SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 318



Saat sedang berendam di bathtub bersama Aditya, Cahya mendengar tangisan dari si kembar. Dia langsung berdiri dan mengambil jubah mandinya serta mengajak Aditya untuk keluar karena tampaknya Kyra dan Kyros bangun bersamaan.


"Anak-anakku memang ajaib, selalu tahu jika aku sedang berduaan dengan Ibunya"


"Jangan menggerutu, ambil handukmu dan lekas keluar"


Cahya keluar dari kamar mandi setengah berlari menghampiri Kyra dan Kyros. "Kalian sudah bangun??? Anak-anak Amam memang pintar, hari sudah sore kalian bangun dan kita harus mandi sekarang oke???" Cahya mengangkat Kyros membawanya ke tempat tidur.


Aditya keluar tanpa memakai handuk melainkan memakai celana pendek dan mengangkat Kyra dari box bayinya. Cahya terlihat sedang melepaskan pakaian Kyros menandakan bahwa istrinya itu akan memandikan kedua bayinya, Aditya pun melakukan hal yang sama pada Kyra. Setelah itu Cahya berdiri dan masuk ke kamar mandi lalu keluar lagi beberapa menit kemudian


"Ayo bawa mereka mandi, seru juga sepertinya berendam bersama mereka" Ucap Cahya.


Mereka berdua pun mengajak Kyra dan Kyros masuk ke dalam bathtub. Aditya masuk lebih dulu bersama Kyra kemudian Cahya menyerahkan Kyros padanya karena dia harus melepas jubah mandinya lebih dulu. Aditya terkekeh melihat Cahya ternyata sudah memakai braa dan celana dallam dibalik jubah mandi itu.


"Kau harusnya membawa bikini!" Gumam Aditya.


"Kau ini!" Cahya masuk ke dalam bathtub dan menenggalamkan tubuhnya lalu mengambil Kyros dari Aditya.


Kyra dan Kyros terlihat sangat senang sekali dan memukul-mukulkan kedua tangannya di air hingga mengakibatkan cipratan-cipratan keciln. Keduanya tertawa dan berteriak karena kegirangan.


"Lihatlah! Mereka senang sekali bermain air, kita bawa ke kolam renang saja bagaimana??"


"Kau jangan mengada-ada ini sudah sore, air di kolam juga pasti dingin, besok saja"


"Ya ya ya, besok kita berenang oke? Tos dulu Ky" Aditya mengangkat telapak tangannya dan Kyros memukulkan telapak tangannya ke telapak tangan Aditya. "Good job, anak Apap memang best!"


"Kau nanti ajak mereka bermain ya, aku akan menyiapkan makan malam, mereka sangat aktif sampai aku tidak ada waktu untuk beristirahat"


"Kalau kau lelah kita pesan saja, sudah cukup, nanti mereka masuk angin jika terlalu lama berendam"


*****


Keesokan harinya, seperti biasa Cahya hanya menemani si kembar bermain di dalam Villa, sementara Aditya tengah berada di kantor dan akan kembali siang harinya. Aditya menjadi lebih protektif dengan tidak mengijinkan Cahya dan Kyra serta Kyros pergi keluar.


Sedan berwarna putih itu berhenti di depan gerbang villa Aditya yang tertutup. Yongki turun dari mobilnya dan mencoba membuka gerbang tetapi ternyata di di kunci. Dua perempuan berlari dari depan Villa dan menghampirinya. Penampilan mereka serba hitam dan tampak tegas pembawaannya, dan menanyakan keperluan Yongki datang kesini. Yongki mengernyit tetapi kemudian menjawab mereka jika dia datang untuk menemui Cahya dan Aditya.


Gerbang tidak langsung dibuka oleh mereka tetapi salah satu dari mereka justru mengambil foto Yongki dan satunya lagi sibuk menghubungi seseorang. Yongki menyandarkan tubuhnya di bagian depan mobilnya menunggu kedua wanita itu selesai menelepon, dari suaranya terdengar mereka sedang berbicara dengan Aditya.


"Silakan pak, langsung masuk saja, bu Cahya ada di dalam, pak Aditya juga akan segera kembali" Ucap perempuan itu lalu membuka gerbang villa.


Yongki masuk ke dalam mobilnya dan memasuki halaman villa mewah itu.


Yongki membuka pintu dan langsung masuk ke dalam villa, terlihat sangat sepi dan berpikir mungkin Cahya sedang berada di belakang atau ruangan lainnya. "Ca....!!! Cahya.....!!!" Teriaknya.


Karena pintu kamarnya terbuka, Cahya mendengar suara Yongki dan langsung berlari keluar. Cahya tidak turun tetapi berdiri pembatas tangga dan menyuruh kakaknya untuk naik ke atas saja karena dia tidak bisa meninggalkan Kyra dan Kyros.


Yongki naik dan masuk di kamar Cahya, terlihat dua keponakannya sedang duduk di lantai dengan beberapa mainan mereka disana. Cahya memeluk Yongki, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu membuat Cahya sangat merindukan kakaknya itu.


"Susah sekali sepertinya masuk kesini untuk menemuimu dan keponakanku ini, penjagamu yang cantik-cantik itu mengambil fotoku dan melaporkannya pada suamimu" Gumam Yongki sambil tertawa.


"Aku tahu, Aditya pasti ingin selalu berusaha menjaga kalian bertiga" Yongki mengusap rambut Cahya, kemudian melepas sepatunya dan duduk di lantai menyilangkan kaki nya di lantai kemudian menyapa Kyra dan Kyros. "Halo keponakan om Yongki, sedang main apa kalian??"


