
Refleks Elea memencet tombol lift untuk menahan agar pintunya tidak tertutup saat mendengar teriakan pria itu. Sedetik kemudian Elea menyadari dia seperti mengenal suara itu, benar saja saat pria itu masuk ke dalam lift, Elea memundurkan langkahnya karena ternyata itu adalah Ariel. Elea langsung menundukkan kepalanya, beruntungnya dia saat ini memakai masker karena memang sedang terserang flu. Pintu lift tertutup dan kini Elea sudah terjebak disana bersama Ariel, dia berharap semoga Ariel tidak bisa mengenalinya.
Ariel menekan tombol lift menuju lantai yang akan dia tuju lalu membalikkan badannya.
"Makasih ya" Ucap Ariel sambil melihat Elea, Elea hanya menunduk tidak berani menatap Ariel atau mengatakan apapun.
Ariel menggerutkan keningnya merasa aneh, dia pun melihat Elea dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, seolah ia pernah melihat perempuan itu. Pintu lift terbuka dan Ariel membalikkan badannya lalu keluar.
Elea menghela nafasnya panjang, merasa lega karena Ariel sudah keluar dari lift tersebut. Walaupun sempat merasa tidak nyaman tetapi Elea sangat yakin kalau Ariel tidak akan mengenalinya, selain memakai masker, kini penampilannya juga sedikit berubah. Rambutnya yang biasanya hitam dan terurai panjang kini sudah dia potong pendek dan berponi lalu dia juga mewarnai rambutnya.
Pintu lift terbuka dan Elea bergegas keluar mencari ruangan dimana Cahya sedang dirawat. Dari kejauhan Elea melihat ibu Cahya sedang duduk ditemani seorang laki-laki, ia pun segera menghampirinya dan memeluk ibu Cahya, yang juga sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
****
Ariel melihat keluarga Aditya sedang duduk menunggu didepan ruang operasi, dia pun menghampiri mereka.
Aditya terkejut melihat Ariel datang. "Iel, kau ada disini?" Tanyanya.
"Randy tadi meneleponku, maaf Dit aku baru datang, tadi aku sedang meninjau proyek, lalu bagaimana ikeadaan Adri sekarang?"
"Dokter sedang mengoperasinya, dia tertembak di punggungnya dan pelurunya hampir menembus jantungnya, dokter bilang kondisinya kritis tetapi semoga semuanya baik-baik saja"
"Amin...! Tetapi bagaimana ini bisa terjadi Dit"
Aditya menjelaskan semuanya kepada Ariel, bagaimana awal mula Cahya bisa diculik dan disekap. Aditya juga menjelaskan situasinya saat itu saatndia berusaha menyelamatkan Cahya. Lalu entah bagaimana Adri bisa tertembak saat berusaha menyelamatkan Cahya, Aditya tidak tahu karena saat ini dia sibuk mengurus Adri dan belum sempat bertemu dengan Cahya. Dan semua itu terjadi akibat ulah Cheryl yang terobsesi dengan Cahya. Aditya juga menjelaskan tentang kegilaan Cheryl terhadap perempuan yang menjadi targetnya.
"Cheryl??? Aku seperti pernah mendengarnya, siapa dia?"
"Kau pernah bertemu dengannya saat di Swiss, dia perempuan yang datang ke rumahku saat dulu kau dan Elea juga datang ke rumah"
"Perempuan cantik itu? Menakutkan sekali dia"
*****
Elea masuk ke ruangan Cahya dan melihat sahabatnya itu sedang tertidur, mungkin karena efek dari obat yang diberikan oleh dokter. Elea mengusap lembut kening Cahya, dia merasa sangat terpukul karena sekali lagi sahabatnya itu harus mengalami hal buruk seperti ini lagi. Beruntungnya kali ini Cahya masih diberi keselamatan dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja, tetapi justru Adri yang kini sedang berjuang untuk hidupnya. Elea hanya bisa berharap semoga semua keadaan buruk ini segera berakhir karena dia sangat tahu bahwa seluruh keluarga Cahya dan Aditya adalah orang yang baik.
Operasi Adri masih belum selesai, semua orang masih terlibat khawatir terutama Mama Aditya yang masih terus menangis dalam pelukan Chika. Ariel melihat keluarga sahabatnya saat ini memang sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dia hanya berharap agar semua ini segera berakhir dan operasi Adri berhasil.
Ponsel Ariel berdering dan dia melihat Randy sedang menghubunginya. Ariel berjalan menjauh dari keluarga Aditya untuk mengangkat telepon itu.
"Halo Iel? Bagaimana keadaan disana?" Tanya Randy dengan suara panik.
"Operasi Adri masih berlangsung, sepertinya lukanya sangat serius Ran"
"Entahlah Ran, Adit bilang semua ini dilakukan oleh seorang perempuan bernama Cheryl"
"Cheryl..????" Randy menggerutkan keningnya.
