SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 229



Sampai di apartment ternyata Gienka sudah tertidur, Elea mengangkatnya dari stroller dan menaruhnya di box bayi yang baru 2hari dibelikan oleh Danist. Tentu saja agar Gienka bisa tidur dengan nyaman dan Elea tidak perlu khawatir saat meninggalkan bayi itu ke kamar mandi atau ke ruangan lainnya. Elea pergi ke kamar mandi, karena maghrib sudah tiba setelah itu membereskan kamar dan berlanjut untuk memasak makan malam untuk Danist. Lelaki itu selalu pulang sekitar jam 8. Tetapi Elea memilih untuk menyiapkannya di jam-jam seperti ini, karena jika sudah masuk ke jam 8 dia sudah mulai malas untuk beraktifitas dan lebih memilih untuk menidurkan Gienka. Jika Danist datang dia pun sekedar menyambutnya, menyiapkan pakaian lalu menemani makan malam, setelah itu langsung beristirahat.


Ariel masih tetap setia duduk direstoran itu dan dia juga memesan kopi untuk menemaninya menunggu saatnya nanti tiba. Sebentar lagi obat itu pasti akan bereaksi dan akan membuat Elea menggila karena efeknya. Dia harus bersabar sedikit menunggu waktu yang pas, dan pasti akan sangat menyenangkan jika nanti dia dan Elea melakukannya lalu tiba-tiba Danist datang memergoki mereka, itu pasti akan menjadi moment yang luar biasa. Ariel tersenyum penuh kemenangan membayangkannya.


****


Danist sedang berjalan dengan Aditya keluar dari musholla yang ada dikantornya, ini jam untuk istirahat sebentar dan mereka akan kembali melanjutkan pekerjaan sampai selesai dan baru bisa pulang.


"Bapak yakin besok mengijinkan kita untuk masuk siang??" Tanya Danist pada Aditya.


"Tentu saja Dan, sudah beberapa hari ini kalian pulang larut, aku sendiri juga kehilangan waktu bermain dengan anak-anak setiap aku pulang mereka sudah tidur dan saat pagi hari sebelum berangkat hanya ada sedikit waktu untuk sekedar bermain bersama mereka jadi besok selain kalian aku juga ingin berangkat siang, karena paginya aku ingin bersama anak-anakku hahaha kau juga pasti ingin menghabiskan waktumu bersama Gienka kan???"


"Pak Aditya anda ini luar biasa, anda sangat mencintai keluarga anda"


"Kau tahu Dan, sejak aku menikah aku tidak pernah lagi pulang larut ke rumah, sangat jauh berbeda saat masih single, aku lebih memilih segera pulang agar bisa melihat istriku, dan jika ada pekerjaan yang belum selesai aku akan menyelesaikannya dirumah karena istriku selalu menemaniku diruang kerja, dan sekarang prioritasku ingin pulang cepat bukan karena istri lagi tapi karena anak, dunia kita akan benar-benar dipaksa berubah saat sudah memiliki anak, itu luar biasa"


"Bapak benar sekali, aku juga merasakannya, walaupun Gienka bukan darah dagingku tetapi bayi itu benar-benar luar biasa bahkan saat menangis hanya aku yang bisa menenangkannya, Elea selalu memberikannya padaku karena dia kesulitan jika Gienka sedang rewel"


"Selalu tercipta kedekatan yang luar biasa antara anak dan ayah, kita harus bangga dengan itu" Ucap Aditya.


*****


Setelah menunaikan kewajibannya, Elea membereskan mainan Gienka yang berserakan dan kamarnya juga terlihat sedikit berantakan. Elea memunguti satu per satu mainan putrinya yang terjatuh dilantai, kemudian menutup gorden jendela kamarnya yang masih belum ditutup, dan melihat keluar, matahari sudah tenggelam sempurna hari sudah gelap. Elea melanjutkan merapikan tempat tidurnya lebih dulu sebelum keluar kamar untuk menyalakan lampu juga menutup gorden-gorden diruang depan dan setelah itu akan memasak.


Saat sudah selesai merapikan tempat tidurnya, dia merasa bahwa hawa yang ada dikamarnya berubah menjadi panas. Elea mengambir remote ac dan mengurangi suhunya agar menjadi lebih dingin, tetapi ternyata suhunya ternyata sudah yang paling rendah. Elea memilih duduk dan mengambil stofmap yang ada di meja lalu mengipaskannya pada lehernya.


"Apa pendingin ruangan ini rusak atau kotor ya? Kok ini panas sekali" Gumam Elea yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Elea mengurungkan niatnya untuk ke ruang depan, karena dia mersakan panas yang begitu menjalar ditubuhnya. Semakin lama rasa panas itu semakin menjadi, dan Elea merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Elea meraih gelas berisi air yang ada dimeja dan langsung meneguknya sampai habis. Karena begitu panasnya, Elea terpaksa mematikan lampu kamarnya berharap bisa mengurabgi suhu panas yang terjadi.


