
Chitra sudah selesai dipindahkan ke ruang rawat inap, kedua orangtuanya juga sudah tiba di rumah sakit. Cahya memberitahu kabar bahagia itu kepada mereka dan tentu saja mereka sangat senang mendengarnya. Chitra sudah siuman, dan wajahnya masih pucat walau tidak sepucat tadi. Dengan mata yang berkaca-kaca Cahya memeluk sahabatnya itu dan mengucapkan selamat atas kehamilannya. Akhirnya setelah berbulan-bulan Chitra hamil juga, perempuan itu berkali-kali dilanda kegelisahan karena belum hamil juga, tetapi karena dia mendapat support dari keluarga juga sahabat agar bersabar lebih dulu, dan ternyata sekarang kabar ini membuat semua orang merasa senang.
"Dokter bilang kau harus banyak beristirahat, tekanan darahmu serta kadar gulamu sangat rendah, Randy sudah dalam perjalanan" Gumam Cahya sambil mengusap lembut kening Chitra.
"Thanks ya Ca, kalian sudah membawaku kesini"
"Its okay, sekarang kau beristirahat saja ya"
Disaat Chitra sedang tidur, Cahya mengobrol dengan Mama Chitra begitu juga Aditya tengah asyik membahas bisnis dengan Papa Chitra, tiba-tiba pintu ruangan itu terdorong dengan kerasnya hingga membuat mereka semua terkejut. Randy masuk dengan wajah yang terlihat sangat khawatir dan panik. Randy langsung menghampiri Chitra dan memeluknya, membuat Chitra yang sedang tidur langsung terbangun.
"Sayang, kau kenapa?? Kau baik-baik saja kan??? Aku khawatir sekali"
"Ran, Chitra tidak apa-apa, kenapa kau panik sekali" Ujar Mama Chitra.
"Ma, lihatlah dia terbaring disini bagaimana dia tidak apa-apa?"
"Tenanglah dulu, dan biarkan Chitra menjelaskan padamu tentang apa yang terjadi"
Akhirnya Randy melepaskan pelukannya dan menatap Chitra dengan perasaan khawatir, tampak matanya berkaca-kaca. Tetapi bukannya menjelaskan, Chitra justru tersenyum kepadanya, membuat Randy mengernyit dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau ini kenapa tersenyum, ada apa?? Please jangan membuatku semakin khawatir sayang!!!"
"Aku hamil...!" Ucap Chitra dengan suara serak.
"Hamil??? Kau serius?"
"Ya, aku hamil, usia kandunganku sudah 6 minggu sayang"
"Alhamdulillah, thanks god!!!" Seru Randy dan kembali memeluk Chitra, kali ini pelukannya diwarnai dengan perasaan yang bahagia dan berbunga-bunga.
Setelah memeluk Chitra, Randy tidak bisa menahan airmatanya dan memeluk kedua mertuanya. Aditya dan Cahya memberikan selamat kepada Randy, dan mendoakan agar Chitra serta bayinya diberi kesehatan hingga waktu melahirkan nanti.
Cahya mengirim pesan kepada Elea dan memberitahukan bahwa Chitra berada di rumah dakit, tetapi Cahya tidak mengatakan jika Chitra hamil. Tetapi tidak butuh waktu lama Elea langsung menghubungi Cahya dengan panggilan video, dan menanyakan keadaan Chitra.
"Ca, Chitra mana biarkan aku berbicara padanya!"
Cahya pun mengarahkan ponselnya di depan Chitra, dan Chitra yang terbaring melambaikan tangannya ke Elea. "Kau sakit kenapa kau malah tersenyum???" Protes Elea.
"Aku baik-baik saja El, doakan aku ya agar aku dan calon keponakanmu sehat terus!"
"Keponakan??? Apa kau hamil??"
Cahya dan Chitra hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah konyol Elea yang tidak bisa menahan kegembiraaanya. Cahya kemudian menutup panghilan videonya dengan Elea.
Hingga akhirnya karena sudah cukup lama sudah meninggalkan Kyra dan Kyros di rumah, Cahya pun mengajak Aditya untuk segera pulang dan berpamitan dengan Chitra juga keluarganya.
