
Elea memberikan Kyros pada Aditya lalu mengucap permisi untuk menemui kedua orangtua nya. Elea masuk ke kamar tamu dimana orangtua nya ada disana, dia pun pangsung menghampiri Mamanya yang tampak sedang memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
"El, Danist sudah datang kan, apa kita akan kembali sekarang juga?" Tanya Mamanya.
"Mama, katakan yang sejujurnyaa padaku, apa semalam kalian bertemu dengan Ariel?"
Lama Mama Elea menatap putrinya, dia tampak terkejut. "Tidak Nak...."
"Mama jujur saja, aku melihat sejak semalam setelah kalian kembali wajah kalian terutama Papa terlihat berbeda, dia seperti sedang menahan marah, dan kenapa kalian tida memberitahuku jika kalian akan datang ke restoran itu?"
Mamanya hanya menggelengkan kepalanya dan matanya mulai berkaca-kaca. Elea pun dilanda kegelisahan takut telah terjadi sesuatu anatar ornagtua nya dengan Ariel.
"Ma, apa Papa telah melakukan sesuatu terhadap Ariel? Melihat kemarahannya yang tertahan selama ini, apa Papa telah meluapkannya pada Ariel? Katakan yang jujur Ma?"
Sekali lagi Mamanya hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, Papamu bisa mengendalikannya, kau tidak perlu khawatir, kami langsung pergi setelah melihatnya"
Elea melihat Papa nya baru saja keluar dari kamar mandi, dia pun menghampirinya dan memegang kedua jemari Papa nya seraya menatapnya dengan tatapan sedih.
"Papa, kita sudah memulai kehidupan yang baru, seberat apapun beban yang aku alami, saat ini aku hanya ingin berjalan maju melupakan semua masalalu yang menyakitiku, aku bertahan hanya untuk kalian dan bayi ini, aku tidak menyalahkan jika Papa dan Mama memiliki kemarahan atas apa yang telah dilakukan Ariel padaku tetapi kalian harus menahannya demi aku dan calon cucu kalian, biarkan saja Ariel berbuat sesuka hatinya, kita sudah tidak ada hubungan apapun dengannya, semuanya sudah berakhir" Elea lalu memeluk Papanya berharap pelukannya dapat meredakan hati Papanya yang sedang tidak dalam kondisi yang baik.
*****
Elea mengetuk pintu kamar Cahya, dan menemukan Cahya sedang duduk disofa menonton televisi. Cahya mempersilahkan Elea untuk masuk.
"Aku tadi turun dan melihat Adit sedang mengobrol dengan Danist, lalu bertanya pada ibu dan beliau mengatakan kau sudah naik ke kamarmu jadi aku kesini, kemanakah 2 malaikat kecil itu?"
"Mereka ada dikamarnya sednag tertidur dengan pulasnya jadi aku bisa beristirahat sejenak! Bagaimana El dengan Mama dan Papamu? Apa mereka benar-benar bertemu dengan Ariel semalam?"
"Ya mereka bertemu dengannya, tetapi Papa bisa mengendalikan semuanya, dia memang kesal tetapi Mama langsung mengajak Papa untuk pergi dari sana, tetapi aku sudah menenangkan kekesalannya, everything its okay" Jawab Elea sambil tersenyum.
Cahya menghela napasnya panjang tanda rasa syukurnya lalu memeluk Elea. "Semoga Tuhan melapangkan dan meluaskan kesabaran kalian, percayalah Tuhan itu maha baik, Ariel pasti akan menemukan penyesalannya suatu saat nanti"
Beberapa jam kemudian Elea dan keluarganya serta Danist berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah sore. Elea tidak ada habisnya menciumi Kyros dan Kyra serasa tidak ingin berpisah dengan mereka. Cahya dan Aditya berjanji akan datang untuk mengunjungi perkebunan nantinya jika Kyros dan Kyra dirasa sudah cukup untuk diajak pergi ke tempat yang cukup jauh.
*****
Malam harinya, Ariel memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi mengunjungi apartment lamanya. Dia menyiapkan dirinya untuk datang kesana da mengambil beberapa barang miliknya yang masih ada disana sebelum apartment itu dirombak oleh Viona. Ariel mengambil mobilnya di parkiran dan mulai mengendarainya menuju apartment lamanya. Masih dengan situasi yang sama, Ariel diikuti oleh mobil tetapi dia masih tidak menyadarinya.
Akhirnya Ariel sampai juga di apartment lamanya, dia membuka pintunya dan ingatannya langsung melayang ke beberapa bulan yang lalu. Tempat ini tempat dimana dia menghabiskan banyak waktunya bersama Elea. Ariel menggelengkan kepalanya agar ingatan tentang Elea buyar.
Ariel masuk dan langsung menuju ke ruang kerjanya dan mulai mengambil buku-buku koleksinya lalu menaruhnya diatas meja. Ariel tidak sengaja menyenggol frame foto diatas meja kerjanya dan mengambilnya. Frame itu berisi foto Elea sedang melingkarkan lengannya dan mencium pipi nya saat mereka berada di Swiss menikmati bulan madu mereka.
Ariel melihat sekeliling apartmentnya, disana terpajang frame berisi fotonya dan Elea, beberapa diantaranya adalah foto pernikahan mereka. Ariel berjalan dan mendorong sebuah meja lalu naik diatasnya dan mengambil frame itu satu persatu kemudian menumpuknya. Perlahan Ariel berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya, tampak meragu tetapi kemudian dia masuk.
