
"Baiklah aku akan mencoba membantumu, tetapi aku tidak bisa berjanji karena memang kita tidak punya petunjuk apapun" Jawab Randy.
Aditya mengingatkan Ariel untuk tidak terus-terusan larut dalam kesedihannya mencari Elea dan menyuruhnya untuk kembali memulai aktifotasnya seperti biasa. Mereka bertiga mengobrol cukup lama hingga akhirnya Aditya dan Randy beramitan untuk pulang karena Aditya harus berangkat ke kantor.
Dalam perjalanan, Aditya yang mengemudikan mobilnya pun srdikit gusar atas ucapan Randy tentang membantu Ariel. "Apa kau serius Ran mau mengerahkan anak buahmu untuk mencari Elea??"
"Tentu saja tidak, tetapi aku merasa sedikit bersalah dengan Ariel tetapi jika menengok kebelakang mengingat perbuatan nya pada Elea rasanya aku ingin menggamparnya saja"
Aditya tersenyum masam. "Kau benar, ku harap dengan ini dia bisa menjadi lebih baik lagi, sampai detik ini jujur aku tidak pernah menyangka Ariel melakukan hal itu, kau lihat selama ini dia terlihat begitu mencintai Elea, tapi kita sendiri menyadari Viona bukanlah perempuan yang baik, dia sama saja dengan Erica"
"Dan kalian berdua pernah terjebak dilingkaran 2 perempuan gila itu hahaha"
"Itu kenangan yang sangat memalukan, aku masih ingin menggantung Erica jika aku bertemu dengannya, aku masih sangat murka dengan kelakuannya meneror Cahya"
Randy hanya menimpali Aditya dengan tawa nya.
****
Beberapa hari kemudian, Aditya dan Cahya sudah bersiap untuk pergi liburan sekaligus mengunjungi kantor perkebunan. Mereka pergi membawa Kyros dan Kyra, dan ini adalah pertama kalinya mereka membawa bayinya pergi keluar dari rumah. Segala keperluan mereka dan bayinya juga sudah dipersiapkan termasuk bahan makanan karena mereka akan pergi selama 4hari. Setelah semua siap mereka pun berangkat, Aditya mengendarai sendiri mobilnya tanpa supir, dan Cahya duduk dibelakang bersama kedua bayinya.
Disisi lain Danist semakin menunjukkan perhatiannya terhadap Elea, walaupun perempuan itu masih belum menyadarinya. Danist bahkan beberapa kali mengantar Elea memeriksakan kehamilannya dan selalu menawarkan diri untuk mengantar kemanapun Elea akan pergi. Danist merasa masih takut untuk menyatakan perasaannya pada Elea, takut jika Elea justru akan menghindarinya, setidaknya Danist merasa nyaman dengan keadaan mereka sekarang.
Semakin hari Danist merasakan perasaannya terhadap Elea semakin dalam. Entah kenapa setiap melihat Elea perasaannya menjadi semakin nyaman. Baginya Elea adalah wanita kuat yang pernah dia temui, berjuang sendiri untuk kehidupannya walaupun terkadang Elea sering mengatakan padanya jika terkadang dia sangat lelah dengan hidupnya tetapi harus selalu terlihat baik-baik saja demi bayi dan kedua orangtuanya.
Hari ini Danist mengantar Elea untuk memeriksakan kandungannya secara rutin. Banyak orang yang mengira dia adalah suami Elea, bahkan di awal-awal periksa dokter kandungan Elea pun juga mengira jika dia adalah suami dari Elea. Danist hanya menimpali dengan senyuman dan mengatakan jika dia adalah kakak Elea. Pemeriksaan sudah selesai, ini juga sudah jam makan siang. Danist mengajak Elea untuk mencari tempat makan siang sebelum mereka kembali ke kantor.
*****
Dalam perjalanan Cahya meminta Aditya untuk mencari restoran karena dia sangat lapar. Sejak melahirkan Cahya sangat mudah sekali merasa lapar karena harus menyusui kedua bayinya. Karena ini juga sudah siang dan Aditya juga butuh sedikit asupan makanan untuk perutnya. Aditya mengemudikan mobilnya dengan pelan sembari mencari restoran yang cocok untuknya dan Cahya.
Aditya menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran lalu bergegas turun mengeluarkan stroller dari bagasi mobil dan membantu Cahya meletakkan Kyros dan Kyra disana. Mereka masuk dan mulai memesan makanan, Kyros dan Kyra masih terlelap dengan nyenyaknya. Sambil menunggu makanannya datang, Cahya melihat pemandangan diluar lewat jendela, sedangkan Aditya tampak sibuk dengan ponselnya.
