
Brianna baru menyadari jika dia telah meelakukan sesuatu yang berlebihan kepada Danist dan itu terjadi di depan Gienka. Dengan cepat Brianna menyeka airmatanya kemudian menghampiri Gienka dan menanyakan apakah anak itu sudah merasa senang karena bisa bertemu dengan Danist. Gienka menjawab dengan anggukkan kepala, setelah itu Brianna mengajaknya untuk keluar ruangan agar Danist bisa beristirahat dengan tenang.
Saat keluar bersama Gienka, sekilas Brianna melirik ke arah Mama Danist yang memandangannya dalam diam. Brianna sepertinya tahu bahwa pandangan itu memiliki banyak arti di dalamnya mengingat pasti Mama Danist tahu bahwa ini adalah pertemuan pertamanya dengan Danist setelah sekian lama. Tetapi Brianna berpura-pura mengabaikannya saja dan berfokus pada Gienka yang saat ini memeluk Elea.
"Wajahnya sudah ceria setelah bertemu Papanya!" Ucap Brianna.
"Terima kasih....!" Ucap Elea dan menyalami Brianna.
"Hai Ann....!!!"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara dimana disana ada Aditya dan Cahya yang baru saja datang. Cahya memeluk Elea dan Mama Danist, sementara setelah menyalami Papa Elea, Aditya menghampiri Brianna. "Tidak ku sangka kau ada disini, aku pikir kau ada di rumah Ariel, oh iya kenalkan ini Cahya, istriku"
Cahya mendekati Brianna dan menyalaminya. Mereka berdua berkenalan. "Dari dulu seleramu memang tidak berubah Dit, pilihanmu adalah wanita-wanita cantik, tinggi seperti ini, aku juga senang sekali bisa bertemu dengan istrimu serta istri Randy, dan aku juga baru tahu kalau Elea ini adalah mantan istri Ariel, kalian bertiga hebat sekali bisa tetap bersahabat selama bertahun-tahun dan membuat istri kalian juga menjadi sahabat yang baik..!"
"Ah tidak, kami bertiga tidak membuat para istri kami bersahabat, karena faktanya adalah mereka sudah bersahabat baik sebelum bertemu dengan kami"
"Oh oke...! Aku bisa mengerti berarti semua kisah itu berawal darimu dan Cahya hahaha"
Aditya hanya terkekeh mendengar pernyataan Brianna dan mengiyakan. "Oh iya bagaimana keadaan Gienka??" Tanya Aditya.
Brianna pun menjelaskan semuanya kepada orang-orang yang ada disitu, dan kali ini setelah membawa Gienka masuk menemui Danist, dia butuh waktu lagi untuk bersama dengan anak itu. Aditya pun menyarankan agar Brianna membawa Gienka ke taman yang ada di rumah sakit ini dan bisa melakukan langkah selanjutnya lagi. Dan tidak lupa menyuruh Cahya agar bisa ikut dengan Brianna untuk mengawasi Gienka.
Brianna, Cahya dan Gienka pun pergi menuju taman yang ada dirumah sakit itu. Sementara Aditya memberikan pakaian yang sudah disiapkan oleh Cahya untuk Elea dan Mama Danist. Aditya juga memberikan ponsel milik Elea yang kemarin tertinggal di mobil Danist. Tadi pagi Aditya sudah menyuruh supirnya agar bisa mengambil mobil Danist setelah semalam mendapat ijin dari Elea untuk melakukannya.
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya Brianna memberi waktu kepada Gienka untuk bermain sebentar di taman itu. Gienka berlari menuju ayunan yang ada disana, sementara Cahya duduk di sebelahnya. Brianna sejak tadi dilingkupi rasa penasaran luar biasa bagaimana bisa Danist mau menikahi Elea yang adalah seorang janda dengan satu anak, dan dari gelagat Gienka, anak itu begitu menyayangi Danist yang artinya Danist juga pasti sangat menyayanginya. Dan bagaimana bisa Ariel meninggalkan perempuan seperti Elea, harusnya Ariel bersama dengan Elea saja dan mungkin Danist bisa kembali kepadanya. Semua pertanyaan itu memenuhi kepalanya, mungkin ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan jawabannya dari Cahya.
"Cahya...!" Gumam Brianna pelan memanggil Cahya yang tengah asyik mengawasi Gienka.
Cahya menoleh. "Ya.....!"
"Aku sebenarnya tidak enak menanyakan ini padamu, tetapi daripada aku penasaran lebih baik aku tanyakan saja padamu"
"Tanyakan saja...!"
