
Ariel mengitari Ayahnya dan Danist yang sedang berdiri berhadapan dengan terus bertepuk tangan. Pandangannya terlihat penuh dengan kemarahan serta kekecewaan. Sekali lagi Ariel merasa sangat kecewa dengan perilaku Ayahnya selama ini. Bahkan kali ini tidak kalah keterlaluan dengan yang dulu terjadi, Ayahnya ternyata memiliki anak dari perempuan lain, dan tentu Ariel semakin muak dengan Ayahnya.
"Kau ada disini??? Ayo pulang, Ayah akan jelaskan semuanya!" Ucap Pak Andi sambil memegang pundak Ariel tetapi dengan cepat Ariel menepisnya.
"Penjelasan!!!??? Aku muak sekali rasanya mendengar semua penjelasanmu, sudah berapa puluh wanita yang kau tiduri selama hidupmu??? Dan sudah berapa anak yang kau miliki selain aku??? Lalu apa kau yakin bahwa dia adalah anak kandungmu? Kau mengetahuinya dari mana bahwa dia adalah anakmu?? Apa hanya dari satu mulut saja? Apa kau juga tidak berpikir bahwa seluruh perusahaanmu itu adalah pemberian dari orangtua Mamaku? Kau hanya melanjutkannya dan sekarang dengan seenaknya kau ingin membaginya tanpa persetujuan dariku!!!"
"Iel, jangan berteriak disini, ayo lebih baik kita pulang!"
"Pulang??? Aku tidak akan pernah pulang jika aku harus melihatmu lagi, kau benar-benar tidak tahu diri, pantas saja Mama pergi lebih cepat tidak lain adalah karena semua kelakuan burukmu ini, Mama sudah memberi banyak untukmu tetapi kau angkuh dan tidak tahu diri, aku sangat menyesal sudah meminta maaf padamu, kelakuanmu sangat menjijikkan!" Ucap Ariel dengan penuh emosi pada Ayahnya, tetapi kemudian dia membalikkan badannya dan memandang Danist dengan pandangan mencela dari ujung kaki hingga kepalanya.
"Kau!!!" Ariel bergumam dan menunjuk Danist dengan jari telunjuknya. "Dia mengatakan bahwa kau adalah anak sulungnya yang berarti kau adalah kakakku, ciiiihhh selamanya aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai kakakku, kau hanya anak dari hubungan terlarang, dan dengan mudahnya juga kau akan mengambil setengah dari harta milik keluarga Mamaku, kau dan ibumu pasti sudah merencanakan ini untuk mengusai kekayaan keluargaku dengan alasan meminta ganti rugi karena si brengs*k itu menelantarkan kalian, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ibumu yang terlihat baik itu tak ubahnya dulu pasti hanyalah wanita rendahan yang sering menjajakan dirinya di jalanan hingga laki-laki berengsek dibelakangku ini bisa jatuh ke dalam perangkapnya"
Saat itu juga sebuah pukulan mendarat di wajah Ariel, membuatnya langsung tersungkur. Kesabaran Danist akhirnya mencapai ujungnya, dia sudah melupakan janjinya pada san Mama yang dulu pernah mengatakan agar tidak memukul Ariel saat lelaki itu mengucapkan atau berbuat buruk kepadanya, tetapi kali inin Danist tidak bisa begitu saja menerima penghinaan Ariel kepada Mamanya. Ariel sudah merendahkannya Mamanya, padahal yang berbuat buburuk dan merenggut kebahagiaan Mamanya adalah Mama Ariel sendiri. Perbuatan Ayahnya selama ini sudah sangat menyengsarakanya dan Mamanya, tetapi sekarang dia dan Mamanya malah mengalami penghinaan yang begitu besar dari Ariel.
"Selama ini aku bisa menerima penghinaanmu kepadaku, tetapi jika aku mendengar seseorang berbicara buruk tentang Mamaku, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya, dan perlu kau ingat sepeserpun aku tidak akan pernah mau menerima semua itu, aku sangat bisa menghidupi keluargaku dari hasil keringatku sendiri, semua kekayaan yang kau sebutkan itu tidak akan pernah bisa menggantikan seluruh perjuangan Mamaku dalam membesarkanku, bahkan seluruh isi dunia ini juga masih belum cukup, kau berbicara hak buruk tentang Mamaku tetapi sayangnya kau sendiri tidak mengenal siapa Mamamu sebenarnya" Danist kemudian pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaannya yang sedang berkecamuk karena situasi ini. Danist enggan mengatakan pada Ariel tentang kebenaran yang ada, ya Mama Ariel sudah meninggal, sangat tidak baik jika keburukan orang yang sudah meninggal jadi bahan pembicaraan.
