
"Good Morning my wife" Aditya menyapa lembut ketika Cahya membuka matanya karena sudah hampir setengah jam yang lalu Aditya bangun, tetapi tidak bergerak dari ranjang. Dia berbaring miring di sana, meniupi mata Cahya yang sedang terpejam sambil bertumpu pada sikunya dan memandang isterinya yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Aditya sangat suka memandangi Cahya, dia bisa melakukannya berjam-jam tanpa bosan.
Cahya mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai dia menyadari bahwa ternyata hari masih gelap. Cahya tersenyum lalu meraih ponselnya dan melihat jam ternyata masih pukul 4 dini hari. Dia sedikit mengangkat kepalanya dan mengambil gelas berisi air lalu meminumnya dan kembali menempatkan kepalanya di bantal dan menatap Aditya sambil tersenyum.
Ingatan tentang percintaannya semalam dengan Adity kini membanjirinya, dan membuatnya merona malu. Aditya sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Cahya dengan menggoda.
"Apakah tidurmu nyenyak?" Aditya menatap Cahya dengan mesra, membuat Cahya kehabisan kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jemari Aditya menelusuri makin berani, dan menyentuh kewaniitaan Cahya lalu memeluknya dengan erat.
Napas Aditya agak terengah dan karena mereka berdua telanjang bulat dibalik selimut, Cahya bisa merasakan betapa kejanttanan Aditya telah menegang keras lagi. Cahya membiarkan jemari Aditya menyentuhnya. Tubuh Cahya begitu lembut, dan ia gemetar ketika Aditya menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif , berusaha menemukan pusat dirinya. Ketika akhirnya menemukannya, Aditya menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Cahyaa mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Aditya sendiri sudah menegang putus asa, dengan sekali tekanan. Aditya memiringkan tubuh Cahya hingga membuat mereka saking berhadapan lalu Aditya segera menenggelamkan dirinya ditubuh Cahya.
Aditya mulai bergerak secara perlahan membuat Cahya tidak bisa berhenti mengerang menikmati setiap gerakan yang Aditya lakukan. Percintaan mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Cahya mencengkeram punggung Aditya yang berotot,dia terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya. Gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Cahya bersamanya. Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang bergulung-gulung menghantam tubuh mereka.
Napas mereka berdua terengah-engah sambil berhadapan, kemudian dengan lembut Aditya mengecup bibir Cahya. "Thanks" Ucap Aditya sambil terengah lalu memeluk Cahya dengan sangat erat.
*****
Elea masuk ke kamar memanggil Danist untuk sarapan tetapi dia terkejut karena melihat lelaki itu sudah rapi. "Kau mau kemana? Kenapa sudah rapi?" Tanya Elea.
"Aku harus ke kantor"
"Kekantor? Bukankah kau diberi libur beberapa hari?"
Danist tersenyum. "Pak Aditya menyuruhku untuk ke kantor sebentar karena bu Dina ingin berkunjung, tetapi aku akan kembali lebih cepat, sekaligus ada yang ingin pak Aditya bahas denganku"
"Oh begitu, baiklah sekarang kita sarapan dulu"
Danist mengangguk lalu mengikuti Elea keluar kamar untuk sarapan bersama.
Disisi lain Cahya naik ke kamarnya untuk memanggil Aditya, karena sarapan sudah siap. Cahya menghampiri Aditya yang sedang memakai kemeja lalu membantunya mengancingkan kemeja itu. Aditya mendongakkan kepala Cahya lalu mengecup bibirnya dengan lembut. "Kau benar-benar membuatku tidak bisa berpaling darimu, kau selalu terlihat menggoda" Ucap Aditya.
"Hentikan omong kosongmu, dan ayo cepat turun, sarapan sudah siap, Ibu dan Mama sudah menunggumu dibawah"
"Tunggu sebentar lagi, mereka pasti mengerti, berikan aku ciuman sebelum aku pergi bekerja"
"Hentikan Aditya, kau ini"
"Sudah cukup, ayo turun cepat" Cahya menarik Aditya keluar dari kamar mereka.