"Ehhh kenapa bisa Ariel bercerai dengan Elea? Ku lihat Elea adalah perempuan baik dan sepertinya sangat sempurna sebagai seorang istri, apa Ariel tidak bisa melihat itu pada Elea...!"
Cahya tersenyum. "Itulah laki-laki, mereka sering kali tidak pernah mensyukuri hidupnya, padahal Tuhan sudah banyak memberinya hadiah yang begitu indah tetapi bagi mereka itu masih kurang indah sehingga melakukan hal lain untuk mendapatkan yang lebih indah dari yang sudah Tuhan berikan padanya" Cahya menjawab pertanyaan Brianna dengan tidak langsung ke pokok permasalahan yang terjadi tetapi Cahya yakin Brianna mengerti dengan ucapannya.
Brianna mengernyit tetapi dia mengerti maksud dari jawaban Cahya. "Apa hal yang lebih indah itu adalah Maysa??? Dia yang menggantikan posisi Elea di hati Ariel?? Kulihat Ariel begitu dekat dengannya, bahkan sepertinya semalam Maysa juga menginap dirumahnya, karena ku lihat Maysa masih mengenakan pakaian seperti yang semalam!"
"Bukan...! Ada wanita lain lagi dan Maysa adalah sekretaris Adit, mereka memang sempat memiliki hubungan tetapi itu berakhir, aku tidak tahu pastinya tapi ku rasa mereka berdua sedang mencoba memperbaiki hubungannya lagi"
"Setelah berpisah dengan Ariel, Elea berhubungan dengan Danist dan mereka menikah????" Brianna langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Cahya tersenyum, dia teringat betapa indahnya kisah cinta Elea dan Danist. "Bisa dibilang seperti itu, Danist seperti malaikat yang datang di hidup Elea!" Ujar Cahya.
"Malaikat???"
Cahya mengangguk. "Danist datang disaat yang tidak pernah kami duga, Danist adalah pegawai berprestasi dari anak perusahaan Aditya, dia bertemu dengan Elea disaat Elea sedang mengalami masa tersulit dihidupnya setelah berpisah dengan Ariel, skenario Tuhan tidak ada yang tahu, Elea resign dari tempat kerjanya dan atas saranku Aditya mempekerjakannya di kantor yang dimana Danist juga baru dipindahkan disana, mereka berdua kemudian bersahabat, Danist selalu ada untuk Elea, cinta Danist tumbuh seiring berjalannya waktu, perlahan dan semakin dalam, setelah Elea melahirkan, Danist jugalah yang mengumandangkan adzan ditelinga Gienka untuk pertama kalinya, Danist adalah cinta pertama Gienka itu sebabnya mereka berdua begitu dekat"
"Danist melakukan itu??? Memangnya Ariel kemana??"
Cahya pun menceritakan kondisi Elea saat bercerai dengan Ariel yaitu saat Elea hamil. Dan ketika Gienka lahir, Danist lah yang ada di dekat Elea, dan laki-laki itu yang menjadi penolong untuk Elea. Tetapi Cahya tidak menjelaskan secara detail semuanya, dan memilih pokok-pokoknya saja, karena ini adalah permasalahan pribadi antara Ariel, Elea dan Danist.
"Setelah Gienka lahir, Danist memutuskan untuk menikahi Elea, jadilah mereka seperti saat ini, kenapa aku menyebutnya malaikat untuk kehidupan Elea, ya karena Danist selalu ada dimasa tersulit Elea, aku sering mendengar dari adikku yang juga satu kantor dengan mereka, adikku bilang Danist begitu baik, bahkan juga selalu mengantar Elea untuk memeriksakan kehamilannya dan sering kali orang mengira dia adalah suami Elea, karena tergelitik dengan cerita adikku, aku langsung menanyakannya pada Danist, dan kau tahu apa jawabannya?? Danist berkata bahwa dia memang sangat mencintai Elea hanya saja tidak berani mengungkapnya takut Elea menolaknya, tetapi ketakutan itu tidak terjadi, mereka berbahagia sampai detik ini, cinta Danist begitu besar pada Elea hingga membuatnya menutup mata atas masalalu Elea dan menerima semua itu dengan tulus, selain Gienka kebahgiaan mereka terasa lebih sempurna lagi dengan kehadiran Friddie, bayi mereka yang saat ini berusia 5bulan"
Brianna hanya bisa terdiam mendengar semua fakta itu. Danist sepertinya memang sangat mencintai Elea, dan itu artinya lelaki itu sudah melupakannya sejak lama, padahal dia selama ini sudah menunggu Danist berharap laki-laki itu kembali kepadanya. Tetapi semua kenyataan ini membuat Brianna terluka. Dari semua pemaparan Cahya, terdengar jelas bahwa kehidupan Danist selama ini sangatlah bahagia dengan Elea. Tidak ada yang berubah dari Danist, bahwa lelaki itu masih memiliki kebaikan yang laur biasa dihatinya, bahkan mau menerima Elea yang sudah jekas pernah menikah. Elea pastilah perempuan yang begitu istimewa hingga bisa membuat Danist begitu mencintainya.
