
Setelah berbicara dengan Maysa, Aditya menutup teleponnya. Kali ini kesabarannya sudah habis dan kali ini tidak ada ampunan untuk orangtua Cyntia. Aditya tinggal menunggu pengumpulan data oleh Maysa setelah itu dia akan mulai menghubungi rekanan bisnisnya yang menjalin kerja sama dengan perusahaan Papa Cyntia, lalu semua akan berakhir. Inilah cara untuk membuat orang angkuh seperti mereka mau menutup mulutnya berhenti bersikap semena-mena.
Cahya meletakkan Kyros di ranjangnya, dan turun dari sana lalu menghampiri Aditya. Cahya mengambil pakaian di dalam tas dan memberikannya kepada Aditya serta mengisyaratkan kepada suaminya itu agar ke kamar mandi. Cahya sendiri bingung bagaimana cara menenangkan kemarahan Aditya saat ini, suaranya masih belum kembali.
"Ini makan siang untuk kalian, makanlah, oh iya berikan juga pada Soni dan Irwan, aku akan mengganti pakaianku" Ucap Aditya.
Aditya pergi ke kamar mandi, sementara Chika kembali masuk dan mengambil makanan untuk 2 bodyguard yang ada di depan. Cahya mengajak Elea untuk makan siang. Kedatangan orangtua Cyntia justru membuat keadaan yang tadinya sudah mereda kembali memanas lagi. Aditya yang sudah mencoba untuk lebih tenang justru malah dibuat terusik lagi.
"Wanita itu ya ampun mulutnya, ingin sekali aku menggunting mulutnya itu, dia bagaikan nenek sihir di dunia nyata, sama seperti anaknya yang tidak tahu sopan santun" Gumam Elea.
"Padahal tadi suaminya sudah mengajaknya pergi tetapi dia masih saja bersikap seperti itu, menyebalkan sekali" Sahut Chika.
"Kau benar, dia menyombongkan dirinya tetapi melupakan norma yang ada, kenapa mereka bersikap seperti itu padahal Theo kan sudah mengatakan akan menerima semua proses hukum Cyntia?"
"Itu kan Theo, tetapi mereka kan orangtuanya tentu mereka ingin Cyntia segera bebas, tetapi cara mereka saja yang salah, semua kan bisa dibicarakan dengan baik-baik ya walaupun aku tidak menjamin bahwa kak Adit akan menyetujuinya" Timpal Chika sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Cahya hanya diam dan menyimak obrolan adiknya dan Elea lalu membenarkan, bahwa seharusnya orangtua Cyntia bersikap sopan dan datang dengan perasaan menyesal bukan malah membuat keributan bahkan menentang Aditya. Cahya tahu betul bahwa membuat Aditya marah bahkan menentangnya bukanlah hal baik karena suaminya itu pasti akan melakukan hal yang menurutnya benar dan tepat untuk membuat orang itu akhirnya menyerah. Bukan hanya dengan orang lain, bahkan dengan dirinya pun saat dia berani menentang Aditya, suaminya itu tidak akan segan-segan melakukan pembalasan yang akhirnya membuatnya selalu menyerah pada suaminya itu.
Dan masalah ini menjadi semakin membesar saat Ibunya Cyntia justru melakukan penghinaan yang membuat Aditya semakin marah. Harusnya jika mereka sudah mendengar penolakan itu dari Aditya, mereka lebih baik menghormatinya bukan malah mengancam dan bersikap tidak sopan, bahkan dengan beraninya menyiramkan air pada wajah Aditya. Cahya tidak bisa membayangkan lagi apa yang akan terjadi selanjutnya pada perusahaan milik keluarga Cyntia, melihat kemarahan Aditya tadi dan bagaimana Aditya menyuruh Maysa bergegas untuk mengumpulkan data serta menghubungi semua perusahaan yang memiliki kerja sama dengan perusahaan keluarga Cyntia. Tentu Aditya tidak akan pernah main-main dengan keputusannya, ini bukan lagi permasalahan bisnis tetapi lebih kepada sikap buruk mereka serta keangkuhan dan mengentengkan perbuatan Cyntia pada Kyros yang hampir celaka. Cahya sendiri tidak bisa menghalangi itu semua karena hatinya sendiri masih sakit dengan semua perkataan Mama Cyntia, penghinaan terhadap keluarganya juga ketidak pedulian mereka terhadap kondisi Kyros.
Aditya akhirnya keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya tetapi kemarahan masih terlihat di wajahnya walupun dia mencoba tersenyum kepada Cahya. Aditya cukup lama di kamar mandi dan sepertinya dia tidak hanya sekedar berganti pakaian tetapi juga mandi.
