
Danist enggan terlalu serius menanggapi pertanyaan Ariel, dia hanya melempar senyum lalu menjawab dengan suaranya yang lembut. "Ya ini bisa dibilang rumah dinas, pak Aditya yang menyuruh saya tinggal disini untuk memudahkan pekerjaan saya, apa pak Ariel ada masalah dengan rumah ini?"
"Ah tidak, kupikir kau tinggal di mess karyawan bersama yang lain ternyata Adit memberimu tempat ini"
Elea memandang Ariel dengan penuh kemarahan. "Kau mau masuk atau tidak? Jika tidak, silakan pergi dari tempat ini" Gumam Elea kesal.
Elea, Chika dan Danist membalikkan badannya berjalan meninggalkan Ariel. Melihat kemarahan Elea, Ariel langsung diam dan mengikuti mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Mama Danist langsung menyambut kedatangan putranya dan Elea serta Chika, tetapi kemudian dia merasa heran karena ada Ariel yang juga ikut. Melihat keterkejutan sang Mama, Danist memberitahunya bahwa Ariel tadi datang ke kantor kemudian dengan inisiatifnya dia mengajak Ariel untuk bergabung dan makan siang bersama.
Mama Danist mempersilahkan mereka semua masuk. Semua makanan sudah tersaji di atas meja, dan bergantian memgambil nasi serta sayur dan lauknya. Ariel diam menunggu giliran sambil matanya berkeliling melihat kondisi rumah itu.
"Kak Iel, kakak mau makan atau tidak? Kenapa dian dan tidak mengambil makanannya?" Tanya Chika.
Ariel tersenyum lalu mulai mengisi piringnya dengan nasi dan yang lainnya. Mereka semua menikmati makan siang bersama, suasana menjadi ceria karena Elea dan Danist sesekali melontarkan candaan. Chika dan Mama Danist tertawa mendengar candaan Elea juga Danist, tetapi Ariel hanya diam sibuk dengan makanannya.
Ariel merasa jika sepertinya Danist sengaja mencari perhatian Elea agar bisa membuatnya cemburu. Disisi lain, Mama Danist sama sekali tidak menikmati makan siangnya walaupun dia mencoba tetap bersikap biasa saja. Kehadiran Ariel membuatnya menjadi sedikit tidak nyaman.
"El, apa nanti setelah menikah, kau akan diajak tinggal ditempat yang kecil seperti ini?? Kurasa aku tidak rela jika bayi kita harus dibesarkan disini, aku harus memastikan kenyamanan anakku, aku tidak rela" Gumam Ariel yang langsung mendapat pelototan dari Elea.
Sontak Chika dan Mama Danist juga langsung memandang ke arah Ariel dengan penuh kebingungan, mereka berdua tidak mengetahui tentang rencana Danist dan Elea. Sementara Danist mengarahkan pandangannya pada Elea.
Dengan cepat Elea langsung menyela "Sejak tadi ku lihat kau sekarang lebih banyak bicara, kau sudah beralih profesi sebagai presenter atau wartawa, makananmu juga sudah habis lebih baik kau cepat pergi dari tempat ini"
"Oke aku akan pergi sekarang dan terima kasih atas jamuan makan siangnya, oh iya El kalau setelah kalian menikah dan kau butuh rumah baru yang lebih luas bilang saja padaku El, aku akan memberikannya secara gratis untukmu, ya lebih tepatnya untuk kenyamanan bayi kita, ya mengingat kurasa Danist tidak akan bisa memberikanmu tempat tinggal yang lebih layak dan luas" Ariel memundurkan kursi dan berdiri lalu pergi keluar dari ruang makan.
Semua hanya terdiam mendengar hinaan yang baru saja dilontarkan oleh Ariel. Mama Danist merasa bingung dan heran dengan penghinaan yang dilakukan Ariel secara terang-terangan dihadapan mereka semua. Hatinya merasa tersakiti mendengar putranya dihina oleh adiknya sendiri, andai saja Ariel tahu bahwa Danist adalah kakaknya pasti dia tidak akan mungkin menghina nya seperti itu. Tetapi selain itu dirinya juga dilanda kebungungan karena Ariel seolah membahas bahwa akan ada pernikahan antara Danist dan Elea, sedangkan yang dia tahu mereka hanya bersahabat dan tidak ada ikatan atau bahkan rencana untuk menikahi Elea karena Danist sampai sekarang masih belum mengungkapkan perasaannya pada Elea.
Danist terdiam dan memilih menundukkan kepalanya tidak berani menatap Mama nya karena nanti pasti Mama nya itu akan bertanya tentang apa yang sudah diucapkan Ariel. Sementara Elea mengejar Ariel keluar rumah dan menarik kasar pergelangan tangan Ariel untuk menghentikan lelaki itu.
Langkah Ariel terhenti dan dia tersenyum lalu membalikkan badannya dan langsung memegang kedua bahu Elea. Mendorong perempuan itu perlahan ke tembok dan langsung mencium bibirnya membuat Elea terkejut. Elea berusaha melepaskan ciuman Ariel dan setelah mendapat kesempatan, Elea langsung menampar pipi Ariel dengan keras dan meninggalkan bekas merah dipipi Ariel.
