
Setelah Jelena pergi, Gienka kembali menghampiri Kyra sedangkan Kyra sudah memasang wajah jengkel karena Gienka malah berbalik membalas Jelena. Karena seharusnya Gienka tidak perlu melakukan itu dan Kyra sendiri tidak ingin memperpanjang urusan dengan Jelena. Kyra langsung meminta Gienka untuk pulang, karena tangannya terasa sakit sekali. Dibantu lagi oleh Axel, Gienka membawa Kyra keluar. Gienka meminta Axel untuk menjaga Kyra sebentar karena dia akan mengambil mobil diparkiran dan akan membawanya kesini agar Kyra tidak berjalan terlalu jauh.
Axel melihat Kyra sesekali masih meringis menahan sakitnya. Axel tahu rasa sakit itu pasti berasal dari tangan Kyra, karena lebam akibat injakan Jelena terlihaat semakin memerah.
"Lebih baik kau periksakan semuanya ke dokter untuk memastikannya, luka ditanganmu cukup parah, kakimu juga pasti perlu pemeriksaan lebih jauh!" Ucap Axel.
"Kakiku sudah tidak terlalu sakit, tetapi tanganku sakit sekali...!"
"Itulah... Kau harus ke dokter, jika tidak kau akan merasa nyeri semalan, untuk kakimu juga perlu di periksa, dan kau bisa merendamnya dengan air hangat dan dingin agar merasa lebih rilex"
Kyra mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Axel karena lelaki itu sudah menolongnya. Tak lama mobil Gienka mendekat, lekas Axel membantu Kyra masuk ke dalam. Tak lupa Axel berpesan pada Gienka agar membawa Kyra ke klinik atau rumah sakit agar Kyra bisa mendalatkan suntikan atau obat anti nyeri untuk tangannya, karena bisa saja nanti Kyra tidak akan bisa tidur akibat kesakitan ditangannya. Gienka pun mengangguk dan akan langsung membawa Kyra ke rumah sakit.
Di dalam mobil Kyra terus merintih kesakitan dan meniupi tangannya. Selain ada lebam ditangannya juga ada lecet akibat ijakan keras dari sepatu Jelena. Gienka hanya bisa menyuruh Kyra untuk bersabar sedikit, dan dia tidak bisa menahan kekesalannya pada Jelena. Perempuan itu sudah keterlaluan dalam memperlakukan Kyra. Entah apa yang ada di otaknya kenapa bisa berpikir seperti itu. Wajah cantiknya sama sekali tidak mencerminkan hatinya.
Sampailah mereka di rumah sakit, Gienka langsung memanggil perawat agar segera membawakan kursi roda untuk Kyra. Setelah Kyra di bawah masuk ke ruang IGD, Gienka langsung meminta penanganan yang baik, juga mengecek kaki Kyra yang tadi terkilir. Kyra sedang di periksa dan Gienka menunggu dengan cemas diluar. Membayangkan betapa sakitnya tangan Kyra saat ini membuat Gienka meringis. Sebuah tangan diinjak dengan sepatu heels yang tinggi dan tajam pasti sangatlah menyakitkan. Ini tidak bisa di diamkan begitu saja, dia harus segera menghubungi orangtua Kyra dan memberitahu kondisi putrinya saat ini, agar mereka bisa mengambil tindakan untuk Jelena si peremouan gila itu. Gienka yakin Ayah Kyra yaitu Aditya tidak akan tinggal diam melihat kesakitan yang dirasakan oleh putrinya saat ini. Dan Jelena harus mendapatkan hukuman atas perlakuan buruknya pada Kyra.
Gienka meninggalkan tas yang berisi ponselnya di mobil dan dia juga harus mengurus data Kyra, jadi dia juga harus mengambil Ktp Kyra. Gienka pun bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil semua itu.
Sampai di parkiran, Gienka langsung membuka mobilnya dan mengambil ponselnya, dan meraih tas Kyra untuk mengambil dompetnya. Tetapi saat mengambilnya, ponsel Kyra justru berbunyi, Gienka mengernyit karena tidak ada nama disana melainkan dari nomor yang sepertinya adalah panggilan dari luar negeri. Gienka mengangkatnya.
"Surprise.....!!!!!" Teriak seorang laki-laki diujung telepon itu. "Hai Ra, gimana kabarmu???" Tanya laki-laki itu lagi.
Gienka menggerutkan dahinya, dan dia sepertinya sangat mengenal suara laki-laki itu. Senyum Gienka mengembang dan langsung menebak siapa yang ada di ujung telepon itu. "Ky....! Kau Kyros ya???" Tanya Gienka.
"Ya... Tetapi ini sepertinya bukan suara adikku? Pasti ini Gienka??? Hai Gie, apa kabar???"
