SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 253



"Kenapa kau membahasnya lagi? Jika dia datang untuk meminta maaf kenapa sampai sekarang dia tidak datang dan melakukannya? Apa susahnya meminta maaf, dia memiliki seorang anak saja tidak pernah ingin menemuinya lalu apa menurutmu untuk hal itu dia akan melakukannya? Kurasa tidak, jadi untuk apa kau menanyakan hal seperti itu kepadaku" Jawab Danist ketus.


Elea mengernyit mendengar nada suara Danist yang tidak seperti biasanya saat berbicara dengannya. Elea berpikir mungkin Danist bersikap seperti itu karena jengkel dengan Ariel yang tidak pernah datang lagi untuk menengok Gienka atau mungkin karena Ariel juga tidak pernah berniat meminta maaf padanya setelah kejadian itu.


Danist melepaskan pelukan Elea padanya, dan beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi serta menyuruh Elea untuk tidur lebih dulu.


Danist membasuh wajahnya dengan air di watafel kamar mandi, lalu menatap tajam wajahnya sendiri ke cermin yang ada di depannya. Ada perasaan kesal dari dirinya terhadap sikap Elea akhir-akhir ini. Elea selalu saja membahas Ariel di waktu-waktu yang tidak tepat, ini sudah kesekian kalinya Elea membahas mantan suaminya itu sesaat setelah mereka berdua bercinta. Membuat Danist merasa bahwa mungkin saja saat mereka melakukannya, pikiran Elea justru pergi ke tempat lain yaitu malah memikirkan Ariel. Atau mungkin juga Elea masih terbayang-bayang Ariel saat perempuan itu bercinta dengan dirinya. Bisa juga Elea mau melakukan itu dengannya karena istrinya itu merindukan Ariel yang akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya dengan dirinya. Semua pemikiran itu membuat Danist merasa kesal dan merasa tidak dihargai oleh Elea selama ini.


Karena kesal dan merasa tidak dihargai, Danist justru mengepalkan telapak tangannya dan memukul cermin yang ada di depannya membuat cermin itu retak. Dabist menciba menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut agar merasa lebih baik lagi. Baru setelahnya kembali lagi ke kamar. Terlihat Elea sudah tidur, Danist membaringkan tubuhnya disisi Elea dan memejamkan matanya.


****


Aditya menutup laptopnya, dan membawanya masuk ke kamar, ini sudah tengah malam, tidak menyadari jika sejak tadi dia larut dalam pekerjaannya. Saat masuk kamar si kembar terlihat sudah sangat pulas tidur di box bayinya, sementara Cahya juga terlelap dengan begitu cantiknya di tempat tidur.


Sudah lebih dari satu minggu setelah pertengkarannya dengan Cahya yang disebabkan oleh permen itu, Aditya sama sekali belum menyentuh lagi istrinya itu. Selain karena Cahya marah kepadanya selama beberapa hari, Aditya juga selalu disibukkan dengan pekerjaannya hingga larut malam membuatnya tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dan kali ini rasanya Aditya sudah tidak bisa lagi menahannya, dia membutuhkan Cahya untuk memuaskannya dan meledakkan dirinya di dalam tubuh istrinya itu.


Aditya menaruh laptopnya di atas meja, dan melepaskan semua pakaiannya lalu naik ke tempat tidur dan berbaring. Perlahan dia mendekatkan tubuhnya ke Cahya, baru mendekat tetapi Aditya sudah sangat menegang dan ingin buru-buru dipuaskan saat ini juga. Aditya meniup belakang telinga Cahya yang sedang berbaring miring membelakanginya agar segera terbangun. Cara itu adalah cara yang selalu dia lakukan untuk membangunkan Cahya, dan perempuan itu sangat mengerti dengan kode itu jika Aditya sangat menginginkannya dan akan langsung terbangun. Beberapa kali Aditya meniup-niup telinga Cahya, tetapi istrinya itu belum juga bangun.


Cahya sudah menyadari ada yang meniup telinganya dan pasti itu adalah Aditya, tetapi dia sengaja tidak membuka matanya, Cahya sendiri masih merasa sangat kesal mengingat apa yang sudah dilakukan suaminya itu beberapa hari yang lalu, dan berniat akan mengerjainya jika Aditya meminta. Kali ini benar saja, Aditya sepertinya sedang menginginkannya, dan inilah waktu yang tepat mengerjai suaminya itu.


Cahya tidak kunjung bangun membuat Aditya kesal, karena menahan ketegangan tubuhnya yang ingin segera dipuaskan tetapi istrinya itu terlihat begitu lelapnya. Aditya kali ini mencoba cara yang lain dengan berbisik ke telinga Cahya menyuruh istrinya itu untuk bangun dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman lembut di pipi dan leher Cahya. "Sayang, bangunlah" Bisik Aditya dengan suara parau.


Cahya ingin sekali tertawa mendengar suara Aditya yang seperti sedang tersiksa menahan sesuatu. Karena tidak kuat menahan tawa, Cahya terpaksa membalikkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya, lalu menguap dan mengernyit ke arah Aditya. "Ada apa??? Aku mengantuk sekali sejak tadi kepalaku juga pusing, biarkan aku tidur" Protes Cahya dan memiringkan tubuhnya lagi membelakangi Aditya.


