SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 345



"Kenapa tadi kau berbicara panjang lebar seperti itu pada Ariel, bagaimana kalau tadi dia melakukan sesuatu padamu??? Kenapa kau tidak berpikir dulu sebelum berbicara!!" Aditya mengemudikan mobilnya sambil mengacak-acak rambutmya dengan kasar memarahi Cahya.


"Aku tidak peduli....! Kau juga selama ini sama sekali tidak pernah bisa mengingatkan sahabatmu itu agar menghentikan sikap buruknya pada orang lain, sekali-kali dia harus diberi peringatan agar tidak seperti itu!"


"Bukan begitu sayang!!! Bagaimana jika Ariel marah kepada kita?"


"Biarkan saja..!! Apa peduli kita, dia memang baik tetapi sifat egoisnya itu menutup semua kebaikan hatinya, harusnya dia bisa berpikir sebelum melakukan sesuatu! Bagaimana bisa aku diam saat melihat perempuan direndahkan seperti itu, silakan saja Ariel mengatakan semua itu pada Maysa jika dia saat itu menolak ajakannya tetapi dia tidak menolak dan menerima saja bahkan pasti menikmatinya lalu kenapa tadi dia mengatakannya didepan semua orang hanya untuk merendahkan harga diri Maysa, pecundang sekali sahabatmu itu, hanya ingin enaknya saja tetapi sangat picik"


Kali ini Aditya memilih diam dan tidak membantah lagi perkataan istrinya, karena jika ini terus berlanjut yang ada mereka nanti akan bertengkar dan Cahya akan mendiamkannya. Lagipula semua yang dikatakan istrinya itu memang ada benarnya juga, Ariel sangat salah dalam menyikapi permasalahan ini. Semua sumber masalah yang terjadi adalah pure kesalahan yang dilakukan Ayahnya dulu dengan Mamanya, dan semua itu saling berkaitan dengan apa yang terjadi dengan perselingkuhan yang sama yang lagi-lagi dilakukan Ayah Ariel dengan Ibu Maysa.


Serta bagaimana cara Tuhan membuat semuanya bergulir bagaikan dejavu yang terus berulang sampai Ariel juga akhirnya melakukan hal yang sama pada Elea. Tetapi kembali lagi, baik Ariel, Danist, serta Maysa adalah korban dari perilaku buruk dari orangtuanya, yang sumber utamanya adalah Ayah Ariel. Hanya saja entah bagaimana awal mula hubungan terlarang antara Almh. Mama Ariel dan Ayah Ariel itu bisa terjadi, tentu hanya keduanya yang tahu.


Aditya berharap semua kekacauan ini segera berakhir, dan Ariel bisa mengetahui semuanya suatu hari nanti. Atau juga mungkin Ariel sendiri bisa menanyakan secara langsung kepada Ayahnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun Aditya dan yang lainnya tahu tentang kebenaran yang sebenarnya, tetapi tentu mereka lebih memilih untuk diam saja karena itu bukan tempat mereka untuk ikut campur dalam permasalahan ini. Juga karena masih banyak hal belum mereka ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi jadi mereka juga tidak berani mengatakan itu pada Ariel yang nantinya justru berimbas pada hubungan pertemanan yang selama ini terjalin antara mereka dan Ariel. Karena semua akan terungkap suatu saat nanti oleh orang-orang yang terlibat di dalam permasalahan itu.


Sementara itu Ariel masih duduk terdiam ditempatnya sejak tadi. Semua perkataan dan kemarahan Cahya padanya membuatnya terdiam karena memikirkannya. Perkataannya pada Maysa juga sangat buruk, perempuan itu pasti akan membencinya. Tetapi dia terpaksa melakukan itu untuk menyakiti Mama Maysa yang sudah menghancurkan keluarganya. Ariel mengakui bahwa sebenarnya dia sangat mencintai Maysa akan tetapi semua itu tidak mungkin dia lanjutkan, jika bukan saat ini tentu dia nanti tetap akan mengakhirinya.


Semua ini memang karena Ayahnya, jika saja Ayahnya itu tidak melakukan hal itu, pasti dia tidak akan membenci Ibu Maysa, dan hubungannya dengan Maysa pasti akan baik-baik saja. Semua sumber permasalahan ini adalah Ayahnya, kehidupannya hancur juga karena Ayahnya. Ariel tidak akan pernah bisa memaafkannya begitu saja.


*******


Keesokan harinya, dengan kemarahan yang masih memuncak, Ariel mendatangi rumahnya untuk menemui Ayahnya. Semalam dia tidak bisa tidur karena dalam sekejap dia sudah kehilangan banyak hal, cintanya juga ingatan masalalu yang datang lagi di kehidupannya. Tetapi sayangnya saat dia datang, para pelayan mengatakan bahwa Ayahnya baru saja pergi sekitar satu jam yang lalu untuk menemui Gienka karena sudah sangat merindukan cucunya itu. Tanpa pikir panjang, Ariel bergegas menyusul Ayahnya.