"Kau????" Ucap Elea sambil jarinya menunjuk ke wajah Ariel. "Berani sekali kau menciumku? Ingat kita sudah tidak ada hubungan apapun, jadi jangan berani-berani menyentuhku, aku menerima pemberianmu hanya karena kau ayah dari bayiku tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu dan ya, jagalah setiap ucapanmu, jangan pernah mengatakan hal konyol hanya untuk menghina orang lain, sekarang pergilah sebelum aku semakin muak melihat wajahmu"
"Maafkan aku El, aku khilaf, aku janji tidak akan mengulanginya, aku permisi dan jaga dirimu serta bayi kita baik-baik ya" Ariel mengusap perut Elea lalu pergi ke mobilnya dan mengambil hadiah yang sudah dia bawa untuk Elea lalu sambil tersenyum dia memberikannya.
*****
Setelah kepergian Ariel, semua orang kembali masuk ke dalam rumah, Elea dan Chika langsung membantu Mama Danist membereskan semua peralatan makan yang baru saja digunakan. Sedangkan Danist pergi keluar rumahnya dan duduk diteras sendirian. Mereasa ada yang sedang disembunyikan oleh putranya, Mama Danist meninggalkan Elea dan Chika didapur dan pergi menyusul Danist.
Melihat kehadiran sang Mama, Danist pun agaknya telah mengerti bahwa Mama nya akan memintanya untuk menjelaskan semuanya.
"Apa yang terjadi Dan? Mama melihat jelas dimata Ariel bahwa dia sangat membencimu dan semua ucapannya tadi, apa maksudnya?"
"Sebenarnya aku dan Elea telah melakukan kesepakatan Ma"
"Kesepakatan apa maksudmu?"
"Kesepakatan untuk berpura-pura menjadi sepasang kekasih dihadapan Ariel, itu Elea lakukan agar Ariel berhenti mengganggunya dan Elea juga mengatakan pada Ariel bahwa kami akan menikah setelah Elea melahirkan, tetapi bukannya menghindari Elea, Ariel justru menabuh genderang perang untuk menantangku bertaruh, siapa diantara kami yang bisa mendapatkan Elea"
"Elea bukan boneka yang bisa dijadikan ajang pertaruhan"
"Aku tahu Ma, itu sebabnya aku tidak pernah menanggapi semua ocehan Ariel kepadaku, aku tidak mau nanti Elea menjadi korban dari keegoisan kami, aku lebih memilih diam saja"
"Dan...! Kau harus tetap jadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab, masalah cintamu pada Elea dan permasalahan kalian dengan Ariel, Mama tidak akan ikut campur, tetapi kau harus ingat satu hal, jangan sampai kau terbawa emosi jika Ariel berbuat buruk padamu, Mama tidak ingin melihatmu memukuli atau menghajar seseorang, apapun yang diucapkan Ariel kau harus diam saja hadapi dengan kepala dingin ya?"
Mama Danist berucap dengan suara lemah lembut walaupun perasaannya dilingkupi ketakutan, karena dia melihat bahwa Ariel sangat membenci putra nya itu, dia juga melihat ada amarah yang coba ditahan oleh Danist atas penghinaan terang-terangan yang dilakukan Ariel padanya. Bahkan Danist juga pasti sangat tersakiti ketika melihat Ariel mencium Elea, tetapi dia merasa sangat beruntung karena dia berhasil mengajari Danist untuk bersikap tenang dalam menghadapi kondisi apapun dan Putranya itu sampai sekarang bisa mengontrol dirinya dengan baik.
"Ma, aku sudah terbiasa dihina dan direndahkan orang lain, itu sudah jadi makanan sehari-hariku dulu, Mama selalu mengajarkan aku untuk bersikap biasa saja tetapi aku baru akan bersikap jika ada yang berani menghina dan menginjak-injak harga diri Mama, aku tidak akan mengampuni orang itu" Danist lalu memeluk sang Mama dengan lembut.
Tak disangka, Mama Danist menitihkan airmata nya karena setelah sekian lama dia sekarang harus mendengar lagi penghinaan yang ditujukan pada sang putra. Danist sejak kecil selalu membantunya bekerja, mengabaikan masa kecilnya yang harusnya dilewati dengan bermain dengan teman-temannya, tetapi itu tidak berlaku bagi Danist, baginya yang terpenting adalah membantunya untuk mencukupi kebutuhan mereka dan biaya sekolah putra nya itu. Kerja keras Danist membuahkan hasil, dia lulus dengan nilai yang sangat baik dan diterima bekerja di perusahaan milik Aditya, dan berkat ketekunannya akhirnya dia mendapat jabatan yang bagus hingga akhirnya sampailah dia disini. Tetapi langkah Danist kesini justru membawanya dan putranya itu harus menghadapi sesuatu yang sulit, Danist akhirnya bertemu dengan Ayah kandungnya walaupun dia masih belum mengetahuinya. Dan disisi lain justru saat ini Danist mendapat penghinaan lagi, bahkan yang menghina adalah adik Danist sendiri. Mama Danist merasa sangat sedih dan terpukul, lagi-lagi takdir seolah sedang mempermainkannya lagi dan putra nya sekali lagi yang harus menanggungnya.