
Cahya membuka matanya dan melihat Aditya juga kedua bayinya masih terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih, Cahya bangun, lalu menaruh bantal disisi Kyros untuk menghalangi bayi itu agar menghalangi geraknya dan Cahya juga segera membangunkan Aditya. Aditya mengerjapkan matanya dan kesadarannya belum sepenuhnya lengkap tetapi melempar senyumnya ke arah Cahya lalu bangkit dan duduk diatas tempat tidur.
Setelah melakukan kewajibannya, Cahya langsung mempersiapkan keperluan kedua bayinya untuk mandi, sementara Aditya menimang Kyros yang sudah bangun lebih dulu dari adiknya. "Pangeran papa sangat tampan sekali setelah bangun tidur tapi akan terlihat lebih tampan jika kakak Ky mandi dulu, sekarang Mama sedang mengisi bak mandinya kakak Ky dengan air hangat, tunggu sebentar ya???" Aditya berucap sambil menciumi leher putranya itu dengan gemas.
"Airnya sudah siap berikan Ky padaku" Cahya mengulurkan kedua tangannya dan menerima Kyros dari Aditya.
"Aku akan menjaga Kyra sambil sedikit berolahraga kecil disini"
"Baiklah" Cahya kemudian meninggalkan Aditya untuk memandikan Kyros.
Aditya mulai melakukan gerakan ringan untuk pemanasan sebelum akhirnya dia mulai melakukan push up. Ditengah aksinya itu tiba-tiba terdengar suara tawa yang ternyata adalah suara tawa dari Kyra yang sudah bangun. Aditya menghentikan gerakannya dan memandang putri kecilnya itu yang sedang berbaring dengan pandangan mengarah kepadanya. Tetapi saat berhenti, Kyra justru diam. Aditya mulai bergerak naik turun, dan karena gerakannya itu Kyra kembali tertawa melihatnya.
Sambil mengatur napasnya Aditya pun mengajak Kyra berbicara. "Ternyata kau menyukai apa yang sedang Papa lakukan ya??? Putri Papa yang cantik ini sama seperti mamanya, oke Papa akan melakukannya lagi untuk Kyra sayang"
Sampai akhirnya Cahya selesai memandikan Kyros dan langsung memakaikan pakaian lalu bergantian memandikan Kyra. Pintu kamar diketuk, Aditya langsung membukanya dan menemukan Chika tersenyum didepannya. "Good morning kak Adit, apakah keponakanku sudah mandi???" Tanya Chika.
"Kyros sudah mandi dan berganti baju, itu dia" Aditya menunjuk ke arah bayinya yang terbarimg di ranjang. "Kyra masih belum selesai"
"Aku akan membawanya turun, bolehkan???"
"Tentu saja adikku yang manis, bawa saja dia, kau manis sekali" Aditua mengusap kepala Chika dengan lembut dan membiarkan Adik iparmya itu untuk masuk dan membawa Kyros.
Aditya mulai bersiap untuk pergi ke kantor, Cahya masuk ke kamar dan memasang dasi dileher suaminya itu. "Malam ini jangan pulang terlambat ya, kita pergi candle light dinner diluar, sudah lama kita ga dinner berdua" Ucap Cahya.
"Candle light dinner??? Aku jadi merasa bersalah karena jarang mengajakmu keluar dan sekarang kau malah yang mengajakku, baiklah aku akan pulang lebih cepat, kita akan pergi ke restoran mana???"
"Aku masih mencari, nanti kau akan ku beritahu"
"Apa perlu aku saja yang mencarinya??"
"Tidak usah sayang, biarkan aku saja yang mencarinya,
nah sudah siap kau sangat tampan, ayo kita turun untuk sarapan" Cahya berbohong, karena sebenarnya dia sudah meminta bantuan Ariel untuk menyiapkan tempat direstorannya untuk dinner bersama Aditya.
*****
Sejak semalam Elea tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan hadiah apa yang harus diberikannya pada Aditya. Cahya kemarin menghubunginya dan memberitahu jika Danist harus datang ke pesta yang Cahya siapkan untuk Aditya, mengingat dia tidak mungkin bisa datang kesana jadi Cahya menyuruhnya untuk memberitahu Danist agar bisa datang mewakilinya.
"Dan, hadiah apa yang harus kita berikan untuk Adit??" Elea bertanya sambil menata tempat tidurnya sedangkan Danist sedang sibuk dengan laptopnya.
"Aku juga tidak tahu El, pak Aditya sudah memiliki segalanya hahaha"
"Kau benar itu sebabnya aku sangat bingung, sejak Cahya kemarin meneleponku lalu memintamu agar datang ke pesta ulang tahun Aditya, aku terus berpikir apa yang harus kita berikan untuknya"
*****
"Hai Adri selamat pagi...!!!" Sapa seorang perempuan cantik saat Adri baru turun dari mobilnya untuk masuk ke kantor. Dia adalah Sheila teman sekantor Adri.
