
Aditya menatap Ariel sambil menggerutkan keningnya. "Bercerita sesuatu??? Bercerita tentang apa?" Tanya Aditya seolah bingung dengan ucapan Ariel.
"Eehhh ya mungkin dia bercerita sesuatu padamu, tapi sudahlah lupakan saja"
"Kau ini aneh Iel, ada apa denganmu?" Aditya menggelengkan kepalanya bingung.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja mungkin Cahya ijin kepadamu untuk pergi keluar menemui seseorang"
"Menemui seseorang? Memang siapa yang ingin ditemui oleh istriku? Lagipula Cahya selalu bersamaku akhir-akhir ini bahkan aku membawanya saat kemarin aku berkunjung ke kantor cabang di Surabaya, aku tidak bisa meninggalkan istriku begitu saja apalagi dia sedang dalam keadaan hamil, itulah yang harus dilakukan seorang suami yang baik harus selalu ada disamping istrinya dan menjaganya dengan baik, bukan begitu Iel?"
"Ya tentu saja Dit, apalagi mengingat tentang kejadian dulu yang sempat menimpa Cahya kau harus selalu menjaganya" Ariel kemudian melanjutkan pembicaraan mengenai pekerjaan dengan Aditya.
Disisi lain, Elea masih sibuk mempelajari berkas-berkas pekerjaan barunya. Walaupun sempat kesulitan untuk menyesuaikan karena semua sangat jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya tetapi Elea tetap fokus dan bimbingan dari Danist sangat membantunya. Lelaki itu menjelaskan semuanya dengan jelas dan langsung bisa dimengerti oleh Elea membuat Elea sangat mudah beradaptasi.
"Sudah waktunya makan siang, nanti kita lanjutkan lagi" Ucap Danist dan Elea menghentikan pekerjaannya.
"Apa kau mau lunch diluar El, kita bisa pergi bersama" Lanjut Danist.
"Tidak, aku akan pulang dengan Chika untuk makan siang dirumah" Ucap Elea.
"Oke baiklah, aku akan mengantar kalian berdua pulang"
"Tidak perlu, lagipula tempat tinggal kami sangat dekat" Elea sekali lagi menolak.
Tidak bisa membantah Elea, Danist pergi menemui Chika dan membujuknya agar dia bisa mengantarnya dan Elea. Benar saja Chika menyetujuinya, yang akhirnya giliran Elea yang tidak bisa menolak ajakan Danist. Danist pun mengantar mereka berdua pulang untuk makan siang. Sampai disana ternyata Mama Elea juga menyuruh Danist untuk bergabung dan makan siang bersama.
****
Randy pergi ke kantor Aditya dengan membawa papperbag berisi sesuatu yang diminta Aditya, yang membuatnya kesal selama perjalanan. Bisa-bisanya Aditya meminta sesuatu seperti ini. Harusnya tadi dia tidak mengatakan padanya bahwa dia akan datang menemui Aditya dikantor dan tidak mengatakan juga bahwa tadi dia sedang berada dirumah Chitra, pasti ini tidak akan terjadi.
Randy sampai didepan ruangan Aditya, dan Maysa menyambutnya lalu menyuruhnya agar menunggu sebentar untuk memberitahu Aditya tentang kedatangannya. Randy akhirnya dipersilahkan masuk dan sedikit terkejut melihat ada Ariel disana. Ariel pun langsung menyapanya dan menyalaminya. Randy diam sejenak tidak langsung membalas jabatan tangan Ariel dan melihat ke arah Aditya, Aditya langsung memberi kode padanya dengan anggukan kepala agar menerima jabatan tangan Ariel.
"Baik Iel" Jawab Randy singkat.
"Apa yang kau bawa Ran?" Tanya Ariel.
"Ini rujak buatan ibunya Chitra untuk Aditya, lagian ada-ada saja kau Dit, uangmu sangat banyak beli rujak aja nggak mampu, ngrepotin aja" Gumam Randy kesal lalu memberikan papper bag yang dibawanya kepada Aditya.