"Thanks Gie...! Tidak aku tidak mengganti nomorku, aku memakai telepon kantor karena aku masih dalam tahap recovery dan belum diijinkan untuk pulang, dan mereka memberiku ijin untuk menghubungi keluarga jadi tadi aku sudah menghubungi Amam dan Apap, lalu mereka bilang kalau Kyra sedang pergi bersamamu, dimana Kyra??"
Gienka terdiam, haruskah dia mengatakan semuanya kepada Kyros tentang apa yang terjadi pada Kyra tadi, ataukah dia harus berbohong. Tetapi Gienka tidak mau jika Kyros justru khawatir. "Ah Kyra sedang pergi ke toilet, aku akan memberitahunya nanti jika dia sudah keluar!" Ucap Gienka pada Kyros. Gienka kemudian duduk di kursi tunggu tetapi tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Keluarga pasien bernama Kyra???" Teriak salah seorang perawat membuat Gienka refleks menjawab jika dia adalah keluarganya. Perawat itu kemudian meminta kartu identitas dari Kyra, Gienka pun memberikan Ktp Kyra. Tampaknya Gienka lupa jika Kyros masih berada di ujung telepon.
Gienka memejamkan matanya, kesal dengan dirinya sendiri, dan menyadari sepertinya Kyros mendengar ucapan dari perawat itu. "Shiittt....! Aku lupa Ky masih terhubung" Gumamnya pelan.
"Gie.....!!! Hallo Gie.... Gienka....!" Kyros mencoba memanggil Gienka, kepanikannya mulai dirasakannya ketika mendengar Kyra dipanggil seseorang dengan sebutan Pasien Kyra. Kyros yakin pasti terjadi sesuatu dengan Adiknya saat ini.
Gienka kembali meletakkan ponsel Kyra di telinga, dan sudah di duganya bahwa Kyros mendengar semuanya. Kyros mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan tentang kondisi Kyra dan apa yang sebenarnya terjadi. Gienka menarik napasnya dalam-dalam dan menghelanya lalu mulai menceritakan apa yang tadi terjadi saat di pesta, dan memberitahu siapa yang melakukannya. Gienka menyebut nama Jelena, lalu Kuros mulai bertanya siapakah Jelena itu dan memiliki permasalahan apa dengan Kyra sehingga berani melakukan itu.
Gienka pun tidak ingin menyembunyikan hal ini pada Kyros, ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjelaskan bagaimana sifat dan sikap Zayan sahabatnya kepada Kyra. Kerana yang Gienka tahu, dulu Kyros sudah menitipkan Kyra pada Zayan agar bisa menjaga Kyra dengan baik dan tidakk menyakitinya tetapi kenyataannya adalah laki-laki itu sudah melukai hati Kyra begitu dalamnya. Gienka pun menceritakan semuanya pada Kyros tentang apa yang terjadi pada Kyra dan Zayan juga sikap Jelena yang menghina Kyra karena dia sudah berhasil mendapatkan Zayan.
Mendengar itu tentu saja wajah Kyros berubah menjadi penuh kemarahan. Zayan sudah kurang ajar kepada Adiknya dan sudah melakukan hal yang begitu buruk. Kyros sangat ingat betul bagaimana dulu Zayan mengemis kepadanya agar memberinya ijin untuk mendekati Kyra, tetapi sekarang Zayan justru menyakiti adik kesayangannya bahkan kekasih Zayan sudah berani sekali melukai Kyra. Kyros tidak akan pernah memaafkan hal itu.
"Ky, lalu menurutmu apa yang harus ku lakukan sekarang?? Apa aku perlu menghubungi orangtuamu afmgar kesini? Aau bagaimana? Aku bingung menjelaskan pada mereka...!" Tanya Gienka.
"Jangan hubungi mereka dulu Gie, aku takut mereka panik terutama Amam, setelah nanti Kyra sudah selesai diperiksa kau tanyakan pada dokter tentang keadaannya, jika dia harus perawatan disana kau baru hubungi Amam dan Apap, tetapi jika Kyra boleh dibawa pulang, lebih baik kau beritahu mereka saat dirumah saja, aku yakin Apap tidak akan diam melihat hal ini terjadi pada putrinya, oke aku harus menutup teleponnya dulu Gie, masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan, salam untuk Kyra, aku akan menghubunginya lagi besok, thanks ya Gie...!" Kyros kemudian menutup teleponnya.
Wajah Kyros benar-benar marah dan kecewa sekali dengan apa yang sudah dilakukan oleh Zayan kepada Kyra. "Zayan, kau kurang ajar sekali kepada Adikku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, ketika aku kembali nanti, aku akan menghajarmu juga kekasihmu itu yabg sudah berani mencelakai Kyra dan saat ini dia sedang kesakita Awas saja kalian...!!" Geram Kyros dengan penuh kemarahan.