
Cahya dibawa ke sebuah gedung terbengkalai oleh para penjahat itu. Matanya masih ditutup dan dia didudukkan disebuah kursi lalu diikat. Cahya benar-benar sangat ketakutan takut terjadi sesuatu padanya dan bayinya tetapi dia mencoba untuk tetap tenang. Tidak ada tanda-tanda ponselnya berdering sejak tadi, dia mulai memikirkan apakah Aditya sudah menerima pesan suaranya atau belum. Kini dia hanya bisa berharap suaminya akan segera bisa menemukannya dan menyelamatkan dirinya, Cahya tidak ingin lagi kejadian buruk menimpa dirinya dan bayinya untuk kedua kalinya.
Ponsel Aditya berdering, cukup lama dia baru menyadari dan mengambil jas nya lalu meraih ponselnya yang ada didalam saku jas nya itu. Aditya melihat kontak Marco supir istrinya yang menghubunginya, Aditya pun langsung mengangkatnya. "Ya Marco, ada apa? Apa Cahya sudah sampai dirumah?"
"Maaf pak, ibu telah diculik dan sekarang entah dibawa kemana oleh mereka?" Suara Marco terdengar bergetar.
"Apa katamu Cahya diculik......!!!??? Bagaimana bisa? Aku menyuruhmu untuk selalu mengawasinya...!!"
Adri dan Rama yang ada dihadapan Aditya pun terlihat sama terkejutnya mendengar ucapan Aditya tentang Cahya. Mereka berdua saling berpandangan tidak percaya. Aditya pun tampak diam mendengar penjelasan dari Marco hingga akhirnya dengan kesal dia menutup telepon itu. Aditya melihat notif pesan dari Cahya dan langsung membukanya, pesan itu ternyata sudah dikirim istrinya kurang lebih 1 jam yang lalu, ternyata sebuah voice note beberapa detik. Aditya pun memainkan pesan suara itu dan mendengarkannya dengan seksama.
Pesan suara itu diawali sebuah isakan lalu terdengar suara Cahya yang ketakutan "Adit tolong aku" Ucap Cahya sambil terisak. Mendengar itu Aditya langsung beranjak dari duduknya dan mengajak Adri untuk segera mencari Cahya. Adri memanggil pelayan dan memberikannya beberapa lembar uang ratusan ribu untuk membayar makanan mereka bertiga. Aditya dan Adri langsung bergegas meninggalkan restoran itu dan Rama juga ikut serta dengan mereka. Aditya memberikan kunci mobilnya pada Adri, dan menyuruh adiknya itu mengemudikan mobilnya karena dia harus menghubungi Cahya.
"Bagaimana ini bisa terjadi kak? Bukankah Marco memiliki keahlian khusus?" Tanya Adri yang masih bingung.
"Mereka memukul kepala Marco dari belakang dan membiusnya, setelah tidak sadarkan diri mereka membawa Cahya, karena kehamilanya aku menjadi lengah padahal semalam dia sudah menolak untuk pergi tetapi justru aku yang memaksanya, shiit aku benar-benar bodoh"
"Tenanglah kak, kita akan segera menemukan kak Cahya, bagaimana sudah kau coba lacak lokasinya?"
Aditya pun mulai melacak lokasi ponsel milik Cahya berharap istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
*****
Sejak tadi Cahya mulai merasakan ponselnya bergetar berharap Aditya segera menemukannya. Kain penutup matanya pun dibuka oleh para penjahat itu, dan Cahya menemukan dirinya berada didalam sebuah bangunan tua, dia pun memohon agar dilepaskan dan akan berjanji bahwa dia tidak akan menghubungi polisi jika mereka melepaskannya tetapi permintaan Cahya tidak direspon dan justru para penjahat itu meninggalkannya sendirian didalam bangunan itu. Cahya pun berteriak meminta pertolongan tetapi diabaikan, tangisnya sekali lagi mulai pecah dan perutnya terasa sakit karena sepertinya bayinya sedang menendang-nendang perutnya dengan sangat keras. Cahya mencoba menenangkan dirinya agar bayinya juga merasa tenang dan nyaman.
