
"Sar dengarkan aku dulu!"
Mama Danist membuang muka merasa muak dan enggan untuk mendengarkan Ayah Ariel.
"Sar, aku berniat memberikan sebagian perusahaanku untuk Danist"
"Apa??? Kau ingin memberikan perusahaanmu untuk Danist, tidak perlu!! Aku tidak ingin anakku menerima apapun darimu, kau dulu meninggalkanku dan anakku karena kau ingin mengejar ambisimu untuk menjadi orang kaya, kau mendapatkan itu dari keluarga istrimu lalu sekarang kau malah ingin memberikannya kepada anakku? Kurasa kau tidak perlu melakukannya, Danist bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri tanpa perlu menerima apapun darimu, karena itu yang justru membuatku bangga kepadanya, sudahlah mas kurasa permasalahan ini jangan di perpanjang lagi, aku sudah pernah mengatakan kepadamu agar berhenti bersikap seperti ini dan tolong biarkan Danist menjalani kehidupannya seperti ini saja dan apa yang kau miliki sekarang berikan saja kepada anakmu, tidak perlu melibatkan Danist, jika kau sudah selesai dengan apa yang ingin kau katakan, silakan sekarang kau pergi dari rumah ini"
"Aku hanya ingin memenuhi tanggung jawabku sebagai Ayahnya"
"Tidak perlu, tanpa kau bertanggung jawab aku sudah bisa membesarkannya sampai sekarang, dan aku selama ini tidak pernah sama sekali menuntut tanggung jawab darimu kan? Jadi tidak perlu repot-repot, silakan pergi!"
Dengan berat hati, Ayah Ariel pun terpaksa keluar dari rumah itu. Sudah dia duga sebelumnya bahwa pasti akan sangat sulit meyakinkan mantan istrinya itu. Tetapi tentu saja ini bukan akhir dari semuanya dan dia akan mencari cara lain agar bisa memberikan apa yang menjadi hak Danist.
*****
Aditya menghampiri Cahya yang sedang melipati pakaian di kamar juga menunggui si kembar yang masih tidur, karena jika tidak dilakukan sekarang tentu Cahya akan mengalami kesulitan saat kedua bayinya sudah bangun. Aditya baru saja berbicara di telepon dengan Randy cukup lama di halaman belakang, ada banyak hal yang mereka bicarakan termasuk kedatangan Ariel ke kantor Randy. Aditya sangat tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya dari Randy bahwa ternyata kepergian Ariel beberapa bulan ini karena sahabatnya itu sedang melakukan perjalanan rohani dan memenangkan dirinya. Pantas saja waktu Ariel mendatanginya terlihat ada yang berbeda dati sahabatnya itu, dia terlihat lebih tenang walaupun di matanya terlihat ada kesedihan, mungkin karena Ariel sedang sangat merindukan Gienka.
"Apa saja yang kau bicarakan dengan Randy? Lama sekali...!" Gumam Cahya.
"Randy mengatakan padaku jika Ariel sudah kembali, dan kemarin dia datang ke kantor Randy"
"Dia sudah kembali???"
"Ya, apa kau tahu sayang apa yang sudah terjadi kepada Ariel selama dia menghilang kemarin??? Dia ternyata pergi umroh"
"Umroh????" Cahya mengulang lagi ucapan Aditya.
"Iya, dia pergi untik umroh setelah itu dia melanjutkan untuk liburan ke beberapa negara and then itu juga yang kemarin membuatnya ada disini karena memang dia menjadikan negara ini salah satu tujuannya untuk liburan dan menenangkan dirinya, aku rasa apa yang sudah dia lakukan kepada Elea kemarin telah membuatnya tersadar, dia menghilang setelah melakukan itu dan dia pergi ke tanah suci mungkin saja untuk memohon ampun atas semua kesalahan yang sudah dia lakukan, itu sebabnya saat dia datang kesini aku melihat sudah ada yang berubah darinya dan seperti ada kesedihan yang melingkupinya"
"Jika dia sudah sadar kenapa saat datang kesini dia tidak menturuh kita menghubungi Elea untuk meminta maaf padahal dia tahu Elea ada disini juga?"
"Sayang....! Setiap orang pasti punya alasan kenapa tidak melakukannya, seperti yang pernah aku bilang, Ariel pasti akan datang untuk meminta maaf pada Elea juga Danist jika tidak saat ini pasti nanti, mungkin Ariel masih butuh waktu untuk melakukannya"
"Semoga saja Ariel benar-benar merubah sikapnya, dia sudab menjadi seorang Ayah, dia harus berubah agar bisa menjadi contoh yang baik untuk Gienka" Gumam Cahya lalu berdiri dan mengangkat pakaian anak-anaknya yang sudah selesai dia lipat dan memasukkannya ke lemari.