"Hai" Jawab Adri singkat dan berlalu begitu saja meninggalkan Sheila. Adri sangat tidak menyukai Sheila, perempuan itu terlalu mengganggunya dan bersikap berlebihan kepadanya, membuat Adri selalu tidak nyaman berada didekatnya.
Sheila mengejar Adri dan berjalan disamping lelaki itu sambil terus memandangi Adri dengan senyumannya.
"Adri, ada film bagus, aku punya 2 tiket kau mau tidak pergi menonton denganku??? Banyak yang bilang filmnya sangat bagus, aku ingin sekali menontonnya, kita pergi bersama ya???"
"Tidak bisa, aku ada acara lain, kau pergi saja dengan temanmu"
Sheila terus mengejar Adri yang melangkah dengan cepat lalu melingkarkan lengannya pada lelaki itu. Adri langsung melepaskannya dan semakin mempercepat langkahnya.
Inilah yang sangat tidak disukai Adri, Sheila selalu bersikap sesuka hatinya dan tidak memiliki attitude yang baik. Setiap hari perempuan itu selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mendekatinya padahal dia sudah mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan sikap berlebihan Sheila. Bahkan Sheila juga pernah mengatakan secara gamblang bahwa dia sangat menyukai Adri, tetapi tentu saja Adri menolaknya mentah-mentah, baginya Chika adalah segalanya dan perempuan yang paling istimewa dihatinya. Akan tetapi penolakannya itu tidak membuat Sheila gentar dan masih saja terus mengganggunya, semakin hari Adri semakin merasa muak melihat tingkah Sheila padanya, itu sangat menyebalkan sekali.
Sheila setengah berlari mengejar Adri dan sekali lagi dia bergelayut dilengan Adri. "Ayolah Dri, kita pergi bersama, apa kau tidak kasihan melihatku pergi menonton sendirian, please"
"Aku bilang tidak mau, lepaskan aku!!! Apa kau tidak malu ini kantor dan lihatlah ada banyak orang disini kau hanya bisa menggangguku saja" Gumam Adri kesal lalu bergegas meninggalkan Sheila.
"Sikapmu masih sama saja, tapi bukan Sheila jika tidak bisa menaklukkan laki-laki, lihat saja Adri, suatu saat aku akan membuatmu bertekuk lutut didepanku" Gumam Sheila, lalu berjalan lagi masuk ke kantor.
****
Cahya duduk bersama ibunya dan Chika ditaman belakang rumah sedang bersantai dan bermain dengan Kyros dan Kyra. Chika terus bergantian menggendong kedua bayi itu, seolah tidak ingin dipisahkan dari mereka.
Mama Aditya datang membawa sebuah kotak yang akan diberikan kepada Cahya. Kotak itu berisi gaun yang harus digunakan Cahya untuk pesta nanti malam. Cahya pasti akan terlihat sangat cantik jika memakainya, dan dia juga yakin Aditya akan sangat menyukainya.
"Apa ini Ma???"
"Buka saja, kau pasti akan sangat menyukainya"
Cahya membuka kotak itu dengan perasaan senang dan penasaran dengan isinya. Didalam kotak itu ada sebuah gaun hitam cantik, sederhana tetapi terlihat begitu elegan.
"Ini cantik sekali Ma???" Cahya tidak berbohong gaun itu memang sangat cantik, mertuanya itu memang sangat tahu apa yang menjadi kesukaanya.
"Sudah mama katakan kau pasti akan menyukainya"
Cahya memeluk Mama mertuanya seraya mengucapkan terima kasih atas pemberiannya yang cantik itu. "Bagaimana persiapannya Ca???"
"Tadi aku menghubungi Ariel, dia nanti akan kesana untuk mengecek langsung dan akan mengirim fotonya"
"Baguslah, tapi apa kau yakin akan membawa Kyra dan Kyros, sebaiknya mereka ditinggal dirumah saja biar Mama dan ibumu yang menjaga mereka disini"
"Tidak Ma, aku tidak ingin merepotkan kalian semua, lagipula Ariel juga sudah menyiapkan tempat khusus untuk mereka kok, aku akan membawanya nanti"
"Oke baiklah jika begitu"
*****
Sebelum pergi ke hotelnya, Ariel memilih mampir ke toko peralatan bayi, dia akan membeli beberapa pakaian bayi dan yang lainnya untuk Gienka. Karena besok weekend dia berniat untuk mengunjungi putrinya itu. Ariel sudah meyakinkan dirinya bahwa dia harus bisa bersikap baik dan biasa saja. Sekarang yang paling utama baginya adalah kebahagiaan Gienka, toh Elea juga sudah tidak bisa dimilikinya lagi, setidaknya putrinya itu tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Ariel juga sudah berjanji bahwa dia akan menyisahkan waktunya untuk menemui Gienka ya walaupun Elea pasti tidak akan mengijinkannya untuk membawa Gienka tetapi dia akan mencoba untuk mengerti akan hal itu, karena 70% Gienka adalah hak Elea. Perempuan itu yang sudah mengandungnya dan sudah melahirkannya, sedangkan dia hanya seorang Ayah yang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi semua yang dibutuhkan putrinya.
