
Cahya memberitahu semua rencananya dengan Aditya untuk Elea dan meminta bantuang orangtuanya untuk membujuk Elea agar mau menerima tawaran mereka. Kedua orangtua Elea pun menyetujui rencana yang dibuat oleh Cahya dan Aditya, dan nanti mereka akan bersedia membunjuk putrinya. Karena malam semakin larut, Nyonya Harry pun mengantar kedua tamunya untuk beristirahat dikamar yang sudah disediakan dan Randy juga berpamitan untuk pulang. Aditya pun mengantar sahabatnya itu sampai didepan rumah.
Saat kembali masuk, Aditya melihat Cahya masih duduk diruang tamu. "Kenapa masih disini, ayo ke kamar, sudah larut"
"Aku menunggumu, kita tidur dikamar kita saja ya?"
"Baiklah, ayo naik"
Mereka berdua naik ke kamar mereka, sesampainya disana Aditya menutup pintu dan menguncinya. Cahya masuk keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dan Aditya mengikutinya dari belakang. Melihat suaminya juga ikut masuk ke ruang ganti, Cahya membalikkan badannya dan melingkarkan lengannya dileher Aditya. "Aku merindukanmu, apa kau juga merindukanku" Sebuah ciuman lembut mendarat dibibir Aditya.
"Kau ini, tentu saja aku juga merindukanmu, ayo ganti pakaianmu dan kita tidur" Ucap Aditya sambil tersenyum.
Cahya melepaskan tangan kanannya yang melingkar dileher Aditya, lalu mengarahkannya kebawah perut Aditya, mengusap lembut disana membuat Aditya mendesah pelan. "Aku juga merindukan ini, apa kau tidak ingin melepaskan untukku" Cahya berbisik ditelinga Aditya membuat lelaki itu seolah mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya.
Cahya melepaskan semua pakaian Aditya hingga tidak ada satupun kain yang menempel dibadannya. Sambil berciuman, Cahya mengarahkan Aditya untuk keluar dari ruang ganti dan mendorong suaminya itu keatas ranjang sambil tersenyum. "Kau mau diatas? Baiklah lakukan sesukamu dan buatlah dirimu senyaman mungkin" Gumam Aditya lalu mengatur posisinya tetapi tetap berbaring agar Cahya merasa nyaman.
Cahya naik diatas paha Aditya dan bergerak pelan menggesekkan tubuhnya menyentuh milik Aditya yang sudah siap. Cahya menempatkan dirinya, dan membiarkan Aditya membimbingnya. Lelaki itu menaikkan pinggulnya dan menurunkan pinggul Cahya, membuat tubuhnya menelusup dengan mudahnya ke dalam tubuh Cahya yang terasa begitu panas dan berdenyut di dalam sana.
"Gerakkan tubuhmu perlahan, sayang" Aditya bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Cahya menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggeram ketika merasakan gerakan lembut Cahya, matanya berkilat penuh kenikmatan.
"Oh, kau nikmat sekali sayang" Aditya hanya diam menikmatinya. Sambil
Cahya dengan menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi kenikmatan. Cahya membungkukkan punggungnya menahan badannya dengan bertumpu ketelapak tangannya lalu mencium bibir Aditya.
Percintaan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensitif Cahya tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin perlahan, mengekplorasi kenikmatannya. "Baby, Im coming" Bisiknya parau, lalu Cahya mencapai puncak kenikmatan, bersama dengan itu Aditya juga menyusul di belakangnya.
Tubuh Cahya terkulai lemas, Aditya dengan lembut melepaskan dirinya dari tubuh Cahya, lalu menghela perempuan itu ke sampingnya dengan perlahan untuk kemudian memeluknya. Kemudian Cahya mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Aditya tampak penuh senyum dan menggoda "Senang menaikiku?"
Pipi Cahya merah padam atas godaan itu, membuat Aditya terkekeh, "Oke, sekarang tidurlah"
****
Keesokan harinya, Cahya membuatkan jus untuk Aditya, setelah mengantarnya ke ruang gym suaminya, dia juga akan membawanya untuk Elea. Saat sudah sampai diatas dia bertemu dengan Orangtua Elea yang bertanya dimana kamar Elea. Cahya pun mengantarnya dan menitipkan jus buatannya pada Mama Elea agar langsung memberikannya pada Elea. Cahya lalu meninggalkannya, memberi ruang pada mereka agar berbicara dengan Elea dan Cahya kembali turun untuk menyiapkan sarapan.
Sarapan sudah siap dan semua orang turun untuk sarapan termasuk Elea dan kedua orangtuanya. Cahya melihat mata Elea sedikit bengkak seperti habis menangis. Cahya berharap semoga dengan kehadiran orangtuanya, Elea bisa merasa lebih baik lagi.
Saat semua sudah menyelesaikan sarapannya, Cahya memberi kode Aditya dengan menyentuh pahanya.
"Oh iya El, dikantor perkebunan sedang ada reshuffle besar-besaran, dan sedang membutuhkan orang-orang baru untuk mengurusnya, kalau kau mau kau bisa bergabung disana, kebetulan aku sedang mencari kandidat untuk bagian administrasi, kata Cahya saat di Direct Publisher kau menjadi staff administrasi, bagaimana El?" Ucap Aditya.
Sekali lagi Elea hanya diam tidak mengatakan apapun. Dia memiliki keraguan atas usul Aditya, karena jika dia bekerja diperusahaan milik Aditya tentu Ariel akan mudah menemukannya. Elea sangat tahu jika Ariel mengetahui semua bisnis dan cabang dari perusahaan Aditya, tentang tawaran ini Elea sedikit meragu. Seolah mengerti kebimbangan Elea, Aditya melanjutkan perkataannya.
