
4 Tahun Kemudian......
Kyros tengah bermain menyusun planet-planet mainan yang sangat dia sukai tetapi karena terlalu fokus, tidak sengaja dia menyentuh kotak tempat mainan itu dan membuat salah satu planet mainan yang ada disampingnya itu menggelinding di bawah meja. Saat akan menancapkan planet jupiter itu ke tempatnya, Kyros mulai bingung karena tidak menemukannya. Dia berpikir mungkin ada yang sudah menyembunyikan itu darinya karena tadi berada di sebelahnya, dia pun mulai memandang sekelilingnya dan menemukan Kyra sedang sibuk mewarnai bukunya, sedangkan Cahya sibuk membaca buku. "Mereka sejak tadi ditempatnya, lalu kemana jupiterku pergi???" Gumam Kyros dengan suara polosnya dan matanya melirik ke berbagai penjuru ruangan itu.
"Ky....! Apa yang sedang kau cari sayang???" Suara Aditya membuyarkan kesibukan yang sedang dilakukan Cahya dan Kyra.
"Jupiterku hilang, apa Apap tahu dimana dia bersembunyi???" Tanya Kyros dengan polosnya.
"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat, baiklah Apap akan membantumu mencarinya, jika Apap yang menemukannya, apa yang akan Ky berikan untuk Apap?"
"Aku tidak memiliki apapun, permen dan cokelatku ada di kamar, nanti kuberikan itu untuk Apap"
Aditya terkekeh dan membungkukkan punggungnya lalu mengambil sesuatu yang ada di sebelah kakinya. Aditya kembali mengangkat punggungnya dan menunjukkan sesuatu yang dipegangnya pada bocah kecil itu sambil tersenyum. "Jupitermu ada ditangan Apap tetapi Apap tidak ingin permen ataupun cokelat, berikan ciuman manismu disini" Aditya menepuk pipi kanannya.
Kyros berlari, mencium pipi Aditya dan dengan cepat mengambil mainannya dari tangan Ayahnya itu. Cahya hanya bisa tersenyum melihat betapa senangnya Kyros menemukan apa yang dicarinya. Jam sudah menunjukkan pukul 9, Cahya meminta agar kedua anaknya itu menghentikan semua kegiatan mereka dan segera ke kamarnya untuk beristirahat.
Seperti yang biasa terjadi setiap malam, Aditya adalah pendongeng terbaik untuk kedua jagoan kecilnya itu. Mereka tidak mau lagi mendengar cerita dongeng dari Cahya, dan mengatakan bahwa suara Ibunya itu tidak cocok untuk menirukan suara pangeran berkuda. Juga karena Cahya selalu kesulitan menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan Kyros tentang berbagai benda antariksa. Kyros sangat menyukai semua hal itu membuat Cahya selalu menyerah saat ada pertanyaan tentang itu dan melemparkannya pada Aditya.
****
Cahya berdiri di depan pintu kamar Kyra dan Kyros, memandang diam ke arah Aditya yang sedang berbaring memeluk Kyra sambil membacakan sebuah buku dongeng, sementara Kyros sudah mulai memejamkan matanya memeluk guling yang ada disampingnya. Cahya teringat musibah yang menimpa keluarga kecilnya 4tahun silam. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Aditya dan membuat hidupnya bagai di neraka tanpa Aditya selama lebih dari seminggu. Pencarian dihentikan di hari ke tujuh membuatnya dan yang lainnya semakin hancur saat itu, rasanya seperti langit runtuh dan menimpanya.
Hingga akhirnya di hari ke sembilan sebuah keajaiban besar terjadi, Randy mendapati ponsel Aditya aktif tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Beberapa kali dia berusah menghubunginya tetapi tersambung dan tiba-tiba putus, begitu terus menerus sampai akhirnya ponsel itu diangkat tetapi tidak ada suara apapun yang terdengar disana. Randy kemudian memutus panggilannya dan berganti menghubungi kepolisian untuk memberitahu hal ini, selain itu Randy juga akan mencoba melacak keberadaan ponsel itu.
Saat menghubungi kepolisian, kejutan kembali tejadi, polisi mengatakan bahwa mereka menerima laporan dari polsek lain jika ada seorang pria paruh baya mendatangi mereka dan memberi tahu jika dia menemukan seorang laki-laki di tepian telaga saat dia sedang mencari burung. Tetapi tidak memungkinkan untuk membawanya keluar dari hutan itu, mengingat dia sudah cukup renta dan butuh waktu yang lama untuk menembus hutan, selain itu kondisi laki-laki itu sangat parah dan sepertinya mengalami patah tulang dibeberapa bagian tubuhnya. Mendengar itu bergegas Randy menghubungi Ariel dan yang lainnya mengabarkan hal ini. Bergegaslah mereka pergi ke tempat dimana mereka semua menerima laporan itu.
Karena alasan keamanan dan perjalanan harus memasuki hutan, Randy melarang seluruh anggota keluarga Aditya untuk ikut dalam pencarian itu kecuali Adri. Saat itu bersama dengan kepolisian dibantu beberapa tim rescue serta Randy, Ariel, Adri, Danist dan Yongki juga pria tua itu memasuki hutan untuk menuju ke tempat dimana saat ini Aditya berada.
Saat ditemukan, setengah tubuhnya berada di dalam air, hanya kepala dan setengah tubuh sebelah kanan ada di tepian telaga, mungkin itu juga yang membuat Aditya masih bernyawa. Di 3 hari pertama setelah ditemukan, Aditya tidak membuka matanya sama sekali. Hingga akhirnya Aditya bisa membuka matanya tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, juga tidak bisa berbicara dan hanya menitihkan airmatanya saja. Semakin hari kondisinya sedikit membaik, walaupun masih sangat lemah dan tidak bisa bergerak.
