
Danist memilih diam dan tidak mengatakan apapun kepada Elea. Dia sendiri masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Brianna kembali dengan cara tidak diduga sebelumnya, padahal selama ini perempuan itu sudah lama menghilang. Dan lebih mengejutkan lagi adalah sikap yang ditunjukkan Brianna, bagaimana bisa perempuan itu mendaratkan ciuman di keningnya disaat situasi seperti kemarin, bahkan dilakukan di depan Gienka. Entah apa yang ada di pikiran Brianna saat itu Danist tidak habis pikir.
Elea membalikkan badan, memandang Danist yang diam saja dan tidak menanggapi ucapannya. Elea ingin sekali marah, tetapi untuk hal apa karena dalam keadaan ini Danist tidaklah bersalah. Elea mendekat ke Danist kemudian menyentuh pegangan kursi roda Danist dan membelokkannya untuk membawa suaminya itu masuk ke dalam rumah. Tetapi tiba-tiba tangan kanan Danist menyentuh punggung tangan Elea, meminta agar Elea jangan membawanya masuk.
"Brianna menghilang tanpa kabar dan meninggalkanku begitu saja selama bertahun-tahun, aku ataupun dia tidak pernah mengatakan itu berakhir, tetapi sejak dia menghilang, aku sudah menganggap semua itu sudah berakhir...! Aku benar-benar terkejut tiba-tiba dia muncul dan dia melakukan itu padaku saat aku masih tidak sadarkan diri, jika saja saat itu aku tahu sudah pasti aku akan menghentikannya..! Aku mohon jangan marah El...!" Ujar Danist dengan suara pelan.
"Aku tidak marah...! Ayo masuk, aku harus menyiapkan sarapan untukmu..!"
"El... Percayalah padaku, bahwa aku sudah tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya"
"Kita bahas nanti, kau harus sarapan dan minum obat" Elea kemudian membawa Danist masuk ke dalam rumah.
★★★★★★★
Setelah membelikan Es krim dan berbagai snack, Ariel membawa Gienka ke apartemen Aditya. Ariel masih tidak menyangka jika ternyata Brianna adalah mantan kekasih dari Danist. Dulu Brianna pernah menyukainya dan dia menolaknya karena memang Brianna bukan tipenya saat itu, tetapi Brianna kemudian menjadi kekasih dari Danist. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Brianna meninggalkan Danist, tetapi jika Brianna yang meninggalkan Danist kenapa justru Brianna melakukan hal itu saat bertemu dengan Danist. Dia juga tadi melihat ketegangan di wajah Elea, dan berharap semoga Elea dan Danist tidak menghadapi masalah yang buruk karena apa yang sudah dilakukan oleh Brianna.
Ariel menekan tombol interkom apartemen Aditya, dan tidak lama Cahya membuka pintunya. "Hai onty.... Apa kabal??" Gienka melambaikan tangannya menyapa Cahya kemudian menyalaminya.
"Hai Gie sayang.... Hai Iel... Silakan masuk...!"
Gienka berlari masuk dan berteriak memanggil Kyra, sementara Ariel mengikuti Cahya. "Duduk Iel, Adit sedang mandi, dia baru saja selesai olah raga tadi...."
"Oke Ca....!"
Cahya kemudian ke dapur untuk membuatkan Ariel minum, tampak Gienka berlari bersama Kyra dari dalam kamar. Kedua bocah itu berlari ke arah balkon dan duduk disana, Gienka membuka kantong plastik yang tadi di bawanya, mengeluarkan es krim. Cahya hanya melempar senyumnya melihat tingkah kedua bocah itu. Cahya mengantar minuman untuk Ariel dan meninggalkannya untuk memanggil Aditya.
"Hai Iel....! Kau bilang akan datang nanti siang kenapa sepagi ini sudah ada disini??" Aditya keluar dari kamar dan langsung menghampiri Ariel.
"Ya...! Tadi aku berniat untuk mengajak Danist berkeliling, setelahnya baru kesini, tetapi ada hal yang terjadi, jadi aku membatalkan itu dan memberi waktu agar Elea dan Danist bisa menyelesaikan permasalahannya"
Aditya mengambil cangkir dan menyesap teh chamomile nya sambil menatap Ariel. "Permasalahan??? Masalah apa??"
