
Sinar matahari mulai mengintip, menandakan pagi sudah tiba. Cahya membuka matanya ternyata Aditya tidak ada disampingnya, dia mencari keberadaan suaminya itu di kolam tetapi tidak menemukannya.
Cahya berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya, Aditya menyahutnya dari dalam. Pintu kamar mandi terbuka dari dalam dan Aditya langsung menyeretnya masuk ke dalam.
" Kita mandi bersama, sebelum meninggalkan tempat ini" Bisik Aditya dan langsung membuka pakaian tidur istrinya.
Mereka berdua saling berpelukan sambil berciuman dibawah shower yang menyala. Aditya menggesekkann tubuhnya pada tubuh Cahya, setelah merasa cukup dia menggedong istrinha itu menyuruhnya untuk melingkarkan kakinya di perutnya setelah itu Aditya menyatukan tubuh mereka. Mereka menghela napas pendek. Sekali lagi Aditya melakukan hal baru pada Cahya.
Aditya bergerak mengatur ritmenya, tidak memperdulikan berat Cahya yang digendongnya. Bergerak pelan kemudian sedikit dipercepat dan semakin cepat, mereka berdua terbuaii dengan permainannya hingga akhirnya mencapai puncaknya, dan mengerang bersamaan.
Selesai mandi mereka bersiap-siap untuk pulang dan juga akan membeli oleh-oleh. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara.
******
Akhirnya Cahya dan Aditya sampai juga, dan supir sudah menunggu mereka. Perjalanan selama lebih dari 12 jam membuat Cahya sangat lelah dan tertidur dipundak Aditya, sesampainya dirumah Aditya menggendong Cahya yang masih terlelap masuk ke kamar, dan menyuruh supirnya untuk membawa masuk koper mereka.
Keesokan harinya Cahya terbangun dan Aditya masih terlelap disampingnya, lalu ia mencium kening suaminya dan turun dari ranjang untuk ke kamar mandi.
Setelah bersih-bersih badan, Cahya melihat Aditya masih tertidur dengan lelapnya, tidak ingin mengganggunya, Cahya membiarkannya dan menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan.
" Cahya sayang, semalam kalian sampai rumah jam berapa? maaf Mama dan Papa sudah tidur dan tidak menyambut kalian" Nyonya Harry datang menghampiri Cahya yang sednag menyiapkan piring diatas meja makan.
" Aku juga tidak tahu Ma tepatnya jam berapa, diperjalanan menuju rumah aku tertidur, sepertinya Aditya yang membawaku ke kamar, dan saat ini dia masih terlelap, aku tidak ingin mengganggu tidurnya"
" Syukurlah kalian pulang dengan selamat, bagaimana liburan kalian? Apa kalian menyukai tempat itu??"
" Tentu saja Mama, kami berdua sangat menikmatinya, bahkan Aditya sepertinya tidak ingin buru-buru pulang hehe tapi pekerjaan sedang menunggu kami disini, apa mau dikata, sekali lagi makasih ya Ma dan juga Papa sudah memberi kita hadiah yang luar biasa" Ucap Cahya sambil tersenyum bahagia
" Sama-sama sayang, Mama bahagia sekali jika kalian menyukai tempat pilihan Mama dan Papa, semoga dengan ini kalian bisa lebih dekat lagi dan bilang kepada suamimu untuk sering mengajakmu liburan"
" Iya mama, dia sudah berjanji padaku. Sarapan sudah siap ayo kita sarapan, itu papa juga sudah kesini".
***
Hari sudah menjelang siang tetapi sepertinya Aditya masih tertidur, jadi Cahya menghabiskan harinya dengan ibu mertuanya di halaman belakang sambil menikmati teh. Mereka mengobrol banyak hal dan sesekali tertawa. Mbak Tina memanggil Cahya mengatakan jika Aditya sedang mencarinya, bergegas Cahya menyusulnya dikamar, ternyata suaminya sudah bangun dan segar setelah mandi.
" Kau sudah bangun?? Apa kau lapar? aku akan menyiapkan makan untukmu"
" Kenapa tidak membangunkanku, ini sudah sangat siang" Aditya merasa sedikit jengkel karena selama ini dia tidak pernah bangun sesiang ini.
" Memang kenapa kalau aku ga bangunin kamu, tidurmu sangat lelap aku tidak ingin mengganggumu, lagipula kamu besok baru ke kantor, sudah jangan marah, oh iya tadi pagi Ariel menghubungimu dia memintamu untuk datang jam 1" Cahya memeluk Aditya agar suaminya itu tidak marah padanya, dan sepertinya berhasil karena Aditya membalas pelukannya.
***
Aditya mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah Randy, karena orang itu sudah dibawa kesana.
Akhirnya dia sampai dirumah Randy dan segera menemuinya.
" Dimana sekarang dia Ran" Tanya Aditya.
