SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Pencarian Aditya



Theo semakin mendekat dan Cahya sangat ketakutan, airmatanya mulai menetes dan tidak tahu harus berbuat apa.


" Theo, bisakah aku pulang, biarkan aku pulang dan masalah kita sudah selesai kita sudah saling memaafkan" Cahya menyeka airmatanya dan memohon kepada Theo.


" Pulang??? Tidak!!! aku tidak akan membiarkanmu pulang, kita harus bersama mulai saat ini"


" Theo, bagaimana bisa kita bersama, kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing, Aditya sedang menungguku tolong biarkan aku pulang"


" Aditya! Aditya dan Aditya berhentilakh menyebit namanya didepanku, aku muak mendengar namanya, apa kau tahu si brengsek itu telah mengambil semua yang ada dihidupku, dia merebutmu dariku, dia menghancurkan pernikahan ku dan memenjarakan istriku didepan semua orang bahkan dia menghancurkan pekerjaanku, sekarang saatnya aku akan menghancurkan hidupnya, aku akan membawamu pergi dan dia tidak akan pernah bisa menemukanmu, kau akan kembali menjadi milikku"


" Theo aku minta maaf atas semua yang sudah dilakukan suamiku, aku akan menyuruhnya meminta maaf padamu, tapi biarkan aku pergi dari sini, please"


" Diam ... !!! sekarang kau diamlah disini, jangan berdebat denganku, dan besok kita akan pergi jauh dari sini"


Theo meninggalkan Cahya dan menutup lagi pintu kamar itu. Cahya menangis dan menggedor pintu agar Theo mau membuka nya dan membiarkannya pergi tetapi lagi-lagi usaha Cahya tidak membuahkan hasil. Dia semakin ketakutan, bagaimana jika nanti Theo benar-benar membawanya pergi. Saat ini dia sendiri tidak tau dia berada dimana, bagaimana mungkin Aditya bisa menemukannya.


***


Aditya mengemudikan mobilnya dengan kencang, tidak tahu harus kemana mencari istrinya, sampai kemudian dia teringat sesuatu.


" Shiit... Aku terlalu khawatir sampai aku lupa jika aku bisa mencari Cahya menggunakan Gps, ponselnya juga masih aktif tentu dengan mudah aku bisa melacaknya"


Aditya sekali lagi menghubungi Cahya untuk memastikan jika ponsel istrinya itu masih aktif dan benar saja ponsel itu masih aktif. Aditya kemudian mengecek dimana keberadaan Cahya. Sampai akhirnya lokasinya terdeteksi, Cahya berada di luar kota tetapi tidak jauh dari Jakarta.


Segera Aditya menuju kesana, tidak lupa dia menghubungi Randy untuk membantunya, dia khawatir jika Theo membawa anak buah dan itu bisa membahayakannya dan juga istrinya.


" Hallo Ran, lo dimana, bisa bantu gue?" Tanya Aditya.


" Ya Dit, gue lagi di rumah, lo minta bantuan apa?" Jawab Randy di ujung telepon.


Aditya kemudian menjelaskan semuanya dan meminta Randy untuk segera menyusulnya dan ternyata Ariel juga ada dirumah Randy. Saat ini yang diharapkan Aditya hanyalah keselamatan istrinya dan juga bayi yang ada dikandungannya, mengingat Cahya tidak boleh merasa cemas atau khawatir yang justru bisa membahayakan bayinya.


Aditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera bisa menyelamatkan Cahya dengan segera. Dia juga harus memastikan keadaan istrinya baik-baik saja. Kali ini dia tidak akan membiarkan Theo lolos.


" Berani sekali kau menculik istriku, sialan kau Theo, aku tidak akan mengampunimu" Gumam Aditya kesal.


****


Cahya terus menangisi keadaannya sekarang, dan perutnya terasa sakit, dia terus membayangkan bagaimana jika Theo benar-benar membawanya pergi. Dia merasa sangat menyesal kenapa tadi dia menemui Theo tanpa sepengetahuan Aditya pasti saat ini suaminya mengalami kebingungan karena dirinya belum pulang.


" Aditya, maafkan aku atas semua kebodohanku hari ini, maafkan aku" Tangisan Cahya pecah mengingat Aditya.


Disisi lain Aditya masihh terus mengemudikan mobilnya dengan tetap mengikuti petunjuk dari ponselnya. Dia merasa sangat yakin jika Theo menyekap istrinya disebuah bangunan mengingat tidak ada pergerakan sama sekali dari maps istrinya. Tetapi Aditya juga dilanda ketakutan karena bisa saja ponsel Cahya terjatuh atau dibuang oleh Theo ditempat itu.