******
"Manusia tidak bermoral, aku benar-benar sangat malu memiliki ayah sepertimu" Ucap Ariel lalu dengan cepat meninggalkan Ayahnya.
Aditya dan Randy langsung mengejar Ariel. Mereka berdua takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Inilah yang ditakutkan Aditya selama ini bahwa hubungan Ariel, Ayahnya serta Danist kedepannya pasti akan memburuk. Disaat seperti ini Ariel akan sangat sulit menerima kenyataan yang ada. Jika Ariel sudah dipenuhi dengan kemarahan seperti ini, tentu Ariel akan selalu berpegang pada prinsipnya dan butuh waktu lama untuk membangun kepercayaan lagi.
Aditya dan Randy mendekati Ariel, mereka harus bisa menenangkan kemarahan Ariel. Tentu saja mereka berdua juga berniat menjelaskan semuanya yang mereka ketahui, fakta tentang Ibunya Danist, bahwa apa yang dutuhkan Ariel tadi sangatlah salah besar.
"Iel, kami minta maaf padamu, sebenarnyabkami sudah mengetahui hal ini sejak lama, tetapi kami tidak biaa mengatakan kepadamu karena kami tidak memiliki bukti" Ucap Randy.
Ariel menoleh ke kedua sahabatnya itu. "Kalian mengetahuinya?? Lalu kenapa menyimpannya sendiri tanpa memberitahuku"
"Sebenarnya Iel, Tante Sari Mamanya Danist itu tidak..."
Aditya belum selesai berbicara, tetapi Ariel sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapannya.
"Dit, jangan lagi membahas tentang wania itu, aku tidak ingin mendengar apapun dengannya, aku tidak apa-apa, aku akan pulang sekarang, jadi lebih baik kalian juga pergi dari tempat ini, aku sama sekali tidak ingin mendengar apapun tentang semua ini, aku sudah cukup tahu..!" Ariel kemudian berdiri dan membuka pintu mobilnya, dengan cepat dia langsung meninggalkan Aditya dan Randy tanpa mendengar penjelasan mereka.
Aditya dan Randy bingung karena Ariel tidak membiarkan mereka mengatakan semuanya, tentu itu buruk sekali karena Ariel pasti akan terus menganggap bahwa Mama Danist adalah wanita yang buruk, oadahal kenyataannya tidak seperti itu. Tetapi apa mau di kata, begitulah sifat Ariel, sangat sulit untuk meyakinkannya. Aditya dan Randy habya berharap agar suatu hari Ariel mengetahui semua kebenaran yang ada tentang siapa Mamanya Danist yang sebenarnya.
Sementara itu, dengan langkah gontai, Danist menuju kamarnya. Hati dan perasaannya saat ini sangat buruk. Pada akhirnya terkuak juga siapa ayahnya sebenarnya dan dia bingung dengan sikap apa yang harus diambilnya, haruskah dia menceritakan semua ini pada Mamanya atau tidak. Disisi lain, Ariel justru sudah menganggap Mamanya adalah wanita buruk, padahal semua itu jelas bukan kesalahan Mamanya melainkan itu adalah kesalahan yang dibuat oleh Mama Ariel sendiri juga Ayahnya. Kenyataan yang lain juga adalah saat itu Mama Ariel sudah mengetahui bahwa Ayahnya sudah menikah tetapi bukannya mundur, Mama Ariel justru tetap tidak peduli dan malah menyuruh ayahnya menceraikan Mamanya.
Danist masuk ke dalam kamar hotel dan melihat Elea sudah berganti pakaian dan tidur bersama Gienka. Danist kemudian masuk ke kamar mandi, disana dia bukannya mengganti pakaiannya tetapi malah menangis sampai terisak. Danist tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah mengetahui semua ini. Kenapa Ayahnya harus muncul disaat seperti ini. Dia sudah tidak menginginkannya, terlalu sakit oenderitaan yang sudah ditinggalkan oleh Ayahnya, ditambah lagi Ariel justri mengeluarkan hinaan kepada Mamanya. Danist merasa benar-benar hancur saat ini. Dia sebenarnya sejak tadi ingin menangis dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada Ayahnya yang kejam itu, dia ingin meluapkan semua kekesalannya selama ini karena lelaki itu sudah menghancurkan kehidupan Mamanya selama ini ditambah lagi penghinaan Ariel, jika bisa Danist ingin sekali menghajar mereka berdua. Danist semakin terisak dan duduk berselonjor dilantai kamar mandi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Hanya ini yang bisa dia lakukan agar perasaannya menjadi lebih baik. Isakan Danist terdengar begitu memilukan membuat siapa saja yang mendengarnya akan larut dalam kesedihannya, tetapi mereka tidak akan bisa memahami, merasakan serta semua penderitaan dan kesulitan yang sudah dia dan Mamanya alami selama ini.