
"Maaf pak Ariel, tetapi bukankah ini terlalu cepat? Maksud saya kita belum saling mengenal baik, saya tidak bisa menjalani hubungan seperti itu"
"Kau tidak memperhatikan ucapanku tadi ya May??? Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi tetapi kau tidak memberiku kesempatan untuk itu, kau selalu mengabaikan pesan dariku, itu sebabnya sekarang aku memintanya, saat ini aku tidak memintamu menjadi kekasihku tetapi berikan aku kesempatan untuk bisa mengenalmu lebih dekat lagi jadi jika kita ada kecocokan nantinya baru kita bisa memulai sebuah hubungan"
"Tapi maaf pak, sebelumnya hubungan percintaan saya sangatlah rumit, saya disakiti begitu dalam dan itu cukup membuat saya trauma, saya ingin kedepannya bisa menjalin hubungan yang bisa membuat saya bahagia dan nyaman, saya tidak ingin lagi dipermainkan, maaf sebelumnya"
Dari ucapan Maysa barusan, Ariel mulai mengerti jalan pembicaraannya. Perempuan itu pasti sudah tahu tentang permasalahan rumah tangganya dulu dan Maysa pasti merasa ketakutan akan hal itu. Masalalunya memang tidaklah baik, Ariel menyadari semua itu, tetapi dia ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
"May, aku tahu kemana arah berpikirmu saat ini, aku memang pernah melakukan kesalahan di masalalu kepada mantan istriku, tetapi aku sudah menyadari semua itu, aku ingin membuat diriku lebih baik lagi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, jadi jika itu yang kau takutkan aku sangat mengerti itu, tetapi kau bisa memegang janjiku May, bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi, beri aku kesempatan aku akan membuktikannya padamu" Ucap Ariel dengan tatapan penuh keyakinan berharap Maysa bisa mempertimbangangkan semuanya.
Sebelum Maysa menjawabnya tiba-tiba pelayan datang mengantarkan makanan utama membuat keduanya terkejut. Ariel kemudian menyuruh Maysa untuk menikmati hidangan yang baru saja disajikan. Sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, Ariel berharap Maysa nanti mau menerimanya.
Dalam diam, Maysa juga berpikir dan mencoba mencari keyakinan di dalam diri Ariel. Lelaki yang ada dihadapannya saat ini jelas berbeda dengan Vincen mantan kekasihnya kemarin yang memiliki kebiasaan buruk meminta uang padanya dan tidak mau bekerja, sementara Ariel adalah pengusaha sukses yang tentu tidak akan melakukan hal seperti apa yang pernah dilakukan oleh Vincen padanya dulu. Tetapi permasalahannya sekarang adalah Ariel pernah berselingkuh dari mantan istrinya, dan perselingkuhan itu dulu dilakukan secara terang-terangan dihadapan mantan istrinya, bahkan Ariel juga meninggalkan Elea begitu saja disaat perempuan itu hamil. Lalu bagaimana bisa dia kini menjalin hubungan dengan lelaki sekejam itu.
Dari ucapan Ariel tadi, Maysa bisa melihat keseriusan lelaki itu. Dan Ariel juga selama ini terkenal dengan kebaikannya, bahkan lelaki itu tidak terlihat angkuh seperti para pimpinan perusahaan lainnya yang pernah dia temui selama ini. Ariel murah senyum dan tidak tampak menakutkan. Dan mengenai masalalunya dulu, mungkin tidak ada salahnya nanti melihat apakah Ariel sudah berubah atau tidak. Ini hanya masa pengenalan, jika nanti Ariel melakukan hal semacam itu mungkin tanpa perlu basa-basi Maysa bisa langsung meninggalkannya. Jadi tidak ada salahnya jika dia memberi Ariel kesempatan.
Sambil mengucap basmallah dalam hati dan menarik napasnya dalam-dalam, Maysa memanggil nama Ariel. "Pak Ariel! Aku akan mencoba memberi anda kesempatan untuk mengenal saya lebih dekat, tetapi jika dikemudian hari saya menemukan ketidak seriusan bapak, saya akan langsung menghentikan semuanya"
Ariel tersenyum dan matanya berbinar penuh kebahagiaan. "Benarkah kau memberiku kesempatan May??? Thanks ya??? Aku janji aku tidak akan mengecewakanmu, mulai sekarang jangan panggil aku Pak, panggil saja Ariel kecuali saat kita bertemu di kantor Aditya, thanks ya May???"
Maysa mengangguk kemudian melanjutkan lagi makannya. Ariel benar-benar bahagia sekali, ini adalah awal yang sangat baik, dia tidak akan pernah mengecewakan Maysa. Dan didalam masa itu dia harus bisa membuat Maysa jatuh cinta kepadanya, dia akan berusaha keras meluluhkan hati perempuan itu.
