
Aditya datang membawa popok untuk Kyra dan berpura-pura terkejut melihat Ariel. Sebenarnya Aditya mendengar percakapan Ariel dan Cahya tentang Elea. Aditya harus segera menghentikan ini, jika tidak pasti Ariel akan terus mendesak Cahya, mengingat istrinya itu tidak pandai berbohong.
"Iel, kau ada disini?"
Ariel langsung mengarahkan pandangan ke Aditya yang baru datang. Cahya menghela napasnya merasa lega Aditya sudah datang.
"Kau terlihat sudah sangat sehat syukurlah! Tumben kau datang tidak menghubungiku? Ada apa???" Tanya Aditya.
"Aku datang untuk bertemu dengan Cahya menanyakan soal Elea"
"Soal Elea?? Bukankah kau sudah bercerai dengannya? Lalu kenapa kau menanyakannya?"
"Emmmm sebenarnya aku ingin menemui Elea untuk meminta maaf tetapi nomor kontaknya tidak bisa dihubungi dan saat aku datang ke apartmentnya ternyata disana kosong jadi aku datang kesini untuk menanyakannya pada Cahya"
"Apartmentnya kosong? Sayang memangnya Elea kemana?" Aditya bertanya pada Cahya, dan memeberikan kode ke istrinya itu agar bisa bersikap dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Cahya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu jika apartment itu kosong, Elea sudah lama tidak menghubungiku, dia banyak berubah setelah perpisahan kalian, bahkan aku sendiri tidak tahu jika kalian bercerai itupun aku mengetahuinya dari Adit karena kau sendiri yang bercerita kepadanya, masalah Elea menjengukku di rumah sakit ya dia datang saja kami mengobrol seperlunya, baru sebentar kami mengobrol dia pergi ke kamar mandi saat keluar dia melihatmu lalu berpamitan dan pergi setelah itu dia tidak pernah lagi ada kabarnya bahkan dia juga tidak datang menjenguk Kyra dan Kyros sampai sekarang"
Cahya berharap Ariel tidak curiga dengan ucapannya, mengingat dia agak sedikit terbata saat berbicara. Ariel hanya terdiam sejenak mendengar ucapan Cahya.
"Ca, apa kau yakin? Kau tidak membohongiku kan? Aku sangat ingin bertemu Elea saat ini dan meminta maaf padanya"
"Aku sudah kehilangan sahabatku, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian dan kenapa kalian bercerai sampai saat ini aku tidak tahu apa alasannya, Elea berubah sejak saat itu, dan kau kenapa baru sekarang berniat meminta maaf padanya?"
Ariel menundukkan kepala nya dengan sedih, kemudian suaranya melembut. "Aku memang telah melakukan kesalahan, dan aku ingin memperbaikinya terlebih lagi ternyata Elea saat ini sedang hamil, maaf aku harus pergi sekarang mencari Elea lagi jika kalian memang tidak mengetahui keberadaannya, tetapi aku mohon pada kalian jika Elea datang atau menghubungi kalian segera beritahu aku"
Ariel langsung pergi meninggalkan rumah Aditya. Sementara itu Cahya dan Aditya terkejut karena ternyata Ariel sudah mengetahui tentang kehamilan Elea, tetapi keduanya bingung kenapa Ariel bisa mengetahui tentang hal itu, siapa yang memberitahunya. Cahya benar-benar merasa sangat gusar sekarang, takut Ariel juga akan mengetahui keberadaan Elea.
Aditya mencoba menenangkan Cahya agar tidak terlalu memikirkan hal itu, karena dia bisa menjamin bahwa Ariel tidak akan bisa menemukan Elea. Cahya berniat untuk menghubungi Elea dan memberitahu tentang hal ini, tetapi Aditya melarangnya karena takut Elea akan menjadi panik. Lebih baik untuk sekarang Elea tidak perlu mengetahui hal ini dan membiarkan Ariel menggila karena mencari Elea.
*****
Keesokan harinya, Ariel sudah berada didepan kantor Direct publisher tempat dimana Elea bekerja. Dia menunggu didalam mobil sambil terus mengawasi kantor itu berharap ada Elea. Ariel menunggu hingga jam 10 tetapi dia sama sekali tidak melihat kedatangan Elea. Ariel benar-benar mengawasi satu persatu karyawan yang masuk dan bahkan dia mengabaikan suara ponselnya yang berbunyi karena takut dia terlewat, tetapi Elea memang tidak datang ke kantor itu.
Ariel turun dari mobilnya dia merasa sangat gusar dan takut pandangannya tadi memang terlewat. Dia akan masuk dan menanyakan Elea disana. Ariel menemui recepsionist kantor itu dan mulai bertanya.
"Permisi mbak, apa bisa saya bertemu dengan Ele?"
"Elea siapa ya pak? Dan ada keperluan apa?"
