SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 381



Aditya dan Randy mengajak Ariel untuk menjauh dari ruang operasi, meskipun Ariel terus menolak tetapi mereka tidak ada pilihan lain. Bukan karena tidak kasihan kepada Ariel, tetapi mereka ingin agar suasana tidak semakin memburuk mengingat Elea masih terlihat sangat marah kepada Ariel.


"Kenapa kalian tidak mau mengerti? Biarkan aku disini??"


"Iel...!!! Aku tahu kau sangat terpukul dengan hal ini tetapi jangan menambah kesedihan Elea, kau pulang dan tenangkan dirimu lebih dulu, Elea juga butuh waktu untuk menenangkan dirinya, jika keadaan sudah membaik, kau bisa datang kesini lagi melihat Danist!" Aditya mencoba memberi Ariel pengertian.


"Adit benar Iel, lebih baik kau pulang saja, ah iya saat ini Gienka sangat sedih, lebih baik kau temui dan tenangkan dia"


Randy dan Aditya kemudian menjelaskan semua yang terjadi pada Gienka saat ini. Bagaimana anak itu menolak makan dan minum serta ketakutannya saat berada di dalam ruangan. Mendengar itu, Ariel terkejut dan langsung memutuskan untuk segera pulang. Tidak lupa Ariel meminta agar Randy dan Aditya menghubunginya mengenai perkembangan dari Danist.


Setelah kepergian Ariel, Aditya dan Randy kembali ke ruang operasi, ternyata Danist baru saja dikeluarkan dari sana dan akan dibawa ke ruang ICU untuk perawatan selanjutnya lagi.


★★★★★★


Ditempat lain.....


Perempuan itu turun dari mobilnya, berhenti disebuah rumah cluster yang sudah diberitahu oleh Aditya. Dia sangat cantik, dengan tubuhnya yang tinggi dan rambutnya tergerai indah. Ditangannya selain membawa tas dia juga menenteng papperbag berisi mainan. Dan dia mengetuk pintu dengan sopan sambil mengucap salam. Nyonya Harry membuka pintu dan lalu perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Brianna, psikolog anak yang tadi dihubungi oleh Aditya dan diminta membantu untuk melihat keadaan seorang anak kecil berusia 5tahun. Nyonya Harry tersenyum dan menyambutnya kemudian mengatakan jika Aditya sudah menghubunginya memberitahu jika Brianna akan datang. Kemudian Nyonya Harry pun memanggil supir agar mengantar Brianna ke taman yang ada didekat sini untuk bertemu langsung dengan Gienka, sehingga Brianna bisa memeriksa kondisi Gienka.


Tidak butuh lama, akhirnya mereka sampai di taman itu. Supir kemudian mengantar Brianna masuk ke taman kemudian menghampiri Chitra dan Maysa yang sedang bersama dengan Gienka. "Permisi bu, ini ada Ibu Brianna, beliau ditugaskan pak Aditya untuk datang dan memeriksa Gienka" Ucap Supir itu.


Brianna tersenyum lalu menyalami Maysa. "Aku Brianna seorang psikolog anak, Aditya menghubungiku tadi dan memintaku datang malam ini juga, padahal jika diluar jam kerja aku akan menolak, tetapi karena Aditya temanku saat SMA jadi akubtidak bisa menolak permintaannya" Ucap Brianna memperkenalkan diri kemudian bergantian menyalami Chitra. Brianna sangat cantik dan senyumnya yang manis itu menambah kecantikan di wajahnya. Suaranya juga terdengar lembut dan menenangkan, sangat cocok jika dia menjadi psikolog anak


"Aku seperti pernah melihatmu??? Tapi dimana ya???" Brianna memandang Chitra dan mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Hmmm dimana ya??? Apa kau istri Aditya???"


"Ah bukan... Aku bukan istri Aditya, aku istrinya Randy..!" Jawab Chitra dengan cepat, mendengar ucapan Brianna tadi bahwa perempuan itu ternyata adalah teman SMA Aditya sudah tentu dia pasti mengenal Randy.


"Randy??? Oh ya ampun, iya iya aku pernah melihatmu di foto yang pernah di unggah oleh Aditya di sosial medianya, ya ya aku ingat sekali...!! Senang sekali bisa berjumpa denganmu, suamimu itu dulu sangat terkenal jahil disekolah, dan sering membuat ulah tetapi meski begitu dia disukai oleh anak-anak karena sangat kocak, oh iya apakah dia Gienka??" Brianna menunjuk ke arah Gienka yang duduk dan memandang diam ke depan.


