SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 159



Melihat tatapan Cahya, Aditya justru tersenyum dan mengusap pipi Cahya. Merasa sedikit kesal, Cahya melepaskan jemari Aditya dari pipi nya.


"Jangan berani-berani kalian libatkan Elea dalam masalah ini, jangan hubungi dia" Cahya setengah berteriak.


"Hei sayang tenanglah, aku tidak bermaksud untuk menghubungi Elea"


"Lalu siapa...???"


"Nanti kau akan tahu, yang jelas bukan Elea"


Aditya lalu mengambil ponselnya dan menjauh dari Cahya dan Randy, dia mulai menghubungi seseorang. Aditya menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Ariel, berharap orang itu bersedia datang dan mengurus semua keperluan Ariel selama sakit. Cahya masih penasaan siapa yang sedang dihubungi oleh Aditya tetapi perasaanya lega karena bukan Elea.


Aditya cukup lama berbicara ditelepon hingga akhirnya kembali menghampiri Cahya dan Randy. "Gimana??" Tanya Randy.


"Well, dia akan kembali besok jadi aku akan menjemputnya di airport, sementara aku minta padamu untuk menjaga Ariel, karena aku juga ada meeting besok pagi dikantor"


Aditya, Randy dan Cahya lalu masuk ke ruangan Ariel, disana Ariel sudah bangun dengan ditunggui oleh Adri. Mereka bertiga menghampiri Ariel dan mengajaknya berkomunikasi walaupun Ariel masih kesulitan untuk berbicara tetapi dia bisa menjawab pertanyaan Aditya dan Randy dengan suara lirih.


Tetapi ketika Randy mengusulkan untuk membawa kasus pengeroyokannya ke pihak kepolisisan, Ariel justru menolaknya. Aditya dan Randy pun berpandangan karena bingung dengan penolakan Ariel. Aditya pun mencoba menjelaskan kepada Ariel tetapi Ariel tetap menolak usulan mereka.


"Jika aku.... sudah sembuh, aku.... akan menyelesaikannya sendiri" Ucap Ariel dengan suara lirih dan sedikit terbata.


"Oke baiklah jika itu yang kau inginkan, tetapi aku harap kau jangan sungkan menghubungiku atau Adit, kami akan membantumu" Ucap Randy dan Ariel pun memejamkan matanya perlahan.


"Iel, aku minta maaf aku harus pulang sekarang, besok pagi aku ada meeting dikantor dan aku juga tidak tega membiarkan Cahya mengurus anak-anak sendiri saat malam hari, besok aku akan kembali kesini lagi"


"Thanks Dit"


Aditya, Cahya dan Adri pun pergi meninggalkan rumah sakit.


******


Akhirnya Aditya, Cahya dan Adri sampai dirumah. Cahya dan Aditya langsung ke kamar untuk melihat Kyra dan Kyros yang sudah mereka tinggalkan tadi. Ternyata bayinya sedang terlelap diranjang mereka dan sedang dijaga oleh kedua nenek nya.


"Ma, apakah mereka menangis?" Tanya Cahya.


"Tidak sayang, cucu-cucu Mama sangat pintar dan mereka baru saja tertidur, bagaimana kondisi Ariel?"


"Dia sudah siuman Ma, tetapi masih lemah" Jawab Aditya.


"Syukurlah kalau begitu, oh iya Adit jangan menyentuh anakmu dulu, seharian kau pasti belum mandi, cepat bersihkan tubuhmu, Cahya sayang kami pergi dulu untuk beristirahat, kau jaga anak-anak ya?"


"Iya Ma, makasih udah bantu jagain anak-anak"


Aditya langsung pergi ke kamar mandi, dan Cahya menyiapkan pakaian untuk suaminya itu lalu kembali lagi ke kamar Kyros dan Kyra. Cahya merapikan boneka-boneka milik bayinya, dan melihat mereka tidur dengan lelapnya, dia pun mendaratkan ciuman untuk Kyros dan Kyra, lalu kembali ke kamarnya.


