
Keesokan harinya, Aditya enggan bangun dari tidurnya, dia merasa sangat lelah dan mengantuk, itu juga yang dirasakan oleh Cahya, tetapi dia tidak bisa melakukan hal yang sama karena harus mengurus bayinya dan membuat sarapan untuk dirinya dan Aditya. Tetapi Cahya terbangun dengan perasaan yang luar biasa bahagia, setelah penantiannya akhirnya dia dan Aditya bisa melakukannya lagi dan rasanya sangat luar biasa. Cahya bangun dan sebelum beranjak meninggalkan dari tempat tidurnya, dia mengecup kening Aditya.
Cahya mengganti pakaiannya dan Kyros bangun dan menangis sedangkan Kyra masih tertidur. Cahya mengangkatnya dan menenangkannya lebih dulu sebelum memandikannya. Cahya tidak ingin mengganggu Aditya yang masih tertidur. Cahya membawa Kyros ke kamar mandi dan memandikan bayi itu dengan air hangat.
Kyros sudah terlihat semakin tampan setelah mandi dan berganti pakaian. Terdengar suara bel didepan, sepertinya ada yang datang, Cahya berpikir mungkin itu Chika atau Elea yang datang. Cahya menggendong Kyros dan turun ke bawah untuk membuka pintu. Benar saja ternyata Chika datang dengan senyumannya yang ceria menyapa Cahya dan keponakannya.
"Kyros sayang, good morning!!!!"
"Ah kebetulan sekali kau datang, bermainlah dengan Kyros, aku harus naik ke atas melihat Kyra dan memandikannya"
"Memangnya kak Adit kemana?"
"Adit masih tidur, dan aku tidak mau mengganggunya, bermainlah sebentar dengan Kyros tapi didalam saja jangan ajak dia ke taman, udaranya masih dingin" Cahya lalu memberikan Kyros pada Chika dan langsung naik ke atas mengecek Kyra.
*****
Cahya akhirnya turun membawa Kyra yang sudah terlihat cantik setelah mandi. Ternyata Cahya dikejutkan dengan kehadiran Adri yang sedang menggendong Kyros bersama Chika.
"Adri kau?? Sepagi ini sudah sampai disini?" Tanya Cahya.
"Iya kak, setelah subuh aku langsung kesini, semalam Mama dan Papa sudah berangkat, dan aku tidak mau sarapan sendirian dirumah, jadi aku kesini saja"
"Kau ini, ya sudah nanti kita sarapan bersama, ajak keponakanmu bermain, aku akan siapkan sarapan untuk kalian"
Cahya memberikan Kyra pada Chika dan meninggalkan mereka untuk membuat sarapan didapur. Cahya mulai memasak membuat nasi goreng untuk sarapan kali ini. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian dia sudah selesai dan memanggil Chika serta Adri untuk ke ruang makan dan sarapan.
Chika dan Adri menaruh Kyros serta Kyra di stroller dan duduk menikmati nasi goreng yang sudah Cahya siapkan untuk mereka.
"Kak Adit dimana kak?? Apa dia tidak turun untuk sarapan?" Tanya Adri, karena sejak tadi dia belum melihat Aditya sama sekali.
"Kakakmu masih tidur, aku tidak mengganggunya, jika lapar pasti dia akan turun dengan sendiri nya"
"Mata kak Cahya juga menghitam, kakak pasti juga kurang tidur ya?"
"Tentu saja kakak kurang tidur, mengurus bayi itu juga bukan perkara yang mudah, mereka sering menangis ditengah malam, kau pikir enak menjadi seorang ibu? Kak Adit juga selalu menemani kak Cahya setiap malam mengurus Kyra dan Kyros, kau juga harus melakukannya nanti jika kau menjadi suami jangan hanya mau enaknya saja" Sahut Chika.
"Kau membahas jika aku menjadi suami, apa kau ingin kita segera menikah? Jika iya aku akan bilang pada Mama Papa dan Kak Adit agar mereka segera melamarmu?"
