
Suara ayam berkokok dan adzan subuh terdengar bersamaan, Cahya membuka matanya perlahan, tampak didepannya sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut dan memekik, reflek tangannya mendorong Aditya yang masih tertidur, seketika bunyi BRRUKKKK.....
Terdengar dan Aditya jatuh dari atas ranjang dan terbangun bingung dengan apa yang terjadi.
“ Ada apa?? Kenapa kau mendorongku Ca?”
“ Kau sendiri kenapa membuka bajumu dan mendekatiku??”
“ Astaga kupikir ada apa! Semalam aku merasa gerah jadi aku membuka bajuku dan juga jendela karena kipas anginnya tidak mau menyala, dan ya lihatlah posisimu, kau bilang aku yang mendekatimu?? Kau atau aku??”
“ Eehhhh kipas anginnya rusak, maaf?”
Aditya menghela nafas panjang, masih merasa terkejut karena Cahya mendorongnya saat tidur hingga terjatuh. Bunyi ketukan pintu menghentikan perdebatan kecil mereka, segera Cahya turun dari tempat tidur dan membuka pintu ternyata ibunya. Dia mendengar Cahya berteriak dan menanyakan kenapa dia berteriak, dengan suara terbata Cahya menjawab bahwa ada cicak yang jatuh di tempat tidur, tetapi ibunya justru seolah menahan tawanya saat melihat Aditya sedang duduk di lantai dalam keadaan telanjang dada.
“ Baiklah kalau ada cicak yang jatuh, nakal sekali cicak itu, sekarang ajak suamimu untuk sholat subuh bersama” Ujar ibunya lalu pergi sambil menahan tawa membuat Cahya bertanya kenapa ibunya seolah ingin menertawakannya.
Ini pertama kalinya Aditya sholat berjamaah dengan Cahya dan ibu mertuanya. Kebahagiaan terpancar diwajah ibu Cahya, dia merasa bangga dengan Aditya, menantunya itu sangat baik dan penyayang, ternyata pernikahan ini adalah pilihan yang sangat tepat, Aditya memenuhi janjinya untuk membahagiakan Cahya dan melindunginya.
“ Semoga mereka selalu dilimpahi kebahagiaan, amin” Gumamnya dalam hati.
*****
Seperti biasa Aditya selalu mengawali harinya dengan berolah raga pagi, karena dia se karang sedang berada dirumah Cahya, dia hanya melakukan Push Up dan Split Jump. Cahya datang membawakannya segelas Air serta mengatakan bahwa tidak ada semangka jadi tidak bisa membuatkan jus semangka kesukaan Aditya.
“ Nanti sepulang kantor antar aku berbelanja sekalian membeli semangka untukmu, lanjutkan olahragamu, aku pergi sebentar membeli sarapan untuk kita dan ibu” Ucap Cahya.
“ Beli sarapan??? Aku ikut, aku tidsk ingin kau berangkat sendirian”
“ Tidak perlu, deket kok”
Tetapi tampaknya Aditya tetap memaksa untuk iku, dia mulai memakai bajunya dan langsung menarik tangan Cahya agar mereka bisa segera pergi. Aditya menyuruh Cahya untuk menunggunya sebentar karena mau mengambil kunci mobil tapi Cahya melarangnya dan mengajak jalan kaki saja karena tempatnya dekat. Mereka jalan menuju tempat makan yang menjual sarapan, sesekali Cahya menyapa beberapa orang tetangganya.
“ Cahya mau kemana?? Itu suamimu ya” Tanya tetangga nya.
“ Ah iya bu ini suami saya, ini kebetulan kita mau cari sarapan” Jawab Cahya.
“ Oh mau cari sarapan, suamimu ganteng pisan Ca, gimana kabar ibumu?”
“ Ibu alhamdulillah semakin membaik bu”
“ Semoga lekas sembuh ya Ca, salam buat ibumu”
“ Iya bu amin terima kasih nanti saya sampaikan kepada ibu, kami permisi dulu”
Mereka melanjutkan berjalan kaki dan akhirnya sampailah di sebuah warung makan sederhana, Cahya memesan 2 porsi nasi dan menyuruh Aditya memilih lauknya sendiri, Aditya jadi teringat saat Cahya mengajaknya makan dirumah makan masakan padang beberapa waktu yang lalu, lagi-lagi Cahya membuatnya melakukan hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Cahya memang sangat berbeda dengan perempuan lainnya, dia selalu apa adanya dan tidak pernah neko-neko.
“ Kita makan disini, lalu ibu bagaimana??” Tanya Aditya.
“ Nanti kita beli bubur Ayam didekat sini, ibu memintanya tadi”
*****
Dalam perjalanan ke kantor Aditya mengingatkan Cahya agar menunggunya dilobi saja ketika pulang agar kejedian kemarin tidak terulang lagi, dan juga ketika ingin makan siang diluar kantor sebaiknya mengajak Elea atau teman yang lain, Cahya pun menyetujui perintah Aditya karena dia masih trauma dengan kejadian itu, melihat Theo seperti orang yang tidak waras menyeretnya dengan kasar. Sesampainya dikantor ternyata cerita tentang apa yang dialaminya kemarin sepertinya sudah menyebar, membuat semua orang berbisik saat melihatnya berjalan, saat dilift ada yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu tetapi Cahya memilih untuk tidak mau menjawab.