Kalian sudah selesai makan???" Tanya Aditya.
"Sudah Dit" Jawab Elea.
"Suka??? Tadi aku hanya sekedar mampir saja dan tidak pernah ke restoran itu, jadi jika tidak enak aku minta maaf"
"Suka! Ini tinggal satu pasti kakak juga belum makan ya?? Makan dulu kak"
"Nanti saja" Jawab Aditya lalu berjalan menuju ranjang Kyros dan terkejut. "Selang oksigennya sudah dilepas? Kapan??"
"Syukurlah sehingga dia tidak merengek lagi karena risih" Aditya mengusap lembut kening Kyros dan menciumnya.
Semakin cepat Kyros sembuh akan semakin cepat pula Aditya bisa membawanya pulang. Melihat Kyros dengan selang dihidungnya juga selang infus ditangannya membuat dada Aditya sesak, anaknya terlalu kecil untuk mendapatkan itu semua, bahkan Kyros juga masih mengeluarkan darah saat buang air besar. Obat pemberian Cyntia telah membuat gangguan disistem pencernaan Kyros juga menyebabkan luka di dalam sana. Semua kesulitan itu harus dilalui Kyros sendiri, semakin membuat Aditya merasa gagal dan hancur sebagai seorang Ayah. Dan yang membuatnya semakin marah adalah ketidakpedulian orangtua Cyntia kepada Kyros, mereka justru bersikap sangat buruk tentu hal itu membuat Aditya semakin dirundung kemarahan yang luar biasa dan semakin tidak ada ampun baginya. Saat Theo datang dengan penuh penyesalan dan meminta maaf atas semuanya itu sudah cukup membuat Aditya sedikit bisa mengurangi kemarahan mnya atas apa yang sudah terjadi tetapi semua menjadi memuncak lagi setelah kedatangan kedua orangtua Cyntia yang bukannya membuat keadaan membaik tetapi justru membuatnya menjadi besar.
******
Maysa turun dari mobilnya membawa berkas untuk Aditya juga buket bunga yang terlihat sangat cantik. Diadatang ke rumah sakit untuk memberikan berkas itu kepada Aditya sekaligus menjenguk Kyros. Maysa tidak menyangka hal semacam itu dilakukan oleh seorang perempuan, dan mendengar bahwa Kyros juga telah mengalami perlakuan yang begitu kejam membuat Maysa sangat sedih. Keluarga atasannya itu sangatlah baik selama ini, lalu kenapa ada orang yang setega itu kepada mereka.
Maysa masuk ke lobi rumah sakit dan bertanya dimanakah ruangan perawatan Kyros kepada petugas yang berjaga disana. Seseorang menepuk pundak Maysa dari belakang saat Maysa sedang menunggu pintu lift terbuka. Maysa menoleh dan menemukan Ariel berdiri dibelakangnya samhil tersenyum kepadanya.
"Pak Ariel?? Selamat sore pak!" Sapa Maysa.
"Sore May?? Ku pikir tadi bukan dirimu tetapi setelah kuperhatikan lebih detail ternyata memang kau, apa kau mau menjenguk seseorang??" Tanya Ariel.
"Ya, saya mau menjenguk Kyros sekaligus mengantar berkas pak Aditya"
Pintu lift terbuka dan Ariel mengajak Maysa masuk. "Berkas apa??? Sepenting itukah Adit memerlukannya?"
"Sepertinya begitu, pak Aditya meminta saya buru-buru untuk menyerahkannya jika sudah siap, apakah bapak juga mau menjenguk Kyros?"
"Ya tentu saja, aku juga ada keperluan dengan Adit tentang kelanjutan proses hukum Cyntia"
"Oh....!!"
Disisi lain, Cahya memberikan botol berisi Asi nya kepada Chika, itu untuk Kyra. Sejak kemarin Kyra tidak mendapatkan Asi Cahya, walaupun kini mereka sudah mengkonsumsi makanan pendamping serta tambahan sufor, tetapi Cahya masih harus memberikan Asi nya kepada mereka. Cahya juga sangat merindukan Kyra, tetapi putrinya itu sekarang sedang bersama Ibunya juga ditemani oleh Mama Elea dan Gienka, jadi Cahya tidak terlalu khawatir, Aditya juga sudah memperketat penjagaan di rumah.
"Chi, kita tunggu Adit dulu sebelum pulang" Gumam Elea. Chika mengangguk, Aditya saat ini sedang keluar sebentar menemui dokter dan pasti akan segera kembali.