Aditya yang sudah berada diujung batas gaiirahnya, akhirnya memlilih untuk memundurkan tubuhnya dan menjauhi Cahya. Tetapi kemudian tangan Cahya meraih jemari Aditya. "Sayang, tolong bisakah kau memijat kepala, leher dan pundakku, itu bisa membantuku meringankan sakit kepalaku, aku setiap hari harus menggendong kedua bayi kita bergantian sendirian dan aku kelelahan jadi aku mohon pijatlah aku" Pinta Cahya merengek.


Cahya lalu bangun dan duduk, dan memijat pelipisnya dengan wajah seperti orang yang sedang benar-benar kesakitan. Tidak tega melihat istrinya tersiksa, Aditya pun dengan terpaksa mengesampingkan egonya dan ikut bangun lalu menyuruh Cahya untuk duduk membelakanginya dan mulai memijat pundak istrinya itu.


Saat Aditya memijat pundaknya, Cahya tersenyum dan akan memulai mengerjai Aditya. Cahya tiba-tiba mengerang menikmati sentuhan jemari Aditya di pundaknya. "Ahhh ya sayang, pijatanmu nikmat sekali ahhh" Gumam Cahya dan terus mengerang seperti saat dia sedang bercinta dengan Aditya.


Cahya terus saja mengerang membuat Aditya semakin gila mendengarnya dan mengutuk dirinya sendiri. Dengan Cahya seperti itu membuat Aditya semakin tersiksa karena gaiirahnya belum terpuaskan ditambah lagi Cahya mengeluarkan suara-suara erangan seperti saat bercinta dengannya. Astaga Aditya benar-benar tersiksa dengan hal itu.


Aku masih sedikit pusing di sisi ini,” Cahya memiringkan kepalanya, dan menurunkan jubah tidurnya memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Aditya ingin mengigit lembut di bagian lunak dibalik gaun tidur tipis istrinya itu.


Shiit... Shiit... Shitt....!!! Sambil terus memijit Cahya, Aditya menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Cahya tampak santai, Aditya melepaskan pijitannya dengan hati-hati. Cahya kemudian berbaring lagi dan menarik selimutnya.


"Terima kasih suamiku sayang, selamat malam" Ucap Cahya lalu memejamkan matanya.


Bagus. Cahya sudah tertidur. Sekarang mungkin Aditya akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Aditya bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.


“Adit sayang!!!"


Hampir saja Aditya mengerang mendengar panggilan Cahya, “Apa Ca??" desis Aditya serak dan kesal.


“Sekarang aku sudah tak pusing lagi”


Hening.


Aditya tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata istrinya, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.


“Bagus,” bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Cahya dan mellumat bibirnya tanpa ampun.


Gaiirahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Aditya menyentuh Cahya di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Cahya yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.


Dada Cahyaa tampak lebih berisi, mungkin karena ada asi yang tersimpan disana untuk si kembar. Ketika akan menyentuhnya seperti biasanya, Aditya tertegun dan menatap Cahya.


“Apakah asi nya akan keluar dari sana kalau aku memainkannya, sudah lama sekali aku tidak bermain dengannya setelah anak-anak lahir" Gumam Aditya, Cahya lalu tersenyum “Mainkan saja dengan lidahmu jangan menyesapnya" Ucap Cahya.


Dengan menahan dirinya, Aditya menindih Cahya dan menyatukan tubuhnya, tidak bisa lagi menahan dirinya.


Tubuh mereka pun menyatu, dan Aditya bergerak pelan. Kemudian ritmenya mulai terasa, dari pelan menjadi sedikit lebih cepat. Setiap Aditya bergerak, Cahya sangat menikmati gelenyar sensuall yang terkirim dari kewaniitaannya ke sekujur tubuhnya. Membuatnya mengerang, sambil berpegangan pada tubuh Aditya di dalam tubuh Cahya, semula lembut dan hati-hati. Tubuh Cahya merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Aditya bergerak dengan penuh gaairah, membawa mereka menuju puncak gairah masing-masing.


Ketika puncak itu hampir tiba, Aditya membawa Cahya lebih dulu mencapai orgasmee yang luar biasa itu. Dan ketika erangan Cahya dalam pencapaiannya menandai orrgasmenya, Aditya merasakan tubuh Cahya mencengkeramnya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam tubuh Cahya


Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Aditya berbaring menindih tubuh Cahya, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh istrinya, kepalanya berbaring di bantal di samping kepala isterinya. Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya bercinta dengan orang yang dicintai. Orrgasmenya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aditya membuka matanya dan mengecup telinga mungil Cahya yang ada di depannya,


"Apakah aku selalu memuaskanmu sayang??" Bisik Aditya.