*****
Aditya membaca pesan di ponselnya lalu terkekeh. "Mereka menyerah juga, dasar ular!!" Gumam Aditya. Dia baru saja mendapat pesan dari bodyguard yang berjaga didepan bahwa mobil orangtua Cyntia sudah meninggalkan villa ini. Sejak siang tadi Aditya memang tidak keluar sama sekali dari villanya, mungkin karena itu akhirnya mereka memilih menyerah dan pergi meninggalkan tempat ini.
"Lalu bagaimana jika mereka besok datang lagi???" Tanya Cahya.
"Biarkan saja, memangnya apalagi yang mereka mau dariku??? Sikapku akan tetap sama"
"Sayang, aku hanya takut jika mereka bisa saja melakukan hal buruk lagi pada keluarga kita, lebih baik kau nanti temui mereka dan katakan semuanya bahwa kau tidak melakukan itu semua pada mereka"
"Lihatlah, mereka sudah mengantuk, bawa ke kamar, aku akan membereskan ini dengan Chika dan akan segera menyusul, kakak kau bantu Adit ya??"
Aditya dan Yongki memundurkan kursi mereka lalu mengangkat Kyra dan Kyros dari kursi makan mereka kemudian membawanya ke kamar.
Beberapa saat kemudian Cahya masuk ke kamar, ternyata Kyra dan Kyros sudah tidur dengan nyeyaknya di tempat tidurnya. Aditya duduk disana sambil tersenyum menatap layar ponselnya. Cahya duduk di depan Aditya dan menatap curiga suaminya itu.
"Kenapa tersenyum, apa kau mendapat pesan dari kekasihmu???" Tanya Cahya.
"Kau ini, aku tersenyum karena si brengs*k itu telah berhasil meyakinkan Maysa, dasar bajiingan yang beruntung!!"
"Ariel??? Hahaha baguslah kalau begitu, semoga mereka berdua berhasil menjalin hubungan"
"Bagaimana kalau kita juga sekarang menjalin hubungan, berhubungan intiim? Ayo!!" Ucap Aditya sambil mengangkat-angkat alisnya untuk menghoda Cahya. Bukan mendapat respon, Cahya justru melemparkan selimut Kyra ke wajah Aditya dan meninggalkannya ke kamar mandi.
Sementara itu, Ariel dan Maysa sudah sampai di apartemen. Ini kesempatan Ariel untuk mengetahui dimanakah kamar Maysa sehingga nanti dia bisa dengan mudah mengunjunginya mengingat dia juga tinggal di apartemen ini.
Lift terbuka di lantai 6 dan Maysa keluar diikuti Ariel. "Kenapa ikut keluar?? Apa anda juga tinggal di lantai ini???" Tanya Maysa.
"Ayolah May, bersikap biasa saja jangan terlalu formal, jangan pakai anda, pakai saja kau atau langsung memanggil namaku oke??? Aku tinggal dilantai 9 May, dan aku hanya ingin tahu dimana unitmu itu sebabnya aku mengikutimu, jika tidak boleh aku akan kembali"
"Lantai 9??? Itu unit termewah di apartemen ini, aku sudah menduganya anda, eh maksudnya aku sudah menduga bahwa kau tinggal disana" Ujar Maysa.
"Bukan seperti itu!"
Maysa tertawa lalu menghentikan langkahnya didepan pintu apartemennya. "Ini apartemenku, apa kau mau mampir???"
Ariel menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum dan mengatakan akan mampir kapan-kapan saja karena ini sudah malam lalu menyuruh Maysa untuk masuk agar bisa segera beristirahat. Ariel juga mengingatkan agar Maysa membalas pesannya nanti. Keduanya tertawa, lalu Maysa masuk kedalam apartemennya. Maysa duduk di sofa lalu meletakkan tasnya di meja samping dan tidak sengaja dia menjatuhkan frame foto yang berisi fotonya dan Mamanya, beruntungnya frame itu tidak pecah karena jatuh tepat diatas karpet bulu yang halus. Maysa tidak sabar bulan depan Mamanya akan datang untuk mengunjunginya. Butuh usaha keras untuk membujuk Mamanya agar mau datang, karena entah kenapa Mamanya sejak dulu selalu menolak untuk datang, padahal dulu Mamanya itu juga pernah berkarir disini. Maysa merasa bahwa Mamanya itu seolah mengalami trauma hingga tidak mau kembali lagi, tetapi sayangnya dia tidak tahu trauma macam apa yang pernah dialami oleh Mamanya itu karena dia tidak pernah berani menanyakannya.