"Iya, perempuan gila itu bernama Cheryl, aku dulu pernah sekali bertemu dengannya saat di Swiss, memang sih dia terlihat sangat aneh dibalik wajah cantiknya itu tetapi kurasa dia memang sudah gila, seorang perempuan yang begitu cantik ternyata menyukai sesama perempuan dan obsesinya sungguh mengerikan"
"Oke baiklah kita bisa membahasnya nanti, sampaikan maafku pada Aditya karena besok aku dan Chitra baru bisa kembali dan akan langsung ke rumah sakit" Ucap Randy lalu menutup teleponnya.
Randy terlihat bingung dan tidak percaya, mendengar nama Cheryl membuatnya meragu, apakah itu Cheryl yang sama dengan sepupu Chitra atau Cheryl yang lain. Mengingat saat dia bertemu Cheryl sepupu Chitra, Cheryl mengatakan jika sudha sekitar 1 tahun dia tinggal di Swiss. Belum selesai Randy berpikir, tiba-tiba Chitra berlari menghampirinya dan menyuruhnya untuk segera bersiap karena mereka harus kembali hari ini juga. Kekacauan telah terjadi dan saat ini kakak sepupunya sedang ditahan oleh polisi.
*****
Ariel kembali untuk menghampiri Aditya lagi, tetapi entah kenapa saat ini dia justru teringat dengan Elea setelah membahas tentang Swiss. Ariel menjadi teringat akan semua kenangannya bersama Elea, bagaimana dulu Elea sangat bahagia saat dia mengajaknya berbulan madu di Swiss. Setiap hari mereka habiskan untuk bersenang-senang seolah dunia hanya milik mereka, bahkan Ariel pernah seharian penuh menahana Elea untuk tidak keluar dari kamar hotel. Kini kebahagiaan itu hanya tinggal kenangan, dia bahkan sudah tidak peduli lagi dengan Elea, baginya Elea hanya bagian dari masalalu yang harus dia lupakan dna kubur dalam-dalam. Bahkan Ariel harus merelakan untuk tidak kembali lagi ke apartment lamanya demi mengubur semua kenangan nya bersama Elea.
Ariel duduk disebelah Aditya dan menyampaikan permintaan maaf dari Randy karena besok baru bisa datang kesini. Aditya pun mencoba mengerti keadaan sahabatnya itu dan memakluminya. Ariel terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa Iel?? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Ahhh tidak, tadi saat di lift aku bertemu dengan seseorang aku rasa aku pernah melihatnya tapi dimana" Gumam Ariel.
"Perempuan? Siapa?"
"Kalau aku tahu aku tidak akan memikirkannya, tetapi perempuan itu terlihat sangat berani kurasa, rambutnya pendek dengan kombinasi warna abu-abu dan peach dia terlihat sangat manis tetapi sayangnya dia tidak berkata apapun dan justru seperti orang yang ketakutan saat melihatku, apa mungkin dia seorang artis atau model karena aku tidak asing dengannya" Ujar Ariel.
Chika yang mendengar ucapan Ariel itu sontak terkejut karena jangan-jangan yang dimaksud Ariel adalah Elea mengingat ciri-ciri rambutnya. Chika langsung memegang paha Aditya, dan kakak iparnya itu langung mengarahkan pandangannya ke Chika. Chika hanya memejamkan matanya berharap Aditya mengerti maksudnya. Aditya yang beberapa saat kemudian tersadar dengan kode dari Chika pun juga akhirnya terkejut.
"Kau kan pasti bisa melihat wajahnya, kalian kan berada dalam satu lift?" Aditya bertanya smabil menelan ludahnya karena dia juga penasaran dnegan kelanjutan pertemuan Ariel dengan Elea.
"Itu dia, aku tidak bisa melihat wajahnya, dia memakai masker dan menunduk, sepertinya dia memang takut kepadaku, ah lupakan saja mungkin suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi"
Danist akhirnya kembali menemui Aditya didepan ruang operasi setelah melakukan donor darah untuk Adri. Danist menghampiri Aditya dan dia melihat seorang laki-laki yang duduk disebelah Aditya, tadi sebelum dia pergi dia tidak melihat lelaki itu.
Aditya yang melihat kedatangan Danist langsung berdiri dan memeluknya sambil mengucapkan terus terima kasih. Ariel nampak bingung karena sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan pria ini, kenapa Aditya berterima kasih padanya, siapa dia sebenarnya.
"Siapa dia Dit, aku tidak pernah melihatnya?"
"Oh ini Danist, dia yang sudah mendonorkan darahnya untuk Adri"
Danist mengulurkan tangannya sambil tersenyum ke Ariel lalu menyalaminya dan memperkenalkan dirinya.