
"Ya, nanti kalau uncle Adit pulang, aku akan menyuluhnya menelepon Papa Yel"
"Anak pintar, lanjutkan makanmu, Papa Dan harus istirahat sekarang, dan besok kita berjumpa lagi oke???"
"Oke...! I love you Papa Dan....!"
"I love you too anak papa yang cantik ...!"
Danist kemudian menutup panggilan video dari Gienka. Senyumnya kembali mengembang di wajahnya, Danist berharap besok Ariel benar-benar bisa datang untuk menemuinya. Mungkin dengan itu dia bisa memastikan bahwa Ariel benar-benar dalam keadaan baik. Tetapi Danist sendiri tidak mau berharap terlalu tinggi mengingat Ariel juga bisa saja menolak permintaannya, mengingat selama ini hubungan mereka begitu buruk.
"Kau memakai ponselku???" Tanya Elea yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan memergoki Danist sedang meletakkan ponselnya di meja.
"Gienka baru saja berbicara denganku lewat panggilan video, dia berteriak dengan sangat keras saat aku yang mengangkatnya, putri kita manis sekali" Danist terkekeh.
"Gienka???"
"Iya, dia memakai ponsel bu Cahya, dia begitu senang saat aku memintanya untuk datang kesini besok" Danist tiba-tiba menguap dan merasa mulai mengantuk setelah tadi makan dan meminum obat.
Dengan cekatan, Elea menyelimuti Danist, dan membiarkan suaminya itu tidur. Memang tidak butuh waktu lama, karena Danist benar-benar langsung tidur. Dan tidak lama Mama mertuanya datang membawa makanan untuknya. Elea mengambil ponselnya dan mengeceknya daftar panggilannya, dia memang menemukan panggilan video dari Cahya, berarti Danist tidak berbohong.
Ditempat lain, setelah selesai makan, Cahya menyuruh agar anak-anak kembali ke kamar mereka untuk belajar lebih dulu karena dia harus membersihkan meja makan dan mencuci semua piring. Aditya masih belum kembali dari kantor, karena dia sedang ada pertemuan dengan klien membuatnya harus pulang terlambat. Mengenai permintaan Danist untuk mengantar Gienka ke rumah sakit besok, Cahya akan membicarakannya nanti dengan Aditya, begitu juga dengan keinginan Danist untuk bertemu Ariel. Saat ini Ariel tidak bisa dihubungi dan sepertinya juga tidak ada disini, lalu bagaimana bisa mewujudkan keinginan Danist tentang hal itu. Di tambah lagi Ariel tidak mendapatkan ijin dari Elea untuk bisa menjenguk Danist.
"Ah.... Ya Tuhan.... Rumit sekali permasalahan ini" Gumam Cahya.
Cahya sudah menyelesaikan tugasnya bersih-bersih, kali ini dia harus masuk ke kamar anak-anaknya dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.
Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Kyra dan Gienka sudah tidur setelah Cahya menghabiskan 2 buku dongeng untuk diceritakan kepada keduanya. Cahya merapikan selimut mereka dan mematikan lampu kamar, kemudian menutup pintu dan beralih ke kamar Kyros. Kamar putranya tampak sepi dan Kyros sudah berbaring nyaman ditempat tidurnya dengan memeluk guling roket kesayangannya, tetapi sayangnya Kyros lupa menutup tirai balkon kamarnya dan teleskopnya masih berada di balkon, membuat Cahya harus memindahkannya ke dalam sebelum menutup pintu balkon itu. Cahya berdiri di balkon kamar Kyros sambil menikmati pemandangan diluar. Pemandangan langit malam juga indah, pantas saja Kyros sangat menyukainya.
"Adit belum kembali juga, padahal sudah jam segini" Gumam Cahya.
Sejenak Cahya menikmati udara malam tetapi kemudian dia harus segera masuk karena udara dingin dan membawa teleskop Kyros ke dalam kamar putranya itu, menekan tombol agar pintu tertutup. Cahya keluar dan tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Senyumnya mengembang karena Aditya sudah kembali.
"Sayang??? Kau belum tidur???" Tanya Aditya.
"Aku baru saja mengecek kamar Kyros, kau cepat mandi dan tidur, kau pasti lelah sekali"
"Aku lapar, apa ada makanan??"
"Kau lapar?? Bukannya tadi kau bilang sedang meeting di restoran?? Kenapa lapar???" Seru Cahya.
"Aku langsung pulang setelah meeting dan menolak untuk makan, aku ingin makan dirumah saja, tidak ada makanan ya??? Ah ya sudah kalau begitu, aku akan mandi dan langsung tidur"
"Aku yang salah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku mandi dulu" Aditya mendaratkan ciuman di kening Cahya lalu masuk ke kamarnya.
Cahya menatap kepergian Aditya, dan menyadari bahwa suaminya itu tidak akan bisa tidur dengan tenang jika perutnya sedang kosong. Dia harus memasak sesuatu agar Aditya tidak kelaparan. Dengan cepat Cahya melangkah ke dapur dan memeriksa isi kulkas untuk memastikan apa yang bisa dia masak. Cahya tersenyum ketika melihat ada sosis dan smoke beef, membuat spaghetti oglio olio sangatlah cepat dan itu juga kesukaan Aditya.