"Tidaaakkkk.....!!! Tidak untuk sekarang" Jawab Chika dengan cepat.
Cahya hanya melempar senyumnya melihat perdebatan kedua adiknya. "Sudah, Sudah jangan berdebat dan segera habiskan sarapan kalian"
*****
Aditya akhirnya turun ke bawah setelah hari cukup siang. Dia sudah mandi dan terlihat sangat segar, senyumnya tersungging mengingat percintaannya yang begitu menggelora seolah tidak ada habisnya, bahkan Cahya juga terlihat sangat menikmatinya. Rasanya Aditya ingin mengajak Cahya untuk pergi berbulan madu lagi, dan mengulang keromantisan mereka saat di Maldives dulu.
Dari bawah Cahya melihat Aditya turun tangga, dan Aditya juga terkejut melihat ternyata adiknya sudah berada disini. Cahya hendak menuju dapur menyiapkan sarapan untuk Aditya tetapi Kyros malah menangis dengan kerasnya karena spertinya dia merasa lapar dan sudah waktunya untuk tidur.
"Ya Tuhan, Papamu datang dan Mama mau menyiapkan sarapan untuknya kau malah menangis" Cahya lalu mengambil Kyros dari pangkuan Chika.
"Mungkin dia lapar dan mengantuk, kau urus saja anak-anak, aku akan sarapan sendiri, Chika temani kakakmu mengurus keponakanmu" Ucap Aditya lalu menciumi kedua bayinya.
"Aku membuat nasi goreng ada di meja makan"
Aditya mengangguk dan menyuruh istrinya itu untuk segera menenangkan Kyros yang masih menangis. Cahya ditemani Chika yg pun naik ke kamar untuk memberi Asi pada kedua bayinya dan menidurkan mereka.
"Kau kapan datang kesini? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Kenapa pula aku harus memberitahumu, memangnya ada peraturan yang tertulis jika aku datang kesini harus memberitahu kakak." Adri memandang kakakknya kesal. "Ini sudah hampir jam 10 dan kau baru bangun, memang apa yang kau kerjakan semalam? Bahkan Kak Cahya juga lingkar matanya menghitam, sepertinya kalian berdua kurang tidur, aaahhhh aku tahu, mengingat hawa dan suasana tempat ini, jangan-jangan kau dan kak Cahya pasti sudah.............?" Sambil tersenyum tengil dan menatap kakaknya dengan curiga, Adri tidak meneruskan ucapannya dan malah menertawai kakaknya.
Aditya mengambil bantal sofa dan langsung melemparnya dengan ke arah Adri. "Diamlah kau, kau selalu saja merusak suasana disini" Gumam Aditya kesal. Terdengar suara bel diluar, Aditya langsung menyuruh Adri untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Hai Dit, Cahya dimana?" Tanya Elea.
"Cahya ada dikamar menidurkan anak-anak bersama Chika, kau kesini sendirian El?"
"Ah tidak, tadi aku diantar Danist" Jawab Elea.
"Lalu dimana Danist sekarang??"
"Dia pergi untuk menjemput ibunya distasiun, ibunya datang untuk mengunjunginya, eh aku boleh ke atas kan menemui Kyros dan Kyra?"
"Naik saja El, dia pasti sudah menunggumu sejak tadi"
Elea langsung pergi menemui Cahya dikamarnya. Terlihat Cahya sedang menyusui bayinya, Elea langsung menghampirinya. Mereka bertiga pun mengobrol setelah menidurkan kedua bayi kembar itu. Ditengah obrolan Cahya merasa sangat mengantuk dan tidur begitu saja membiarkan Elea dan Chika.
Tak terasa hari sudah siang, dan Cahya masih tidur dengan lelapnya. Makan siang harus disiapkan untuk semuanya, tetapi Elea dan Chika tidak tega jika harus membangunkan Cahya.