Danist dan Elea akhirnya sampai direstoran, bergegas Danist keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Elea. Tidak disangka ternyata mereka datang direstoran yang sama dengan Cahya dan Aditya. Cahya dikejutkan oleh kehadiran Danist dan Elea, terlihat kedua orang itu sedang berjalan masuk ke Restoran. Cahya langsung memanggil Aditya.
"Sayang, lihatlah itu"
"Apa? Aku sedang sibuk membalas pesan dari Maysa"
"Lihatlah itu cepat, itu Danist juga Elea, sepertinya mereka mau makan disini juga"
Aditya meletakkan ponselnya dimeja dan melihat kearah luar. Memang benar itu adalah Danist dan Elea.
Danist dan Elea masuk ke restoran itu, terlihat Danist menarik kursi untuk Elea agar memudahkan Elea duduk setelah itu dia baru duduk dan memesan makanan. Cahya dan Aditya masih diam sambil tersenyum melihat mereka. Danist begitu perhatian dan peduli kepada Elea.
*****
Saat sedang asyik melihat Danist dan Elea, Cahya dikejutkan dengan tangisan Kyros, segera dia mengambil botol susu berisi Asi yang tadi dia pompa saat dimobil lalu memberikannya pada Kyros dmyang menangis. Disaat itu pula Elea mengarahkan pandangannya kearah suara tangisan bayi itu, dan menemukan Cahya serta Aditya disana.
"Cahya? Kau ada disini???" Elea berdiri dan menghampiri mereka.
"Ya kami sudah disini sejak tadi, dan kau terlalu serius berduaan hingga tidak menyadari jika ada kami berempat disini"
"Astaga kenapa kalian tidak memanggil kami, kau bilang akan datang weekend kenapa sekarang sudah ada disini??"
"Kami ingin liburan lebih lama, dan kalian dari mana? Sengaja makan siang disini atau memang ada kegiatan diluar?"
"Aku meminta Danist untuk mengantarku memeriksa kandunganku, Adit, kau jangan memarahinya karena aku yang meminta bantuannya" Ucap Elea.
Aditya hanya tersenyum "Aku tidak akan memarahi kalian mungkin aku hanya akan memotong gaji kalian haha"
Mereka berempat tertawa, Danist dan Elea pun bergabung satu meja dengan Aditya dan juga Cahya. Makanan pesanan mereka pun datang dan mereka akhirnya menikmati makan siang bersama.
Danist dan Aditya sibuk membicarakan tentang pekerjaan dan perkembangan di perkebunan. Perlahan tapi pasti ternyata hasil dari perkebunan sungguh luar biasa, kini produksi teh ternyata sudah menyentuh pasar international, membuat Aditya tidak berhenti memuji hasil kerja Danist. Usaha Aditya untuk meresuflle karyawan dikantor perkebunan ternyata membuahkan hasil yang sangat baik. Perkebunan, Pabrik dan Kantor semua berjalan dengan hasil yang luar biasa atas kepemimpinan Danist.
"Aku banyak mendengar hal baik tentangmu, kau ternyata mampu menciptakan suasana yang menyenangkan baik di kantor, di pabrik ataupun di perkebunan, kurasa itu yang membuat semua staf dan karyawan merasa sangat nyaman saat bekerja, aku harap kau bisa mempertahankan itu semua Dan" Ucap Aditya.
"Terima kasih pak, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, teman-teman juga bekerja dengan sangat baik"
Elea pergi meninggakan Danist, Cahya dan Aditya untuk pergi ke toilet. Cahya melihat ke arah Danist yang sedang sibuk meminum jusnya. Merasa tergelitik dan penasaran, Cahya pun berniat menggoda Danist.
"Dan, apa kau sudah memiliki kekasih??"
Danist hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Belum Bu, apa ibu mau mencarikannya untukku?"
Cahya menatap Aditya sambil menegedipkan matanya, dan Aditya hanya melempar senyum pada istrinya itu. "Tentu saja jika kau mau, aku siap mencarikannya, bagaimana kriteriamu? Aku punya banyak teman wanita yang masih single, salah satunya Elea" Ucap Cahya.
Saat itu juga Danist yang sedang meminum jus stroberi langsung terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan Cahya. "Apa??? Bu Cahya bisa saja"
"Dan, coba kau jujur pada kami, sebenarnya kau menyukai Elea kan, kalau kau suka kenapa kau tidak ungkapkan saja perasaanmu?"