
"Sakit kepala?? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja" Jawab Aditya bingung.
"Oh oke baiklah, aku kira kau sedang sakit kepala lalu amnesia" Cahya menarik selimutnya lalu memejamkan mata untuk tidur.
"Ca, udahan dong marahnya, aku ga kuat kalau kamu gini mulu sikapnya, udahan ya?"
Cahya kembali membalikkan badannya membelakangi Aditya dan tidak memperdulikan ucapannya. Cahya hari ini merasa sangat puas karena kedatangan tak terduga kakak sepupunya membuatnya bisa melampiaskan kekesalannya pada Aditya dengan impas walauun sepertinya Aditya masih belum menyadari kesalahannya.
Aditya memandang sedih kearah Cahya, takut jika istrinya benar-benar akan berpaling darinya mengingat begitu dekatnya dia dengan Yongki. Aditya tetap diam dengan posisi yang sama menatap Cahya yang sedang tertidur, perasaannya campur aduk mengingat apa yang terjadi hari ini, kesal, marah, cemburu dan ketakutan. Kini Aditya sangat merindukan Cahya dimana istrinya selalu nyaman jika tidur dipelukannya tetapi Cahya tidak melakukannya lagi.
****
Keesokan harinya semua sudah bersiap untuk Check out dari hotel dan mlanjutkan perjalanan ke rumah paman Cahya sebelum pulang. Sesampainya disana, mereka sudah disambut hangat oleh Yongki dan keluarganya. Sekali lagi Cahya terlihat sagat dekat dengan Yongki membuat Aditya merasakan kekhawatiran yang luar biasa dan tentunya perasaanya juga menjadi tidak nyaman.
Aditya memilih keluar dari rumah saat semua orang sedang sibuk mengobrol. Aditya duduk diteras depan sendirian, perasaannya semakin buruk saat harus dipaksa melihat Cahya tidak bisa lepas dari Yongki.
Melihat Aditya keluar dengan wajah muram, Yongki seolah bisa membaca apa yang sedang dirasakan oleh Aditya, akhirnya dia pun mengikuti Aditya keluar dan duduk disebelahnya.
"Kenapa kau memilih duduk sendiri disini? Apa karena rumahku tidak seluas rumahmu dan kau merasa sesak berada didalam?" Tanya Yongki.
"Apa yang kau katakan, aku hanya ingin menghirup udara segar, suasana disini sangat asri, aku menyukainya"
"Kau seperti adikmu sangat menyukai suasana disini, Chika sering mengajaknya kemari dan Adri menjadi ketagihan ketika datang kesini, ibuku snagat senang dengan kehadiran Adri dan sering menyuruhnya menginap disini, dia bilang kehadiran Adri menjadi obat untuknya saat sedang merindukanku yang berada jauh darinya. Aku rasa itu juga yang sudah kau lakukan untuk Bibiku dan kedua adikku, kau menjadi obat dan pelindung mereka saat aku dan alm. Pamanku tidak bisa menjaga mereka, aku tidak tahu bagaimana cara membalas seluruh kebaikanmu serta keluargamu yang sudah begitu baik kepada kami, kau bahkan menyuruh Bibiku tinggal dirumah Adri saat beliau tidak punya tempat untuk tidur, aku dan keluargaku sangat berterima kasih padamu"
"Apa yang kau katakan, itu adalah tanggung jawabku, dia ibu mertuaku, aku menghormatinya seperti aku menghormati Mamaku"
"Cahya benar, kau memang superheronya, Aditya aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan Cahya beberapa hari ini, Adikku itu sudah menceritakan semuanya, jangan diambil hati semua ucapannya kemarin itu hanya omong kosong belaka, tidak pernah ada permintaanya agar aku menjadi kekasihnya, dia mengarang hanya untuk memberimu pelajaran atas apa yang sudah kau lakukan padanya saat bersama sahabat kecilmu"
"Apa???"
