
Danist melepaskan pelukannya dan melihat sang Mama menangis. "Kenapa Mama menangis? Tolong maafkan Dan Ma, Dan tidak bermaksud membuat Mama bersedih!"
Mama Danist menyeka airmata nya dan tersenyum kepada putranya itu.
"Mama menangis karena kau selalu menjadi kebanggaan Mama, kau diberkati dengan hati yang luas oleh Tuhan, tetaplah jadi manusia yang rendah hati karena itu yang akan selalu menyelamatkanmu"
"Aku selalu ingat semua pesan Mama, Dan akan selalu berusaha untuk membahagiakan Mama" Danist kembali memeluk sang Mama dan mencium pucuk kepala Mama nya dengan lembut, karena dia hanya memiliki sang Mama didunia ini dan Mama nya sekalu mengajarkannya untuk selalu menjadi orang yang baik, sabar dan tidak mudah menyerah.
Tak disangka Chika mendengar semua obrolan Danist dan Mamanya, tadi dia ingin memanggil Danist karena ponselnya berbunyi tetapi dia justru melihat pemandangan dan mendengar obrolan antara ibu dan anak yang membuatnya juga ikut menitihkan airmata. Perkataan Ariel memang sangat keterlaluan, penghinaan yang dilakukannya pasti sangat melukai hati Danist juga Mama nya. Jika ini terus berlanjut pasti akan sangat menyakiti Danist, Chika memutuskan akan mengatakan semua yang didengarnya kepada Elea agar perempuan itu juga bisa mengerti posisi yang sedang dihadapi Danist saat ini.
Chika kembali menuju dapur untuk menemui Elea yang masih sibuk mencuci piring. "Kak, kakak bikin perjanjian dengan kak Danist ya? Menyuruhnya berpura-pura menjadi kekasih kakak, bahkan kakak juga mengatakan pada kak Ariel kalau kak Danist akan menikahi kakak setelah melahirkan?"
Elea mematikan kran air dan menaruh piring yang dipegangnya ke wastafel lau memandang ke arah Chika. "Bagaimana kau tahu tentang itu Chi?"
Chika lalu menceritakan semua yang baru saja dia dengar dan bagaimana kesedihan yang dirasakan Danist dan juga Mama nya tentang penghinaan yang dilakukan Ariel. Chika meminta maaf kepada Elea dan tidak bermaksud menggurui, Chika memyarankan agar Elea tidak lagi melibatkan Danist dalam permasalahannya dengan Ariel mengingat Danist sudah mengalami banyak hal berat dihidupnya selama ini. Chika juga berpesan agar permasalahan yang terjadi antara Elea dan Ariel jangan sampai mengorbankan perasaan orang lain, karena seperti nya Ariel memang ingin menantang Danist dengan mencari kelemahannya hingga akhirnya yang didapatkan Danist adalah penghinaan dari Ariel.
*****
Danist, Elea dan Chika pun kembali ke kantor mereka setelah makan siang dirumah. Mendengar semua cerita dari Chika, Elea pun merasa sangat bersalah kepada Danist karena sudah melibatkannya dalam permasalahannya dengan Ariel. Chika keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam kantor, ketika Danist sudah melepaskan seatbelt nya dan hendak membuka pintu, Elea menahan pergelangan tangan Dansit melarang laki-laki itu agar tidak keluar dari mobil lebih dulu.
"Dan! Tunggu sebentar, aku ingin berbicara denganmu" Ucap Elea.
Danist kembali menyandarkan punggungnya dan menoleh ke arah Elea sambil tersenyum. "Iya El, kau mau bicara apa?"
"Aku ingin minta maaf kepadamu, karena aku kau harus menerima semua penghinaan Ariel, harusnya aku tidak melibatkanmu dalam masalahku dengan Ariel."
"Tidak Dan, kurasa ini tidak benar, sudah cukup sandiwara kita, aku tidak ingin kau dihina lagi oleh Ariel"
"Oke jika itu maumu kita akan hentikan, ayo kita segera masuk ke kantor" Ucap Danist sambil teraenyum lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
****
Danist duduk termenung dikursi kerja nya, dia sibuk memikirkan sang Mama yang kini justru merasa bersedih karena pemghinaan yang dilakukan Ariel. Dansit merasa sangat menyesal karena telah membohongi Mama nya tentang perjanjiannya dengan Elea. Andai saja dia berterus terang sebelumnya pasti Mama nya hari ini tidak menangis dan bisa memaklumi ucapan Ariel. Disisi lain dirinya juga masih belum berani menyatakan perasaannya kepada Elea dan saat ini dia justru terjebak diantara permasalahan Elea dan Ariel walaupun tadi Elea mengatakan untuk mengakhiri sandiwara mereka tetapi tentu saja itu tidak bisa menghentikan perang yang sudah dimulai oleh Ariel.