Ariel membuka lemari pakaiannya, bajunya masih tertata rapi disana, hanya miliknya, tidak ada satupun pakaian milik Elea. Perempuan itu benar-benar telah membawa semua pakaian miliknya. Ariel kemudian membuka lemari tempat dia dan Elea menyimpan Tas dan Sepatu. Disana juga masih tertata dengan rapi sepatu-sepatu miliknya dan ada beberapa sepatu serta tas milik Elea.
"Kenapa dia tidak membawa barang-barang ini?" Gumamnya.
Ariel membaringkan badannya diatas ranjang menekuk kedua sikut lengannya dan menjadikan kedua jemarinya menjadi bantal kepalanya, matanya nyalang menatap langit-langit dan terdiam untuk beberapa saat. Tempat ini benar-benar meninggalkan banyak kenangan tentang Elea. Sekali lagi Ariel mencoba membuyarkan pikirannya tentang Elea, akan sangat bagus jika tempat ini dirubah dengan suasana yang baru oasti lama kelamaan dia akan bisa melupakan kenangannya bersama Elea.
Ariel melepaskan lekukan siku lengannya, tak sengaja lengan kanannya menyapu sesuatu diatas meja disamping ranjangnya hingga jatuh ke lantai. Ariel langsung bangun dan kakinya menginjak sesuatu itu dilantai. Pandangannya pun teralihkan dan menemukan sebuah amplop putih dibawah kakinya lalu mengambilnya. "Amplop? Amplop apa ini??" Gumamnya pelan, dia pun berniat melihat isi amplop itu tetapi belum sempat dia melihat isi amplop itu, ponselnya pun berdering.
"Iya Vi, ada apa??"
"Sayang, bisakah kau menjemputku sekarang, aku ada di Angel boutique"
"Baiklah aku akan menjemputmu sekarang"
Ariel bangkit dari ranjangnya dan memasukkan amplop itu di saku jaketnya dan pergi keluar apartment itu dengan membawa 2 kardus berisi buku nya dan frame-frame foto itu. Sesampainya diparkiran dia pun menaruhnya dibagasi mobilnya dan langsung mengendarainya untuk menjemput Viona.
******
Sesampainya di boutique yang disebutkan Viona, Ariel pun masuk untuk mencari Viona. Viona sengaja memanggil Ariel untuk menjemputnya agar lelaki itu mau membayar seluruh pakaian yang di belinya. Dan benar saja Ariel membayar semua belanjaannya tanpa banyak bicara. Beberapa saat kemudian mereka berdua keluar dengan membawa belanjaan Viona yang begitu banyak.
"Benar dugaanku, dia menjemput bu Viona, ayo bersiap dan ikuti mereka, aku akan menghubungi bos dan memberitahunya"
Ariel mengemudikan mobilnya menuju apartmentnya bersama Viona. Viona merasa kegirangan karena sekali lagi dia berhasil membodohi Ariel. Mobil Ariel masih diikuti dari belakang sampai di kawasan apartmentnya.
Dari kejauhan mereka melihat Ariel dan Viona masuk ke apartment itu sambil menunggu kedatangan dari bosnya.
Ariel dan viona masuk ke apartment dan Viona langsung melingkarkan lengannya dileher Ariel dengan manja. "Thanks dear, kau memang sangat baik aku sangat mencintaimu" Ucap Viona lalu mencium bibir Ariel dengan sangat posesif. Beberapa saat kemudian Ariel melepaskan ciumannya.
"Kita lanjutkan nanti, aku harus mandi lebih dulu, badanku sangat lengket" Ucap Ariel.
"Oke baiklah sayang, aku menunggumu"
Ariel melepaskan jaketnya dan melemparnya ke atas sofa, dia juga melepas Tshirt yang dipakainya dan hendak berjalan menuju ke kamar. Tetapi dia mendengar pintu apartmentnya diketuk.
"Astaga siapa yang datang, mengganggu saja" Gumamnya kesal, lalu dengan terpaksa dia membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.
Belum sempat melihat wajah orang yang mengetuk pintunya, tubuh Ariel langsung terkapar dilantai. Sebuah tonjokkan yang begitu keras didaratkan diwajah Ariel. Saat Ariel hendak bangkit tiba-tiba 3 orang laki-laki berbadan besar menghajarnya habis-habisan. Tendangan yang begitu keras dan pukulan-pukulan itu secara bertubi-tubi mendarat ditubuh dan wajahnya.
Ariel tidak mampu membalas pukulan orang-orang itu, karena tidak ada kesempatan dan dia hanya sendirian. Seolah pukulan-pukulan itu tidak ada habisnya didaratkan ditubuh dan wajahnya. Ariel juga masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan apa kesalahan yang sudah dia lakukan sehingga orang-orang ini menghajarnya.
Sampai akhirnya dia di dudukkan dilantai, kedua tangannya ditarik kebelakang oleh salah seorang dari meraka. "Siapa kalian....??? Dan apa yang sudah ku lakukan sehingga kalian menghajarku?" Teriak Ariel.
Seseorang kemudian datang berdiri didepan Ariel dan langsung mendaratkan tendangannya yang keras tepat di wajah Ariel membuat Ariel langsung berteriak dan terdorong ke belakang lalu terbaring tidak berdaya.
"Berani-beraninya kau bermain serong dengan istriku selama ini, kau pikir aku akan diam selamanya?" Ucap pria itu. "Kalian bertiga...!!! Cepat beri pelajaran bocah brengs*k ini, hajar dia dan jangan memberinya ampun, cepaaat...!!!" Teriaknya.
Ketiga pria berbadan besar itu kembali menghajar Ariel, seolah tidak ada ampun baginya. Kemudian pria itu masuk dan berteriak memanggil nama Viona.