
Sesampainya dirumah Cahya menyiapkan makan malam dibantu ibunya, kondisi ibunya semakin membaik dan jahitan dikepalanya sudah mengering.
“ Ibu sudah sangat baik, kalian pulanglah, kasian Mama mertuamu pasti sangat merindukan kalian, kalian disana baru sehari tetapi malah menghabiskan waktu disini, ajak suamimu pulang”
“ Apakah ibu benar-benar sudah merasa baik?” Ujar Cahya, sebenarnya dia juga merasa tidak enak dengan mama mertuanya, tetapi dia sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya.
“ Ibu sudah tidak apa-apa, seperti pesanmu setiap hari, ibu tidak akan melakukan pekerjaan yang berat terlebih dulu, pikirkan juga keluarga suamimu, kau sekarang seorang istri jangan lupakan kewajibanmu”
“ Baiklah bu, aku akan mengajak Aditya pulang”
Cahya masuk ke kamar menemui Aditya yang sedang sibuk dengan laptopnya, dan mengajaknya untuk pulang karena ibunya sudah merasa lebih baik lalu memutuskan bahwa lusa mereka akan kembali.
“ Yaudah makan yuk udah ditungguin ibu, aku juga udah bikinin kamu jus semangka” Ucap Cahya membuat Aditya segera beranjak dari kursinya dan mereka keluar kamar.
Kepulangan Aditya dan Cahya langsung disambut oleh nyonya Harry, akhirnya menantu dan putranya kembali ke rumah. Banyak hal yang ingin dilakukan nyonya Harry dengan menantunya, impiannya memiliki anak perempuan terwujud. Cahya memang sangat serasi dengan putranya, semua yang diinginkan dari seorang menantu ada pada Cahya, cantik, cerdas, penyayang, pintar masak, dan menghormati orang yang lebih tua, jauh berbeda dengan mantan Aditya yang sebelumnya, walaupun cantik wajahnya tetapi tidak pada attitude dan bicaranya.
Saat dulu pertama kali Aditya membawanya ke rumah, kesan pertama yang ia rasakan adalah tidak menyukainya entah kenapa, tetapi mencoba memahami karen aitu adalah pilihan putranya, ia sangat bahagia ketika mendengar Aditya telah mengakhiri hubungannya dengan perempuan bernama Erica itu entah apa penyebabnya, tetapi setelah kejadian itu Aditya menjadi laki-laki yang anti pada perempuan, entah apa yang telah dilakukan Erica padanya. Saat ini karena kejadian yang tak terduga akhirnya Aditya menikahi Cahya. Nyonya Harry hanya selalu berharap semoga pernikahan Aditya dan Cahya diberi kebahagiaan.
Pernikahan Aditya dan Cahya telah berlangsung hampir 1 bulan, semua berjalan dengan baik, sesekali mereka berdebat kecil, Cahya menjadi menantu yang baik membuat warna baru dikehidupan keluarga Aditya dan Aditya menepati seluruh janjinya pada Cahya, menjaganya dan memperlakukannya dengan baik, mereka tidur terpisah seperti diawal pernikahan. Aditya tidur di sofa sedangkan Cahya diranjang, hanya saat dirumah ibu Cahya saja mereka tidur 1 ranjang karena tidak adanya sofa dikamar Cahya, tetapi tidak ada 1 orang pun yang tahu bahwa mereka tidur terpisah selama ini, bagi Aditya itu adalah privasinya dengan Cahya dan tetap berusaha menjadi pasangan yang baik didepan keluarga mereka. Tanpa disadari semakin hari Aditya memupuk perasaanya pada Cahya semakin dalam dan semakin dalam tetapi tetap berusaha menyembunyikannya karena tidak ingin membuat Cahya justru menghindarinya.
Setiap hari ditengah malam dia selalu terbangun dan menghampiri Cahya yang sedang terlelap tidur hanya untuk memandangi wajahnya dan berharap semoga suatu saat nanti Cahya bisa mencintainya dan menerima dirinya sebagai suami seutuhnya. Walaupun kadang terbesit pemikiran untuk memaksakan dirinya melakukannya tetapi Aditya mengurungkannya karena terikat akan janjinya menjaganya dengan baik, dan tidak ingin justru Cahya malah membencinya, kejadian dimobil saat dia meneriaki Cahya karena melampiaskan kemarahannya pada Erica ternyata melukai hati Cahya begitu dalam hingga dia menangis tersedu, dia tidak ingin melihat istrinya itu menangis lagi karena ulahnya.