*****
Setelah menutup panggilan videonya, Elea masih berjingkrak-jingkrak karena bahagia, dan tiba-tiba Danist masuk ke kamar dan merasa heran melihat istrinya bertingkah seperti itu. Sadar dengan kehadiran Danist, Elea langsung menghentikan aksinya dan tersenyum malu.
"Kau kenapa? Apa kau menang lotre?" Tanya Danist sambil menahan tawanya.
Elea langsung meluncur dan memluk Danist. "Chitra hamil, aku baru saja menghubunginya, aku senang sekali..... Sebentar lagi Gienka, Kyros dan Kyra bakal punya temen baru, aku senang sekali....!"
"Istri pak Randy hamil? Syukurlah!"
"Nanti kita harus menengok Chitra oke? Kau pasti akan ke Jakarta lagi kan?"
"Iya, nanti pasti akan ada panggilan datang ke kantor HS Enterprise, tapi ngomong-ngomong, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu tetapi selalu lupa" Gumam Danist.
"Menanyakan sesuatu?? Apa???"
"Apa kau sudah memasang alat kontrasepsi sebelum berangkat ke Swiss? Ya aku takut kau hamil, mengingat Gienka masih kecil, dan aku ingin kita sekarang berfokus untuk mengurus Gienka lebih dulu"
Elea terhenyuk dan tidak menyangka jika Danist akan mengatakan hal itu. Sebelum berangkat ke Swiss sebenarnya dia juga sempat terpikirkan akan hal itu tetapi Elea mengurungkan niatnya melakukan pemasangan alat kontrasepsi karena jika dia melakukannya tanpa berbicara dengan Danist dia takut lelaki itu akan marah dan tersinggung tetapi ternyata ketakutannya tidak benar, Danist justru menginginkan mereka berfokus pada Gienka. Sambil tersenyum Elea menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak memasang apapun, aku takut kau akan marah jika aku melakukan itu tanpa memberitahumu lebuh dulu"
"Elea, kenapa tidak melakukannya saja, bagaimana bisa kau akan mengurus bayi lagi sedangkan Gienka masih beberapa bulan, baiklah, nanti kita pergi ke dokter ya dan berkonsultasi"
"Tapi, apa kau benar-benar ingin aku melakukannya? Apa kau tidak ingin memiliki bayi sendiri??"
"Apa bedanya Gienka dengan darah dagingku sendiri? Aku sudah menganggap Gienka adalah putri kandungku, aku juga tidak ingin kau kerepotan harus mengurus dua bayi, sudahlah jangan pikirkan apapun, kita harus berfokus pada Gienka sekarang, jika kau sudah siap nanti kita bisa membahasnya lagi, kita pergi ke rumah sakit siang nanti oke" Ujar Danist, mengingat saat ini Elea juga sedang berada dalam masa menstruasiinya tentu Elea sedang tidak dalam keadaan hamil.
"Tapi??? Apa kau serius??" Tanya Elea lagi karena dia masih tidak percaya.
"Kau ini, tentu saja aku serius, jangan pikirkan apapun kita harus fokus untuk pertumbuhan Gienka bayi kecil kita yang lucu dan sangat cantik"
"Kau baik sekali Dan.... Aku sangat mencintaimu!!!" Gumam Elea.
"Aku juga sangat sangat mencintaimu" Ucap Danist.
Elea kemudian memeluk Danist dengan erat, merasa sangat bersyukur memilik suami yang begitu mengerti akan dirinya. Inilah yang sejak dulu diinginkannya saat menikah, Ariel dulu juga melakukannya, memberikan banyak cinta dan kasih sayang hanya saja Ariel memutuskan memilih jalan yang salah dan justru meninggalkan luka yang begitu dalam. Tetapi akhirnya Tuhan mengirimkannya sosok suami yang jauh lebih baik daripada Ariel. Ariel hanya bagian dari masalalunya yang memang harus perlahan dia lupakan, selain kenangan indahnya bersama Ariel, Elea juga mencoba memaafkan semua perlakuan buruk Ariel kepadanya dulu. Menyimpan kemarahan terlalu lama juga tidak baik, karena tidak akan memberikan keuntungan apapun dan justru hanya mrnambah dosa saja. Lagipula Ariel juga sangat menyayangi Gienka, tentunya mereka akan bekerjasama memberikan yang terbaik untuk masa depan Gienka.