Dengan cepat Cahya memotong semua bahan, air juga sudah mendidih tinggal memasukkan pastanya kesana. Setelahnya Cahya berlari ke kamar untuk menyiapkan pakaian Aditya. Cahya mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang, pakaianmu sudah ku siapkan, aku tunggu dimeja makan, aku memasak sesuatu untukmu dan aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu"
"Ya...." Sahut Aditya dari dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Cahya sudah menyajikan makanan di meja makan tinggal menunggu Aditya. Dan akhirnya Aditya keluar dari kamar, menarik kursi makan dan duduk dengan manis di depan sepiring spaghetti kesukaannya. Tak lupa Aditya mengucapkan terima kasih kepada Cahya yang dengan cepat bisa menyajikan makan malam untuknya. Aditya mulai menikmatinya dan makan dengan lahap.
"Apapun yang kau masak selalu enak, membuatku semakin mencintaimu...! Oh iya apa yang ingin kau katakan padaku??? Jika kau memintaku untuk membuatkan anak lagi, aku tidak bisa melakukannya" Aditya terkekeh.
"Diamlah....! Aku tahu kau tidak akan mau jika aku meminta itu, tetapi ada hal lain yang ingin aku katakan padamu".
Cahya kemudian menceritakan semuanya tentang keinginan Danist yang ingin Ariel bisa datang ke rumah sakit. Aditya tersenyum dan merasa senang dengan hal itu, mengartikan bahwa Danist dan Ariel akan bisa memperbaiki hubungan mereka. Aditya sangat bisa melihat dengan jelas penyesalan yang dirasakan oleh Ariel ketika Elea melarangnya untuk datang menemui Danist. Padahal Ariel sangat ingin melakukannya dan meminta maaf pada Danist. Dan jika hal itu terjadi tentu mereka berdua bisa bersatu dan mejadi saudara yang sesungguhnya.
"Lagipula kenapa juga sih Danist meminta hal itu??? Ariel saja tidak pernah peduli padanya" Gerutu Cahya.
"Sayang...! Kenapa kau menanyakan hal itu? Sudah jelas karena Danist sangat menyayangi Ariel, lagipula aku juga sudah mengatakan padamu bahwa Ariel sangat menyesali apa yang terjadi, dan niatnya meminta maaf pada Danist itu tulus, ya mungkin ini bisa jadi awal baik untuk hubungan mereka, iya kan???"
"Iya ya ya... Tetapi kau tahu sendiri, Elea melarang Ariel untuk datang"
"Danist sendiri yang meminta Ariel untuk datang, lalu apa yang bisa dilakukan Elea, ah sudahlah kita lihat saja nanti" Ujar Aditya kemudian di pun menyampaikan pada Cahya bahwa dia bisa meminta Maysa untuk memberitahu hal ini pada Ariel.
Aditya mengambil ponselnya dan menghubungi Maysa, dia tahu bahwa sekretarisnya itu pasti belum tidur mengingat tadi mereka meeting bersama, dan Maysa pasti baru sampai di apartemennya. Benar saja, dalam deringan kelima, Maysa mengangkat telepon dari Aditya. Tanpa basa-basi Aditya mengatakan semuanya kepada Maysa, dan meminta agar Maysa bisa menyampaikan kepada Ariel tentang hal itu, dan masalah penolakan dari Elea itu akan menjadi hal nomor sekian karena yang paling terpenting adalah kedatangan Ariel memenuhi keinginan Danist.
Maysa menyanggupi permintaan Aditya untuk memberitahu Ariel, tetapi perempuan itu tidak bisa berjanji bahwa Ariel bersedia pulanh, mengingat Ariel mengatakan padanya bahwa dia masih membutuhkan waktu lama untuk menenangkan dirinya.
★★★★★★
Keesokan harinya.....
Aditya bersama Cahya menjemput anak-anaknya dan Gienka di sekolah. Aditya sengaja mengambil waktu makan siangnya untuk bergegas pergi dari kantor dan melakukan hal ini. Dia tentu saja ingin mengantar langsung Gienka ke rumah sakit untuk bertemu dengan Danist. Dan saat di kantor tadi, dia sudah berbicara dengan Maysa menanyakan tentang Ariel apakah Ariel bisa pulang atau tidak. Sayangnya Maysa menjawab bahwa Ariel akan pulang sesuai dengan jadwalnya, mengenai permintaan Danist yang ingin bertemu dengannya, Ariel meragu, takut akan menerima penolakan lagi, dan memutuskan akan menemui Danist saat lelaki itu sudah kembali dari rumah sakit saja. Aditya mencoba mengerti itu, ya jika tidak sekarang tidak masalah karena pasti nanti Ariel akan tetap menemui Danist.
Danist dan Elea menoleh ke arah pintu ruangan rawat inapnya, dimana disana ada ketukan. Sedetik kemudian pintu itu terdorong pelan dari luar. Senyum Danist tersungging di bibirnya ketika mengetahui siapa yang datang. Ekea langsung memundurkan kursi yang di dudukinya dan berdiri.
"Apakah boleh masuk???" Tanya Ariel.