
Cahya menyuruh Cheryl untuk masuk dan teringat jika Cheryl adalah perempuan sama yang kemarin sedang makan siang dengan suaminya, Cahya permisi untuk masuk karena akan membangunkan Aditya yang masih tertidur.
" Adit, bangun, ada yang datang mencarimu" Cahya menggoyangkan badan Aditya yang masih terlelap.
" Siapa.... ini hari libur kenapa menggangguku..." suara Aditya berat dan terdengar malas karena dia masih mengantuk.
" Dia mengatakan namanya Cheryl"
Mendengar ucapan Cahya, sontak Aditya langsung terbangun dan kaget, dia langsung teringat kejadian semalam, bisa terjadi masalah besar jika sampai Cheryl membahas kejadian itu didepan Cahya. Aditya bergegas memakai pakaian dan Cahya hanya bingung melihat suaminya seperti orang yang seolah akan berjalan diatas bom, tetapi dia mengabaikannya dan keluar kamar untuk membuatkan minum tamunya.
Setelah memakai pakaian, Aditya langsung berlari keluar dan menemui Cheryl.
" Hai good morning" Cheryl tersenyum ceria melihat Aditya muncul dari dalam.
" Kamu ada disini? Kenapa hubungi aku dulu?"
" Kau itu sangat lucu, kau meninggalkan jas mu di apartemenku tadi malam dan ponselmu ada didalamnya, kenapa kau sangat buru-buru pergi dan melupakan barangmu"
Mendengar itu Aditya sangat terkejut dan melihat ke belakang takut Cahya mendengar ucapan Cheryl. Dia benar-benar lupa dan tidak menyadari karena langsung bergegas pergi semalam.
Aditya langsung meraih paperbag yang dibawa Cheryl lalu mengucapkan terima kasih. Sampai kemudian Cahya muncul dari dalam membawa minuman untuk Cheryl. Aditya terus mengumpat dalam hati, baru saja dia berbaikan dengan Cahya justru Cheryl muncul.
" Aku berpikir pernah melihatmu sebelumnya, kau yang makan siang sama Aditya kan kemarin??"
Aditya kaget mendengar ucapan Cahya dan tidak menyangka jika kemarin Cahya melihatnya bersama Cheryl.
" Apa??? Kemarin kau melihat kami?" Tanya Aditya terkejut.
" Iya, kemarin aku melihat kalian berdua saat pulang berbelanja, sebenarnya aku ingin menghampirimu tapi kulihat kalian sedang mengobrol seru dan tertawa, ya sudah aku mengurungkan niatku, dia teman kantormu kan???"
Cheryl baru akan menjawab tetapi Aditya bergegas menyela " Ah iya dia teman sekantorku" Ucap Aditya cepat. Cheryl tampak bingung dengan apa yang terjadi, kenapa Aditya berbohong padahal jelas dia bukan rekan kantornya.
Lalu Cahya tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada Cheryl bahwa dia adalah istri Aditya. Mendengar itu Cheryl mulai memahami keadaan Aditya, ternyata dia sudah menikah pantas saja malam itu Aditya menolak dan langsung pergi meninggalkannya.
" Oh kau istrinya Armand? Cantik sekali, senang bertemu denganmu"
" Kau bisa berhasa Indonesia??" Tanya Cahya.
" Tentu saja, aku juga berasal dari sana, hanya saja aku tinggal dan menetap diluar negeri karena harus mengikuti Ayahku"
Aditya hanya terdiam diam tidak bereaksi apapun, bahkan Cheryl seperti sedang menertawakan tingkahnya, kemudian berpamitan dan pergi. Cahya melirik kearah Aditya dan merasa bingung kenapa suaminya bertingkah sedikit aneh.
" Apa itu, tadi kulihat Cheryl membawanya saat datang" Tanya Cahya curiga dengan isi paperbag itu.
" Oh ini, kemarin aku terlalu capek jadi tidak sadar sudah meninggalkan jas ku di kantor, jadi Cheryl mengantarnya" Ucap Aditya sedikit terbata, berharap semoga istrinya tidak banyak bertanya padanya.
" Kita sarapan cake buatanmu saja, sepertinya enak"
" Baiklah jika itu mau mu, aku akan membersihkan meja makan dan membuatkan jus untukmu"
*****
Cahya membereskan meja makanan, dan membuatkan jus untuk Aditya, sambil menunggu suaminya selesai mandi. Cahya tersenyum bahagia dan sekali lagi berharap ini adalah awal yang baik untuk memperbaiki rumah tangganya.
Setengah jam kemudian Aditya masuk ke ruang makan dan Cahya sudah memotong cake nya ditambah ada jus semangka yang menjadi kesukaannya. Dia duduk dan langsung memakannya.