Cahya masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dan disaat bersamaan Aditya juga sudah selesai mandi. Aditya memeluk Cahya dari belakang dan menciumi lehernya.


"Aku sangat menyukai aroma Kyros dan Kyra, dan kau pasti habis mencium mereka karena bau mu juga seperti mereka"


Cahya membalikkan badannya dan memegang rahang Aditya dengan kedua jemarinya. "Jika kau menyukai aroma Kyra dan Kyros kau pakai saja bedak dan parfum bayi milik mereka" Cahya mengecup pucuk hidung Aditya. "Pakai pakaianmu dan tidurlah, aku harus ke kamar mandi sekarang"


Cahya meninggalkan Aditya diruang ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Aditya terlihat sangat kesal saat ditinggalkan Cahya.


Aditya naik ke atas tempat tidur setelah mengganti pakaiannya dan duduk bersandar disana sambil memainkan ponselnya. Cahya keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar setelah mencuci muka dan menggosok gigi nya. Aditya melihat kearah Cahya yang baru keluar dari kamar mandi dengan tatapan kesal, dan Cahya hanya melempar tawa kecilnya pada suaminya itu.


"Berhentilah memainkan ponselmu, dan tidurlah, besok pagi kau ada meeting bukan?" Gumam Cahya, tetapi tidak respon apapun dari Aditya, membuat Cahya tersenyum melihat kekonyolan suaminya itu.


Setelah menyelesaikan rutinitasnya sebelum tidur, Cahya bangkit dari kursi dan berjalan ke tempat tidurnya. Cahya naik ke atas ranjang dan langsung berbaring membelakangi Aditya lalu menarik selimut dab pura-pura memejamkan matanya. Cukup lama Cahya menunggu tetapi tidak ada gerakan dari Aditya, justru dia mendengar suara, dari suaranya sepertinya suaminya itu tengah asyik bermain game di ponselnya.


Perlahan Cahya membalikkan badannya dan membuka sedikit matanya, melihat Aditya yang serius dengan ponselnya tetapi wajahnya tetap terlihat kesal. Cahya kemudian bangun dan langsung merampas ponsel Aditya dengan kasar.


"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, ini sudah malam dan cepatlah tidur..!!!" Gerutu Cahya.


Aditya meraih ponselnya dari tangan Cahya dan kembali memainkan game nya. Cahya kemudian menyandarkan badannya disebelah Aditya dan menatap suaminya itu dengan tatapan melembut. "Jadi sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tanya Cahya lalu kedua jemarinya memegang pipi Aditya dan mengarahkannya ke wajahnya agar Aditya mau menatapnya.


Cahya langsung mengecup bibir Aditya dengan lembut dan melepaskan tangan kanannya dari pipi Aditya. Tangan kanan Cahya bergerak mengusap lembut area vitall Aditya. "Kau menginginkan aku melakukan ini?" Bisik Cahya dan kini kedua tangannya berusaha mengeluarkan kejjantanan Aditya.


Setelah berhasil mengeluarkannya, Cahya mulai mengekplorasinya dengan kedua jemarinya. Gerakan lembut jemari Cahya membuat Aditya mendessah karena kenikmatan. Cahya mencium bibir Aditya, dan mereka berdua saling berpaguttan dengan jemari Cahya yang masih terus bergerak naik turun memainkan milik Aditya.


Cahya melepaskan ciumannya dan berbisik ditelinga Aditya. "Do you want faster??" Tanya Cahya.


"Shhhhhhh aahhhh yes I do.....!!!" Jawab Aditya dengan suara parau "Even Faster dear ahhhhhhh"


Cahya melakukannya dengan cepat membuat Aditya semakin menggila karenanya sampai akhirnya Aditya memeluk Cahya dan mendesah panjang ditelinganya menandai dirinya telah sampai dipuncak kenikmatannya. Napas Aditya terdengar terengah-engah ditelinga Cahya, beberapa saat kemudian Aditya melepaskan pelukannya.


Cahya tersenyum menatapnya lalu meraih tisu diatas meja dan mengelap tangannya. "Kau senang sekarang? Dan aku lah yang akan menderita karena tidak bisa mendapatkan apapun darimu, sekarang tidurlah" Ucap Cahya lalu turun dari tempat tidur untuk mencuci tangannya.


