
Elea dan Danist saling berpandangan, mencoba mencari jawaban satu sama lain. Sementara Ariel masih menggendong Gienka yang terlelap di lengannya.
"Aku minta maaf aku baru bisa menemui kalian setelah sekian lama, aku ada banyak pekerjaan kemarin, selain ingin menemui Gienka aku juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang sudah aku lakukan padamu El, semuanya baik itu saat kita masih dalam pernikahan sampai yang terakhir itu, aku sudah menyadari semuanya, aku sudah memiliki seorang putri yang harus ku jaga kehormatannya, aku tidak ingin suatu saat putriku ini membenci diriku karena perbuatan yang pernah aku lakukan pada ibunya, masalalu kita memang buruk, aku melakukan kesalahan besar yang akhirnya membuatmu terluka begitu dalam, tetapi masalalu adalah masalalu, yang bisa dilakukan sekarang adalah bukan dengan memperbaikinya agar bisa kembali ke semula tetapi harus di perbaiki lebih baik dari sebelumnya agar tidak terulang lagi, kau sudah memiliki kebahagiaanmu sekarang, aku juga akan mencari kebahagiaanku sendiri tanpa harus merusak apa yang kalian jalani, hanya saja aku minta ijin agar bisa terus menemui Gienka" Ariel menyeka airmatanya dan mencoba tersenyum kemudian melanjutkan lagi perkataannya.
"Aku hanya ingin putriku tidak selalu menjadi korban keegoisan dari kedua orangtuanya, aku ingin dia mendapatkan kasih sayang penuh dari kita, kurasa sudah cukup penderitaannya kemarin karena aku tidak mengetahui kehadirannya, kau boleh merawatnya sampai dia dewasa dan menikah, aku hanya akan datang menemuinya lalu jangan halangi aku untuk memberikan semua kasih sayang yang aku miliki untuknya, dan mungkin jika dia sudah besar aku meminta ijinmu agar sekali-kali aku boleh membawanya ke rumahku untuk beberapa hari, aku tidak akan memisahkannya darimu El, aku berjanji, aku hanya ingin mengajaknya bermain, ingin tidur dengannya, lalu menceritakan dongeng untuknya, kuharap kalian mengerti, aku hanya ingin menjadi Ayah yang baik untuk Gienka" Ucap Ariel dengan sesekali diiringi oleh airmatanya yang menetes di pipinya.
Ariel menangis untuk kesekian kalinya jika berbicara atau mengingat Gienka. Bayi itu terlalu kecil untuk mengerti semua yang terjadi dengan kedua orangtuanya. Ariel berpikir dirinya tetaplah seorang majusia biasa, walaupun dia bisa dengan mudah mendapatkan segala, berbuat sesukanya tetapi jika sudah berurusan dengan putrinya, dia tetap akan menangis pada akhirnya. Baginya semua keegoisannya selama ini sudah cukup, dia sudah kalah dan pengharapannya kepada Elea sudah sirna sejak dia melakukan kesalahan yang begitu besar dengan berselingkuh dengan perempuan lain dan itu dilakukannya secara terang-terangan dihadapan Elea. Danist dan Elea hanya bisa terdiam tidak mengatakan atau menanggapi permintaan maaf Ariel.
Ariel menyeka lagi airmatanya, dia berdiri dari sofa lalu mencium Gienka lalu akan memberikannya pada Elea karena dia sekarang harus pulang.
"Aku harus pulang, terima kasih sudah mengijinkanku bertemu dengan Gienka, tidak apa jika kalian belum bisa menyetujui keinginanku, aku mengerti kalian pasti butuh waktu untuk memikirkannya, tapi kuharap kalian mau menyetujui permintaanku tadi" Ucap Ariel sambil mengulurkan Gienka.
Elea dan Danist juga berdiri dan menerima Gienka. Elea masih tidak menyangka, ini pertama kalinya dia melihat Ariel menangis terisak di depannya, lelaki itu sepertinya sudah mengakui semua kesalahannya.