" Semoga saja ponsel itu benar-benar bisa membawaku menyelamatkan istriku"


Theo masuk ke dalam mobilnya dan menemukan tas Cahya di dalamnya, lalu membukanya dan menemukan ponsel milik Cahya. Terdapat puluhan panggilan dari Aditya, Theo tersenyum jahat lalu mematikan ponsel itu.


" Rupanya kau tidak mau menyerah Aditya brengsek" Gumamnya lalu membuang ponsel Cahya keluar dan segera pergi untuk membeli makanan untuk Cahya.


Aditya masih fokus mengemudi tetapi terkejut saat melirik ponselnya, ternyata mapsnya mati menandakan jika ponsel Cahya sudah tidak aktif. Tetapi untungnya dia mengingat nama jalan itu, dan berpikir mungkin ponsel Cahya kehabisan baterai. Dia juga semakin dekat dengan alamat itu. Aditya kembali menghubungi Randy dan menanyakan keberadaannya.


***


Sampailah Aditya di sebuah jalan yang tadi menunjukkan dimana ponsel Cahya berada. Jalanan itu terlihat sepi, dia memperlambat laju mobilnya sambil terus melihat keadaan disekitar berharap menemukan petunjuk. Dia sangat kesal karena saat dia semakin dekat ponsel Cahya justru mati, membuatnya semakin sulit menemukan keberadaan istrinya.


Sampai akhirnya dia melihat sebuah rumah. Hanya 1 rumah dan disekelilingnya tidak ada rumah yang lain. Aditya menghentikan mobilnya sedikit jauh dari rumah itu.


" Tidak ada salahnya aku mencari Cahya disini, siapa tahu si brengsek itu menyekap istriku disini" Gumam Aditya.


Dia berjalan pelan dan melihat keadaan sekitar dan harus berhati-hati, jika Theo mengetahui kedatangannya dia bisa saja menyakiti Cahya.


Rumah itu terlihat sangat sepi, seperti tidak ada penghuninya. Aditya tetap waspada melihat sekeliling dan berjalan hati-hati memasuki gerbang rumah itu.


Krek.....


Aditya menginjak sesuatu, saat dilihat ternyata itu adalah sebuah ponsel dan mengambilnya. Dia mengenal ponsel itu, itu adalah ponsel yang dia berikan untuk Cahya. Dia menyalakan ponsel itu dan benar saja itu adalah ponsel Cahya karena wallpapernya ada fotonya dan istrinya.


Aditya sangat yakin jika Cahya benar-benar disekap dirumah ini, tapi dia tidak boleh buru-buru dan harus ekstra hati-hati karena bisa saja Theo membawa anak buah dan justru malah bisa menyakiti istrinya. Aditya lalu mengeshare lokasinya saat ini pada Ariel, agar mereka bisa segera menyusulnya.


Aditya perlahan mulai masuk dan membuka pintu rumah itu, tapi ternyata di kunci. " Sial pintunya terkunci" Gumamnya kesal.


Matanya melirik kanan kiri mencoba mencari cara lain tetapi tidak menemukan apapun yang bisa membantunya. Mau tidak mau dia harus menghancurkan pintu itu.


Aditya terus mencoba mendobrak pintu itu sampai akhirnya pintu itu benar-benar terbuka. Segera Aditya melihat suasana rumah itu ternyata tidak ada siapapun. Bergegas dia mencari Cahya dan memanggil namanya.


" Cahya, Ca kau dimana?? Cahya...!!!"


Cahya menghentikan tangisannya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Cahya menyadari jika itu bukan suara Theo tetapi suara suaminya dan dia langsung beranjak dari tempat tidur lalu berteriak memanggil nama suaminya sambil menggedor pintu kamar itu.


Mendengar teriakan Cahya, Aditya berlari mencari sumber suara itu dan akhirnya menemukannya.


" Sayang apa kau yang disana??" Ucap Aditya dibalik pintu.


" Adit, tolong keluarkan aku dari sini" Suara Cahya terdengar sangat memilukan.


" Minggirlah dari depan pintu, aku akan mendobrak pintu ini, tenanglah sayang, aku akan segera membawamu pulang"


Aditya berusaha keras untuk mendobrak pintu itu dan akhirnya terbuka. Setelah terbuka Cahya langsung berlari ingin memeluk suaminya, tetapi dia terhenti saat melihat Theo datang dengan tatapan marah ke arahnya.