" Dia udah gue ikat dan sekarang ada dibelakang, Ariel juga ada disana, ayo Dit"
Aditya mengikuti kemana Randy pergi, dan sampailah akhirnya, saat melihat wajah lelaki itu Aditya merasa seperti pernah melihatnya tetapi dia mencoba mengingatnya. Aditya ingat saat itu dia akan mengantar Cahya pulang dan laki-laki ini yang menyebrang sembarangan dan hampir saja Aditya menabraknya.
" Dit!!! Kok Lo malah bengong?" Suara Ariel membuyarkan lamunan Aditya.
" Eh iya iel, gimana-gimana, apa saja yang sudah dilakukan bajingan ini"
" Dia ternyata sudah mengawasi rumah ibu mertuamu sejak lama, bahkan sebelum pernikahanmu dengan Cahya, dia mencari semua informasi tentang Cahya, adik serta ibunya, bahkan setiap menjalankan tugasnya dia selalu mengambil foto mereka, bahkan pertama kali dia mulai mengikuti Cahya adalah saat Cahya pulang kerja menaiki Busway dan sejak hari itu dia mulai memantau kegiatan keluarga istrimu Dit" Ujar Randy menjelaskan, kemudian Ariel melapaskan ikatan pria itu dikursi dan menariknya menyuruh untuk berdiri.
" Dan dia sengaja memancing Beno supaya pergi dan meninggalkan tugasnya mengawasi rumah Cahya, karena dia tau bahwa Beno kau tugaskan untuk mengawasi dan menjaga ibu mertuamu, setelah Beno pergi mengantar perempuan itu, dia mulai melancarkan aksinya, menyiram bensin disekeliling rumah istrimu, kemudian masuk melalui pintu belakang untuk mencari ibu mertuamu dan kebetulan ibumu terbangun karena mendengar suara dari pintu belakang dengan cepat dia membius ibu mertuamu lalu keluar dan membakar rumahnya, dan si bodooh ini membuang jerigen di belakang rumah Cahya yang dia gunakan untuk mengisi bensin" Ariel menambahi penjelasan Randi
Mendengar penjelasan Randy dan Ariel, wajah Aditya langsung berubah penuh amarah dan menghampiri lelaki itu lalu Aditya menarik kerah jaketnya dan langsung mendaratkan kepalan tangannya ke wajah lelaki itu, membuatnya langsung tersungkur. Tanpa menunggu waktu lama Aditya menghajar pria itu tanpa ampun. Pukulan serta tendangan mewarnai aksi kemarahan Aditya pada laki-laki itu sampai babak belur, dan Ariel serta Randy hanya tersenyum meringis melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu.
" Berengseek!! Jadi saat aku hampir menabrakmu dijalan itu kau sudah melancarkan aksimu mengawasi keluarga istriku, menyesalnya aku kenapa saat itu kau tidak mari saja kutabrak, dan Apa salah istriku dan keluarganya sehingga kau mau menghabisi ibu mertuaku!! Kenapa kau melakukannya???" Aditya berteriak tepat diwajah laki-laki itu dan satu lagi tonjokann didaratkan Aditya diwajahnya.
" Ada yang membayarnya Dit, tetapi sejak kemarin aku bertanya dia tidak mau menjawabnya" Sela Randy ditengah aksi Aditya mendaratkan puluhan pukulan pada lelaki itu.
" Brenseek!!!! Katakan siapa yang menyuruhmu, siapa!!!! katakan cepat!!!"
Aditya benar-benar seperti orang yang kesurupan dan tidak memiliki akal, dia terus menghajar lelaki itu ditambah lelaki itu tidak mau menjawab pertanyaan siapa yang telah menyuruhnya. Karena tetap membisu Aditya memberi kode kepada Ariel dan Randy untuk membantu mencari jawaban dari lelaki itu.
" Adit!! Dia punya seorang anak dan istrinya sekarang sedang hamil, apa aku perlu turun tangan untuk memberi mereka pelajaran??" Teriak Randy yang seketika membuat lelaki itu merasa ketakutan. Hingga akhirnya lelaki itu mengatakan bahwa Cyntia lah yang membayarnya untuk melakukan itu.
Mendengar ucapan pria itu, Aditya mendaratkan satu pukulan keras tepat dihidung lelaki itu, seketika dia langsung jatuh terbaring dan penuh dengan luka babak belur dihajar Aditya.
" Oke, aku minta kau urus pria ini, jangan biarkan dia lolos terlebih dulu, dan aku akan mengurus Cyntia, besok akan aku kabari kalian, Thanks bro, kalian sudah membantuku sejauh ini"
Aditya lalu pergi meninggalkan rumah Randy. Hari ini dia sangat marah dan jika dia terus memukulii lelaki itu pasti sudah meninggal dihadapannya. Aditya memasuki mobilnya, menjalankannya dengan kecepatan tinggi.