"Gienka melapor pada Tante Sari kalau dia melihat Brianna mencium kening Danist saat mengantar Gienka masuk ke ruang ICU tempo hari, tadi pagi tante Sari melabrak Brianna saat peremouan itu datang ke rumah untuk menjenguk Danist, nah aku, Danist dan Elea mendengar itu semua"
"Kenal dengan baik, yang ku dengar tadi sepertinya mereka sempat memiliki hubungan, tetapi aku tidak tahu bagaimana jelasnya, Tante Sari terlihat kesal sekali dan memperingatkan Brianna agar tidak lagi menemui Danist, kurasa hubungan Danist dan Brianna dulu berakhir dengan buruk jika melihat kemarahan dari tante Sari tadi....!"
"Brianna... Ada-ada saja, apa dia tidak berpikir bahwa anak kecil itu mudah sekali mengatakan hal yang dilihatnya, semoga ini tidak menjadi masalah besar untuk Elea dan Danist...!"
"Aku berharap juga seperti itu, lagipula ini juga bukan salah Danist kan..."
★★★★★★
Setelah selesai menyuapi Danist, Elea mengajak ke kamar untuk memberikan obat. Elea tidak banyak bicara sejak tadi, membuat Danist merasa tidak enak, dia sangat takut jika Elea memiliki pemikiran buruk tentangnya dan Brianna.
"El....!! Kenapa kau diam saja? Kau marah???" Tanya Danist.
"Tidak....!!!" Jawab Elea singkat dan menyibukkan diri dengan merapikan tempat tidur.
"Boleh aku mengatakan sesuatu tentang aku dan Brianna??"
Elea memilih diam dan enggan menanggapi ucapan Danist. Karena tidak mendapatkan jawaban atau tanggapan Elea, Danist pun memilih untuk tetap melanjutkan ucapannya. Dan cerita itu pun mengalir dari mulutnya.
Dimana saat itu dia memang memiliki hubungan spesial dengan Brianna, pertemuan mereka pertama kali tentu saat mulai memasuki kamlus yang sama, hanya saja mereka mengambil fakultas yang berbeda. Meskipun begitu mereka intens menjalin komunikasi hingga akhirnya berpacaran, dan hubungan itu berlangsung selama 4tahun tetapi mengalami kendala karena orangtua Brianna tidak menyukainya, ya alasan utamanya adalah karena mereka pikir dia tidak sepadan dengan keluarga Brianna yang notabennya adalah keluarga berada sedangkan Danist hanya laki-laki biasa bahkan kuliah pun hanya mengandalkan beasiswa.
Sayangnya Brianna tidak peduli dengan penolakan dari orangtuanya dan tetap melanjutkan menjalin hubungan dengan Danist. Puncaknya adalah saat wisuda, Orangtua Brianna melabrak Danist dan mengatakan hal buruk agar Danist segera mengakhiri hubungan dengan Brianna karena tidak selevel dengan mereka. Tetapi hal itu tetap tidak merubah apapun, dan Brianna semakin menjadi.
"Brianna mengusulkan ide konyol padaku jika kami ingin mendapatkan restu mereka, yaitu aku harus menghamilinya dan dengan itu orangtuanya akan langsung menyetujui hubungan kami" Ujar Danist.
"Lalu???? Kalian melakukannya???" Tanya Elea.
"Tentu saja tidak El, aku bukan laki-laki yang mau memanfaatkan keadaan semacam itu, aku menolak mentah-mentah ide Brianna itu, aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak ingin merusaknya, aku hanya akan melakukannya jika kami sudah menikah, tetapi kemudian, penolakanku itu membuat Brianna marah besar, dan dia tiba-tiba saja pergi entah kemana tanpa kabar atau menghubungiku, aku ditinggalkan begitu saja, pahit dan sangat sakit karena aku sangat mencintainya, berbulan-bulan aku menunggu tetapi tidak ada kabar sama sekali bahkan aku juga mendapatkan hinaan lagi dari orangtuanya, mereka berpikir bahwa aku yang telah menghasut Brianna, bahkan mereka juga melaporkanku pada polisi, aku di penjara atas tuduhan yang tidak pernah ku lakukan"
"Apa....???? Kau di penjara???" Seru Elea.