
Makan malam selesai, Cahya menemani mama mertuanya duduk dan mengobrol sambil minum teh diruang keluarga, sedangkan Aditya menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kebahagiaan terlihat jelas diwah Nyonya Harry, ia tak berhenti memuji Cahya yang saat ini menjadi menantunya, akhirnya apa yang diimpikannya selama ini terwujud, Putra sulungnya menikah dengan gadis baik, cerdas dan cantik seperti Cahya, walau banyak hal yang sebelumnya terjadi, tapi ia yakin Aditya dan Cahya akan berbahagia dengan pernikahan mereka.
“ Cahya sayang, sepertinya mama sudah mengantuk, kau pergilah keatas dan beristirahatlah, panggil suamimu diruang kerjanya, dia akan lupa waktu jika berada disana, kalian harus istirahat besok kalian harus bekerja bukan? Pergilah!”
Cahya membuatkan teh camomile untuk Aditya dan membawanya keatas, mengantarkan ke ruang kerjanya dan mengetuk pintunya, dia melihat Aditya sedang sibuk membaca berkas dan mengalihkan pandangannya kepada Cahya lalu tersenyum.
“ Aku membuatkanmu Teh Camomile, minumlah, oh wow banyak sekali buku disini, apakah ini seperti perpustakaan pribadi” Suara Cahya terkejut dan matanya meloto tak percaya dengan yang dilihatnya.
“ Iya semacam itu, Aku dan papa sering menghabiskan waktu disini untuk membaca”
“ Ini luar biasa, sepertinya koleksi buku disini lengkap”
“ Kau ingin membacanya??? Carilah yang kau sukai?” Ucap Aditya tersenyum karena dia melihat wajah Cahya yang begitu terkagum-kagum melihat semua buku yang berjejer seolah ingin melahap semua buku disini.
“ Benarkah aku boleh membacanya??”
“ Tentu saja, inikan juga rumahmu, kau boleh membaca semuanya kapanpun itu, tapi sepertinya kau ingin membaca semua ini dalam waktu semalam hahaha”
Mereka berdua tertawa, dengan segera Cahya mengambil sebuah buku dan langsung membacanya, dan Aditya melanjutkan pekerjaannya, sesekali dia melihat kearah Cahya yang sangat serius dengan buku yang dibacanya membuat Aditya hanya melemparkan senyuman.
****
Jam menunjukkan pukul 23.00 Aditya beranjak dari meja kerjanya dan mengajak Cahya untuk beristirahat dikamar tetapi ternyata istrinya itu tertidur dengan lelapnya beralas buku yang tadi dibacanya.
“ Bisa-bisanya dia tertidur saat membaca” Gumam Aditya, karena ia tak ingin membangunkan Cahya, ia memutuskan untuk menggendongnya kekamar.
Sesampainya dikamar, dia membaringkannya diranjang dan menyelimutinya, Aditya menatap wajah Cahya dengan tatapan yang dalam, dia mengaguminya hingga tak diduga sebuah ciuman mendarat dikening Cahya tak sampai disitu Aditya juga mendaratkan satu ciumannya dibibir Cahya yang terlihat begitu manis. Aditya tidak bisa menahannya, lalu dia segera beranjak mengambil Bantal serta selimut, membaringkan tubuhnya ke sofa dan tertidur. Keesokan harinya Cahya terbangun dan merasa bingung kenapa ada dikamar, seingatnya semalam dia membaca buku diperpustakaan, apakah Aditya yang membawanya kekamar.
Matanya pun melihat kanan kiri mencari Aditya tetapi tidak menemukannya begitupula dikamar mandi tidak ada.
“ Ini masih jam 5 lebih 15, kenapa dia tidak ada? Apa mungkin sudah berangkat ke kantor??”
Cahya keluar dari kamarnya dan kebetulan ada Mama mertua nya sedang berjalan kearahnya, mengetahui bahwa menantunya itu pasti sedang mencari suaminya.
“ Selamat pagi sayang, kau pasti sedang mencari suamimu ya??? Dia ada diruang Gym, begitulah kegiatannya setiap pagi setelah Sholat subuh, apakah kau sudah sholat subuh?? Jika belum segeralah sebelum matahari muncul, setelah itu bawakan Air dan jus Semangka untuk suamimu, dia sangat menyukainya, dulu itu tugas mama, karena sekarang kau istrinya akan lebih baik jika kau yang mebawakannya?? Bisakan Cahya sayang??” Ucap Nyonya Harry dengan senyumnya yang seolah tidak pernah hilang dari wajahnya, Cahya pun menganggukan kepalanya.
Setelah mandi dan sholat subuh, Cahya langsung menuju dapur dan menyiapkan minum untuk Aditya serta mengantarnya keruang Gym, dan berencana membantu mbak Tina didapur menyiapkan sarapan. Cahya berjalan menuju ruang Gym dimana dia berada sambil membawa nampan berisi jus semangkan dan sebotol Air putih, dia lagi-lagi terpesona melihat Aditya telanjang Dada dan sedang melakukan Pull Up, tapi dengan segera Cahya membuayarkan lamunannya sendiri tidak ingin Aditya melihatnya.