Cahya masih berusaha menormalkan napasnya. Apakah Aditya selalu memuaskannya? Tentu saja. Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakan tubuhnya dan menerbangkannya ke tingkat ke tujuh adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai orgasmee, berarti Aditya telah memberikan orrgasme yang paling nikmat kepadanya. Cahya memang tidak punya perbandingannya. Tetapi tubuhnya yang begitu terpuaskan setiap mereka selesai melakukannya. Aditya begitu ahli, selain itu kejjantaanan milik Aditya besar yang selalu memenuhi kewaniitaanya dan terasa begitu nikmat dengan urat-urat yang menonjol mengelilinginya.


"Ya sayang, nice and tight!" Jawab Cahya dengan naoas terengah.


Lelaki itu tersenyum mesra dan mengecup Cahya lagi. Lalu mengangkat kepalanya, dan menarik tubuhnya yang masih tenggelam di dalam tubuh Cahya dengan hati-hati. Lalu Aditya berbaring disisi Cahya dan memeluk istrinya dengan erat kemudian tidur.


****


Keesokan harinya....


Lagi dan lagi Danist pulang cukup larut. Karena memang pekerjaan yang sangat banyak, dan hari ini begitu banyak pengunjung di pameran, melayani dan memperkenalkan produknya satu per satu membuat Danist benar-benar lelah sekali tetapi sangat senang karena banyak orang yang tertarik dengan produk Tehnya. Dan saat sampai dirumah lelahnya pasti akan hilang ketika sudah melihat Gienka dan Elea walaupun Gienka pasti sudah terlelap saat dia pulang.


Sampai dirumah, Danist disambut Elea, dan makanan juga sudah disiapkan oleh istrinya itu. Tetapi Danist memilih untuk mandi lebih dulu sebelum makan malam.


Setelah mandi, dan berganti baju, Danist keluar menuju dapur yang dimana Elea sudah menunggunya untuk makan malam. Danist berjalan mengendus dan memeluk Elea dari belakang saat perempuan itu sedang sibuk membuat minuman untuknya.


Danist menciumi leher Elea dengan penuh kelembutan membuat Elea kegelian atas sikapnya itu. "Baumu seperti Gienka"


"Tentu saja, aku setiap hari menggendongnya memeluknya tentu saja baunya akan tertinggal ditubuhku" Ucap Elea lalu membalikkan tubuhnya dan Danist langsung mencium bibirnya, mellumatnya dengan penuh gairah.


Keduanya larut dalam pusaran gaiirah hingga terlambat makan malam karena bercinta lebih dulu di dapur. Setelahnya baru mereka duduk dan menikmati makan malamnya dengan perasan bahagia.


Semalam Danist belum menjawab pertanyaannya semalam dan hanya menanggapi saja dengan ketus. Elea butuh sekali jawaban dari suaminya itu agar nanti dia bisa menentukan sikapnya jika Ariel benar-benar suatu saat datang untuk meminta maaf.


"Dan.....!!!" Gumam Elea pelan.


"Ya....!!!"


"Semalam kau belum menjawab pertanyaanku, dan hanya menanggapi lalu kau pergi ke kamar mandi dan cukup lama tidak kembali lagi ke kamar, bagaimana menurutmu apakah kau akan memaafkan Ariel jika dia datang meminta maaf pada kita???"


Danist menghentikan kunyahannya dan menaruh sendok serta pisau yang ada ditangannya dan menatap Elea dengan tajam tetapi diam tidak mengatakan apapun.


"Dan.... Ku rasa kita harus memaafkannya, tidak ada salahnya kan??? Ariel sekarang pasti sudah menyesali perbuatannya itu sebabnya dia menghilang begitu saja, pasti suatu saat nanti dia akan datang dan meminta maaf pada kita dan kita harus memaafkannya, aku sangat tahu Ariel, dia sebnarnya sangat baik hanya saja mungkin dia terlalu mencintaiku hingga melupakan akal sehatnya dan melakukan semua itu" Lanjut Elea lagi sambil tersenyum ke arah Danist yang menatapnya.


Ariel lagi Ariel lagi, sekali lagi Elea membahas mantan suaminya itu disaat seperti ini. Sebenarnya apa yang ada dipikiran Elea, apakah istrimya itu benar-benar sudah menerimanya sebagai suaminya atau belum, atau hanya memanfaatkannya saja sebagai pengganti Ariel. Bahkan Elea baru saja mengatakan jika Ariel sangat mencintainya dan seperti memaklumi semua yang sudah dilakukan mantan suaminya itu.


"Ku rasa kita harus memakluminya Dan...." Lanjut Elea lagi dan Elea langsung dikejutkan dengan Danist yang menggebrak meja makan dengan keras, membuat suara piring, gelas dan barang yang ada diatas meja bergetar


Danist memundurkan kursi yang di dudukinya dan berdiri menatap Elea dengan marah. Elea langsung berdiri dan juga menatap Danist heran karena baru pertama kalinya dia melihat kemarahan dimata lelaki itu.


"Ariel..... Ariel dan Ariel...... Selalu itu saja nama itu yang kau sebut di depanku!!!! Dan apa kau bilang? Kita harus memaklumi semua yang sudah dia lakukan??? Bagaimana bisa El....!!!!" Teriak Danist pada Elea.


Danist tidak pernah marah seperti ini, jika dia melakukan itu, menandakan bahwa Elea sudah benar-benar kelewatan dan itu membuatnya muak.