Setelah membeli aneka barang untuk Gienka, Ariel pun langsung menuju ke hotelnya dimana Cahya sudah meminta bantuannya untuk menyiapkan segalanya. Cahya memang telah banyak melakukan kebohongan tentang Elea kepadanya tetapi Ariel menyadari bahwa Cahya melakukan itu karena dia adalah sahabat baik Elea, Ariel sangat memahami itu walaupun dihatinya masih sedikit marah kepada Cahya. Dia melakukan ini juga untuk Aditya sahabatnya, sama halnya kepada Cahya, Ariel juga tidak memungkiri jika dia marah dan kesal karena Aditya juga membohonginya tetapi sekali lagi dia harus meredam ego nya dan mencoba ikhlas menerima semuanya karena memang semua terjadi juga karena kesalahan yang dia lakukan.
Sampailah Ariel disana dan ternyata semua persiapan sudah selesai dilakukan. Cahya memang tidak salah memilih tema outdoor dimana disana juga ada kolam renang yang pasti akan membuat suasan pesta menjadi semakin bagus. Ariel juga sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk dua sahabatnya itu, mengingat keduanya dulu juga pernah memberikan hadiah yang begitu spesial kepada dirinya dan Elea, berharap Aditya menyukai hadiah darinya. Ariel langsung mengirimkan foto tempat dimana pesta untuk Aditya akan dirayakan. Setelah itu Ariel harus segera kembali ke apartmentnya dan bersiap untuk nanti malam.
*****
Malam tiba, Cahya sudah terlihat sangat cantik dengan make up nya dan juga sudah memakai gaun pemberian mertuanya. Cahya juga sudah menyiapkan pakaian untuk dikenakan Aditya, karena gaunnya hitam bukan hal sulit baginya untuk memadukan pakaiannya dengan pakaian suaminya. Aditya baru saja keluar dari kamar mandi dan dibuat takjub dengan penampilan istrinya yang begitu cantik dan anggun.
"Kau sangat cantik, gaunmu juga sangat indah" Puji Aditya.
"Mama yang memberikannya padaku, aku juga sudah menyiapkan pakaian untukmu"
"Chika dan ibu sudah pulang ya??? Kenapa tidak menginap lagi saja besok kan hari libur"
"Entahlah sepertinya Chika merindukan suasana disana"
"Apa tidak apa-apa kita meninggalkan anak-anak pada Mama??"
"Ada mbak Tina, ada Adri juga Papa kan disini, mereka akan membantu Mama, ayo cepat bersiap" Cahya berbohong lagi, sebenarnya mereka semua juga akan datang ke pesta itu, tetapi demi memberi kejutan pada Aditya dia harus melakukannya yaitu membohongi suaminya itu lagi.
Aditya masuk ke ruang ganti dan langsung memakai pakaian yang sudah disiapkan istrinya itu. Setelahnya dia langsung keluar dan Aditya melihat sudah ada Adri dan Mamanya dikamarnya mereka sedang menggendong Kyra dan Kyros.
"Wah kalian sangat cocok, Kak Cahya sangat cantik dan kau cukup tampan" Gumam Adri menggoda kakaknya.
"Kuhajar kau"
"Sudah sudah kalian jangan bertengkar, dan kau Adri ambil foto kedua kakakmu ini, lihatlah mereka sangat serasi" Perintah Mamanya. Adri langsung membaringkan Kyra ditempat tidur dan mengambil ponselnya.
"Foto???" Ucap Aditya heran.
"Kakak ayo cepatlah berdiri disana bersama kak Cahya, aku akan memotret kalian"
Cahya menarik Aditya dan menyuruh suaminya itu untuk lebih dekat dengannya. Adripun mulai menghitung 1 sampai 3 lalu memotret keduanya.
"Sekarang coba kak Adit memandang kearah kak Cahya dengan pandangan penuh cinta tentunya, dan kak Cahya melihat kearah kamera" Perintah Adri.
Cahya dan Aditya pun menurutinya dan begitu juga Cahya, pose itu membuat keduanya tampak begitu pas dan romantis.
Setelah mengambil beberapa foto, Cahya mengajak Aditya segera berangkat. Tetapi sampai di mobil Cahya menutup mata Aditya dengan sebuah kain. Aditya menolaknya karena dia harus mengemudi tetapi Cahya mengatakan jika mereka akan diantar oleh supir. Saat mobil Cahya dan Aditya sudah pergi meninggalkan rumah, Adri langsung mengajak Mama dan Papanya untuk segera ke mobil, mereka harus sampai ke hotel lebih dulu, karena Cahya sudah merencanakan untuk mengajak Aditya berkeliling lebih dulu memberi waktu padanya agar sampai ditempat pesta lebih dulu.
Disisi lain Ariel sudah sampai diparkiran hotelnya, dia turun dari mobilnya dan langsung berjalan menuju lobi untuk sampai di tempat pestanya. Saat dia tengah asyik berjalan tiba-tiba didepannya ada seorang perempuan yang terpeleset hingga membuat perempuan itu jatuh ke belakang, beruntungnya Ariel segera menangkapnya.