
"Dia sangat mirip denganmu El" Ujar Chitra.
"Tentu saja mirip denganku, selama 9 bulan aku membawanya kemana-mana"
"Namanya sangat cantik, apa kau sudah mempersiapkan namanya sejak lama?"
"Aku menyiapkannya baru-baru ini" Jawab Elea sambil tersenyum.
Elea memilih nama itu karena memiliki arti yang sangat bagus dan baginya nama adalah sebuah doa yang nantinya bisa membawa kebaikan untuk putrinya. Serta menyelipkan nama Fransisca, dia ambil dari nama kakek sang bayi yang juga nama akhir Elea sendiri.
Kebahagiaan sangat dirasakan oleh Elea, melihat kehadiran bayinya membuatnya tidak berhenti bersyukur. Semua proses panjang yang dilewatinya selama ini akhirnya sudah selesai dan dia akan memulai lagi kehidupan yang baru dengan kehadiran Gienka. Dia akan melupakan semua hal buruk yang sudah dialaminya selama ini, kesedihannya telah digantikan oleh kehadiran buah hatinya yang selama ini selalu menjadi penguat dirinya.
Cahya dan Aditya berpamitan untuk pulang lebih dulu, karena mereka meninggalkan bayinya dirumah cukup lama dan karena kedua bayi itu hanya meminum Asi membuat Cahya tidak bisa lama-lama meninggalkan mereka. Dan berjanji akan kembali lagi esok hari.
*****
"Apa kita perlu menghubungi Ariel tentang hal ini??" Tanya Aditya pada Cahya. Kini mereka berdua dlam perjalanan pulang.
"Tidak perlu, biarkan dia mengetahuinya sendiri, kita jangan ganggu kebahagiaan Elea saat ini dengan kemunculan Ariel, pasti kehadirannya nanti akan sangat merusak suasana" Gumam Cahya.
Aditya merasa memang sepertinya suasana seperti ini tidak dirusak dengan kehadiran Ariel. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ariel ada dirumah sakit, entah sahabtnya itu akan membat kekacauan lagi atau tidak tetapi yang pasti mood Elea akan menjadi buruk karenanya.
"Baiklah, sepertinya memang suasana seperti ini tidak boleh dibiarkan rusak begitu saja. Sayang? Proses melahirkan Elea cukup singkat ya? Hanya beberapa jam saja berbeda denganmu, aku hampir gila saat itu melihatmu kesakitan hampir 24 jam"
Cahya menoleh ke arah Aditya yang sedang mengemudi. "Setiap perempuan memiliki kondisi yang berbeda-beda, terkadang itu juga dioengaruhi oleh posisi bayinya dan lain sebagainya, mungkin juga aku dulu terjadi karena aku hamil bayi kembar jadi ya prosesnya agak sedikit lama tapi itu juga tidak bisa dipakai sebagai acuan juga sih, ada juga ibu hamil seorang bayi tapi proses melahirkannya lama, mungkin ini rejeki Elea, Tuhan tahu dia sudah merasakan banyak penderitaan selama ini jadi dimudahkanlah dia dalam melahirkan"
"Kau benar, itu moment paling menguras emosiku, akibat perbuatanku istriku sampai merasakan sakit selama proses itu, jika aku pikir-pikir kurasa kita sudah cukup memilki Kyros dan Kyra, aku tidak ingin menambah lagi"
"Apa???" Cahya dibuat terkejut oleh ucapan Aditya. "Kau yakin dengan ucapanmu?"
"Ya, bahkan sebenarnya aku berniat untuk melakuan vasektomi, bagimana menurutmu?'
Saat itu juga Cahya menolak dengan tegas rencana suaminya itu. Karena ini masih terlalu dini untuk mengambil keputusan sebesar itu, mereka masih memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal semacam itu. Cahya pun meminta agar suaminya itu tidak terlalu buru-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi sesaatnya.
Dan sampailah mereka dirumah, Cahya langsung mencari ibu dan Mama mertuanya karena tadi menitipkan kedua bayinya pada mereka. Saat meninggalkan Kyra dan Kyros, mereka dalam keadaan sedang tertidur, dan dia juga sempat memompa Asi nya agar saat bangun kedua bayinya itu tidak kelaparan.
Saat masuk ke kamar, rupanya kedua bayi itu sudah bangun dan sedang bermain dengan kedua neneknya. Cahya langsung menanyakan apakah selama dia tinggal kedua bayinya itu rewel tetapi ibunya bilang kedua bayi itu tidak rewel sama sekali.