Disisi lain kegusaran tengah melanda Ayah Ariel, pertemuannya dengan Sari membuatnya akhir-akhir ini tidak bisa tidur. Kesalahan yang dilakukannya dulu pada wanita itu kembali menghantui hidupnya. Ayah Ariel duduk termenung di ruang kerja nya memikirkan tentang semua dosa yang pernah dia lakukan dulu.
Ingatannya melayang ke kejadian 29 tahun yang lalu, malam dimana dia menjatuhkan talaknya dan memaksa Sari menandatangani surat perceraian mereka. Sari menangis memohon agar dia tidak diceraikan, tetapi tekadnya sangat bulat untuk berpisah dengan istrinya itu. Karena Sari terus menolak menandatangani surat itu, dia pun terpaksa menampar Sari berkali-kali hingga akhirnya perempuan itu menyerah dan menandatangani surat perceraian itu.
Sebulan setelah bercerai, dia pun langsung menikahi Irma yang tak lain adalah putri dari bos nya tempat dimana dia bekerja dulu. Dia berselingkuh dengan Irma karena Irma selalu mencoba menggoda nya dan mengejarnya padahal Irma juga tahu bahwa dia sudah beristri tetapi Irma tidak memperdulikan statusnya saat itu. Hingga akhirnya Irma memaksanya untuk menceraikan Sari istrinya dengan imbalan bahwa dia akan dijadikan Direktur di perusahaan milik orangtua nya. Memang benar setelah menikahi Irma, dia langsung dijadikan Direktur hingga akhirnya dia dan Irma dikaruniai seorang putra yaitu Ariel. Dia melupakan semua kisah cinta nya dengan Sari dan memulai hidup dengan Irma, berbahagia dengannya tanpa ingin mengingat Sari lagi.
Hingga akhirnya dia melakukan kesalahan lagi dengan menyakiti hati istrinya Irma dan berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri saat Irma sedang menderita sakit yang tidak kunjung sembuh. Kegilaannya semakin menjadi dengan membawa sekretarisnya itu pulang ke rumahnya, padahal saat itu Ariel yang baru saja kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya sedang mengantar sang Mama ke rumah sakit untuk check up tetapi mereka berdua terkejut saat masuk kamar menemukan dia dan sekretarisnya itu sedang melakukan hubungan layaknya suami istri.
Dan sejak saat itu kondisi Irma semakin memburuk dan membuat kemarahan Ariel padanya semakin menjadi. Tetapi seolah dibutakan oleh ***** dan cinta buta, dia tidak memperdulikan Irma yang sedang sakit dan juga kemarahan Ariel padanya. Hingga akhirnya Irma meninggal dunia, bukannya menyesali perbuatannya dia justru menikahi sekretarisnya itu tak lama setelah kepergian Irma. Hubungannya dengan Ariel semakin memburuk dan Ariel memutuskan pergi dari rumah meninggalkannya serta menolak semua pemberiannya bahkan menolak untuk mengurus perusahaannya.
Kemurkaan Ariel padanya, penolakan serta amarah putranya itu membuatnya akhirnya menyadari semua kesalahannya dan memutuskan bercerai dengan sekretarisnya itu berharap setelahnya Ariel mau memaafkannya, tapi ternyata sampai detik ini putranya itu tidak mau memaafkannya. Bahkan kini dia merasa seolah sedang ditertawakan oleh Tuhan karena Ariel ternyata mengikuti jejaknya dengan menyakiti hati istrinya, berselingkuh dihadapan istrinya dan pada akhirnya dibuat gila oleh rasa penyesalan yang mendalam karena tidak bisa mendapatkan apa yang sudah dilepaskannya.
Tanpa disadari, Ayah Ariel menangis mengingat semua dosa yang pernah dilakukannya dulu. Menghancurkan hati semua orang yang mencintainya, kini hanya kesedihan dan penyesalan yang bisa dinikmati nya, di benci oleh anak sendiri adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya.
"Aku harus menemui Sari dan meminta maaf kepadanya, mungkin saja dengan itu, aku juga bisa dimaafkan oleh Ariel putraku, kesalahanku pada Sari sangat besar dan aku belum pernah sekalipun meminta maaf padanya, aku harus datang ke kantor perkebunan milik Aditya lalu menemui Danist untuk mendapat jalan bertemu dengan Sari, aku harus mencari waktu untuk datang kesana" Gumam Ayah Ariel penuh tekad.