
Setelah sarapan Cahya langsung masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian Aditya. Hari ini Aditya akan terlambat ke kantor dibanding hari biasanya karena dia akan ada kunjungan dikantor lain jadi dia memutuskan untuk pergi agak siang dari biasanya. Aditya masuk ke kamar dan memeluk Cahya dari belakang sambil menciumi leher istrinya itu.
"Kau nanti berangkat bersama Marco dan setelah selesai langsung pulang ya, aku juga akan langsung pulang setelah makan siang" Ucap Aditya smabil terus menciumi lehr Cahya.
"Langsung pulang? Apa kau tidak akan kembali ke kantor lagi?"
"Tidak, aku akan pulang dan menemanimu dirumah"
"Baiklah ganti pakaianmu dan berangkatlah"
Orang bayaran Cheryl sudah menunggu di depan rumah Aditya sejak tadi. Mereka sudah siap dengan rencana yang disusun oleh Cheryl dan siap menjalankan tugas mereka. Cukup lama mereka menunggu mobil hitam yang dimaksud oleh Cheryl tidak juga keluar dari rumah itu. Hingga akhirnya penantian mereka berbuah hasil, mobil milik Aditya akhirnya keluar, kini mereka tinggal menunggu mobil berwarna putih yang akan keluar nanti siang, dimana mobil itu adalah mobil Cahya.
****
Siang sudah menjelang, Cahya sudah bersiap pergi untuk menemui Chitra, walaupun sebenarnya didalam hatinya dia sangat malas untuk keluar rumah tetapi dia tidak bisa membatalkannya karena semalam Aditya sudah membalas pesan Chitra dan mengatakan iya. Kali ini Cahya harus pergi tetap pergi walaupun perasaannya yang entah kenapa merasa sangat tidak enak.
Cahya masuk ke mobilnya dan supirnya mulai menjalankan mobil itu keluar dari gerbang rumah. Melihat mobil berwarna putih itu keluar, orang-orang suruhan Cheryl pun perlahan mulai mengikuti mobil Cahya dibelakang.
Disisi lain setelah melakukan meeting dan mengecek perusahaan cabangnya, Aditya menghubungi Adri dan mengajak Adiknya itu untuk makan siang bersama. Adri menunggu kakaknya di lobi kantor dan akhirnya tidak berapa lama Aditya keluar. Mereka berdua pun pergi bersama untuk mencari restoran dan makan siang bersama.
Saat mobil Cahya sampai dijalanan yang cukup sepi, tiba-tiba supirnya menghentikan mobilnya secara mendadak karena melihat seseorang tergelatak ditengah jalan dengan motornya. "Ada apa Marco, kenapa kau mengerem mendadak?" Tanya Cahya terkejut.
"Maaf bu, sepertinya ada yang kecelakaan didepan, ibu tunggu didalam saja, saya akan mengeceknya"
Marco keluar dari mobil dan berjalan menghampiri orang yang sedang tergeletak itu, dan mencoba membangunkannya. Tetapi tiba-tiba seseorang memukul kepala Marco dari belakang membuat lelaki itu tersungkur. Saat dia hendak bangkit sekali lagi orang itu memukulnya dari belakang, lalu ada temannya satu lagi yang bertugas membekap Marco dengan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius. Lelaki itu seketika langsung tidak sadarkan diri.
Melihat supirnya dipukul, Cahya ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia akan dirampok atau bagaimana, Cahya benar-benar tidak tahu. Cahya benar-benar panik dan memegang perutnya, dan sangat khawatir dengan bayinya. Cahya mulai menangis ketakutan, dia pun langsung mengambil ponselnya dan mengirim Voice Note ke Aditya agar suaminya itu bergegas menolongnya.
"Adit tolong aku" Ucapnya sambil terisak. Ketakutannya semakin bertambah saat para penjahat itu berjalan kearahnya. Mereka menggedor dengan keras pintu mobilnya, Cahya benar-benar ketakutan.
"Buka pintunya...... Cepat buka pintunya" Teriak para penjahat itu.
Cahya terisak dan tidak berani membuka pintu mobilnya. "Cepat buka..... Atau ku bakar mobil ini beserta dirimu....." Teriak penjahat itu lagi.