Ariel pun melemparkan senyumnya sekali lagi, dan berpamitan untuk pulang. Danist membuka pintu dan Ariel langsung keluar. Saat Ariel baru berjalan keluar beberapa langkah, Elea memanggilnya dan membuat Ariel menengok ke arah Elea yang menggendong Gienka.
"Kau boleh mengunjungi Gienka kapanpun yang kau mau hanya saja semua dalam pengawasanku atau suamiku, dan untuk memberi hadiah atau yang lainnya lakukan sesukamu tetapi jika boleh aku minta jangan berlebihan saat melakukannya karena itu tidak akan baik untuk Gienka kedepannya" Ujar Elea yang langsung ditanggapi Ariel dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Thanks El" Ucap Ariel.
*****
Danist dan Elea kembali masuk ke apartemen dan membawa Gienka ke kamar. Dengan perlahan Elea membaringkan bayi itu di atas box bayinya.
"Apa kau marah kepadaku tentang keputusan yang aku berikan pada Ariel??" Tanya Elea.
"Marah??? Kenapa aku harus marah, itu adalah hak mu karena kau yang melahirkan Gienka, Gienka juga pasti butuh Ariel, mana mungkin aku menghalangi mereka"
"Lalu kenapa sejak tadi kau diam??? Apa kau marah karena Ariel datang???" Tanya Elea penasaran.
"Dia datang untuk meminta maaf kenapa aku harus marah, itu yang aku tunggu selama ini, hanya saja aku tidak menyangka orang angkuh sepertinya bisa menangis dan menyesali perbuatannya, aku terkejut itu yang membuatku sejak tadi hanya diam, tetapi awas saja jika itu hanya kedoknya untuk menutupi rencananya yang lebih jahat lagi, aku benar-benar akan menghajarnya nanti"
"Sudahlah kita jangan berburuk sangka pada orang, kita lihat saja akan seperti apa Ariel kedepannya, hanya satu yang aku lihat, dia sangat mencintai Gienka" Gumam Elea.
"Kau benar" Ucap Danist lalu melihat jam tangannya dan mengajak Elea bersiap untuk sholat maghrib.
*****
Di dalam mobil, Ariel kembali menangis dan kini dia benar-benar terisak, dia tidak sanggup lagi menahan airmatanya. Tangisnya pecah, hatinya terasa lega setelah meminta maaf kepada Elea walaupun tidak ada tanggapan apapun dari perempuan itu tetapi setidaknya dia sudah menyampaikan semuanya dari lubuk hatinya dan menyesali semua perbuatannya. Ariel telah kalah dalam pertandingannya dengan Danist untuk memperebutkan Elea. Danist menerima tantangannya dan lelaki itu sudah memenangkan hati Elea.
Selama pelariannya, Ariel sudah berusaha keras untuk menerima kenyataan yang ada didepannya bahwa Elea sudah mendapat kebahagiaannya sekarang. Walaupun hatinya masih sakit saat melihat kemesraan antara Elea dan Danist. Dan sekarang Elea sudah bahagia bahkan mereka terlihat begitu harmonis. Ini waktunya berhenti untuk mengharapkan semuanya dari perempuan itu. Sudah terlalu dalam luka yang ditinggalkannya pada Elea, mungkin saat ini memang Tuhan sudah mengatur kebahagiaan untuk Elea. Seperti apa yang di ucapkannya tadi bahwa dia dan Elea sekarang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Alangkah lebih baiknya dia tidak lagi mengusik kehidupan Elea terutama kehidupan rumah tangganya.
Titik fokus Ariel saat ini adalah Gienka, bagaiamana bayi itu harus mendapatkan jatah kebahagiaannya dengan sangat baik. Selama ini dia bekerja untuk dirinya sendiri, dan sekarang sudah ada Gienka itu artinya dia akan bekerja keras untuk masa depan putrinya itu. Memastikan putrinya itu mendapatkan pendidikan yang baik dan masa depan yang baik pula. Gienka tidak boleh kekurangan apapun itulah janji Ariel pada putrinya itu.