"Iya...! Dia Gienka" Jawab Chitra.


Brianna kembali tersenyum. "Aditya sudah menceritakan semuanya kepadaku tentang apa yang terjadi pada anak cantik itu, aku akan mencoba menanganinya"


"Aku harap kau bisa membantu kami, dia sangat shock sekali dan keceriaan yang biasanya ada diwajahnya tidak lagi terlihat sejak tadi, aku dan Maysa akan kesana jadi kau bisa leluasa berdua dengannya" Chitra dan Maysa kemudian meninggalkan Brianna dan Gienka.


Brianna duduk disebelah Gienka. "Hai anak manis...! Bolehkan tante duduk disini??"


Gienka menoleh lalu mengangguk, membuat Brianna tersenyum. Brianna tidak berhenti memuji di dalam hatinya betapa cantik dan manisnya anak kecil yang ada disebelahnya ini. Brianna mengeluarkan mainan serta snack, susu dan cokelat yang di bawanya dan menawarkannya pada Gienka untuk melakukan pendekatan awal sebelum dia melakukan tugasnya menangani trauma dari Gienka.


★★★★★★


Maysa dan Chitra hanya memandang dari kejauhan Gienka yang sedang di pangkuan Brianna. Mereka berdua berharap Brianna berhasil dengan upayanya untuk membantu Gienka. Senyum Maysa serta Chitra tersungging di bibirnya ketika menyadari bahwa Gienka terlihat sedang memakan snack yang dibawa oleh Brianna. Cukup lama sekali mereka duduk menunggu Brianna dan Gienka selesai, dan terlihat Chitra mulai kelelahan dengan kondisi kehamilannya. Maysa segera menyadari hal itu.


"Anda terlihat lelah sekali, lebih baik anda kembali lebih dulu ke rumah bu Dina, biar saya sendiri yang menunggu mereka disini" Ucap Maysa.


"Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendiri May"


"Tidak apa, disini ada Brianna dan Gienka, anda kembali saja bersama supir, mari saya antar ke depan"


Maysa dan Chitra berdiri dan keluar dari area taman menuju tempat mobil berada. Chitra pun masuk ke mobil dan meninggalkan Maysa. Disaat mobil yang ditumpangi Chitra pergi dan Maysa hendak kembali ke taman, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan Maysa. Ya itu adalah mobil Ariel, dan laki-laki itu keluar dari sana dengan wajah penuh kesedihan, membuat Maysa panik dan langsung menanyakan keadaannya dan keadaan Danist saat ini. Ariel hanya mengatakan jika nanti dia akan menceritakan semuanya kepadanya. Kemudian Ariel berganti menanyakan keberadaan dari Gienka kepada Maysa.


"Gienka ada disana, dia bersama seorang psikolog yang dikirim oleh pak Aditya, kita jangan mengganggu mereka, tenanglah..! Geinka akan baik-baik saja" Gumam Maysa kemudian mengajak Ariel duduk di bangku yang tadi dia duduki bersama Chitra.


Hingga akhirnya, Brianna berdiri dari tempat duduknya dengan menggendong Gienka di pundaknya, karena bocah itu saat ini sudah tidur. Brianna senang karena ternyata dia bisa mengambil hati Gienka dengan cepat, dan anak itu juga menjawab semua pertanyaannya dengan baik. Brianna menghampiri Maysa, tetapi kemudian dia dikejutkan dengan laki-laki yang ada di depannya, begitu juga dengan Ariel yang baru menyadari jika ternyata psikolog itu adalah Brianna teman SMA dulu.


"Brianna??? Kau???"


"Ariel??? Apa kabar???" Tanya Brianna.


"Aku baik, jadi Aditya memanggilmu untuk membantu putriku??"


Brianna menggerutkan dahinya kemudian memandang Gienka yang terlelap dipundaknya. "Oh jadi anak manis ini adalah putrimu?? Astaga... Aku sama sekali tidak tahu" Brianna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya dia putriku, bagaimana keadaannya sekarang?"


