
"Dia sudah nyenyak sekali, lebih baik kai segera membawanya pulang, agar dia beristirahat dengan nyaman...!" Gumam Maysa yang langsung menyadarkan lamunan Ariel.
"Biarkan sebentar saja" Ariel kemudian berdiri dari sofa yang di dudukinya dan menghampiri Maysa, kemudian mengangkat Gienka ke sofa yang lainnya dan menumpukan bantal dikepala putrinya itu. Ariel lalu duduk disebelah Maysa dan sedikit menyerongkan tubuhnya, menatap Maysa sangat dalam serta menggenggam jemari perempuan itu. "May, jika aku boleh berkata jujur, aku masih sangat mencintaimu selama ini tetapi setiap aku ingin mengatakannya, aku selalu malu karena teringat akan kesalahanku kepadamu, tetapi aku tidak bisa terus menahan semua ini terlalu lama, jadi aku ingin kau kembali padaku dan kita lanjutkan apa yang dulu pernah kita rencanakan, yaitu berbahagia bersama, kau sangat menyayangi Gienka, aku ingin kau juga jadi ibu sambung yang baik untuk putriku, dia sangat menyukaimu, aku yakin kau tahu akan hal itu"
Maysa terperangah, tidak menyangka jika Ariel akan mengatakan hal itu. Sama halnya dengannya, dia juga sebenarnya masih sangat mencintai Ariel, tetapi keadaan memaksa mereka harus terpisah. Tetapi banyak sekali hal yang membuatnya meragu harus menolak atau menerima, mengingat dia memiliki banyak kekurangan dan bagaimana bisa dia menikah lagi sedangkan dia adalah perempuan mandul. Ariel, lelaki itu dulu bercerai dengan Elea dikarenakan hasutan dari perempuan lain yang mengatakan bahwa Elea mandul. Sekarang Ariel malah memintanya untuk kembali.
"Jika kita bisa bersahabat seperti ini, kenapa kita harus kembali seperti dulu??? Aku tidak ingin kita seperti dulu menjalin hubungan yang bebas tetapi pada akhirnya kau merendahkan harga diriku didepan orang lain, dan jika kau menginginkan hubungan yang serius, lalu bagaimana dengan kekuranganku sebagai seorang perempuan yang sudah tidak bisa memiliki anak? Apa kau mau menikah dengan perempuan sepertiku??? Tidak Iel, aku tidak ingin disakiti lagi oleh ucapan menyakitkan tentang diriku lagi, lebih baik kita bersahabat seperti ini saja!" Ujar Maysa dengan mata berkaca-kaca.
Ariel mengangkat kedua jemari Maysa, menciumnya dan menatap perempuan itu semakin dalam penuh dengan keyakinan. "May, aku butuh pendamping hidup untuk menemani hariku, aku hanya menginkan dirimu untuk melakukannya, kita sudah punya Gienka? Lalu apalagi? Kita bisa membesarkannya dengan penuh kasih sayang, aku tidak menginkan apapun lagi, jika Tuhan nanti tidak memberi kita anak, itu tidak apa mungkin bukan rejeki kita tetapi kembali lagi bahwa kita sudah punya Gienka, dan jika Tuhan memberikan kita anak, kita harus bersyukur, aku sudah memutuskan untuk menghabiskan hariku bersama perempuan yang sangat aku cintai, melewati setiap pagi dengan memandang wajahnya dan memulai malam dengan berpelukan itulah yang aku inginkan. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, baik itu anak atau hal lainnya, satu hal yang pasti kita harus berbahagia selamanya, please aku janji? Jika perlu kita akan membuat perjanjian pra nikah, jika sampai suatu hari aku mengatakan hal buruk atau memaksamu memiliki anak, kau bisa menuntutku dan memenjarakan diriku. Please May?? Kita bisa membesarkan Gienka bersama, dia pasti akan bahagia memiliki ibu sambung sepertimu seperti kebahagiaannya memiliki Danist, kau mau kan kembali lagi denganku???
"Tapi Iel???" Ucap Maysa lagi karena masih ragu.
"Please....!?? Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi dalam bentuk ucapan atau perbuatan dan aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang dulu aku lakukan pada mantan istriku, aku bersumpah demi Gienka" Ariel kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan cincin yang dulu pernah dibelinya untuk Maysa. "Aku ingin mengikatmu dan menjadikanmu istriku, kau mau kembali padaku kan???"
Maysa terdiam cukup lama, mencoba mencari keseriusan Ariel. Lama dia menatap Ariel masih meragu hingga kemudian memejamkan matanya seraya menyebut nama Tuhan berharap ini adalah awal yang baik. "Aku mau, aku akan mengingat semua janjimu ini, jika kau melanggarnya, aku akan benar-benar kecewa padamu"
"Kau mau???" Tanya Ariel tidak percaya, Maysa mengangguk.
Dengan perasaan bahagia Ariel menyematkan cincin yang dibawanya di jari manis Maysa lalu mencium punggung tangan perempuan itu. Ariel memeluk Maysa dan mengucapkan terima kasi, setelah itu dia melepaskan pelukannya dan mendongakkan dagu Maysa. Memandangnya begitu dalam lalu perlahan wajah Ariel mendekat ke wajah Maysa.