Cahya teringat sesuatu, dia mulai menyilent ponselnya dan menaruhnya dikantong yang ada digaunnya untuk berjaga-jaga.
****
Hingga akhirnya sampailah Aditya dan Adri di sebuah restoran yang direkomendasikan Adri. Mereka masuk dan Adri memammnggil pelayan untuk memesan makanan. Aditya melepaskan jasnya dan meninggalkannya bersama Adri karena dia ingin ke kamar mandi. Aditya menyuruh Adri untuk memesankan makanan yang sama untuknya. Adri tidak mendengar jika ponsel kakaknya berbunyi karena dia sibuk memesan makanannya.
Disisi lain para penjahat itu membawa Cahya masuk ke dalam mobil mereka lalu menutup mata Cahya dengan kain sehingga membuatnya tidak bisa melihat apapun. Sambil terisak Cahya meminta kepada mereka untuk menurunkannya dan meminta belas kasihan mereka karena dia sednag hamil. Tetapi bukannya mendapat belas kasihan, para perampok justru membentak Cahya dan menyuruhnya untuk diam, jika tidak mereka akan menyakitinya. Cahya terisak dan terus memegang perutnya, dia sangat takut jika nanti terjadi sesuatu yang buruk kepadanya dan terutama kepada bayinya, dia tidak mau mimpi buruknya akan terulang lagi. Cahya terus merapalkan doa bagai mantra agar dia segera mendapat pertolongan, dan berharap Aditya segera menemukannya.
Aditya keluar dari kamar mandi restoran itu dan tidak sengaja di berpapasan dengan Rama, temannya waktu kuliah dulu dan mereka sempat bertemu di Swiss beberapa waktu yang lalu. Aditya pun langsung memanggil dan menyapa Rama dan menyalaminya. Ternyata Rama juga ingin makan siang di restoran itu, Aditya pun memintanya untuk bergabung dengannya dan Adri.
Aditya memperkenalkan Rama dengan Adri, dan mereka pun makan siang bersama. Pertemuannya dengan Rama membuat Aditya tidak mengecek dan mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya. Mereka bertiga membahas banyak hal.
"Jadi kau sudah berapa lama Ram kembali kesini" Tanya Aditya.
"Sekitar 2 minggu Dit, tapi lusa aku sudah harus kembali, oh iya ngomong-ngomong kau dan istrimu kan dulu sempat bertemu denganku di Swiss, kau ingat tidak?? Dan saat itu sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian tetapi tidak sempat karena anakku menangis"
"Oh iya aku ingat, memangnya kau ingin bertanya tentang apa Ram?"
"Tentang Cheryl, bagaimana dulu kau bisa mengantarkannya??? Apa sesuatu terjadi kepadanya waktu itu?" Tanya Rama dengan wajah serius bercampur penasaran.
Aditya pun akhirnya menceritakan bagaimana pertemuannya dnegan Cheryl secara tidak sengaja saat di Swiss kemudian saat dia dan Cahya mengantarnya pulang adalah karena malamnya mobil Cheryl sedang mogok didekat tempat tinggalnya. Jadi terpaksa Cahya menyuruhnya untuk menginap ditempat mereka. Rama dan Adri mendengarkan dengan serius sata Adri berbicara.
"Lalu setelah itu tidak terjadi apapun kan denganmu dan juga istrimu?" Tanya Rama lagi.
Lama Aditya diam menatap Rama tetapi kemudian dia menjawabnya. "Tidak terjadi apapun tetapi sejak saat itu sebenarnnya tingkah Cheryl sangat meresahkan, setiap hari dia selalu datang ke rumah membuat Cahya ketakutan dan khawatir ya biasalah perempuan pasti punya insting kuat untuk melindungi suaminya, aku sudah meminta Cheryl untuk tidak mengganggu tetapi tetap saja dia tidak mau berhenti hingga akhirnya dengan terpaksa aku mengajak Cahya untuk pindah ke tempat lain dan semua berakhir, dia tidak bisa menemukan kami sampai kami pulang" Tutur Aditya yang disusul hembusan panjang nafas Rama sambil berkata "Ahhh syukurlah kalian bisa mengatasinya" Ucap Rama Lega tetapi kelegaan itu justru membuat Aditya menggerutkan keningnya, sepertinya temannya ini tahu sesuatu tentang Cheryl.