Cahya mendengar langkah kaki seseorang dan mencoba mencari sumber suara itu dan terkejut menemukan seorang perempuan berjalan ke arahnya dengan memakai gaun tidur berwarna peach. Cahya melihat ke wajah perempuan itu dan terkejut mengetahui siapa perempuan itu. "Cheryl...??? Kau ada disini??? Cheryl tolong bantu aku melepaskan ikatan ini..." Pinta Cahya. Bukannya bergegas menolong Cheryl justru tertawa terbahak-bahak menertawakan Cahya sambil bertepuk tangan.
"Cahya sayang, akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama, kau semakin cantik pantas saja suamimu tidak bisa lepas darimu, suamimu itu memang lelaki yang cerdik, aku sangat membencinya berani-beraninya dia memisahkanku darimu, rasanya aku ingin sekali melenyapkannya" Gumam Cheryl sambil berjalan mengelilingi Cahya.
Cahya merasa sangat bingung dengan ucapan Cheryl, kenapa Cheryl membenci Aditya dan ingin melenyapkannya, bukankah Cheryl justru ingin merebut Aditya darinya. Kenapa juga Cheryl berkata membenci Aditya karena telah memisahkanku darimu, Cahya benar-benar tidak mengerti dengan semua ucapan Cheryl.
Seolah mengerti kebingungan Cahya, Cheryl pun melanjutkan ucapannya.
"Kau ingat gaun tidur yang ku pakai ini? Ini adalah gaun tidur yang pernah kau pinjamkan padaku, setiap malam aku memeluknya menciuminya membayangkan dirimu sedang memakai ini dengan cantiknya, kau selalu ada dimimpi-mimpi indahku Cahya sayang, suamimu itu telah menghancurkan seluruh rencanaku, dia mengajakmu pergi dari rumah itu, aku hampir gila karena nya, setiap hari aku menunggumu disana tapi kau tidak pernah ada dirumah itu lagi, sekarang aku sudah mendapatkanmu dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, aku sangat mencintaimu Cahya sangat sangat mencintaimu, kau harus jadi milikku dan tidak akan ku ijinkan siapapun menghalangi kisah cinta kita"
Sekali lagi Cahya terlihat terkejut dengan semua ucapan Cheryl. Ternyata selama ini dugaannya salah, Cheryl bukan ingin memiliki Aditya tetapi justru mengincar dirinya.
*****
"Aku menemukan lokasinya" Gumam Aditya smabil menunjukkan ponselnya ke Adri. Adri menghentikan mobilnya dan melihat dengan seksama lokasi itu.
Aditya pun menyerahkan ponselnya pada Adri dan meminjam ponsel adiknya itu untuk menghubungi Randy. Aditya langsung mencari kontak Randy lalu menghubunginya, butuh beberapa kalai panggilan hingga akhirnya dijawab dan Adri meminta kakaknya itu untuk mengaktifkan speaker ponselnya.
"Hallo Ran, ini Adit, tolong sampaikan ke Chitra kalau Cahya tidak jadi datang menemuinya"
"Menemui Cahya??? Apa maksudmu Dit? Aku dan Chitra sedang berada diluar kota sekarang bagaimana bisa dia ingin bertemu Cahya?"
"Diluar kota? Tapi semalam Chitra mengirim pesan pada Cahya dan mengajaknya bertemu siang ini untuk lunch"
"Mengirim pesan? Aku dan Chitra pergi sejak kemarin siang, dan ponsel Chitra tertinggal dirumah, dia tidak membawa ponselnya sekarang bagaimana bisa dia mengirimi Cahya pesan, mungkin Cahya salah baca, bukan dari Chitra kali"
"Kau jangan bercanda Ran, aku sendiri yang membaca pesan itu, dan itu terkirim dari nomor Chitra, dia mengajak Cahya lunch dan sekarang Cahya diculik jadi dia belum sempat bertemu dengan Chitra" Ujar Aditya dengan suara panik.