"Sesimple itu Aditya, dia sangat mencintaimu dan keinginannya hanya ingin kau bisa menjaga diri saat bersama wanita lain, tidak ada larangan untuk berteman dengan wanita tetapi kau harus tahu batasannya karena kau sudah memiliki istri, apalagi kondisinya sedang hamil, wanita hamil itu sangat moody serta memiliki perasaan yang sensitif kadang hal kecil bisa menjadi besar jika tidak sesuai dengan keinginanya, kau harusnya paham tentang hal itu, meminta maaflah katakan kau menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi jika dia masih belum memaafkanmu teruslah berusaha dan jika perlu turuti semua keinginannya walaupun kau merasa itu berat dan jangan berteriak didepannya dia sangat benci hal itu"
Aditya hanya diam mendengar semua yang dikatakan Yongki padanya, dan membenarkan semua ucapannya. Aditya sangat menyesali semua yang sudah dilakukannya dan ternyata Cahya telah berhasil membuatnya tahu bagaimana rasanya sakit hati saat melihat orang yang dicintai dipeluk orang lain, bagaimana rasa kecewa saat orang yang mencintaimu harus mendengar kisah manis masalalunya bersama orang lain. Perasaan marah, sakit hati, emosi, kekecewaan dan cemburu berkumpul menjadi satu itu sangatlah mengganggu. Dan Cahya merasakannya saat itu kini Aditya seolah ditampar oleh kenyataan bahwa dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan istrinya.
"Pulanglah dan perbaiki hubungan kalian, kalian saling mencintai jadi jangan terlalu lama jika sedang bertengkar, selesaikan dan bicarakan semuanya dengan baik"
"Thanks, karenamu aku jadi menyadari kesalahanku, jika kau ada waktu berkunjunglah kerumah kami, aku akan sangat senang"
"Tentu saja, aku akan mencari waktu untuk mengunjungi kalian"
Setelah memeluk dan berpamitan dengan Yongki, Aditya menghampiri supirnya dan memintanya untuk mengemudikan mobil Adri, karena dia sendiri yang akan mengemudikan mobilnya bersama Cahya. Disisi lain Cahya datang menghampiri Yongki lalu memeluk kakaknya dan berpamitan dengannya. "Kakak, jika ada waktu mainlah kerumah kami, aku akan senang sekali" Ucap Cahya.
"Aku akan mencari waktu, tetapi saat aku kesana aku harus sudah melihatmu dan Aditya berbaikan, sudah cukup hentikan kemarahanmu jika dia meminta maaf maka maafkanlah, lihatlah dia terlihat sangat menyesal dengan semuanya, berhati-hatilah dan jaga keponakanku dengan baik"
Aditya membukakan pintu mobil untuk Cahya, lalu sekali lagi berpamitan. Dalam perjalanan pulang, Aditya mencoba untuk mengajak Cahya mengobrol tetapi tetap sama istrinya itu tidak menanggapinya dan tidak mau berbicara apapun padanya, membuat Aditya semakin sedih. Cahya sebenarnya ingin memaafkan Aditya, tetapi dia merasa belum puas menghukumnya karena suaminya sudah membuatnya menangis dan masih kesal karena foto dikantor. Cahya harus melakukan sesuatu agar Aditya merasa jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Akhirnya sampai juga dirumah, Cahya masih tertidur dengan lelapnya selama perjalanan. Aditya keluar dari mobil dan membuka pintu sisi lain melepaskan seatbelt Cahya dan menggendongnya membawa istrinya masuk.
****
Setelah makan malam, Aditya pergi keruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Cahya langsung naik keatas dan masuk ke kamarnya. Tetapi tidak lama setelah masuk, Cahya kembali turun dan pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Aditya. Bukan jus yang dibuatnya melainkan kopi, yang sebenarnya Aditya jarang meminumnya saat malam hari, tetapi sepertinya Cahya ingin mengetes Aditya.
Cahya membawa nampan berisi kopi dan cemilan menuju ruang kerja suaminya. Melihat Cahya masuk membawa minuman untuknya Aditya merasa sangat senang. "Aku membuatkanmu kopi, minumlah" Ucap Cahya dengan suara dingin.
"Kopi?? Tetapi kau tahu aku tidak pernah minum kopi saat malam"
"Aku sudah membuatnya untukmu tetapi kau malah menolaknya, baiklah terserah kau saja, aku akan membawanya kembali ke dapur, kau memang tidak pernah menghargaiku" Cahya lalu membalikkan badannya hendak keluar dari ruangan itu.
"Jangan sayang, bawalah kemari aku akan meminumnya, istriku sudah lelah membuatnya jadi aku harus menghargainya"
Cahya akhirnya menaruh didepan Aditya lalu berpamitan untuk ke kamar karena merasa sangat mengantuk, Aditya pun mempersilahkannya. Saat berjalan keluar Cahya tersenyum penuh kemenangan, dia sangat tidak sabar dengan apa yang akan terjadi nanti pada Aditya setelah meminum kopi buatannya.
"Suamiku sayang, minumlah kopi itu sampai habis, dan kau akan tahu akibat dari ulahmu beberapa hari yang lalu padaku, semoga rencanaku menghukummu berhasil" Gumamnya dalam hati.