Disisi lalin, Ariel terlalu kalut dengan pikirannya, membuatnya semalam tidak bisa tidur sama sekali. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, semuanya sudah berakhir. Hanya rasa penyesalan yang kini melingkupi dirinya. Ariel kini hanya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan bayinya saja, tidak ada lagi kesempatan untuk merebut hati Elea. Perempuan itu sudah menjadi milik orang lain.
*****
Cahya dan ibunya sedang sibuk bermain dengan kedua bayinya tiba-tiba ponselnya berdering, Aditya menghubunginya. "Ya sayang, ada apa?" Tanya Cahya.
"Apa kau bisa mengantar berkas ke kantor sekarang? Aku lupa membawanya, berkasnya sangat penting, aku harus menyerahkannya pada Danist agar bisa dia pelajari"
"Bisa aku bisa mengantarnya, berkasnya ada dimana??"
"Ada di map hijau diatas meja, aku menaruhnya dibawa laptop"
"Aku akan mengantarnya, kebetulan ada pak Mizan disini, aku akan meminjam motornya dan akan mengantarnya kesana, bolehkan?"
"Baiklah aku menunggumu, kau hati-hati"
Cahya kemudian menutup telepon dan meminta ibunya untuk menjaga Kyra dan Kyros karena dia harus pergi ke kantor perkebunan sebentar untuk mengantar berkas Aditya.
Setelah mengambil berkas Aditya, Cahya langsung pergi keluar dan meminjam motor pak Mizan. Cahya mengendarai dengan pelan dan berhati-hati karena sudah lama dia tidak mengendarai motor.
Hingga akhirnya sampailah Cahya dikantor perkebunan, dan langsung memarkir motor itu lalu membuka jok motornya untuk mengambil berkas miliki suaminya. Cahya datang dengan penampilan alakadarnya memakai rok dan Tshirt juga sebuah sweater yang tadi begitu saja dia ambil dari lemari, dan bersandal jepit karena memang hanya sebatas ingin mengantar berkas lalu akan langsung kembali ke villa. Karena naik motor, rambut Cahya juga terlihat berantakan, tetapi dia tetap cuek karena harus segera buru-buru bertemu Aditya.
Cahya mengambil ponselnya dan menghubungi Aditya memberitahu jika dia sudah ada diluar kantor dan enggan masuk karena penampilannya tidak cukup bagus. Aditya ada didalm kantor sedang mengobrol dengan Sang Mama dan menyuruh Cahya untuk menunggu sebentar.
"Oke" Jawab Cahya singkat.
Cahya dikejutkan oleh seseorang yang menyentuh pundaknya dari belakang. Saat dia membalikkan badan, ada laki-laki sedang berdiri didepannya lalu melempar senyum padanya. Cahya sangat mengenal wajah itu, wajah yang tidak asing baginya, tetapi sudah sangat lama dia tidak melihatnya. "Bara...???" Ucap Cahya pelan.
"Hai, tadi ku pikir itu bukan dirimu, jadi untuk memastikannya apa itu benar kau atau bukan, aku langsung menghampirimu, ternyata itu memang dirimu"
Cahya menelan ludahnya, terkejut dengan apa yang ditemuinya saat ini. Bara adalah teman SMA nya dulu, mereka satu kelas, dan Cahya dulu sangat menyukai lelaki itu karena dia begitu terkenal disekolah karena memiliki wajah yang rupawan dan dia dulu seorang anggota tim basket, sehingga banyak teman-temannya yang perempuan menaruh hati pada lelaki ini termasuk dirinya. Bara ternyata tidak berubah dia masih seperti dulu tetap terlihat rupawan dan tampan. Cahya menggelengkan kepalanya mencoba mengaburkan pikirannya tentang pria yang ada didepannya saat ini.