
"Kalian berdua pasti lapar, sejak kemarin kalian tidak makan apapun, aku akan membeli sesuatu di kantin, Adit kau juga akan melakukan donor, tidak baik jika perutmu kosong" Ujar Elea kemudian mengarahkan pandangannya ke Danist. "Sayang, ambilkan pakaian mereka di mobil, Aditya sangat berantakan bahkan ada noda darah juga di T-shirtnya".
Danist mengangguk dan pergi meninggalkan koridor rumah sakit, begitu juga Elea, dia akan ke kantin rumah sakit membeli makanan. Elea meminta Chitra untuk mendampingi Cahya.
Seorang perawat keluar dari ruangan Icu. "Permisi, dokter mengijinkan kedua orangtua Kyros untuk masuk melihat keadaannya, tetapi hanya 2 menit saja, silakan"
Aditya dan Cahya masuk ke ruangan itu dengan memakai pakaian khusus, saat itu juga tangis Cahya kembali pecah melihat keadaan Kyros yang terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya serta selang transfusi darah di tangannya. Aditya mengusap lembut kening Kyros, dia juga menitihkan airmatanya, membayangkan semua kejahatan Cyntia pada bayi kecil yang tidak berdosa ini kemarin dan hari ini pastilah sangat menyiksa tubuh kecilnya. Aditya mengingat juga bagaimana kesakitan yang dialami Cahya saat berjuang melahirkan Kyros, bagaimana mereka melimpahkan semua kasih sayangnya untuk menjamin kebahagiaan serta kesehatan Kyros tetapi dengan mudahnya orang lain menyakiti bayi ini dan hampir merenggut nyawanya. Jika bisa Aditya ingin sekali mematahkan kedua tangan Cyntia bahkan juga ingin sekali menendang wajahnya, Aditya tidak peduli walaupun dia seorang perempuan karena Cyntia juga tidak memperdulikan bahwa Kyros hanyalah seorang bayi yang tidak tahu apapun tetapi diperlakukan begitu kejamnya.
Cahya memeluk Aditya sambil terisak, dia tidak tahan lagi melihat keadaan Kyros, hatinya sangat hancur dan mengajak Aditya untuk segera keluar dengan menarik tangannya karena suaranya sudah habis. Aditya menahannya lalu dia membungkukkan tubuhnya dan mencium lembut kening Kyros seraya berbisik di telinga bayi itu. "Ky kuat ya nak, Ky pasti akan segera sembuh dan bisa bermain lagi dengan Apap dan Amam juga Kyra di rumah, semua orang berdoa untuk kesembuhan Ky"
Aditya berdiri lagi kemudian menyeka airmatanya dan tersenyum ke Kyros lalu membawa Cahya keluar dari ruangan itu. Saat keluar dari ruangan ICU, Chitra, Ariel, Randy dan Danist melihat wajah Aditya dan Cahya yang begitu sedih. Chitra menghampiri Cahya dan mengusap penggung sahabatnya itu untuk memberinya kekuatan bahwa Kyros pasti akan segera sembuh.
"Lebih baik kalian berdua pergi ke untuk mandi, Danist dan Elea sudah membawakan kalian pakaian ganti, Dan...! Berikan pakaiannya pada mereka" Ujar Randy.
Danist kemudian memberikan pepper bag kepada Cahya dan Aditya, dimana itu berisi pakaian untuk mereka yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Ibu Cahya saat Danist dan Elea mengantar Gienka dan Mama Elea kesana.
******
Aditya kembali lebih dulu, dia terlihat lebih segar dan lebih baik dari sebelumnya. Randy kemudian menyuruhnya untuk menemui dokter, karena saat pergi tadi perawat mencarinya karena dokter ingin menjelaskan sesuatu. Aditya pun pergi untuk menemui dokter tak lama setelah itu Cahya juga akhirnya kembali menghampiri yang lainnya. Elea berdiri dan tersenyum kepadanya.
"Duduk dan minumlah ini, aku membeli jeruk hangat untukmu, mungkin ini akan sedikit membantu gangguan tenggorokkanmu, Adit saat ini sedang menemui dokter" Elea juga memberikan roti pada Cahya tetapi dia menolaknya.