Brianna kemudian memanggil Gienka dan mengjaknya untuk kembali masuk. Sampai di depan ruang Icu, Gienka langsung memeluk Elea. Brianna kemudian menjelaskan bahwa kondisi Gienka jauh lebih baik dari kemarin, pertemuannya dengan Danist tadi membuat anak itu senang, tetapi Brianna mengatakan jika dia masih harus menemui Gienka beberapa kali lagi sebelum benar-benar memastikan bahwa Gienka tidak lagi mengalami trauma yang berat. Karena dia harus segera ke tenpat prakteknya, Brianna pun berpamitan kepada semua orang, dan memberikan doanya untuk kesembuhan Danist.
"Kau kesini naik taksi atau membawa mobil, jika kau naik taksi aku dan Cahya akan mengantarmu, sekalian kami harus membawa Gienka pulang" Tanya Aditya.
"Tidak Dit, sebenarnya tadi aku kesini dengan Ariel dan kekasihnya, siapa itu ya namanya Maysa, tetapi mereka sudah pulang lebih dulu, untungnya tadi aku tidak ikut semobil dengan mereka dan membawa mobilku sendiri, oke aku permisi dulu!" Dengan langkah cepat Brianna meninggalkan tempat itu.
Sampai diparkiran Brianna masuk ke mobilnya dan tiba-tiba tangisnya pecah di dalam sana. Penantiannya sia-sia, disaat dia bisa bertemu dengan Danist ternyata lelaki yang selama ini dicintainya itu sudah melupakan dirinya, bahkan sudah menikah dengan perempuan lain. Sejak tadi dia sudah berusaha menahan airmatanya tetapi baru sekarang dia bisa meluapkan semuanya. Sudah tidak ada lagi harapan untuk bersama Danist.
Sementara itu, Aditya mengajak Papa Elea untuk minum kopi di kantin rumah sakit. Dan Cahya meminta agar Elea mandi dan berganti pakaian, dia dan Mama Danist akan berjaga dan akan menemani Gienka. Elea pun menuruti ususlan Cahya, karena sejak kemarin dia memang belum mandi, dan tubuhnya juga terasa lengket sekali, beruntungnya Cahya membawakan pakaian untuknya.
Cahya tersenyum melihat Gienka sedang diciumi oleh Mama Danist seolah Gienka adalah cucu kandungnya sendiri. Cahya merasa sangat bersyukur karena Elea dioertemukan dengan orang-orang baik seperti Danist dan Mamanya yang mau menerima segala kekurangan Elea dengan baik, mencintai Elea dan Gienka dengan tulus. Dan Cahya berharap tidak ada orang lain lagi yang berusaha menghancurkan pernikahan Elea dan Danist. Ditengah lamunannya, Cahya di kejutkan oleh bunyi ponselnya, dan itu ternyata dari ibunya. Cahya mengucaokan permisi kepada Mama Danistntuk mengangkat telepon sebentar. Cahya pun menjauh dari Gienka dan Mama Danist.
"Bagaimana perasaanmu sayang setelah tadi melihat Papa Dan di dalam???" Tanya Mama Danist pada cucunya itu.
"Papa Dan tidulnya nyenyak sekali, tapi aku menyuluhnya agal cepat bangun dan bisa membelikanku es klim, oma....!!! Tadi tante Ann mencium kening Papa Dan, emm tangan papa Dan juga, aku melihat dia menangis, kenapa ya Oma? Apa Papa Dan sudah menolongnya sehingga tante Ann mengucapkan telima kasih dengan mencium Papa Dan sepelti saat aku membantu Ky, dia selalu menciumku"
Mendengar itu, Mama Danist langsung terperangah. Bahwa Brianna mencium Danist di depan Gienka.