Brianna mengatakan bahwa kondisi Gienka baik-baik saja saat ini, hanya saja memang dia mengalami tekanan yang luar biasa membuatnya merasa cemas dan ketakutan atas apa terjadi di depannya hari ini. Dan ini baru awal karena Brianna masih harus menemui Gienka beberapa kali lagi sampai anak itu benar-benar dalam kondisi baik seperti sedia kala. Karena Gienka sudah tidur, Brianna mengajak Ariel dan Maysa untuk segera membawa Gienka pulang, dan besok dia akan datang lagi untuk memeriksa keadaan anak ini. Ariel mengambil Gienka dari gendongan Brianna dan berjalan menuju mobilnya.


Gienka dibaringkan di kursi belakang dengan posisi kepala anak itu ditumpu oleh paha Maysa. Sementara Brianna duduk di sebelah Ariel yang sedang mengemudikan mobilnya. "Apa dia istrimu??" Tanya Brianna pada Ariel.


"Oh bukan, dia temanku, aku belum menikah lagi" jawab Ariel.


"Jadi kau berpisah dengan istrimu?? Kenapa Iel? Padahal kalian memiliki putri yang begitu cantik"


Ariel tersenyum. "Bukan jodoh, mantan istriku juga sudah menikah lagi tetapi kami berkomitmen untuk merawat Gienka dengan baik, sehingga dia tidak kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya, suami mantan istriku saat ini juga sangat menyayangi Gienka"


Akhirnya Brianna mulai mengerti, tadi memang Gienka menyebut nama Papa Yel dan Papa Dan, mungkin yang dimaksud disini adalah Ariel serta Papa tiri dari Gienka.Saat menghubunginya, Aditya tadi hanya menjelaskan tentang permasalahan Gienka saja tidak menjelaskan hal lainnya.


"Owh....!! Aku baru mengerti sekarang, sebenarnya tadi aku masih bingung ketika putrimu menyebut dua nama Papa yang berbeda" Gumam Brianna.


"Kudengar kau tinggal di Denpasar dan ternyata kau ada disini?"


"Ya aku memang tinggal disana sebelumnya, tetapi aku membuka praktek disini sekitar dua bulan yang lalu"


"Itu bagus sekali, oh iya anakmu sekarang sudah berapa Ann???" Tanya Ariel.


"Anak??? Menikah saja aku belum! Apa wajahku begitu tua ya?? Haha??"


"Kau belum menikah??? Kenapa??"


"Karena aku menunggumu....!!! Kau dulu menolak ku karena aku masih dekil dan tomboy, tetapi kau bisa lihat sekarang aku sudah berubah, jadi bagaimana apa aku sudah masuk tipemu???"


Ariel tertawa mendengar jawaban Brianna, dan kemudian tawa Brianna juga terdengar. Mereka berdua tertawa membuat suasana di dalam mobil itu menjadi sedikit ceria dan Ariel sedikit bisa melupakan kesedihannya. Sementara Maysa hanya diam mendengarkan kedua orang didepannya itu sedang membicarakan masalalu mereka. Dan Maysa baru tahu bahwa ternyata Brianna dulu pernah ditolak Ariel.


Mereka sampai di rumah orangtua Aditya, mobil Brianna ada disana jadi Ariel mengantarnya kesana. Kemudian Brianna berjanji besok akan datang lagi, Ariel memberikan alamatnya agar Brianna bisa langsung datang ke rumahnya. Setelah berpamitan dengan keluarga Aditya juga Chitra, Brianna pun pergi. Begitu juga dengan Ariel, dia mengucapkan terima kasih kepada Chitra dan orangtua Aditya karena sudah membantunya menjaga Gienka seharian ini. Tetapi Ariel tidak lupa menitipkan mobil Maysa sementara karena dia akan mengajak Maysa untuk ke rumah ya dan menemani Gienka malam ini.


"Brianna sangat cantik, kenapa dulu kau menolaknya??" Tanya Maysa. Kini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Ariel.


"Hahaha kau mendengarkan obrolan kami, itu hanya sepenggal kisah konyolku dulu saat sekolah" Ariel membelokkan mobilnya kemudian turun dari mobil untuk membuka pintu garasi.


Maysa mengusap kepala Gienka tetapi pandangannya tertuju pada Ariel. Entah kenapa ada perasaan aneh yang terjadi padanya saat mendengar cerita masalalu Ariel dan Brianna.