***
Cahya berjalan menuju ruang kerja Aditya, dia membawa nampan berisi pie Susu buatannya dan segelas jus nanas untuknya. Kehidupan Aditya selalu dipenuhi dengan pekerjaan yang banyak membuatnya kadang merasa jengkel karena hanya menyisahkan sedikit waktu untuk orang tuanya, seringkali Mama mertuanya itu menyuruhnya untuk berbicara pada Aditya agar lebih sering meluangkan waktu untuk keluarga, dan Aditya hanya bilang iya tetapi kenyataannya dia selalu menyibukkan dirinya sendiri.
“ Hentikan pekerjaanmu itu tuan, aku membawakan jus nanas yang kau pesan beserta kudapan lezat yang aku buat sendiri, makanlah” Cahya menaruh nampannya diatas meja dan duduk di sofa, Aditya tersenyum dan berjalan ke arahnya, duduk dan mengambil jus nya.
“ Besok bolehkah aku pergi dengan Elea?? Aku merasa kesepian karena mama tidak dirumah, aku juga sudah lama tidak jalan dengan Elea”
“ Baiklah nikmati hari liburmu dengan sahabatmu, aku besok juga ada meeting, apa Elea akan menjemputmu??” Tanya Aditya.
“ Tidak aku tidak ingin merepotkannya, kalau kau sibuk aku akan naik taksi”
“ Tidak, kau akan di antar sopir, aku tidak mengizinkanmu pergi sendirian”. Selama ini Aditya memang melarang keras Cahya bepergian sendiri, dia menerima laporan dari Beno beberapa waktu lalu bahwa ternyata selama ini ada seorang laki-laki yang memantau rumah ibu Cahya, mungkin orang itu adalah suruhan Theo atau Cyntia pikir Aditya, kebetulan besok Cahya akan pergi keluar dan dia bisa bertemu dengan Beno membahas hasil perkembangan pantauannya dan anak buahnya. Dia tidak perlu repot-repot mencari tempat untuk bertemu Beno, dan akan menyuruhnya untuk datang ke rumah saja karena sedang sepi.
“ Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa melamun??” Tanya Cahya yang menyadari Aditya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ Ah tidak apa-apa”
“ Oh.... aku sangat mengantuk, habiskan dan jika pekerjaanmu sudah selesai, segeralah ke kamar!!” Cahya menguap dan berdiri tetapi Aditya memegang pergelangan tangannya.
“ Menyuruhku segera ke kamar??? Memang apa yang ingin kau lakukan saat aku masuk ke kamar?? Apa kau maaaaaa.....uuuuuu???” Belum selesai bicara seketika Cahya seperti salah tingkah dan wajahnya memerah lalu mengumpatnya.
“ Kau sudah gila dan tidak waras!”
“ Kau ini aneh Ca, memangnya apa yang aku pikirkan?? Aku belum selesai berbicara kau sudah memotongnya, maksudku, kau mau menyuruhku untuk tidur dikamar kan?? Kenapa kau malah mengumpatku?” Ucap Aditya dan Cahya langsung pergi meninggalkannya.
Aditya sangat suka menggodanya membuatnya salah tingkah dan selalu berhasil, dia sering melihat Cahya sesekali mencuri pandang diam-diam kepadanya saat dia sedang berenang, berolahraga ataupun saat keluar dari kamar mandi, Aditya tau Cahya sebenarnya menyukai dirinya saat bertelanjang dada karena memang dia memiliki dada bidang dan berbentuk, perempuan manapun pasti tidak akan pernah melewatkan pemandangan indah seperti itu, bahkan dengan sengaja Aditya tidak pernah memakai jubah mandi dan hanya memakai handuk untuk memamerkannya pada Cahya, bahkan Aditya menemukan koleksi novel dikamar Cahya saat tinggal dirumahnya, beberapa novel itu adalah novel romantis tentang kehidupan didalam pernikahan.
Yang dia tahu biasanya ketika seorang perempuan suka membaca novel atau kisah percintaan, mereka selalu berharap bahwa kisah itu akan terjadi padanya suatu saat nanti. Aditya berpikir bahwa pasti Cahya menginginkan kehidupan yang indah bak novel-novel itu, mungkin juga dengan novel tentang kehidupan pernikahan itu, hanya saja saat ini Cahya masih belum bisa mencintai atau menerimanya sebagai suaminya, tetapi Aditya akan melakukan yang terbaik hingga akhirnya istrinya itu akan menyerahkan hatinya suatu saat nanti.