"Tunggu-tunggu kenapa kau terlihat senang sekali, apa kau mengetahui sesuatu tentang Cheryl?? Uhhhmmm apa kau ingin mengatakan jika Cheryl adalah wanita yang suka dengan pria beristri atau apa ya disini menyebutnya, pelakor perebut laki orang?? Apa benar dia begitu??" Aditya mencoba menerka kelegaan yang dirasakan Rama tetapi Rama justru menggelengkan kepalanya.
"Bukan Dit tetapi sebaliknya?" Gumam Rama pelan.
"Sebaliknya? Maksudnya?" Adri dan Aditya berucap secara bersamaan karena keduanya merasa bingung dengan Rama.
Rama menghela nafasnya panjang dan memulai ceritanya.
"Kau sangat tahu jika aku sudah berteman dengannya lebih dulu dibanding denganmu sebenarnya pertemanan kami merenggang itu karena aku mengetahui sisi buruk dari Cheryl, dia entah apa yang menjadi obsesinya dia memiliki sifat yang menurutku menyimpang, dia menyukai sesama jenis"
"Apa???" Seru Aditya tidak percaya. Rama pun melanjutkan ceritanya.
"Well kurasa itu bukan hal yang tabu jika kita hidup disana, tetapi Cheryl dia melakukannya dengan merusak rumahtangga orang lain, menjebak mereka entah dengan cara apa ya intinya dia merusak hubungan mereka setelah itu dia akan mencari cara lagi untuk mendapatkan perempuan yang sudah dia rusak rumah tangganya itu, dia merekam setiap berhubungan dengan mereka lalu memerasnya dan mengancamnya bahkan dia bisa juga melakukan kekerasan jika dia mau dan itu yang selalu dia lakukan, tetapi entah dengan cara apa dia selalu bisa lolos dan tidak pernah tersentuh hukum disana, saat aku bertemu denganmu dan istrimu dan kalian bilang kalau sedang mengantar Cheryl, jujur pikiranku menjadi sangat tidak tenang karena melihat istrimu sepertinya adalah perempuan baik dan lemah lembut seperti target yang sangat Cheryl sukai tetapi aku tidak memiliki kontakmu saat itu untuk memberitahumu saat itu, tetapi mengetahui jika kau bisa mengatasinya membuatku sangat senang, kalian terbebas darinya, dia sangat berbahaya"
Mendengar penjelasan panjang dari Rama, membuat Aditya hanya bisa terdiam. Pantas saja saat itu Cheryl dengan beraninya mengatakan tentang kejadian memalukan yang hampir saja mereka lakukan di apartmentnya kepada Cahya. Kini Aditya tahu alasannya yaitu agar terjadi konflik antara dirinya dan Cahya sehingga membuatnya akan bersitegang dengan Cahya sehingga memudahkan Cheryl untuk masuk. Kedatangan Cheryl setiap hari dirumahnya saat itu juga sebenarnya terasa aneh tetapi dengan ijin Tuhan akhirnya dia bisa menyelamatkan Cahya dari rencana jahat Cheryl, Aditya benar-benar merasa sangat bersyukur dia dan Cahya bisa terbebas dari Cheryl.
"Ngomong-ngomong Dit, saat dulu kau berteman dengan Cheryl dan dia menolak cintamu lalu mengatakan kau bukan titipenya ya aku sebenarnya sudah tahu kalau memang kau bukan tipenya Dit hahahaha" Rama tertawa terbahak-bahak dan wajah Aditya memerah karena malu mengingat kejadian itu.
****
Marco terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa dikepalanya, dia perlahan mencoba bangkit. Pakaiannya kotor penuh dengan lumpur karena penjahat itu ternyata menyeretnya dan memasukkannya ke parit, beruntungnya parit itu tidak dalam sehingga dia masih selamat. Bergegas Marco mencoba berjalan ke arah mobil dan terkejut karena Tuannya tidak ada disana, menandakan jika ia telah dibawa oleh para penjahat itu. Marco pun panik, bisa-bisa Aditya membunuhnya karena tidak bisa menjaga Cahya dengan baik. Bergegas Marco mencari ponselnya di mobil dan langsung menghubungi Aditya saat menemukannya.