"El, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, sebenarnya perkebunan itu adalah milik keluarga Mama hanya saja sejak Mama sakit bertahun-tahun yang lalu beliau menyerahkan semua urusan itu pada Papa, sampai kemudian terjadi masalah disana dan Papa menyuruhku untuk menyelesaikannya, perkebunan itu tidak ada urusan sama sekali dengan HS Enterprise dan aku juga tidak pernah membahasnya sama sekali dengan Ariel karena itu diluar jalur dari HS Enterprise, jika itu yang kau takutkan, aku bisa menjaminnya bahwa kau akan aman jika disana, kemarin aku hanya mengambil satu staff dari Hs Enterprise untuk menjadi GM disana itupun bukan dari kantor pusat karena memang kami sangat membutuhkannya untuk memimpin disana, tapi kau tidak perlu menjawabnya sekarang El, kau bisa memikirkannya terlebih dulu, jika kau merasa yakin atau tidak kau bisa memberitahu aku atau Cahya"
*****
Aditya dan Cahya sedang duduk digazebo halaman belakang sambil mengobrol dan menikmati suasana. Elea datang menghampiri mereka berdua, dan mengatakan jika dia bersedia menerima tawaran Aditya untuk bergabung dikantor perkebunan, dan jika bisa dia ingin segera pergi dari Jakarta. Cahya merasa sangat senang karena sepertinya orangtua Elea bisa meyakinkan putrinya itu.
"Tetapi Dit, bisakah aku mengajak kedua orangtuaku untuk tinggal bersamaku disana, aku juga ingin menjauhkan mereka dari semua masalaluku dan memulai hidup kami yang baru?"
"Tentu saja El, kau bisa membawa mereka, aku tahu kau juga pasti membutuhkan mereka dengan kondisimu seperti ini, lagipula rumah yang tersedia juga cukup luas untuk ditinggali beberapa orang"
Elea juga sudah memutuskan bahwa lusa dia dan orangtuanya akan pulang kerumahnya untuk mengurus barang-barang milik orangtuanya. Sedangkan masalah barang-barangnya yang masih di apartementnya juga bisa diurus sambil menyusul. Jika semua sudah beres dia akan menghubungi Aditya dan Cahya untuk segera pindah.
****
Hari berlalu, sampai akhirnya seminggu kemudian, Cahya dan Aditya mengantar Elea dan keluarganya ke tempat tinggal baru mereka yang tidak jauh dari perkebunan. Chika juga sangat senang karena dia tidak akan tinggal sendirian disana. Keesokan harinya, Cahya dan Aditya menjemput Elea dan Chika untuk pergi kekantor bersama. Aditya juga akan mengenalkan Elea ke staff disana.
Sampai disana Aditya langsung mengenalkan Elea pada Danist karena tentunya mereka berdua akan sering bertemu dan bekerja sama. Elea menyadari jika laki-laki bernama Danist itu adalah lelaki yang sama yang menolongnya saat terpeleset didepan villa Aditya. "Well, semoga kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik, oke Dan, hari ini kau bisa mengajak Elea untuk berkeliling dan memberikan berkas-berkas yang diperlukan agar bisa dia pelajari, El jangan sungkan tanyakan saja pada Danist jika tidak ada yang kau mengerti, hari ini aku serta istriku harus kembali ke Jakarta, ada banyak urusan diperusahaan, good luck untuk kalian" Ucap Aditya lalu menyalami Danist dan Elea.
Sedangkan Cahya memeluk Elea dengan erat sambil mengatakan bahwa dia akan sering-sering kesini bersama Aditya untuk menengoknya. "See you El, jaga dirimu baik-baik ya".
*****
Keesokan harinya Aditya mulai kembali ke kantor Hs Enterprise, sudah 2 minggu dia meninggalkannya dan menyerahkan pekerjaannya pada Papanya. Aditya disibukkan dengan banyak pekerjaan sampai tidak sadar jika hari sudah hampir siang. Aditya menyandarkan kepalanya dikursi sampai beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintunya ternyata Maysa sekretarisnya.
"Permisi pak Aditya, diluar ada pak Ariel, dia meminta ijin untuk bertemu bapak" Ujar Maysa.
"Ariel? Baiklah suruh dia masuk"
Aditya harus menyiapkan dirinya untuk telihat baik-baik saja dan berpura-pura tidak mengetahui permasalahannya, jangan sampai Ariel curiga. Jika dia melakukan sedikit kesalahan, Cahya akan memarahinya habis-habisan. Ariel akhirnya masuk keruangannya sambil tersenyum dan menyapanya.
"Hai Dit, kudengar kau sempat menghubungiku beberapa waktu yang lalu, maaf aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, ada perlu apa kau menghubungiku apa ada masalah?"
"Aku baik...!! Sudah berminggu-minggu aku menghubungimu dan kau baru menanyakannya sekarang, sampai aku lupa aku menghubungimu mau membahas apa, apa sebegitu sibuknya dirimu hingga hilang bak ditelan bumi?"
"Maaf aku benar-benar sibuk mengurus proyek baruku, ngomong-ngomong bagaimana kabar Cahya, apa dia mengatakan atau bercerita sesuatu padamu?" Tanya Ariel. Sebenarnya dia merasa ketakutan jika Aditya akan memarahinya, mengingat Cahya begitu dekat dengan Elea dan pasti Elea telah mengatakan semuanya pada Cahya.