Disisi lain, Ariel melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 6 lewat hampir setengah 7 dan ini sudah waktunya, obat itu pasti sudah mulai bereaksi pada Elea. Ariel memanggil pelayan restoran dan membayar semua pesanannya tadi lalu beranjak pergi ke apartment Elea.


Ariel membuka pelan pintu kamar Elea, kamar itu juga terlihat gelap. Gerakan gemerisik di ranjang membuat Ariel menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Ariel melihat Elea terbaring di sana, gelisah. Dan Elea tampak tidak tenang, tentu saja karena obat itu sudah bereaksi. Ariel mendekat, dan menemukan Elea berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan, “Danist tolong… ini panas sekali….” suara Elea mendesah, serak seperti kesakitan.


Elea mengira itu adalah Danist yang sudah pulang, karena kondisi kamar gelap dan dia sendiri sudah tidak bisa fokus karena tubuhnya terasa begitu panas, tidak hanya panas biasa tapi ini panas sekali. Ariel mendekat ke Elea, meraih perempuan itu lalu memeluknya dan tersenyum sumringah dibalik gelapnya kamar itu. Pelukan itu justru membuat Elea semakin menggeliat kepanasan dan mendorong tubuh Ariel yang dipikirnya Danist dengan begitu keras, lalu melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Karena kondisi gelap dan tidak fokus, Elea sampai harus tersandung kaki meja tetapi dia tidak peduli. Begitu sampai didepan kamar mandi, dia langsung menceburkan dirinya ke dalam bathup dan menghela napas panjang karena dingin air di bathtub membuatnya tubuhnya sedikit tertolong.


Ariel menyusul Elea ke kamar mandi dan menemukan Elea sedang berendam di bathtub lalu menghampirinya. Elea terlonjak kaget melihat ada Ariel datang dan melempar senyum ke arahnya. Lampu kamar mandi memang menyala jadi kali ini Elea bisa melihat dengan jelas ternyata yang tadi memelukya adalah Ariel.


"Eleaku sayang, kenapa kau berendam disini? Ini tidak akan membantu mengurangi rasa panas didalam tubuhmu, ayo keluarlah aku akan membantumu dengan senang hati, ayo ku bantu" Ucap Ariel, lelaki itu duduk berjongkok disisi bathtub sambil terus melempar senyum kepada Elea.


"Ariel, kenapa kau ada disini??"


"Elea sayang, aku datang untuk membantu mengurangi rasa sakitmu, apa kau lupa bahwa sakitmu sekarang itu juga pernah kau rasakan dulu, dan hanya dengan berhubungan badan itu akan hilang, aku sangat merindukanmu El, ayo aku akan membantumu untuk memuaskan dirimu" Ariel mengusap lembut pipi Elea dan Elea langsung menepisnya.


Sejenak Elea terdiam mengingat sesuatu sampai kemudian dia tersadar. "Apa kau memberiku obat itu, bagaimana bisa" Gumam Elea.


"Tentu saja bisa, obat itu sangat kecil dan mudah larut, ayo berdirilah, kita mulai sekarang dan ku pastikan rasa sakitmu itu akan hilang, ayo Elea sayang" Ariel memegang kedua bahu Elea hendak mengangkat tubuh Elea agar keluar dari bathtub.


Elea sekali lagi menepisnya dan mencoba bangun untuk keluar dari bathtub dan dia harus segera pergi sebelum Ariel melalukan niat baiknya. Elea berdiri dan langsung melompat keluar dari bathup, karena licin, Elea pun terpeleset dan jatuh. Punggungnya langsung menimpa tubuh Ariel, dan Ariel langsung menangkapnya. Sekarang wajah mereka saling berhadapan, Ariel semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Elea.


"Kau mau kemana, aku sudah bilang bahwa aku akan membantumu" Ucap Ariel.


"Iel kumohon jangan lakukan ini, aku sudah bersuami, kumohon Iel jangan lakukan ini" Elea berusaha mendorong wajah Ariel agar menjauh dan Elea berusaha berdiri.


"Persetan dengan suamimu" Geram Ariel.


Ariel membantu Elea berdiri tetapi kemudian mendorong perempuan itu ke tembok dan menahan tubuh Elea dengan tubuhnya. Ariel mencoba untuk mencium Elea dan Elea berusaha keras untuk menghindarinya sambil terus meronta meminta agar Ariel tidak melakukannya, tetapi tentu saja Elea bukan tandingan Ariel. Tubuh kecilnya tidak akan mampu melawan lelaki itu.


"Iel, ku mohon jangan lakukan ini Iel, jangan....."