“ Adit, aku membawakanmu Air dan jus semangka, mama bilang kau menyukainya”
Aditya tersenyum melihat Cahya menghampirinya, dan berniat menggodanya, pasti akan menarik membuatnya Salah tingkah dipagi hari.
“Good Morning my Wife, apakah tidurmu semalam nyenyak??? Maaf aku semalam menggendongmu kekamar tanpa membangunkanmu, Thank You my Wife” Ucap Aditya, dan benar sekali saat dia memanggil Cahya my wife, wajah Cahya langsung memerah, membuat Aditya langsung tersenyum, dan tanpa diduga, lagi-lagi dia mendaratkan ciuman dikening Cahya, sontak membuatnya langsung terdiam karena terkejut.
“ Ah sama-sama, a.....ku permisi du...lu, aku harus.... kedapur” Suara Cahya terbata-bata dan langsung bergegas pergi meninggalkan Aditya membuat Aditya ingin tertawa melihat tingkah Cahya itu.
Cahya membantu mbak Tina didapur untuk menyiapkan sarapan, sedikit ada perdebatandiantara mereka karena mbak Tina menolak dan tidak ingin merepotkan Cahya, tetapi Cahya memaksa dan bilang akan menyiapkan sarapan pertama untuk keluarga barunya sekarang.
Setelah kegiatan memasak selesai, Cahya meminta mbak Tina membawanya ke meja makan karena dia harus bersiap untuk ke kantor.
Cahya mendengar ada suara dikamar mandi mungkin Aditya sudah selesai berolah raga, dia pun pergi ke ruang ganti untuk bersiap dan tidak lupa juga menyiapkan keperluan suaminya itu seperti jas, kemeja,dasi dan sepatunya. Cahya duduk didepan meja rias menyisir rambutnya, dan Aditya keluar dari kamar mandi tampak segar dan tampan setelah mandi.
“ Aku sudah menyiapkan pakaianmu diruang ganti, segeralah bersiap lalu kita sarapan”
“ Kau menyiapkannya??? Terima kasih istriku sayang” Ucap Aditya menggoda Cahya dan lagi-lagi ucapan Aditya itu membuat wajah Cahya merah padam malu.
Selang beberapa saat, mereka berdua turun untuk sarapan. Tampak rona bahagia terpancar dari kedua orangtua Aditya melihat anak dan menantunya begitu serasi.
“ Selamat pagi kesayangan Mama!!” Ujar Nyonya Harry.
“ Selamat Pagi Mama sayang” Jawab Aditya.
“ Sarapan kita pagi ini sangat spesial, karena dimasak langsung oleh menantu Mama yang cantik ini, terima kasih Cahya sayang”
Semua orang tersenyum dan memulai sarapannya. Sarapan pertama buatan Cahya ini membuat mood semua orang sangat baik dan bahagia, tentunya karena masakan dibuat dengan cinta jadi rasanya pun nikmat. Setelah selesai sarapan, Adri mengatakan bahwa sore nanti dia dan Chika harus kembali ke Bandung, karena lusa mereka akan ada ujian. Cahya langsung teringat dengan ibunya, siapa yang akan menjaganya jika Chika akan pergi, sedangkan dia tau ibunya masih belum begitu sehat.
Suara Aditya mengajaknya pergi membuyarkan pikirannya.
Di mobil Cahya masih memikirkan ibunya, hingga tidak sadar jika Aditya berkali-kali memanggilnya dan tidak dihiraukannya. Lalu karena kesal, Aditya langsung menyentuh tangan Cahya membuatnya tersadar dari lamunannya.
“ Ca, apa yang kau pikirkan?? Daritadi aku mengajakmu bicara, tapi kau diam saja? Ada apa?” Tanya Aditya.
“ Ah maaf, aku kepikiran dengan ibu, siapa yang akan menjaganya kalau Chika berangkat ke Bandung?? Sedangkan kondisi ibu masih belum baik sepenuhnya??” Jawab Cahya, Aditya pun tampak berpikir sejenak dan mengusulkan agar membawa ibu mertuanya itu kerumahnya tetapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Cahya.
“ Tidak Adit, kau juga tau kondisi mama seperti apa, aku tidak ingin merepotkan keluargamu, tapi bisakah kau memberiku ijin untuk tinggal bersama ibu, hanya selama beberapa hari saja??” Tanya Cahya meragu, sebenarnya dia juga merasa tidak enak apalagi dia baru sehari dirumah suaminya, tapi Cahya tidak punya pilihan lain, ibunya masih belum bisa melakukan pekerjaan berat seperti memasak dan membersihkan rumah, jika Cahya berada disana dia bisa melakukannya sebelum berangkat ke kantor.
Tetapi Cahya meragu karena Aditya diam tidak menjawab pertanyaannya itu, mungkin Aditya tidak mengizinkannya.
“ Baiklah, kau bisa pergi menjaga ibu, tetapi setiap hari aku akan menjemput dan mengantarmu kerja tidak kuijinkan kau naik angkutan umum lagi”
“ Benarkah??? Terima kasih ya Dit?? Kau baik sekali”
“ Pastikan ibu mertuaku baik-baik saja, nanti aku akan menjemputmu dan mengantarkanmu kerumah”
“ Tapi?? Aku merasa tidak enak dengan Mama dan Papa?”
“ Tidak usah khawatir, nanti akan kujelaskan pada mereka”.