SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
KEHILANGAN



Cahya mendorong keras Aditya ke samping hingga suaminya itu jatuh dan seketika dirinya sendiri juga ikut jatuh dalam posisi berlutut memegang perutnya. Cahya menyelamatkan Aditya dari Theo yang sedang membawa sebuah pisau dan akan menyerang suaminya dari belakang.


Aditya masih bingung mengapa Cahya mendorongnya ke samping bukannya memeluknya, tetapi dia tersadar saat melihat Cahya bersimpuh memegang perutnya dan Theo berdiri terkejut didepan Cahya. Aditya bergegas bangun dan menghampiri Cahya dan menyingkirkan Theo, sontak dia kaget melihat sebuah pisau menancap di perut istrinya.


Theo tidak kalah terkejut, pisau yang harusnya menancap di punggung Aditya justru malah menancap di perut Cahya. Melihat pemandangan didepannya, Theo ketakutan dan langsung berlari keluar rumah. Aditya ingin sekali mengejar Theo dan memberinya pelajaran tetapi melihat istrinya yang berlumuran darah dia mengurungkan niatnya, dan langsung memeluk istrinya itu sambil terus memanggil namanya.


Theo berlari ke arah luar untuk kabur sebelum Aditya mengejarnya tetapi saat akan keluar pintu, dia justru menabrak dua orang laki-laki yang akan masuk ke rumah itu. Seketika dua lelaki itu langsung menangkap Theo. Dan ternyata itu adalah Ariel dan Randy. Tanpa pikir panjang Ariel memberikan hadiah sebuah pukulan keras ke wajah Theo.


" Sayang, Ya Tuhan, apa yang terjadi?" Aditya langsung memeluk Cahya, dan Cahya memegang perutnya, darah mengalir dari sana, sebelah tangannya menggenggam erat tangan Aditya.


" Sa....kit...... Maafkan a...ku..." Suara Cahya tercekat dan kemudian tidak sadarkan diri.


" Cahyaaaa........ Bangun Ca...." Teriak Aditya sambil memeluk istrinya.


Mendengar suara Aditya, Randy langsung menyuruh Ariel untuk masuk melihat Aditya, sedangkan dia yang akan mengurus Theo.


Ariel terkejut melihat Aditya memeluk Cahya dan berlumuran darah. " Dit, ayo cepat kita bawa Cahya ke rumah sakit sebelum terlambat" Ucap Ariel panik.


Aditya langsung menggendong Cahya dan membawanya pergi. Dan Ariel berlari untuk mengambil mobil Aditya yang terparkir diluar halaman rumah itu, dia melihat Randy dan anak buahnya mengurus Theo.


" Ran, lo urus bajingan itu, gue akan bawa Cahya kerumah sakit, entah apa yang dilakukan si brengsek ini, Cahya tertusuk sebuah pisau di perutnya" Ujar Ariel dan langsung berlari meninggalkan Randy.


Randy juga tidak kalah kaget melihat Aditya membopong Cahya yang berlumuran darah sedangkan Theo berteriak memanggil nama Cahya sambil menangis dan ingin berlari ke arah Cahya yang sedang dibopong oleh Aditya. Randy segera menghentikan ulah Theo dengan memukul wajah Theo dengan keras.


***


" Sayang, aku mohon buka matamu, kita akan segera ke rumah sakit, please jangan seperti ini, Iel tolong bisa lebih cepat kau mengemudikannya"


Ariel mengemudikan mobil dengan cepat, dan Aditya tidak berhenti untuk membuat Cahya tersadar. Kepanikan sangat terlihat jelas, darah terus mengalir. Sampai akhirnya mereka sampai dirumah sakit, segera Cahya mendapatkan penanganan dan Aditya mengatakan pada perawat bahwa istrinya sedang hamil.


Keadaan Aditya sangat berantakan dengan kemeja yang berlumuran darah, dan terus menundukkan kepala menyesali atas semua yang terjadi pada istri nya. Ariel berusaha menenangkan sahabatnya itu dan tidak lupa menghubungi keluarga Aditya dan mereka semua dalam perjalanan ke rumah sakit.


" Iel, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Cahya, dia sedang hamil, kenapa ini harus terjadi? Istriku kenapa bisa mengalami hal seperti ini?" Aditya berucap sedih dan mengutuk dirinya sendiri.