"Bagaimana keadaan Elea dan bayinya Ca?" Tanya ibunya.
"Mereka berdua sehat, bayi Elea juga sangat cantik"
"Syukurlah... Besok kita harus datang menengok Elea" Ujar Mama Aditya.
Keesokan harinya, Ariel datang ke kantor perkebunan untuk menemui Elea. Sampailah dia disana, turunlah dia dari mobilnya dan menghampiri security berdalih menanyakan keberadaan Danist. Tetapi kemudian dia mendapat fakta bahwa ternyata Danist hari ini tidak datang ke kantor karena berada dirumah sakit.
"Dia sedang sakit??" Tanya Ariel.
"Oh bukan pak Danist yang sakit, tetapi bu Elea bagian administrasi, beliau melahirkan kemarin"
"Elea melahirkan??? Di rumah sakit mana dia sekarang?"
Security itupun memberitahu Ariel dirumah sakit mana Elea dirawat. Dia pun bergegas pergi kesana dengan terburu-buru. Kabar ini sangat mengejutkannya, ternyata anaknya sudah lahir, dan dia sangat menyesal karena baru mengetahuinya sekarang.
Akhirnya Ariel sampai dirumah sakit tersebut dan langsung menanyakan dimana ruangan Elea dirawat. Dengan langkah cepat Ariel mulai mencari ruangan itu sampai kemudian dia melihat ada Danist yang sedang berbicara dengan seseorang via telepon. Ariel langsung mengambil kesimpulan jika Elea sedang ada diruangan itu. Tanpa permisi dia langsung saja masuk ke ruangan itu.
Ariel melihat Elea sedang duduk diatas ranjang sambil menggendong seorang bayi dan disebelahnya ada Mamanya. Melihat kedatangan Ariel, Elea pun sangat terkejut. Lelaki itu melangkah pelan sambil tersenyum kearah Elea dengan mata berkaca-kaca.
"Putriku, dia putriku" Gumam Ariel.
Ariel kini sudah berada disamping Elea dan memandang takjub ke arah bayi yang digendong Elea. Jemarinya kemudian menyentuh pipi bayi itu dan mengusapnya dengan lembut. Sementara Elea dan Mamanya hanya terdiam melihat Ariel.
"Bolehkah aku menggendong putriku??" Pinta Ariel.
Elea memandang kearah Mamanya, dan sang Mama menganggukkan kepalanya. Dengan sedikit berat hati, Elea memberikan Gienka kepada Ariel.
Saat putrinya ada digendongannya, Ariel menciuminya dengan penuh kasih sayang. Perasaannya menjadi hangat ketika menggedong bayi kecil itu, dan hatinya diliputi dengan penyesalan karena kebodohannya dia telah melewatkan hal yang begitu indah dengan menyuruh Elea pergi dari hidupnya. Dan kini untuk merubah keadaan pun sangat sulit karena Elea masih menolak dirinya untuk kembali bersama.
"Dia sangat cantik, dan mirip sepertimu, siapa namanya??" Tanya Ariel.
"Gienka" Jawab Elea singkat.
Ariel tersenyum dan bergumam memuji mngatakan bahwa itu nama yang sangat bagus. "Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah atau akan melahirkan? Aku kan sudah menyiapkan rumah sakit yang bagus untuk persalinanmu?"
"Aku melahirkan lebih cepat dari hpl, dia sedang tidur lebih baik jangan terlalu mengusik tidurnya, taruhlah dia di box bayi itu"
Ariel mengangguk kemudian melangkah dan menaruh Gienka di box bayinya. Saat dia hendak mengangkat punggungnya, matanya terarah ke data yang menempel di box bayi itu.
"Annora Gienka Fransisca?" gumam Ariel pelan tetapi suaranya terdengar heran.
"El, kenapa kau tidak menyematkan namaku di belakang nama bayi kita? Kenapa kau justru menyematkan nama Papamu? Apa kau tidak menghargaiku sebagai ayah dari bayi ini?" Tanya Ariel dengan nada marah sehingga membuat Elea dan Mamanya cukup terkejut mendengarnya.
"Aku ini ayah kandungnya, aku juga sudah berusaha menebus semua kesalahanku dan kaunjuga sudah mengatakan mau memaafkanku tetapi kenapa kau masih saja menaruh dendam padaku? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa El???" Teriak Ariel.