Danist mengajak Gienka jalan-jalan di sekitar tempat tinggal mereka dengan mendorong stroller. Ini hari minggu, saatnya dia menghabiskan waktu bersama bayi itu. Danist bahagia melihat Gienka tumbuh dengan sangat sehat, semakin cantik juga menggemaskan, dan kenyataannya Gienka adalah keponakan kandungnya. Meskipun ada sisi menyedihkan dari masalalunya tetapi kenyataan bahwa Gienka keponakannya itu tidak bisa diabaikan begitu saja, secara tidak langsung ada ikatan darah antara dia dan Gienka.


Permasalahan berat yang saat ini Danist hadapi dengan Ariel dan Ayahnya adalah hal yang sulit diterima tetapi juga sudah tidak dapat dihindari. Kenyataan tetaplah kenyataan yang tidak bisa dirubah bahwa dia adalah saudara Ariel. Entah bagaimana nanti hubungan itu akan berjalan mengingat Gienka juga akan semakin tumbuh dewasa, dan Danist tidak tahu penjelasan apa yang harus dia serta Elea katakan saat Gienka suatu hari nanti menanyakan semua itu.


Elea sedang membersihkan halaman rumah, dia tidak ikut Danist dan Gienka jalan-jalan, karena rumah sedang dalam keadaan sepi. Mamanya sedang pergi ke Bandung dengan Mama Danist, begitu juga Chika yang sedang pulang ke Jakarta, hingga membuatnya harus mengurus rumah sendirian.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah, membuat Elea menghentikan aktifitasnya. Itu adalah mobil dari Ayah mertuanya. Elea terdiam sejenak memikirkan apa lagi yang akan terjadi nanti dengan kedatangan Ayah mertuanya itu kesini. Dia dan Danist baru saja tenang beberapa hari ini dan sekarang dihadapkan dengan kedatangan mertuanya itu lagi.


"Selamat pagi Elea sayang!" Sapa Pak Andi yang baru keluar dari mobilnya.


"Selamat pagi"


"Aku datang membawa beberapa hadiah untuk cucuku, dimana dia???"


"Gienka sedang jalan-jalan pagi bersama Danist, mari silakan masuk...! Ayah ingin minum apa?? Kopi atau teh???" Tanya Elea.


"Apa saja terserah kau"


Elea kemudian mempersilahkan ayah mertuanya itu untuk duduk dan dia pergi ke dapur, selain untuk membuat minuman dia juga akan menghubungi Danist agar segera membawa Gienka untuk pulang.


Sekitar 15 menit akhirnya Danist sampai di rumah dan Ayahnya berdiri dengan senyuman menyapa serta menyambutnya. Danist tidak membalas senyuman itu tetapi langsung duduk di sofa tanpa banyak berbicara. Pak Andi mengambil Gienka dan membawa bayi itu dalam pangkuannya.


"Dan...! Ayah minta maaf dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Ayah memang melakukan kesalahan selama ini padamu dan Mamamu, tetapi demi Tuhan, ayah tidak bermaksud apapun saat ingin memberimu itu semua, itu murni karena Ayah ingin memberikannya padamu tanpa embel-embel apapun, kau berhak atas semua itu" Ucap Pak Andi dengan suara tenang tidak menggebu-gebu seperti sebelumnya. Dia sudah menyesali apa yang terjadi kemarin.


"Maafkan juga jika perkataan Ariel selama ini sudah melukai hatimu, dia memang sangat keras kepala dan sangat sulit untuk diberi pengertian, tetapi sampai sekarang Ayah masih berusaha ingin menjelaskan semuanya pada Ariel agar hubungan kalian membaik" Ucap pak Andi lagi.


"Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak ingin menerima apapun darimu, hubunganku dengan Ariel sudah memburuk sejak awal dan sangat sulit untuk diredakan, hanya satu yang bisa anda lakukan agar hubungan ini tidak semakin rumit dan ini juga demi kebaikan Gienka kedepannya" Danist berucap dengan suara lembut mengingat tadi pak Andi juga berbicara dengan tenang.


"Apa itu Dan???" Tanya Pak Andi.