" Kok rasanya kayak Cheesecake??" Tanya Aditya bingung.
" Memang aku membuat Cheesecake hanya saja luarnya aku lapisin Cokelat, cokelat disini sangat enak"
" Jebakan Batman!!"
" Apa??? jadi kau tidak menyukainya, sini aku akan membuatkanmu omelete saja jika kau tidak menyukainya" Cahya meraih piring Aditya tetapi dengan cepat suaminya itu menahannya.
" Hei, siapa bilang aku tidak menyukainya, tadi aku berpikir ini chocolate Cake tapi ternyata tebakanku salah, ini sangat enak apalagi kau membuatnya dengan penuh cinta"
Setelah menghabiskan sarapannya, Cahya mengajak Aditya untuk berkeliling karena sejak berada disini dia tidak begitu menikmati pemandangan yang ada dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, tentu ini menjadi moment yang luar biasa setelah apa yang terjadi, tak hentinya Cahya mengutuk dirinya sendiri karena telah bersikap sangat buruk.
Cahya meminta berhenti karena merasa sedikit lelah dan mereka menepi lalu duduk dibawah pohon kecil tetapi cukup teduh untuk menghindari sinar matahari.
Cahya memandang takjud dengan yang ada dihadapannya, dia menerawang dan larut dalam pikirannya sendiri, kemudian menyandarkan kepalanya didada Aditya.
" Kau tahu, malam sebelum aku menyadari kesalahanku, aku bermimpi sangat aneh, aku melihat Alm. Ayahku sedang menggendong anak kecil, anehnya anak kecil itu wajahnya sangat mirip denganmu mirip seperti fotomu saat kecil yang pernah mama tunjukan padaku, aku berpikir bahwa itu memang dirimu kecil yang digendong, dan kalian berdua tersenyum padaku tidak mengatakan apapun, aku terbangun dengan terkejut dan langsung melihatmu sedang tertidur disampingku, saat itu aku langsung meneteskan airmata dan ingin sekali meminta maaf padamu atas semua yang sudah aku lakukan, tetapi aku tidak mau membangunkanmu, itu sebabnya pagi itu aku menyiapkan sarapan untukmu dan ingin meminta maaf tetapi kau malah pergi dan tidak sarapan denganku, dan aku masih bingung kenapa Ayahku menggendongmu??"
Aditya terdiam dan memikirkan cerita istrinya barusan, sampai kemudian dia teringat sesuatu.
" Itu bukan aku, bisa jadi itu adalah bayi kita, dia tidak ingin kedua orangtua nya menjaga jarak, dia tahu bahwa kita saling mencintai dan mungkin saja dia datang untuk mengingatkanmu agar kau tidak terus terusan larut dalam kesedihan, dan kenapa dia digendong oleh Ayahmu, karena aku menguburkannya tepat disebelah makam Ayahmu dan ibu lah yang menyuruhku untuk melakukannya, bayi kita tidak sendirian ada kakeknya yang menjaganya disana, senyuman mereka dalam mimpimu adalah bukti bahwa mereka sudah bahagia disana, kita juga harus bahagia disini"
Aditya mempererat pelukannya, dia kemudian juga terpikirkan hal aneh yang semalam terjadi padanya, dimana dia menutup matanya saat berciuman dengan Cheryl dia melihat bayangan anak kecil dan mengatakan " Papa " apakah itu adalah sebuah pertanda bahwa dia sedang diingatkan agar tidak melakukan kesalahan besar yang nantinya bisa dia sesali seumur hidupnya.
Cahya mengankat kepalanya dan marah kepada Aditya. " Kau jahat, kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau menguburkan bayi kita di samping makam ayahku?"
" Sayang, bukannya aku berbohong, kondisimu saat itu sangat tidak baik, aku tidak mau justru kau akan mengalami guncangan lebih hebat lagi setelah datang kesana, sudahlah nanti saat kita kembali aku akan mengajakmu kesana? Aku sangat bersyukur bayi kita telah menyelamatkan kita dari hal yang tidak baik dan kita bisa memulai untuk menata kebahagiaan kita lagi"
****
Disisi lain, Cheryl melemparkan tubuhnya diatas ranjang, dia tidak menyangka jika Aditya sudah menikah dan kenapa juga dia tidak pernah memberitahunya. Sebenarnya saat melihat jas Aditya dan menemukan ponselnya, dia melihat wallpaper ponsel itu, disana Aditya sedang mencium seorang perempuan yang ternyata itu adalah istrinya, dia hanya berpikir mungkin itu kekasih Aditya. Cheryl sangat menyesal mengetahui itu semua, dia harus meminta maaf atas kejadian yang semalam terjadi karena dia benar-benar tidak tahu sama sekali.