“ Are you okay beib??” Tanya Elea.
“ Im okay” Jawab Cahya sambil tersenyum.
“ Syukurlah, mulai sekarang aku bakal nemenin kamu sampai Aditya datang jemput kamu”
Elea menepuk pundak Cahya dan berlalu meninggalkan Cahya, dia tidak ingin menghujani Cahya dengan berbagai pertanyaan karena pasti sahabatnya itu akan merasa tidak nyaman, mungkin nanti dia akan menyuruh Ariel untuk menanyakannya kepada Aditya apa yang sebenarnya terjadi.
Semalam dia menerima pesan dari Aditya untuk tidak membiarkan Cahya pergi keluar kantor sendirian dan dia harus menemaninya, Elea awalnya bingung kenapa tetapi saat dia sampai kantor ternyata semua orang membicarakan insiden yang menimpa Cahya kemarin sore, mungkin itu sebabnya Aditya menyuruhnya untuk menemani Cahya.
Elea memenuhi janjinya dia menemani Cahya saat jam makan siang dan juga saat Cahya menunggu dijemput Aditya. Elea sangat bahagia melihat akhirnya sahabatnya itu menemukan kebahagiaannya, walau awalnya dia meragu saat mendengar pernikahan mereka yang dipaksakan itu tetapi ternyata Aditya adalah laki-laki yang baik, semoga mereka selalu dilimpahi kebahagiaan gumam Elea dalam hati.
Aditya mengarahkan mobilnya menuju supermarket karena mereka sudah berencana untuk berbelanja kebutuhan rumah.
Sesampainya disana Aditya langsung mengambil Troli lalu mendorongnya dan menyuruh Cahya mengambil apapun yang dibutuhkan dan diinginkan. Tujuan pertama mereka adalah membeli buah-buahan dan sayur, ketika menemukan semangka, Aditya mengambilnya langsung 3 sekaligus membuat Cahya tertawa.
“ Kenapa kau suka sekali dengan semangka??” Tanya Cahya.
“ Aku tidak tahu, dari dulu aku sangat menyukainya, mama tidak pernah lewat membelikanku semangka saat berbelanja hahaha”
“ Kau manis sekali seperti anak kecil yang tidak pernah melihat semangka saja, setelah ini selesai kita beli kipas angin untukmu, aku tidak ingin kau membuka jendela lagi saat malam hari, bisa-bisa aku terkena flu karena angin malam”
“ Oke madam, as you wish”
Lalu mereka berjalan dan melanjutkan belanjanya sampai Troli itu terlihat sangat penuh dengan berbagai macam bahan kebutuhan.
Perempuan itu berjalan dengan elegan walau sedang mendorong troli belanjaan, memakai T-shirt bermerk dan rok pendek diatas lutut, rambut berwarna golden brown terurai dengan sangat cantik, lipstiknya berwarna merah terang, tetapi dibalik kacamata hitamnya dia melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang mendorong troli belanjaan yang penuh, dengan segera dia menghampirinya.
“ Aditya.......!” Teriaknya.
Spontan Aditya dan Cahya mencari sumber suara itu, dan seorang perempuan cantik bak seorang model itu menghampiri mereka. Cahya pun menanyakannya pada Aditya siapa perempuan itu tetapi justru yang didapat bukan jawaban melainkan wajah Aditya yang berubah seperti seseorang yang marah dan langsung mengajaknya untuk segera pergi dari tempat itu. Cahya menolak karena rasanya tidak sopan jika ada yang memanggil tetapi justru mengabaikannya.
“ Hai Aditya, lama sekali kita tidak bertemu, kebetulan sekali bertemu disini, padahal rencananya aku akan datang ke rumahmu atau ke kantormu untuk menemuimu” Ucap perempuan cantik itu.
“ Ayo Ca, kita pergi, ini sudah mau maghrib kasian ibu dirumah” Aditya menarik tangan Cahya untuk mengajaknya pergi tetapi Cahya terlihat sangat bingung dengan sikap Aditya, padahal perempuan itu sedang bertanya padanya bukannya dijawab malah mengajaknya pergi.
“ Tunggu Aditya, kenapa kau mau pergi, bagaimana kalau kita minum kopi di cafetaria di sekitar supermarket ini, kita berbincang sebentar” Ucap perempuan itu.
“ Maaf aku buru-buru, orang rumah sedang menunggu” Ujar Aditya.
“ Kau ini seorang CEO tapi dari dulu masih saja tingkahmu seperti anak kecil yang setiap pergi selalu ingin kembali cepat karena ditunggu mamamu hahaha”
Tak menghiraukan ucapan perempuan itu, Aditya melepaskan pegangan tangannya pada Cahya dan langsung pergi mendorong trolinya, Cahya masih bingung dengan sikap Aditya kenapa dia seperti orang yang sedang marah apa karena ucapan perempuan ini yang menghinanya, Cahya pun langsung berlari menyusul Aditya.