Ariel mengerang menahan perasaannya, kemudian dikecupnya bibir Maysa lembut. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa hangat,, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Maysa yang sudah lama dirindukannya, mencecapnya dan menggodanya, lidah itu lalu menemukan lidah Maysa yang lembut dan berjalinan di sana. Ariel menjelajah seluruh bagian bibir Maysa, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Maysa, bergerak naik turun.
Ariel perlahan membaringkan tubuh Maysa di sofa, dan menindihnya, masih saling menjelajah kemanisan mulut mereka. Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah. Ariel lalu mengecup lembut bibir Maysa, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Maysa memekik kegelian. Tubuh Ariel mulai menegang karena suasana romantis ini, tetapi Ariel harus menahan diri agar mereka tidak terlarut dengan kondisi ini.
Ariel mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Maysa dan tersenyum memandang wajah cantik perempuan itu. "Sudah cukup, aku tidak bisa melakukannya walaupun aku sangat menginginkannya saat ini, aku akan melakukannya setelah kita menikah saja" Gumam Ariel kemudia dia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. "Aku akan menikahimu minggu depan, kau tidak boleh menolakku, sudah lama aku menahannya dan aku tidak bisa menunggu lagi, besok kita akan mulai mengurus semuanya!" Ucap Ariel dengan penuh keyakinan.
★★★★★
2 minggu kemudian.......
Meskipun persiapan hanya dilakukan dalam 2 minggu, tetapi semua berjalan dengan lancar. Ariel juga menyempatkan waktu datang ke kota temlat tinggal Mama Maysa dan keluarga besarnya untuk melamar Maysa serta meminta ijin menikahinya. Tetapi selain itu, Ariel juga meminta maaf secara langsung kepada Mama Maysa atas kesalahan yang pernah dilakukannya dulu. Beruntungnya semua itu juga berjalan dengan sangat lancar.
Semua orang terlihat sangat senang dan bahagia seperti yang sedang dirasakan oleh kedua mempelai yang ada di pelaminan. Danist sangat senang Ariel sudah memikirkan dengan matang sebelum melakukan ini, Ariel sudah benar-benar siap dengan segala hal yang ada di diri Maysa, serta berjanji akan menjadi suami yang baik. Begitu juga dengan Elea, dia sangat berharap Ariel benar-benar menjadi suami yang bertanggung jawab nantinya dan tidak lagi mengulang kesalahannya.
Aditya sedang sibuk mengobrol dengan Randy juga Adri yang baru kembali dari honeymoonya di Hawai. Mereka bertiga juga terlihat bahagia sekali, banyak doa yang mereka berikan untuk Ariel, tentunya semua adalah doa yang baik-baik. Berdoa untuk kebahagiaan Ariel dan Maysa.
Cahya, Chitra, dan Chika juga tidak berhenti memuji kecantikan Maysa. Semua terasa sangat pas dan keduanya sangat cocok. Cahya menoleh dan dia menemukan Brianna sedang berdiri sendirian sedang berada di belakangnya sekitar 5 meter. Cahya pun memanggil sambil melambaikan tangan dan meminta agar Brianna bisa bergabung bersamanya. Brianna tersenyum dan mendekat lalu menyapa Cahya, Chitra dan Chika lalu cipika-cipiki. Brianna mengungkapkan kebahagiaannya atas oernikahan Ariel dan Maysa kepada Cahya, serta mengharapkan agar mereka dilimpahi kebahagiaan.
Saat tengah asyik mengobrol, tiba-tiba pandangan Brianna tertuju pada Danist yang berdiri dan sedang tersenyum menggoda Friddie yang ada di gendongan Elea. Danist terlihat bahagia sekali, dan tampak dia sedang mencium Friddie lalu berbicara dengan Elea. Danist sepertinya sudah sembuh karena dia sudah tidak lagi memakai kursi roda. Sampai saat ini Brianna masih berusaha mengikhlaskan dan melepaskan Danist dan akan memulai hidup barunya tanpa bayang-bayang laki-laki itu lagi.
Kyros melangkah mendekati Gienka dan Kyra yang sedang duduk dan tampak serius melihat pelaminan. Kyros memegang pergelangan tangan Gienka dan menyuruhnya untuk turun dari kursi. "Kenapa menyuluhku tulun??" Tanya Gienka bingung.
"Bajumu seperti baju tante May, bajuku juga seperti Papa Yel mu??? Ayo kita kesana" Ucap Kyros dengan polosnya.
"Kenapa kita kesana???" Tanya Gienka lagi.
"Papa Yelmu dan Tante May menikah, kau juga harus menikah dengaku, ayo kita kesana...!" Kyros menarik Gienka dan membawanya melangkah pelan ke arah pelaminan.
Hingga sampailah kedua bocah itu di atas pelaminan, membuat Ariel dan Maysa bingung tetapi kemudian mereka tersenyum. Aditya yang melihat kedua anak itu langsung berlari untuk menurunkan keduanya.
"Gie, Ky, ayo turun...! Kenapa kalian ada disini?? Ayo turun dan makan eskrim disana??" Aditya menunjuk ke arah tempat es krim berada.
"Uncle...! Ky yang mengajakku kesini, katanya dia mau menikahiku sepelti Papa Yel menikah dengan tante Cantik kalena pakaian kami sama" Ucap Gienka yang langsung membuat Ariel, Maysa dan Aditya tertawa mendengar jawaban polosnya.
"Oke-oke nanti kalian boleh menikah, tetapi sekarang ayo turun dulu dan kita makan es krim" Aditya kemudian mengajak kedua bocah itu turun dari pelaminan.