dia sangat berharap banyak pada Danist, agar mereka bisa bersama.


Hingga suatu ketika kedua orangtua Brianna mengajaknya pindah ke luar pulau karena dia selalu menolak lamaran dari laki-laki yang dirasa oleh mereka sangat cocok untuknya dibandingkan dengan Danist yang hanya lelaki biasa dan tidak memiliki apapun untuk bisa dibanggakan. Brianna terpaksa menuruti kemauan orangtuanya untuk mengajaknya pindah, tetapi dia tetap dengan pendiriannya bahwa dia tidak akan pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun karena dia percaya bahwa Danist akan kembali kepadanya suatu saat nanti. Keyakinan itulah yang yang masih dipegangnya hingga saat ini. Sayangnya kepergiannya meninggalkan Danist begitu saja pasti sudah menghancurkan hati lelaki itu, karena setelah pindah dia mengganti nomor ponselnya karena kesal Danist tidak kunjung menghubunginya. Dan dia memilih untuk tetap menunggu Danist dengan caranya sendiri, walau itu terdengar konyol karena dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu dan menghilang begitu saja tetapi dia tidak pernah berhenti berharap bisa kembali pada Danist entah dengan cara apa itu terjadi. Tetapi kenyataannya saat ini adalah Danist sudah memiliki keluarga, istri Danist juga begitu cantik.


Brianna sangat merindukan Danist selama ini, menutup hatinya untuk siapapun dan hanya ada nama Danist disana. Danist masih sama seperti dulu, wajah tampannya itu selalu tampak menenangkan untuk dilihat. Brianna tidak bisa begitu saja melupakan semua tentang Danist, lelaki itu sangat baik, lembut dan selalu membuatnya tertawa.


"Papa Dan....! Kalau nanti Papa sudah bangun, belikan aku es klim, ayo belenang belsama adik juga, Gie sangat kangen Papa Dan, cepat pulang ya? I love you papa Dan...!" Gumam Gienka yang kemudian membuat Brianna tersadar dari lamunannya.


Brianna mendekati Gienka dan Danist, dia berdiri di sisi kanan ranjang, dimana Gienka ada disebalh kiri.Brianna terdiam memandang lelaki yang sangat dicintainya itu saat ini terbaring tidak berdaya. Wajah itu tidak berubah, dan Danist sekarang terlihat lebih tampan. Tidak bisa menahan kebahagiaannya bertemu dengan Danist, Brianna membungkukkan badannya dan mencium kening Danist. "Aku sangat merindukanmu, lekas pulih ya Dan....!" Gumam Brianna diselingi airmatanya yang menetes, kemudian Brianna memegang tangan Danist dan kembali mencium punggung tangan lelaki itu dan perlahan membaliknya lalu mengusapkan telapak tangan Danist ke pipinya.


Dan kejadian itu tentu saja di saksikan oleh Gienka. Bocah itu diam saja melihat apa yang dilakukan oleh Brianna pada Papanya.