Hari itu ketika melihat kondisi Aditya cukup baik, pria tua itu memutuskan akan meninggalkan Aditya untuk mencari bantuan dan menyuruh Aditya agar tetap disana saja sampai dia kembali. Tetapi sebelum pergi, dia menunjukkan sebuah ponsel ke Aditya dan mengatakan bahwa ponsel itu dia temukan di saku celana Aditya, sayangnya ponsel itu sepertinya terendam air dan tidak menyala, membuatnya sempat mengeringkannya dibawa sinar matahari berharap akan menyala, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan ponsel itu dan menganggapnya rusak. Kemudian meletakkannya di samping Aditya, dan dengan berat hati dia harus tetap pergi mencari bantuan diluar hutan.
Dan dalam versi Aditya, saat pria tua itu meninggalkannya sendirian di dalam gubuk itu, dia berusaha meraih ponselnya dan dengan susah payah sambil merintih dan berdoa didalam hati, dia menekan tombolnya agar mau menyala. Akhirnya ponsel itu mau menyala juga. Aditya mencoba melirik ke arah ponselnya dan menyadari tidak ada jaringan sama sekali, sesekali muncul itupun sangat lemah. Beberapa kemudian ponselnya berkedip dan ada nama Randy disana, dia berusaha mengangkatnya tetapi panggilan itu sudah terputus akibat jaringan yang terlalu lemah. Lalu ketika berhasil Aditya mencoba mengeluarkan suaranya dan terdengar Randy hanya mengatakan hallo dan terus memanggil namanya. Itu berlangsung beberapa menit tetapi akhirnya Randy memutus telepon itu. Dari situ Aditya menyadari bahwa mungkin speaker ponselnya rusak entah karena gesekan atau karena air, sehingga membuat speakernya rusak, dan tidak bisa mendengar suaranya tetapi dia bisa mendengar suara Randy dengan sangat jelas.
Perjalanan panjang yang sangat melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil. Mereka sampai di gubuk kecil itu dan Adri langsung berlari dengan cepat agar bisa segera menemui Aditya. Hal yang pertama dilakukan Adri adalah memeluk Aditya sambil menangis karena keadaan kakaknya yang begitu memprihatinkan. Aditya segera mendapatkan pertolongan awal dan di cek seluruh tubuhnya, banyak sekali luka dan beberapa tulangnya juga patah. Dengan segala pertimbangan yang ada, tidak memungkinkan membawa Aditya dengan tangan kosong untuk menembus hutan. Atas inisiatif Yongki, Aditya sebaiknya dibawa oleh helikopter tetapi mereka harus mencari dan membuat lokasi untuk pendaratan darurat.
Butuh sekitar 3 jam hingga akhirnya helikopter itu datang, tempat pendaratan darurat juga sudah disiaokan dengan membabat semak belukar. Penyelamatan yang cukup dramatis dengan kondisi Aditya yang begitu lemah. Setelah keluar dari hutan, Ambulance sudah menunggu juga keluarga Aditya lainnya, kemudian Aditya langsung dibawa ke rumah sakit.
Cahya merasa sesak dan sakit sekali rasanya saat itu melihat keadaan Aditya, luka memenuhi sekujur tubuhnya, bahkan wajahnya bengkak dan membiru. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aditya membuka matanya dan tersenyum saat melihatnya. Setelah kondisi Aditya cukup stabil, keluarga memutuskan membawanya ke Rumah sakit di Singapura untuk penanganan yang lebih baik.
Lebih dari satu bulan Cahya setia merawat Aditya disana, bahkan dia juga terpaksa memboyong Kyra dan Kyros dan menyewa apartemen untuk ditinggali sementara. Bahkan setelah perawatan yang cukup panjang di rumah sakit itu, mereka membawa Aditya pulang. Bukan pulang ke rumah, Cahya membawa Aditya pulang ke villa mereka di pulau dewata, bukan karena apa tetapi lebih tepatnya Cahya ingin Aditya merasa tenang dan nyaman karena suasana disana sangatlah bagus untuk masa recovery Aditya. Dan Aditya juga harus melakukan beberapa terapi setiap minggunya, sampai dia benar-benar sembuh dan kembali normal seperti sedia kala. Suasana yang begitu mendukung membuat Aditya pulih lebih cepat. Cahya dengan sabar selalu membawa Aditya jalan-jalan di area villa mereka dengan kursi roda. Melihat matahari tenggelam, atau duduk bersama di bale melihat Kyra dan Kyros bermain di depan mereka. Tentunya dengan bantuan dari Ibunya dan Mama mertuanya untuk mengurus kedua bayi itu. Setelah melewati semua kesulitan itu, Aditya bisa kembali lagi bekerja, bermain bersama Kyra dan Kyros.
*****
Karena mengingat itu, tidak sadar Cahya menitihkan airmatanya dan dia sedikit terlonjak saat Aditya menyentuh pundaknya. Dengan cepat Cahya menyekanya dan tersenyum.
"Kau menangis lagi, pasti kau sedang mengingatnya lagi, aku sudah sering katakan padamu, jangan pernah mengingatnya lagi" Gumam Aditya.
Cahya memeluk Aditya sangat erat. "Aku tidak bisa melupakannya begitu saja!"
"Sudahlah, aku ada disini bersamamu dan anak-anak, ayo beristirahat, besok kita harus mulai mempersiapkan semuanya untuk persiapan pernikahan adik kita" Aditya menutup pintu kamar Kyros dan Kyra lalu mengajak Cahya untuk pergi beristirahat.