"Kak Elea, kakak jaga Kyra dan Kyros, biar aku yang menyiapkan makan siang, kasian kakak sepertinya dia sangat lelah mengurus kedua keponakan kita"
"Baiklah, masak saja makanan yang kau bisa, aku akan menjaga Kyros dan Kyra" Ucap Elea.
Chika ke dapur dan membuka kulkas menemukan ada sayur dan juga beef slice. Dia akan membuat tumisan sayur dan tumis daging lada hitam. Adri ternyata mengikuti Chika ke dapur dan menawarkan bantuannya, Chika pun menyuruhnya untuk memotong sayuran karena dia akan mencuci beras untuk menanak nasi.
Adri sudah menyelesaikan memotong sayurnya dan membawanya ke Chika yang sesnag menumis daging. Tiba-tiba Adri mematikan kompor dan memegang kedua bahu Chika. "Sayang, beri aku satu ciuman, sejak aku datang kau belum memberikannya" Gumam Adri.
"Adri, jangan aneh-aneh, nanti bagaimana jika ada yang melihat"
"Tidak ada, kak Adit sedang pergi keluar bersama pak Mizan, disini hanya ada kau dan juga aku, ayo satu ciuman saja"
Chika menggelengkan kepalanya menolak permintaan Adri, tetapi Adri memegang kedua pipi Chika dan berniat menciumnya tetapi .....
Bruuuukkkk....
"Auww....." Seru Adri kesakitan dan dilihatnya sebuah buku terjatuh dilantai, Adri kesakitan sedangkan Chika terkejut. Adri menengok ke belakang dan melihat Aditya berdiri di tengah pintu menatap tajam ke arah adiknya.
Ternyata Aditya yang melemparkan buku itu ke arah Adri. Aditya menghampiri Adri dan Chika yang berdiri dengan keringat dingin. "Apa yang akan kau lakukan pada Chika???"
"Itu kak.... taa...dii... Chika kelilipan jadi aku mau meniup mata nya" Jawab Adri terbata.
"Kelilipan kelilipan, jangan memaksanya jika dia tidak mau kau cium, berani-beraninya memanfaatkan situasi yang sepi, cepat pergi dari sini...."
Adri pun bergegas pergi meninggalkan dapur, dan Chika terlihat salah tingkah dihadapan Aditya. Chika langsung membalikkan badannya dan menyalakan kompor lagi. Aditya lalu pergi menyusul Adri. Saat sampai diruang tamu, Aditya justru tertawa dihadapan adiknya. Adri menatap kakaknya dengan perasaan kesal dan marah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, jangan marah padaku, apa kau lupa bahwa kau juga pernah menghancurkan moment romantisku dengan Cahya didapur itu" Ucap Aditya smabil terus tertawa.
*****
Sore sudah tiba, Elea dan Chika juga sudah membantu Cahya memandikan Kyros dan Kyra. Aditya pun menyuruh Adri untuk segera mengantar Chika dan Elea pulang.
Sampailah akhirnya mereka dirumah, Adri, Chika dan Elea turun dari mobil dan disaat yang bersamaan ada mobil milik Danist datang. Danist keluar dan membuka pintu mobil, seorang wanita keluar dari mobil itu dia terlihat cantik meski usianya sudah setengah abad, dia seperti seumuran dengan Ibu Elea. Danist memperkenalkannya sebagai ibunya.
"Mama, kenalkan ini Chika dan Adri, adik dari pak Aditya" Ucap Danist.
Chika dan Adri menyalami ibu Danist, kemudian Danist bergantian memperkenalkan ibunya pada Elea.
"Ma, kalau ini Elea, dia teman sekantorku"
Ibu Danist memandang Elea dari atas sampai ke bawah, dan pandangannya kini mengarah ke perut Elea yang terlihat membesar. "Inikah perempuan yang sering Danist sebut saat meneleponku? Tapi kenapa dia hamil?" Gumam ibu Danist dalam hati.