Yongki menciumi keduanya dan mentoel pipi Kyros yang ada di depannya dengan lembut. "Bagaimana keadaannya sekarang??? Tanya Yongki.


"Sudah baik dan ceria seperti yang kakak lihat sekarang, hanya saja berat badannya sempat mengalami penurunan karena ada infeksi disaluran pencernaannya" Ucap Cahya dengan mata berkaca-kaca.


"Tetapi apa yang sudah dilakukannya hingga Ky harus mengalami infeksi saluran pencernaan???"


Sambil berurai airmata Cahya menceritakan keadaan Kyros selama di rumah sakit saat itu. Bagaimana usaha dokter dalam menanganinya dan bagaimana Kyros mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari Cyntia hingga meninggalkan banyak luka dan kesakitan pada bayi itu. Serta bagaimana dia dan Aditya harus bertahan dengan siksaan bathin yang begitu kuat melihat ketidakberdayaan Kyros yang lemah di hadapan mereka. Bahkan diam-diam Cahya juga selalu mendengar isakan Aditya setiap malam di sisi Kyros yang terbaring dan terus menciumi tangan mungilnya sambil merapalkan permintaan maaf yang tiada hentinya kepada putranya itu karena merasa sudah gagal menjaganya. Itu kedua kalinya dia melihat betapa rapuhnya Aditya dibalik sikap keras dan dinginnya selama ini. Dimana Aditya juga bersikap sama saat mereka harus kehilangan bayi pertamanya dan bersamaan dengan kondisinya yang saat itu depresi, lalu yang kedua adalah kemarin saat Kyros mengalami hal mengerikan itu, Aditya merasa dirinya ada di titik terbawah dalam hidupnya, merasa gagal melakukan perannya dengan baik sebagai seorang ayah dan suami.


Yongki menyeka airmata Cahya, adiknya itu pasti mengalami penderitaan yang luar biasa dengan kejadian itu. "Aku masih tidak habis pikir kenapa ada yang setega itu pada kalian, dan percayalah Tuhan memberi ujian ini untuk kalian karena tahu kalian akan bisa melewatinya dengan baik, oh iya ibu terus menangis saat bercerita itu padaku, dan dia ingin sekali datang tetapi kondisinya sangat tidak baik, Ayah juga tidak bisa meninggalkannya, mereka menitip salam untuk kalian"


"Tidak apa kak, mereka juga sudah berbicara padaku, aku sangat mengerti kondisi mereka disana, oh iya aku sampai lupa tidak membuatkan kakak minum, kakak tolong jaga mereka, aku akan kebawah sekaligus menghubungi Adit karena dia akan pulang saat kakak sudah tiba disini" Ujar Cahya.


"Tidak perlu, Adit pasti dalam perjalanan, tadi pengawalmu sudah menghubunginya dan mengatakan padaku Adit akan pulang"


"Baiklah, aku akan membuatkan kakak minum" Cahya melepaskan pegangannya pada Kyra yang sedang berdiri di depan sofa lalu menitipkannya pada Yongki.


Yongki tersenyum melihat keponakannya sudah bisa berdiri dan duduk dengan baik. Tidak menyangka juga mereka sudah tumbuh begitu cepat. Yongki mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto mereka lalu mengirimnya ke Olivia, karena dia sudah berjanji untuk mengirimkan foto terbarusi kembar ketika sudah menemui mereka.





Saat baru selesai menuruni tangga, pintu depan terbuka dan Aditya muncul dari sana. Cahya menghampirinya dan memberitahu jika Yongki ada di kamar menjaga Anak-anak dan dia akan membuat minuman di dapur.


"Aku juga akan membuatkanmu jus, naiklah bantu dia sebelum Ky dan Kyra merepotkannya" Ucap Cahya sambil tersenyum.


"Baiklah"


Aditya menaiki tangga menuju kamarnya. Sampai disana dia melihat Yongki sibuk memotret si kembar. Aditya terkekeh. "Setidaknya beri mereka sekantong mainan sebelum mengambil fotonya" Gumam Aditya membuat Yongki terlonjak.


*****


Karena jam makan siang sudah tiba, Danist, Elea dan Chika pulang bersama untuk makan siang sebelum nanti kembali lagi. Chika meminta Danist mengantarnya ke villa kakaknya karena disana ada Yongki dan dia ingin menemuinya. Mendengar jika Yongki ada disini, Elea memutuskan untuk datang menemuinya juga karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada lelaki itu. Danist pun mengarahkan mobilnya ke villa milik Aditya.


"El!" Danist memanggil Elea yang duduk disebelahnya.


"Ya??"


"Apakah kita harus menitipkan undangan untuk pak Andi dan Ariel kepada pak Aditya?? Atau kita harus mengantarnya sendiri ke rumah mereka??? Atau memberikannya kepada mereka saat mereka datang menemui Gienka??"


"Kita mengantarnya kesana saja, rasanya tidak sopan jika harus menitipkannya atau memberikannya saat mereka disini, aku juga tidak enak jika mengirimnya melalui pos, lusa lebih baik kita kesana"


Pernikahan Danist dan Elea akan dilaksanakan 2 minggu lagi, semua persiapan mereka serahkan pada WO karena mereka sendiri disibukkan dengan banyak pekerjaan disini. Ariel dan Ayahnya tentu harus masuk dalam daftar tamu terbatas mereka, mengingat keduanya juga memiliki hubungan dengan Gienka, sangat tidak mungkin jika tidak mengundangnya. Permasalahan datang atau tidaknya Ariel nanti tentu itu menjadi hak Ariel sendiri yang terpenting mereka tetap mengundangnya.