SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 149



Seminggu berlalu, Cahya dan Elea menghabiskan waktu bersama dirumah untuk mengobrol dan bercanda. Cahya tidak melihat sama sekali kesedihan dari Elea, sahabatnya itu terlihat selalu ceria seperti dulu. Cahya yakin saat ini sahabatnya itu saat ini telah menjadi perempuan yang sangat kuat dan tegar, melewati hari beratnya dengan pikiran positif dan tidak pernah mengeluh.


Hari ini Adri sudah diijinkan pulang oleh dokter, dan Elea juga siang ini harus kembali, karena merasa tidak enak jika harus meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Ternyata Danist berniat akan menjemputnya nanti, walaupun Elea sempat menolak tetapi sepertinya lelaki itu tetap memaksakan kehendaknya.


Setelah mengemasi pakaiannya, Elea turun ke bawah untuk menemui Cahya yang sednag berada dikamar. Elea mengetuk pintu kamar Cahya dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya untuk masuk.


"Hai El, apa kau sudah selesai mengemasi pakaianmu?" Tanya Cahya.


"Sudah lagipula hanya beberapa pakaian saja, bagaimana apa mereka sudah pulang?"


"Ya, Adit bilang mereka sudah dalam perjalanan, Danist jadi menjemputmu?"


"Jadi, dia akan menjemputku, aku nanti juga akan mampir ke apartmentku, masih ada beberapa barang yang tertinggal jadi aku akan mengajak Danist untuk mampir sebentar"


"Kau benar-benar tidak berniat menjual apartmentmu itu El? sayang kalau dibiarkan kosong?"


"Aku tidak pernah berniat menjualnya Ca, kau tahu kan aku membeli apartment itu dengan kerja kerasku bertahun-tahun di Direct Publisher, aku masih membutuhkannya ya mungkin saat aku merindukan Jakarta dan ingin berjalan-jalan disini aku bisa tinggal disana bersama anakku jadi tidak perlu menyewa hotel hahaha"


Suara tawa Elea terdengar renyah, membjat Cahya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elea. Mereka berdua lalu melanjutkan obrolannya membahas hal lain.


Sampai akhirnya terdengar suara berisik diluar, Cahya dan Elea keluar dari kamar. Ternyata Adri dan yang lainnya sudah datang. Aditya membawa Adri naik ke kamarnya diikuti oleh kedua orangtuanya. Ibu Cahya menyuruh Chika untuk pergi mandi serta berganti pakaian ke kamar kakaknya diatas. Lalu Cahya dan Elea pergi ke dapur menyiapkan jus untuk semua orang.


****


Beberapa saat kemudian Aditya turun, Cahya menghampirinya dengan membawa jus untuk suaminya itu. Wajah Aditya terlihat sangat lelah dan seperti kurang tidur, kantung matanya sedikit menghitam. Cahya sangat memakluminya mengingat sang suami harus wara-wiri dari rumah sakit lalu ke kantornya, dan Cahya sangat tahu betul Aditya tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika dia tidak mendapatkan tempat untuk berbaring.


"Minum jus ini setelah itu pergilah ke kamar dan mandi, aku akan menyiapkan pakaianmu lalu kau bisa beristirahat" Cahya memberikan gelas dan Aditya langsung menghabiskan jus itu dengan sekali teguk.


"Ahhh nikmat sekali, bagaimana kabar raja dan ratuku?" Aditya tersenyum menatap Cahya lalu mengusap lembut perut Cahya.


"Mereka baik dan selalu menendang perutku, mereka mungkin kesal karena rindu dengan papanya, cepatlah mandi dan beristirahat, lihatlah kantung matamu menghitam seperti panda, kau pasti butuh istirahat sekarang, pergilah"


Aditya pun oergi ke kamarnya dan langsung mandi. Memang benar kata Cahya bahwa kantung matanya menghitam, tidurnya memang tidaklah nyaman beberpaa hari ini. Sebenarnya bisa saja dia menyewa hotel agar bisa beristirahat dengan nyaman tetapi Aditya tidak tega jika harus meninggalkan Chika dan kedua orangtuanya di rumah sakit menjaga Adri.


Cahya masuk ke kamarnya sambil membawa cangkir berisi teh celup lalu menyiapkan pakaian untuk Aditya. Lama setelahnya, suaminya itu keluar lalu berganti pakaian didepannya karena memang dikamar ini tidak ada ruang ganti seperti dikamar mereka yang di atas. Cahya hanya tersenyum melihat Aditya berganti pakaian didepannya seperti tidak peduli dengan kehadirannya.


"Kenapa kau senyum-senyum? Kau merindukan ini ya?" Ucap Aditya sambil mengacungkan kejjantanannya ke arah Cahya. "Tapi aku sedang lelah saat ini jadi jangan memintanya dulu oke?" lanjutnya.


"Kau benar-benar sudah tidak waras, siapa juga yang menginginkannya, cepatlah pakai pakaianmu lalu berbaringlah"


"Kenapa kau menyuruhku berbaring? Hmmm kurasa kau memang menginginkanku, besok saja ya aku sekarang sangat lelah"


"Adit....! Diamlah" Seru Cahya kesal.