"Aku tidak bercanda Dit, aku dan keluarga Chitra sejak kemarin pergi dan ponselnya memang tertinggal dirumah jadi tidak mungkin Chitra mengirim pesan, lalu bagaimana Cahya sekarang?"
"Aku sedang melacaknya, baiklah kalau begitu aku tutup dulu"
Aditya semakin bingung dengan situasi ini, bagaimana bisa Chitra tidak mengirim pesan itu, itu sudah sangat jelas berasal dari kontaknya, lalu siapa yang mengirimnya. Apa mungkin ada yang menyabotase ponsel Chitra, kebingungan Aditya semakin bertambah. Aditya mulai berpikir bahwa ini sepertinya adalah sebuah jebakan yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk menyakiti istrinya atau bahkan bisa saja untuk menggertak dirinya dengan menculik Cahya.
"Kakak, apa mungkin ini ulah Theo, bukankah dia sudah keluar dari penjara?" Ujar Adri.
"Theo...??? Si bren*sek itu lagi, jika memang dia yang melakukannya aku akan membunuhnya saat ini juga, aku sudah kehilangan anakku karena dia dan sekarang dia menculik istriku lagi, aku akan benar-benar membunuhnya, ayo Dri cepatlah, aku snagat mengkhawatirkan Cahya"
****
Cheryl memanggil orang suruhannya dan menyuruh membawa Cahya ke tempat yang sudah disiapkan. Ikatan Cahya pun dilepaskan dan Cahya dipaksa untuk masuk ke ruangan itu. Disana sudah tersedia bantal dan ada kain diatas bantal itu. Cahya terus meronta memohon agar dilepaskan tetapi tidak ada yang memperdulikannya.
"Baringkan dia dan ikat kaki serta tangannya, cepat...!!!" Teriak Cheryl.
"Cheryl apa yang ingin kau lakukan?? Tolong lepaskan aku, kita bisa bicara baik-baik, tolong Cheryl lepaskan aku, aku mohon.... Apa kau tidak kasihan padaku, aku sedang hamil, kita sesama perempuan harusnya kau mengerti itu, aku mohon...." Isakan Cahya semakin menjadi-jadi, dan dia tidak bisa menahan airmatanya.
"Aku sangat kasihan kepadamu sayang, itu sebabnya aku ingin melepaskanmu dari siksaan yang membelitmu itu, aku akan membantumu mengeluarkan bayi siialan yang ada diperutmu itu dan melemparkannya ke wajah suamimu lalu kau dan aku bisa hidup bahagia bersama tanpa tangisan dan kotoran bayi, aku akan membantumu mengeluarkannya, hei kalian berdua cepat baringkan kekasihku ikat dia dan tutupkan kain itu ditubuhnya, cepaattt......" Teriakan Cheryl itu sangat menakutkan.
Cahya terus meronta menolak sambil menangis membayangkan hal buruk yang akan menimpanya saat ini. Bagaimana bisa bayinya akan dipaksa dikeluarkan sedangkan ini belum waktunya.
"Ya Allah, apalagi yang sedang kau rencanakan, apa kau ingin membuatku benar-benar gila saat ini karena aku akan kehilangan bayiku untuk kedua kalinya, Adit kau dimana kenapa tidak kunjung datang" Gumam Cahya dalam hati sambil terus menangis meratapi keadaanya saat ini.
Kedua pria itu langsung menuruti perintah Cheryl dan membaringkan Cahya lalu mengikat kaki dan tangannya. Sambil menangis Cahya terus meronta memohon untuk dikasihani, tetapi tidak ada yang memperdulikan rintihannya.