Seketika langit terasa runtuh diatasnya, kaki Aditya langsung lemas dan duduk di lantai. Ariel segera menahan Aditya, dia juga tidak kalah shock mendengar penjelasan dokter, kemudian dia mencoba menenangkan Aditya. Dokter juga butuh tanda tangannya segera untuk melakukan operasi.


" Dit, lo harus kuat oke, sekarang segera lo tanda tangani agar Cahya segera bisa ditangani"


****


Seseorang datang mengantar pakaian yang dipesan Ariel untuk Aditya, dia adalah salah satu anak buah Randy. Dia juga mengatakan jika urusan Theo sudah beres dan sekarang Theo sudah dibawa ke suatu tempat dan ditahan oleh Randy. Ariel lalu mengucapkan terima kasih dan menyuruhnya untuk pergi.


" Dit, ini pakaian lo ganti baju dulu, Elea bilang sebentar lagi dia dan keluarga lo bakal sampai, lo ga bisa temui mereka dengan keadaan seperti ini" Ucap Ariel dan memberikan pakaian itu ke Aditya.


Aditya kembali setelah berganti pakaian dan duduk disebelah Ariel. Dia hanya terdiam tidak berkata apapun, dan Ariel sangat memahami apa yang terjadi pada sahabatnya itu pasti hatinya sangat terguncang dengan keadaannya sekarang.


Keluarga Aditya akhirnya sampai, ada Elea dan juga ibu Cahya. Melihat putranya duduk termenung dengan pandangan kosong, nyonya Harry langsung memeluknya dan menangis menenangkan putranya. Dalam perjalanan Elea sudah mengatakan apa yang terjadi pada Cahya.


" Mama, Theo membunuh bayi kami, istriku terluka dan kami juga kehilangan bayi kami, kenapa Ma? Apa kesalahan yang sudah kami perbuat hingga Tuhan menghukum kami seperti ini?"


" Ssshhhh... Kau tidak boleh mengatakan itu, kau harus ikhlas ini sudah jalan dari Tuhan, kau dan Cahya harus sabar" Nyonya Harry mengelus lembut punggung putranya.


" Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada Cahya, baru saja kemarin kami menghabiskan waktu bersama dan tertawa bahagia, aku turuti semua keinginannya dan dia sangat bahagia dengan hal itu, tapi sekarang istriku terbaring tidak berdaya dan bayi kami telah meninggalkan kami sebelum kami melihatnya" Aditya berucap datar.


Airmata semua orang menetes mendengar bagaimana hancurnya hati dan perasaan Aditya saat ini. Nyonya Harry mencoba terus menenangkan putranya, sedangkan ibu Cahya menangis dalam pelukan Elea. Semua orang merasa hancur bukan hanya Aditya saja, tetapi mereka harus tetap terlihat kuat agar Aditya bisa ikhlas menerima ini semua, terutama Cahya pasti dia lebih hancur jika nanti mengetahui semua ini.


Akhirnya dokter keluar dan memberitahu jika operasi sudah selesai dan berhasil. Cahya butuh perawatan ekstra dan harus beristirahat pasca operasi, setelah semua dibereskan Cahya akan dibawa ke ruang rawat inap.


" Dan untuk janinnya nanti akan diberikan pada pihak keluarga untuk bisa diurus mau dimakamkan atau bagimana nanti terserah dari pihak keluarga, baim saya permisi" Ucap dokter.


Setelah dokter pergi Nyonya Harry menatap sedih putranya dan mengatakan jika putranya itu harus kuat dan harus ikhlas, janin itu bagaimanapun harus dimakamkan sesuai dengan prosedur yang ada di agama mereka dan harus juga diberi nama walaupun belum mengetahui jenis kelaminnya.


" Sayang, besok pagi kau harus mengurus pemakaman anakmu, kau harus kuat, kami semua ada bersamamu, ingatlah istrimu pasti akan lebih hancur dari dirimu, kau harus jadi penopang utama untuknya, jadi kuatkan hatimu, Tuhan bukan menghukum kita tetapi sedang menguji kita karena ingin tahu seberapa kuat kita bisa menghadapi ujiannya, Cahya saat ini memerlukanmu" Ujar Nyonya Harry dan Aditya langsung memeluk Mamanya.


Benar kata Mamanya saat ini yang lebih penting adalah Cahya, bagaimana dia harus bisa mengatasi perasaan istrinya jika mengetahui apa yang terjadi.