Aditya tertawa melihat wajah kesal istrinya lalu bergegas dia memakai pakaiannya dan naik ke tempat tidur. Cahya langsung menyuruhnya untuk berbaring serta menutup matanya. Cahya mengambil 2 teh kantung yang sudah direndamnya dengan air hangat lalu menaruh teh itu di kedua mata Aditya yang tertutup.


"Kau memberiku apa?" Tanya Aditya lalu lelaki itu membuka matanya dan mengambil kantung teh itu dari matanya. Betapa terkejutnya dia melihat teh itu.


"Tidak akan sakit, ini akan membantumu menghilangkan mata pandamu itu"


"Apa...?!?? Kau benar-benar tidak waras, apa kau tidak memiliki krim atau apalah yang bisa menghilangkan ini, kau kan memiliki banyak kosmetik dan skincare"


Cahya menggelengkan kepalanya, dia memang memiliki banyak skincare tetapi tidak ada satupun yang berfungsi untuk menghilangkan mata panda.


"Aku tidak memiliki yang itu, aku biasanya memakai ini dan ini sangat ampuh, kau diamlah dan menurutlah padaku"


"Astaga Cahya, bagaimana bisa kau tidak memilikinya, setiap bulan aku sudah mentransfer uang ditabunganmu, kau sudah kuberi credit card bahkan aku juga memberimu black card, masa membeli krim mata saja kau tidak mampu, astaga istriku sudah tidak waras...."


Cahya mengarahkan jari telunjuknya dibibir Aditya, dan memaksa suaminya itu untuk berbaring dan tidak banyak bicara. Cahya kembali menaruh kantung teh itu diatas kedua mata Aditya. Aditya memang sangat lelah jadi hanya butuh waktu kurang dari 30menit dia langsung tertidur, dan Cahya menjaganya agar kantung teh itu tidak jatuh.


****


Cahya membangunkan Aditya untuk makan siang serta memberitahunya bahwa Danist juga datang untuk menjemput Elea. Cahya tersenyum melihat Aditya karena ternyata usahanya untuk menghilangkan mata panda Aditya cukup berhasil. Aditya bangun dari tempat tidur, beranjak dari sana dan langsung pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Dikamar mandi setelah mencuci wajahnya, Aditya melihat wajahnya dicermin dan terlihat mata panda nya memang tidak separah tadi sebelum tidur, kekonyolan istrinya ternyata membuahkan hasil yang baik, Aditya tersenyum sendiri.


Aditya keluar beberapa saat kemudian dan langsung menyalami Danist yang sedang duduk diruang tamu. Mereka mengobrol sebentar dan Cahya memanggil mereka untuk makan siang terlebih dulu. Danist akhirnya bergabung dan makan siang bersama keluarga Aditya.


Setelah makan siang, Danist menjenguk Adri dikamarnya dan dilanjutkan mengobrol lagi dengan Aditya tentang perkembangan pekerjaan dikantor. Obrolan mereka sangat serius hingga waktu sore pun tiba. Elea turun dengan membawa tas berisi pakaiannya dan menghampiri Danist.


"Obrolan kalian terlihat sangat serius sampai aku tidak berani mengganggu" Ucap Elea.


"Biasa obrolan lelaki El, oke Dan hari sudah sore, Elea juga sudah siap, thanks ya El sudah menemani Cahya beberapa hari ini"


"Its okay Dit, aku juga sangat senang disini bisa menghabiskan waktu dengan Cahya, oke kita pamit dulu"


Cahya memeluk Elea dan mengucap terima kasih kepada sahabatnya itu. Danist dan Elea berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Aditya.


****


Saat dimobil, Elea meminta kepada Danist untuk diantar ke apartment nya karena dia harus mengambil beberapa buku dan barangnya yang masih ada disana. Danist pun mengarahkan mobilnya ke tujuan Elea.


Disisi lain, Ariel yang sudah bersiap untuk pulang dari kantornya tiba-tiba ingin makan olahan seafoods di restoran yang terletak didekat apartment Elea, entah kenapa tapi dia sangat menginginkan disana padahal dirinya bisa saja pergi ke restoran dihotel miliknya. Akhirnya Ariel pun pergi meninggalkan kantornya dan mengarahkan mobilnya menuju restoran itu.


Danist dan Elea akhirnya sampai di apartment Elea. Mereka masuk dan mulai mencari barang yang ingin diambilnya. Tetapi tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu.


"Oh iya Dan, bisakah nanti kita mampir sebentar ke restoran seafoods didepan sana, aku ingin membelinya dan membawa pulang untuk Mama dan Papa, kau mau kan?"


"Dengan senang hati El, apa kau ingin makan disana juga?" Tanya Danist.


"Tidak, aku ingin membungkusnya saja, perutku masih kenyang, aku pesan dulu ya supaya kita tidak terlalu lama menunggu disana"


Elea mengambil ponselnya dan menghubungi restoran seafoods itu lalu memesan makanan yang diinginkannya. Setelah itu Elea kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil buku-buku miliknya yang masih tertinggal disini.