"Eleanor fransisca, bilang saja ada keperluan mendesak keluarga"
Recepsionist itu tampak diam mengingat sesuatu. "Oh Elea, bapak ini suaminya kan ya? Pantas saja saya seperti tidak asing dengan wajah bapak seperti pernah melihat ternyata saya melihat bapak saat pernikahan Elea dulu, lah memangnya bapak tidak tahu? Elea kan sudah resign dari beberapa bulan yang lalu" Ucap Recepsionist itu.
"Resign??? Kapan??"
"Kapan ya seingat saya sekitar 4bulan yang lalu, waktu itu dia datang dengan seorang perempuan mengantar surat resign nya kesini"
"Perempuan..??? Siapa..??? Maksud anda Cahya? Cahya yang juga pernah kerja disini?"
Recepsionist itu menggelengkan kepalanya. "Bukan Cahya, kalau Cahya saya sangat tahu, tetapi perempuan itu seumuran yang jelas bukan Cahya"
Ariel lalu menyalakan mobilnya, saat ini dia akan mendatangi rumah orangtua Elea dan akan meminta maaf kepada mereka serta menanyakan tentang Elea.
****
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 2jam, Ariel sampai juga dirumah orangtua Elea. Rumah itu terlihat sepi dan pagarnya tertutup. Ariel pun memencet bel yang ada dipagar berkali-kali tetapi tidak ada jawaban atau orang yang keluar dari sana.
"Mama...... Papa......." Teriak Ariel.
Sekali lagi teriakannya itu seperti tidak ada gunanya, karena tidak ada jawaban. Berkali-kali dia berteriak tetapi masih nihil hasilnya, hingga akhirnya ada seorang tetangga yang menghampiri Ariel.
"Maaf mas, cari siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, tapi sepertinya tidak ada orang ya?" Ucap Ariel.
"Oh pemilik rumah ini? Ini rumah kan sudah lama kosong mas, udah pada pindah"
"Pindah??? Kemana??"
"Wah kurang tau saya, yang jelas sudah berbulan-bulan ditinggalkan, kalau begitu saya permisi ya mas"
Orang itupun lalu pergi meninggalkan Ariel. Ariel berteriak dengan kesal sambil memukulkan tangannya ke mobilnya dengan keras. Usaha nya gagal lagi, dan otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan kemana perginya Elea dan keluarganya. Ariel pun akhirnya kembali pulang dengan perasaan hancur dan penuh dengan kekecewaan.
****
Ariel sudah seperti orang gila mencari Elea kesana kemari, sudah satu minggu dia berkeliling membawa foto Elea dan bertanya kepada orang-orang yang dia temui dijalan. Ariel sudah mencari kemana-mana tanpa tujuan dan dia bingung. Rasanya dia hampir gila karena tidak tahu Elea ada dimana, sedang apa, dan bagaimana kondisinya.
Elea sedang hamil, demi Tuhan! Sedang mengandung anaknya, dan sekarang dia ada di luar sana entah dimana. Dengan marah dibantingkannya tangannya di setir mobilnya dengan frustasi.
Ariel mencari dikota ini karena dia masih ingat pernah bertemu dengan orangtua Elea di restorannya. Dan Ariel merasa sangat yakin jika Elea pasti ada disini tetapi entah dimana dia sekarang.
Keesokan harinya, Aditya dikejutkan dengan kedatangan Ayah Ariel dikantornya, dengan ramah Aditya menyambutnya dan mempersilahkannya untuk duduk. Aditya lalu menyuruh Maysa untuk membawakan minuman untuk Ayah Ariel.
"Om Andi, apa kabar om? Tumben sekali main ke kantor, apa om ingin bertemu dengan Papa??" Tanya Aditya.
"Tidak Dit, om kesini hanya ingin memberitahumu tentang Ariel"
Aditya menggerutkan keningnya, bertanya-tanya ada apa dengan Ariel. "Kenapa dengannya? Apa ada masalah?"
"Sudah seminggu Ariel pergi pagi dan pulang malam hari, dia terlihat sangat kacau sekali, tidak datang ke kantor dan penampilannya sangat buruk, dia juga tidak pernah mau sarapan dan selalu pulang dalam keadaan marah dan kesal, dia bilang pada mbok Asih jika dia sedang mencari Elea tetapi tidak berhasil menemukannya"
Aditya melihat kesedihan di wajah Ayah Ariel, tetapi tidak mungkin dia mengatakan tentang Elea padanya.
"Ariel juga datang ke rumah kami om, menanyakan pada istriku tentang keberadaan Elea tetapi sayangnya Cahya juga tidak mengetahuinya" Ucap Aditya sedih.
Aditya memohon ampun kepada Tuhan karena terpaksa harus membohongi Ayah Ariel.
"Adit, bisakah kau membantu Ariel??"