"Berhentilah menggerutu, nanti kalau istrimu hamil kau akan merasakan bagaimana rasanya ngidam, jangan kau pikir hanya mereka saja yang ngidam, kau juga bisa merasakannya" Aditya berucap tidak kalah kesalnya.
"Memangnya suami juga bisa merasakan ngidam?" Tanya Randy penasaran.
"Tentu saja, kau yang membuatnya hamil maka kau juga harus menanggung hasil perbuatanmu pada istrimu dan kau tahu itu sangat menyebalkan, bagiku lebih baik Cahya saja yang meminta sesuatu yang aneh-aneh daripada aku, itu membuat image yang kubangun selama ini jadi berantakan, menyebalkan sekali"
"Memangnya Cahya ngidam aneh apaan Dit?" Tanya Randy lagi.
"Setiap tengah malam dia selalu bangun dan memintaku untuk membelikan makanan yang dia mau, bahkan dia pernah menyuruhku memasak ditengah malam, aku harus melakukannya walaupun aku sangat mengantuk dan sedikit kesal tetapi dia selalu membalikkan keadaan jika aku menolaknya, kalian tahu apa yang dikatakannya padaku? Dia bilang itu adalah hukuman untuk diriku karena sering membangunkannya ditengah malam untuk membuat anak hahaha"
"Kau benar Dit, tetapi kurasa itu tidak seberapa dibanding dengannya yang setiap hari harus membawa perut besarnya selama 9bulan, sangat breengsek jika ada laki-laki yang menyakiti perempuan yang sedang hamil" Gumam Randy sengaja untuk menyindir Ariel.
Ariel hanya tersenyum mendengar kedua sahabatnya itu mengoceh membicarakan kehamilan, dia tidak sadar jika keduanya sedang menyindir halus dirinya. Menyadari obrolannya dengan Randy sudah dirasa cukup, Aditya kemudian menyuruh Randy untuk menjelaskan hasil penyelidikannya terhadap Theo.
"Pertemuan dengan Theo? Kau bertemu dimana Dit?" Tanya Ariel.
"Aku dan Cahya bertemu dengannya di Surabaya, Cahya ketakutan saat melihatnya, jadi karena khawatir aku meminta Randy menyelidikinya, bukan begitu Ran?" Aditya terpaksa harus berbohong pada Ariel soal dimana dia bertemu dengan Theo, jika tidak pasti sahabatnya itu akan ikut turun tangan menyelidiki bersama Randy dan bisa berbahaya jika suatu saat bertemu dnegan Elea disana.
Seolah mengerti Aditya, Randy oun mengiyakan dan anak buahnya akan tetap mengawasi Theo agar tidak lagi mengganggu Cahya. Mereka bertiga melanjutkan obrolannya dan sesekali Randy masih mencoba menyentil Ariel dengan ucapannya walaupun tahu Ariel masih belum menyadarinya, setidaknya ucapannya masuk ke telinga Ariel.
****
Sore harinya Aditya sudah pulang dari kantor dan langsung mencari Cahya. Tidak biasanya sore ini Aditya menemukan istrinya sedang berenang, hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Melihat kedatangan Aditya, Cahya langsung naik keatas. "Hati-hati" Teriak Aditya lalu memberikan jubah mandi untuk istrinya.
"Tidak biasanya kau berenang, ada apa?"
"Aku hanya ingin saja, lagipula dokter bilang itu sangat bagus untuk ibu hamil, bagaimana hari pertamamu kembali ke kantor?"
Aditya menceritakan jika Ariel datang ke kantornya dan Randy juga ada disana, "Kau tahu sayang, aku dan Randy menyindirnya tetapi ya namanya dia tidak tahu jika Elea hamil ya kurasa sindiran kami tidak berguna tapi aku cukup puas" Aditya bercerita sambil tertawa mengingat ekspresi Ariel yang hanya menyimak obrolannya dengan Randy, dan tetap tidak menyadari jika dia dan Randy terus menyindirnya.