"Terima kasih sayang, aku janji jika waktunya tiba pasti aku akan memberi yang terbaik untukmu, bisakah kau ambilkan aku tisu basah"


"Baiklah akan ku ambilkan, tunggu sebentar aku ke kamar mandi dulu"


*****


Keesokan harinya setelah meeting dikantornya, Aditya langsung menuju ke airport untuk menjemput seseorang yang kemarin dia hubungi. Seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai, seseorang yang dulu sangat dekat dengannya dan juga Randy tetapi sebuah peristiwa membuat dia akhirnya memilih menjauh serta meninggalkan negara ini.


Aditya sudah sampai di airport, dan menunggu sambil melihat jam tangannya. Lama Aditya menunggu hingga akhirnya dia melihat seorang pria berusia diatas 50 tahun sedang berjalan bersama 2 bodyguardnya yang membawa koper miliknya. Aditya langsung melambaikan tangannya dan memanggil namanya.


"Om Andi........!!!!" Teriak Aditya.


Pria bernama Andi itu langsung mempercepat jalannya menuju ke arah Aditya. Aditya langsung menyalami dan memeluknya. "Apa kabar Dit?"


"Baik om, om sendiri bagaimana??"


"Ya beginilah, kau bisa lihat sendiri, Papa dan Mama mu apa kabar? Sudah lama mereka tidak ke Singapura?"


"Mama dan Papa baik om, mereka tidak kesana karena alhamdulillah Mama sudah sembuh, mari om kita langsung ke mobil" Ucap Aditya dan mengajak mereka berjalan keluar.


Andi adalah ayah dari Ariel. Hubungan Ayah dan Anak itu memburuk setelah kematian dari ibu Ariel. Merasa marah dan kecewa dengan Ayahnya, Ariel memilih pergi meninggalkan rumah dan hidup sendiri dengan tinggal di apartment. Andi telah berusaha untuk mengambil lagi hati putranya itu dengan melakukan berbagai cara tetapi tidak ada satupun usahanya itu berhasil hingga akhirnya dia memilih pergi ke luar negeri untuk menghibur dirinya. Sampai saat ini Ariel masih tidak mau memaafkan kesalahan Ayahnya itu padahal jauh dilubuk hatinya, dia sangat menyayangi putranya.


Aditya berharap semoga dengan cara ini, Ariel bisa memperbaiki hubungannya dengan Ayahnya. Dalam perjalanan, Aditya memberitahu Ayah Ariel agar tidak mengatakan jika kedatangannya kesini adalah karena permintaannya karena pasti nanti Ariel akan marah padanya. Ayah Ariel tampak mengerti maksud Aditya.Lalu Aditya juga menceritakan tentang perceraian Ariel dan Elea serta bagaimana Ariel telah memperlakukan Elea sebelum menceraikan perempuan itu.


Sampailah akhirnya mereka di rumah sakit. "Om masuk saja, Ariel dirawat di kamar VVIP sembilan, ada Randy bersama nya, aku akan mengantar koper om ke rumah om sekarang dan nanti sore aku akan datang kesini" Ucap Aditya.


"Thanks ya Dit, salam untuk orangtua mu".


Aditya sangat berharap apa yang dia lakukan ini bisa berdampak baik untuk Ariel agar bisa memperbaiki hubungan dengan Ayahnya serta mau memaafkan segala kesalahan Ayahnya itu. Ariel memang sangat keras kepala dan berpendirian kuat, jika sudah mengatakan A maka akan sulit untuk merubahnya ke B. Sudah bertahun-tahun berlalu tetapi hubungan mereka tetap sama dna justru semakin memburuk, bahkan Aditya mendengar cerita dari Randy, saat pernikahan Ariel dan Elea dulu, Ayahnya itu juga datang tetapi Ariel sama sekali tidak memperdulikannya, berbicara dengannya saja tidak. Melihat itu sebenarnya Randy merasa kasihan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat sikap keras kepala Ariel.