"Jangan pernah memaksaku menerima apa yang ingin anda berikan padaku, itu hanya akan mempersulit kehidupanku dan Ariel akan semakin membenciku, dia yang berhak atas semua milikmu, aku sudah bahagia dan merasa cukup dengan apa yang aku dan Mamaku miliki selama ini, berikan semuanya pada Ariel yang memiliki hak tertinggi dalam hal ini, karena pada akhirnya semua itu juga akan menjadi milik Gienka nantinya, aku tidak pernah menuntut apapun dari anda, fakta bahwa anda adalah ayahku itu tidak akan merubah apapun dalam hidupku, ku harap anda tidak lagi memperbesar masalah ini karena itu hanya akan menimbulkan luka yang semakin dalam"


Pak Andi terdiam tetapi tersenyum melihat kebijaksanaan dari Danist. Entah bagaimana dulu Sari mendidik Danist hingga dia bisa seperti sekarang. Pak Andi merasa bersalah dan merasa gagal menjadi seorang Ayah, sikap Ariel seperti ini adalah karena dia telah membuat putra bungsunya itu memiliki kemarahan akibat perbuatan buruk yang dia lakukan. Padahal sebenarnya Ariel juga memiliki kebaikan dalam hatinya dan juga Ariel termasuk laki-laki yang humoris, hanya saja keadaanlah yang membuatnya bersikap seperti ini.


Mobil Ariel memasuki halaman rumah Danist dan Elea. Ariel keluar dengan penuh kemarahan sampai membanting pintu mobilnya dengan keras.


"Andi....!!! Keluar kau sekarang juga....!!" Teriak Ariel dengan suara keras yang tentu saja terdengar dari dalam.


Mendengar teriakan Ariel, Danist dan pak Andi berdiri dan bergegas keluar. Elea mengambil Gienka dari gendongan Ayah mertuanya itu. Elea memejamkan matanya, ketakutannya tadi benar-benar jadi kenyataan bahwa pasti akan terjadi masalah lagi.


Melihat Ayahnya keluar, Ariel langsung menghpirimya dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh Ayahnya saat itu juga. Kehidupannya saat ini sudah benar-benar hancur karena perbuatan Ayahnya di masalalu, dia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya selama ini.


"Kenapa kau berteriak Iel??? Masuklah kita bicara di dalam..!" Ujar pak Andi seraya memegang pundak Ariel.


Akan tetapi dengan cepat Ariel menepisnya dengan kasar. "Jangan menyentuhku....!! Kau Ayah terburuk yang pernah ku lihat, bagaimana bisa kau lakukan semua ini padaku....! Bagaimana bisa kau menghancurkan seluruh kehidupanku? Apa kesalahanku hingga aku harus menanggung semua dosa yang pernah kau lakukan.....!!! Diamlah.......!!!! Karena kau aku terpaksa mengakhiri hubunganku dengan Maysa" Suara Ariel bergetar.


"Kau kenapa??? Apa yang terjadi Iel, kenapa kau menyalahkan Ayah?? Ayah tidak melakukan apapun untuk menghancurkan hubungan kalian, Ayah justru senang kau bisa bersamanya, ada apa sebenarnya??" Tanya pak Andi lagi.


"Apa kau bilang?? Kau tidak melakukan apapun?? Asal kau tahu, aku tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan perempuan yang Ibunya sudah menyebabkan kematian Ibuku.....!!! Dan itulah yang terjadi dengan hubunganku dan Maysa saat ini...!!"


Pak Andi terdiam sesaat, mencoba mengeryi dengan perkataan Ariel. Tetapi kemudian dia mulai memahaminya dan terkejut dibuatnya. "Jadi maksudmu Maysa itu adalah putri dari....."


"Ya...!" Sahut Ariel dengan cepat. "Maysa adalah putri dari mantan sekretarismu yang dulu pernah kau bawa pulang ke rumah dan setelah itu kondisi Mama semakin memburuk, andai saja kau tidak melakukan semua itu tentu hal ini tidak akan terjadi, aku sangat mencintai Maysa tetapi aku tetap tidak akan pernah bisa bersamanya. Semua ini salahmu...!! Kau menghancurkan hidupku dan membuatku menderita, aku sangat membencimu dan tidak akan pernah memaafkanmu selamanya, tidak akan pernah, kau Ayah yang sangat buruk...!! Aku menyesal kenapa aku harus memiliki ayah sepertimu, I'M SICK DEATH OF YOU....!!! Fuuck.....!!" Ucap Ariel lalu mendorong pak Andi.


Ariel kemudian pergi dari rumah itu tanpa mengatakan apapun lagi, dan tanpa melihat Gienka. Dia sedang dipenuhi dengan kemarahan saat ini, juga merasa bahwa hidupnya sudah dihancurkan sejak awal oleh Ayahnya sendiri. Ariel tidak akan pernah peduli lagi dengan apapun yang akan dilakukan ayahnya nanti, karena dia merasa hubungannya dengan ayahnya itu sudah berakhir. Ariel juga sudah tidak akan peduli lagi dengan semua aset Ayahnya.


Dalam perjalanan pulang, Ariel menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mulai menangis. Hidupnya sudah hancur dan tidak tersisa lagi. Dia sudah kehilangan Mamanya, kemudian Elea dan Gienka lalu kemarin dia juga kehilangan Maysa. Tidak akan pernah ada kata maaf untuk Ayahnya.