"Ternyata mulut kalian para lelaki tidak jauh beda dengan kami para wanita haha, lalu apakah dia tidak menceritakan masalahnya pada kalian?"
"Kurasa dia masih belum berani, tapi sometimes aku akan mencoba memancingnya"
"Lakukan saja apa yang kau mau, tetapi tetap jaga rahasia ini"
"Tetapi aku juga merasa dia memiliki ketakutan, saat datang dia tiba-tiba menanyakan apakah kau menceritakan sesuatu padaku, ya aku jawab saja bahwa kau tidak mengatakan apapun padaku, ya intinya aku dan kau pura-pura tidak mengetahui apapun, dan dia sepertinya merasa lega saat aku mengatakan itu"
"Aku bangga padamu, ayo ke kamar aku merasa kedinginan dan ingin segera mandi, setelah iti akan kubuatkan jus untukmu". Cahya dan Aditya pun naik ke kamar mereka untuk mandi.
*****
Beberapa hari kemudian, setiap bangun tidur Ariel merasakan tidak nyaman ditubuhnya, dia selalu merasa pening dan selalu mual. Sudah beberapa hari dia merasakan hal seperti itu tetapi anehnya setelah itu dia tidak merasakan apapun membuatnya membatalkan untuk pergi ke dokter. Sejak kepulangannya dari Australia bersama Viona, Ariel masih memutuskan untuk tidak kembali ke apartmentnya yang lama, dia memilih tinggal di apartmentnya yang baru.
Ariel ingin melupakan semua kenangannya bersama Elea, menguburnya dalam-dalam dan tidak ingin tahu lagi tentang Elea. Tanpa Ariel sadari ternyata Viona berhasil mencuci otaknya untuk membenci Elea, walaupun sebenarnya terkadang dia sesekali merindukan Elea tetapi selalu ditangkisnya kenangan itu. Dan sore ini dia akan pergi ke apotik untuk mencari obat agar sakitnya ini segera hilang.
Disisi lain, Cahya diantar oleh supirnya kekantor Aditya untuk pergi bersama mengunjungi Elea dan Chika dan menghabiskan waktu weekendnya disana. Cahya sudah menyiapkan pakaian untuknya dan Aditya. Sesampainya disana ternyata Aditya sudah menunggunya, dan supir Cahya segera mengeluarkan koper kecil yang ada dibagasi untuk dipindahkan ke bagasi mobil Aditya.
Saat dalam perjalanan, Cahya teringat akan sesuatu. "Sayang, kita mampir ke apotik sebentar ya, aku lupa tadi Elea memintaku untuk membelikannya susu dan vitamin, susu hamilnya habis dan vitaminnya tinggal sedikit" Ujar Cahya.
"Baiklah, kita akan ke apotik lebih dulu".
Ariel sampai diapotik dan membeli beberapa obat untuk, bersamaan dengan itu Cahya dan Aditya turun diapotik yang sama. Aditya menghentikan langkahnya dan menyuruh Cahya untuk masuk lebih dulh akrena dia menerima telepon. Cahya langsung masuk dan petugas apotik menanyainya ingin membeli apa.
"Mbak, aku ingin susu hamil merk Lovemil untuk usia kehamilan 1 sampai 3 bulan ya, rasa Cokelat, dua ya mbak" Ucap Cahya.
Tak disangka ternyata disebelahnya ada Ariel yang langsung mengenali suara Cahya dan langsung menyentuh pundak Cahya.
"Hai Ca, kau ada disini ternyata"
Melihat Ariel, Cahya terkejut tidak menyangka. "Btw kau beli susu hamil ya? Tapi tadi kudengar kau membelinya untuk usia kehamilan 1 samlai 3 bulan, bukankah kehamilanmu usianya sudah diatas 5bulan, kau membelinya untuk siapa??" Tanya Ariel.