
Sesampainya dirumah Cahya dan Aditya masuk ke kamarnya. Cahya melepas sepatu dan menaruh tas nya dan langsung berbaring ditempat tidur karena lelah. Tahu istrinya merasa kelelahan, Aditya mengambil minyak essensial untuk memijatnya. Aditya melepaskan jas nya dan melepas kancing lengan kemejanya dan melipatnya sampai siku lalu menuang minyak ke telapak tangannya dan mengoleskan ke kaki Cahya lembut. Aditya memijatnya dengan lembut, membuat Cahya tersenyum bahagia melihatnya.
"Kenapa senyum-senyum??" Tanya Aditya.
"Tidak, aku hanya senang karena kalau kau memijat kakiku, rasa pegalku langsung hilang"
"Kau berlebihan"
Aditya masih melanjutkan memijat kaki Cahya, sampai akhirnya istrinya itu memintanya untuk berhenti karena dirasa sudah cukup. Aditya bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Sambil berbaring, Cahya memikirkan pertemuannya tadi dengan Ariel. Lelaki itu seperti tidak ada beban dalam dirinya dan terlihat bahagia seperti biasanya. Cahya menjadi teringat dengan Elea, sahabatnya itu sekarang sedang berjuang menata kehidupannya yang dihancurkan tetapi orang yang menghancurkannya justru berbahagia disini.
Cahya terlalu sibuk dengan lamunannya hingga dia tidak mendengar jika ada yang mengetuk pntu kamarnya. Aditya yang baru keluar kamar mandi keheranan kenapa istrinya melamun, bergegas dia membuka pintu dan melihat Art nya sedang berdiri didepan pintu membawa minum untuk Cahya.Aditya mengambilnya dan mengucapkan terima kasih lalu menutup pintunya lagi.
Aditya menaruh nampan itu dimeja dan menyadarkan lamunan Cahya. "Ehhh kau mengagetkanku saja, ada apa?"
"Kau yang ada apa, kenapa melamun, ayo bangun dan minum jusnya" Aditya mengambil gelas dan memberikannya pada Cahya. Cahya meminum jus itu dan langsung menghabiskannya.
Aditya kemudian ikut berbaring menyamping bertumpu sikunya dan menghadap Cahya menanyakan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Cahya menceritakan bahwa selama acara tadi dia tidak sepenuhnya menikmatinya karena terfokus pada Ariel yang bersikap seolah tidak terjadi apapun dan dia terlihat sangat bahagia sangat bertolak belakang dengan Elea saat ini. Aditya pun mencoba menenangkan istrinya untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena nanti pasti akan ada saatnya Ariel akan menyadari kesalahannya. "Ya semoga itu segera terjadi, aku geram sekali dengan Ariel" Gumam Cahya kesal.
"Sudahlah jangan berlebihan membenci atau marah dengan seseorang itu tidak baik, lihatlah dirimu, semakin hari perutmu semakin membesar tetapi auramu terlihat semakin cantik, aku semakin hari semakin mencintaimu" Ungkap Aditya sambil mengusap lembut perut Cahya yang sudah membesar itu agar istrinya merasa lebih nyaman.
Cahya memberikan senyumnya pada Aditya dan menggenggam jemari suaminya. Aditya pun mendaratkan sebuah ciuman lembut dibibir Cahya.
"Kau selalu memujiku setiap hari, tetapi beban yang kubawa semakin hari semakin berat, untung saja bayi kita tidak begitu merepotkan, nyanyikan aku sebuah lagu romantis jika kau sangat mencintaiku" Cahya mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
"Nyanyi??? Aku tidak bisa, mana ponselmu dengarkan saja lagu dari ponselmu" Tolak Aditya.
Tetapi Cahya terus memaksa Aditya agar mau bernyanyi untuknya walaupun lelaki itu menolak terus menolaknya. Hingga jurus terakhir Cahya pun dikeluarkannya dengan cara dia memalingkan badannya dan membelakangi Aditya.
****
Akhirnya Aditya harus menyerah dan dia berdehem sambil berkata oke.
"Your hand fits in mine like it's made just for me
But bear this in mind it was meant to be
"I know you've never loved the crinkles by your eyes,
When you smile, you've never loved your stomach or your thighs, the dimples in your back at the bottom of your spine but I'll love them endlessly"
Cahya lalu memberi kode Aditya agar suaminya itu memeluknya, dan mereka berdua berpelukan bahagia dan Cahya ikut menyambung lagu itu sehingga mereka berdua menyanyi bersama karena itu adalah lagu faforit Cahya.
"I won't let these little things, slip out of my mouth
But if I do, It's you Oh it's you they add up to
I'm in love with you and all these little things"
Mereka berdua berpelukan, dan Cahya menghujani Aditya dengan ciuman-ciuman di leher dan wajah Aditya. "Kau romantis sekali, sudah lama aku tidak mendengarkan lagu ini dinyanyikan oleh kekasihku dan kau akhirnya menyanyikannya untukku, thanks" Ucao Cahya bahagia.
"Hmmm pasti dulu si b*engsek Theo yang sering menyanyikannya untukmu, harusnya aku tidak memilih lagu itu tadi" Gumam Aditya berpura-pura cemburu dengan membuang muka.
"Iya, tetapi suaranya tak seenak suaramu" Cahya lalu melingkarkan lengannya dileher Aditya dan memberikan ciumannya dibibir suaminya itu. Ciuman itu semakin lama semakin panas dan Aditya menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Ciuman Aditya sellau sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu ******* bibir Cahya dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya.
Ketika Aditya melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Cahya, penuh gaiirah.
"Aku menginginkanmu" Gumam Aditya dengan suara parau membuktikan kalau lelaki itu sedang terbawa gaiirahnya. Seolah mengerti Cahya pun menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pun larut dalam pusara gaiirah.
****
Keesokan harinya, Cheryl sudah pergi dari rumah sejak pagi dan melewatkan sarapan bersama keluarga Chitra. Kini Cheryl sudah berada didepan kediaman Aditya dan memantau keadaan disana untuk mengetahui lebih jelas kegiatan apa saja yang dilakukan oleh keluarganya.
Sekitar jam 7lebih satu persatu mobil keluar dari rumah besar itu, diawali dengan mobil yang sama milik dari laki-laki yang kemarin bersama Aditya sata mengambil mobilnya diparkiran. Cheryl berpikir bahwa laki-laki kemarin adalah adik dari Aditya mengingat dulu dia pernah bercerita padanya jika dia memiliki seorang Adik laki-laki. Hingga beberapa menit kemudian ada lagi mobil yang keluar tetapi itu bukan mobil milik Aditya. Cheryl masih terus menunggu Aditya keluar dari rumahnya tetapi lelaki itu juga tidak kunjung keluar.
Cheryl pun mulai berpikir jika mungkin saja Aditya berada disalah satu mobil yang tadi sudah keluar karena dia mememang tidak bisa melihat secara langsung siapa yang berada didalam kedua mobil tersebut. Cheryl pun mulai kesal hingga dia memukul setir mobilnya berkali-kali kemudian dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Tetapi tiba-tiba gerbang rumah itu dibuka lagi oleh security yang berjaga disana. Dan sebuah mobil hitam mewah keluar dari sana, Cheryl tersenyum senang karena itu adalah mobil milik Aditya. Untuk memastikannya apakahbitu benar-bebar Aditya atau bukan, Cheryl pun mengikuti kemana mobil itu pergi. Dan jika memang itu bukan Aditya, besok dia akan bergantian mengikuti mobil lainnya satu persatu.