"Ayolah Ca, kau tidak makan apapun sejak kemarin, Kyros sudah ada disini dia akan baik-baik saja, jangan sampai kau malah ikut sakit juga, ayo habiskan rotinya" Chitra juga ikut memaksa agar Cahya mau menghabiskan makanan dan minuman yang dibelikan Elea.
Akhirnya Aditya keluar dengan wajah yang sedang menahan amarah sambil membawa amplop yang sepertinya berisi tentang laporan pemeriksaan Kyros.
"Ini hasil visum dan pemeriksaan Kyros, aku ingin kalian membawanya ke kantor polisi sebagai pelengkap laporan kasus ini, tidak perlu sekarang kalian bisa melakukannya besok, aku tahu kalian saat ini pasti sangat lelah, pulanglah"
"Kau tidak apa-apa disini dengan Cahya??" Tanya Randy.
"Tidak apa, Danist dan Elea juga ada disini, kalian berdua dan Chitra beristirahatlah di rumah, besok kalian bisa kesini lagi karena jika kondisi Ky membaik hari ini, dia akan langsung di pindah ke ruangan rawat inap, oh iya aku juga nanti akan menghubungi pengacaraku agar besok dia bisa membantu kalian mengurus ini"
"Oke baiklah, besok aku dan Ariel akan mengurusnya"
Kondisi Ky mulai membaik dan stabil membuatnya malam ini langsung di pindahkan ke ruang rawat inap. Kyros juga sudah sadar walaupun masih sangat lemah. Aditya membaringkan tubuhnya di sofa dan tertidur disana, dia terlalu lelah dan semalam dia tidak tidur sama sekali. Cahya berdiri dan membungkuk di sebelah ranjang perawatan Kyros dan dia tidak melepaskan pegangannya dari jemari mungil Kyros sambil memandangnya dengan penuh kesedihan. Mata Kyros juga memandang ke wajah Cahya yang ada di depannya, Kyros hanya mengedipkan matanya, tidak tersenyum atau membuka mulutnya.
Cahya tidak bisa berbicara karena suaranya habis tetapi dia mencoba mengajak Kyros tersenyum. Walau Cahya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya tetapi senyum dan tawa Kyros harus kembali seperti sebelumnya. Perlahan dan penuh kelembutan Cahya mengusap kening Kyros serta terus menciumi jemari mungilnya. Tak lama Kyros pun mulai memejamkan matanya dan tidur.
"El....!!!" Cahya mencoba bersuara.
"Ya Ca, apa kau perlu sesuatu???"
"Pulanglah dan beristirahatlah, aku akan disini bersama Adit, Gienka pasti membutuhkanmu"
"Kau tidak apa-apa???"
Cahya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum.
"Baiklah, besok pagi aku akan kesini lagi dan membawa pakaian untuk kalian, kau jaga diri dan beristirahat ya, banyak yang akan menjaga Kyra dirumah" Elea kemudian memeluk Cahya.
Elea dan Danist keluar dari ruangan perawatan Kyros dengan tidak membangunkan Aditya, karena mereka tahu Aditya saat ini pasti sangat lelah. Saat baru keluar dari pintu, langkah mereka terhenti saat melihat Theo berada di depan mereka. Elea tahu Theo pasti ingin menemui Cahya dan Aditya untuk meminta maaf. Elea mengetuk pintu dan mengajak Theo untuk masuk.
Cahya baru duduk di kursi dan di kejutkan dengan kedatangan Elea dan Daniat lagi, tetapi kemudian dia melihat ada Theo di belakang mereka.
"Apa aku boleh masuk??" Tanya Theo.
Cahya berdiri dan menganggukkan kepalanya, sementara Elea dan Danist berpamitan lagi dan meninggalkan mereka. Theo mengucapkan terima kasih kepada Cahya karena mengijinkannya untuk masuk. Cahya kemudian membangunkan Aditya.
Aditya bangun dan mengerjapkan matanya, dia masih sangat mengantuk tetapi berusaha untuk membuka matanya. "Ada apa sayang?? Apa Kyros baik-baik saja?" Aditya berdiri dan hendak menuju ranjang Kyros tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya saat melihat Theo berdiri belakang pintu.
"Selamat malam!" Ucap Theo.
"Malam" Jawab Aditya datar.
Theo mengulurkan tangannya berniat menyalami Aditya tetapi Aditya hanya diam tanpa ekspresi.