******
"El, apa makan malamnya sudah siap? Aku lapar sekali!" Tanya Danist, tetapi Elea hanya diam membelakanginya dan tidak menjawab pertanyaannya, perempuan itu sibuk mencuci pan di wastafel tetapi hanya terus menggosoknya dan membiarkan air terus mengalir.
Danist mengernyit melihatnya, dan menaruh curiga karena sepertinya ada yang mengganggu pikiran Elea karena sejak tadi istrinya itu bertingkah aneh dan mondar-mandir tidak jelas. Danist menghampiri Elea dan menyentuh pundaknya sontak membuat Elea terkejut setengah mati hingga pan yang di pegangnya jatuh ke lantai dan menimbulkan suara bising menambah keterkejutan Elea.
"Astaga kenapa kau mengejutkanku Dan...!!! Ada apa?? Kau bisa memanggilku jika memerlukan sesuatu" Gumam Elea.
"Memanggilmu? Sejak tadi aku memanggilmu, tapi kau sama sekali tidak meresponku, dan kau sendiri kenapa??? Kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan, sejak tadi aku melihat kau gelisah sekali, apa ada sesuatu yang terjadi??"
"Ah tidak apa-apa, ayo kita makan, aku bisa mencuci ini lagi nanti"
Elea dan Danist pun menyantap makan malam dengan suasana hening. Elea tiba-tiba menjadi tidak banyak bicara seperti biasanya, Danist pun merasa heran karena dia yakin pasti Elea sedang menyembunyikan sesuatu padanya, atau jangan-jangan Elea ingin mengatakan sesuatu tentang Ariel tetapi tidak berani karena takut dia akan marah seperti sebelumnya. Danist tidak mau ambil pusing dan tidak mau terlalu kepo jika Elea ingin mengatakan tentang lelaki itu, biar saja sampai Elea mengatakannya sendiri. Danist melanjutkan makannya, sampai akhirnya keduanya selesai. Danist pergi ke kamar dan meninggalkan Elea yang sedang membereskan meja makan.
Elea menghela napasnya panjang-panjang dan mengutuk dirinya sendiri karena sudah bertingkah aneh. Danist pasti curiga melihat apa yang dilakukannya hari ini. Elea mengambil ponselnya yang ada di meja makan dan memutar musik agar dia merasa lebih tenang, sambil menemaninya mencuci piring.
Danist keluar dan menemui Elea untuk meminta di buatkan teh. Tetapi kemudian dia menemukan Elea sedang bersenandung dengan iringan musik dari ponselnya sambil menggerakkan badannya seolah menikmati lagu itu. Danist hanya tersenyum melihatnya, lagu yang dinyanyikan Elea adalah lagu yang menjadi salah satu kesukaannya karena lagu itu menjadi soundtrack dari film yang romantis yang dibintangi oleh Jamie Dornan dan Dakota Janson.
"Been waiting for a lifetimeĀ for you, been breaking for a lifetime for you, wasn't lookin' for love 'til I found you oh na-na, ayy for love, til I found you oh.!!" Elea terus bersenandung sambil menggerakkan tubuhnya tidak sadar jika Danist ada di belakangnya.
Tetapi tiba-tiba Danist memeluk Elea dari belakang menyahut lagu itu sambil menumpukan dagunya di pundak Elea. "Skin to skin, breathe me in, feeling your kiss on me, lips are made of ecstasy, I'll be yours for a thousand nights a thousand lights!"
Elea membalikkan tubuhnya lalu tertawa. "Kau ini, mengejutkanku lagi"
"Kau menari dan menyanyi di dapur, dan karena aku tahu lagu itu jadi aku menyambung liriknya, lagunya sangat enak di dengar, bagaimana kalau kita berdansa?" Ucap Danist lalu setengah membungkukkan badannya dengan elegan.
"Lady, maukah kau memberi penghormatan untukku berdansa denganku??"
Elea terkekeh dan membalas uluran tangan Danist.
Danist melangkah mundur, mengajak Ele ke area kosong di ruang makan yang tidak terlalu besar itu. Diletakkannya sebelah tangan Elea di pundaknya dan yang satunya lagi di genggamannya, dibimbingnya Elea mengikuti langkah dansanya.
Elea erkekeh lagi sambil dengan susah payah mengikuti gerakan kaki Danist, "Aku akan menginjak kakimu, aku selalu kesulitan jika berdansa"
Danist ikut terkekeh dan mereka tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi hening
Dan ketika Danist menundukkan kepala untuk mencium bibir Elea. Elea pun memejamkan matanya.