
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, Kyra dan Kyros juga sudah tertidur sejak tadi. Aditya mengajak Cahya dan mertua serta orangtuanya untuk segera kembali ke resort meninggalkan kedua pengantin itu di villa ini. Semua kursi, meja serta pernak-pernik pesta sudah di bereskan dengan cepat dan halaman belakang villa juga sudah kembali seperti semula.
Adri dan Chika mengantar keluarganya sampai di depan gerbang villa. Kyra di gendong oleh Cahya sementara Kyros digendongan Papa Aditya. Chika mencium Kyra yang ada digendongan kakak dan yang lainnya masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Aditya di belakang dan tampak bercakap-cakap dengan Adri. "Aku sudah menyuruhmu mencari, apa kau sudah mendapatkannya???" Tanya Aditya pelan.
Adri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bagus, kau perhatikan baik-baik, dan lakukanlah seperti itu"
"Iya...!" Jawab Adri.
Aditya menepuk pundak adiknya dan berjalan menuju mobilnya. Chika dan Adri melambaikan tangannya dan perlahan mobil Aditya meninggalkan villa mereka. Adri menutup gerbang dan masuk bersama Chika ke dalam villa. Suasana berubah seketika menjadi senyap, tadi begitu ramai, juga teriakan serta tawa kedua keponakan mereka terdengar.
"Aku bersihkan make up dulu, sekaligus mandi" Ucap Chika pada Adri.
"Ya...!" Adri membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mengambil ponselnya.
Ada sekitar setengah jam, akhirnya Chika keluar dari kamar mandi, dan sudah memakai pakaian tidur sementara rambutnya masih dibalut dengan handuk. Adri melepaskan air pods nya kemudian meletakkan ponselnya di meja. Adri tersenyum melihat Chika yang duduk di depan meja rias dan sedang sibuk menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri, tidak lagi seperti kemarin yang hanya menjadi kekasih. Adri masih tidak menyangka jika akhirnya mereka menikah juga, setelah bertahun-tahun berpacaran. Chika selalu menolak untuk menikah cepat dan ingin bekerja lebih dulu, dan setelah melewati semua itu serta beberapa kesulitan akhirnya hari ini datang juga.
Chika melihat dari pantulan cermin meja rias bahwa dibelakangnya, Adri sejak tadi terus melihatnya sambil tersenyum. Rambutnya sudah setengah kering, Chika mematikan hair dryernya dan beranjak dari meja rias. Chika duduk ditepian tempat tidur. "Kenapa kau sejak tadi senyum-senyum sendiri melihatku?"
"Memangnya kenapa?? Apa aku tidak boleh meluapkan kebahagiaanku dengan tersenyum?"
"Tentu daja boleh, tapi jangan berlebihan nanti kau di kira gila!" Chika menoleh ke sekeliling kamar yang sudah dihias sedemikian rupa, membuat suasananya berbeda, dan hanya ada dia dan Adri saja disini. "Kita hanya berdua saja, apa yang harus kita lakukan???" Tanya Chika.
Adri terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari Chika. "Bodoh...! Kenapa bertanya seperti itu, memang apa yang harus dilakukan oleh suami istri saat seperti ini? Kemarilah, aku sangat merindukanmu"
Chika tersenyum dan menggeser tubuhnya ke dekat Adri yang berbaring di tempat tidur. Adri kemudian memintanya agar dia duduk di atas kedua pahanya. Chika sedikit meragu tetapi kemudian dia ingat bahwa saat ini mereka sudah tidak terhalang oleh apapun dan jauh berbeda dengan saat masih pacaran. Dia juga teringat dengan pesan dari Cahya bahwa ketika menjadi seorang istri, dia harus melakukan semua yang diminta oleh suaminya dan selalu berusaha membuatnya bahagia. Ya, Adri saat ini adalah suaminya, dan dia harus bisa membahagiakannya. Perlahan Chika naik ke atas paha Adri dan duduk disana seraya tersenyum.
Adri menyelipkan rambut Chika ke belakang telinganya. "Kau kemarin sudah melarangku untuk menyentuhmu, melarangku agar tidak menciummu juga itu sudah berlangsung lebih dari sebulan, jadi apakah sekarang aku boleh melakukannya??? Aku sangat merindukannya" Tanya Adri.
"Lakukan saja, kali ini aku tidak akan melarangmu lagi! Aku juga sangat merindukanmu"
Adri membungkukkan tubuh Chika dengan kedua tangannya. Wajah mereka berhadapan dengan begitu dekat, tidak ingin menunggu lama, mereka berdua langsung berciuman. Adri sangat merindukan bibir manis Chika, sejak persiapan pernikahan mereka, Chika melarangnya untuk menciumnya bahkan juga melarangnya untuk bergandengan tangan. Chika ingin membuat mereka berdua bisa saling merindukan dan setelah menikah kerinduan itu akan menjadi lebih istimewa lagi. Dan bagi Adri sepertinya cara itu benar-benar berhasil. Adri menyesapnya dengan pelan, menikmati setiap detiknya. Kelembutan dan kemanisan bibir Chika terasa lebih istimewa setelah sekian lama mereka tidak saling berciuman.
Chika dan Adri saling mencecap satu sama lain, lidah Adri bermain di dalam mulut Chika dan berjalinan disana. Lama sekali mereka bergulat dalam ciuman itu, dan saat bChika melepaskan bibirnya dari bibir Adri, mereka berdua saling bertatapan dalam.
Adri yang tadinya berbaring pun memilih bangun dan kini dalam posisi duduk dengan Chika yang masih duduk diatas pahanya. Adri memandang Chika begitu dalam sambil tersenyum penuh arti, seolah mengerti maksud dari Adri, Chika pun membalas senyumannya. Perlahan kedua tangan Adri mulai menaikkan gaun tidur yang dipakai Chika untuk melepaskannya lalu melemparnya begitu saja.
Melihat dua gundukan daging terpampang di depannya dan terlihat begitu menggoda.
"Aku selalu penasaran bagaimana rasanya jika memegangnya secara langsung, akhirnya aku mendapatkannya"
Adri langsung menenggelamkan wajahnya disana, menciuminya dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Chika mengerang pelang merasa geli atas apa yang dilakukan oleh Adri. Kemudian kedua jemari Adri meraih dan memegangnya dengan lembut, dan menekan-nekannya secara perlahan. Adri mengeluarkannya kemudian menenggelamkan wajahnya disana dan menyesapnya drngan lembut. Chika mengerang karena ini pertama kalinya dia merasakan seperti ini dan Adri yang melakukannya.
"Sayang...! Apa yang kau lakukan??? Astaga...!" Chika kembali mengerang merasakan rasa hangat yang menyerangnya dibagian tengah berwarna merah muda yang sekarang menegak kaku danmengeras, rasa hangat mulai itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Adri mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Aku melakukan ini untuk membuatmu senang!" senyumnya polos dan penuh godaan. Lelaki itu menjulurkan lidahnya, dan memainkannya diseluruh bagian dada Chika, membuat Chika tidak bisa berhenti mengeluarkan suara erangan yang menambah suasana semakin panas.
"Kenapa kau menutupnya, lalu bagaimana bisa aku melakukannya nanti???" Adri tertawa, tetapi kemudian dia melepaskan pakaian dan celananya hingga tidak meninggalkan apapun di tubuhnya.
Chika menatap Adri dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Adri tampak sangat jantan.
Chika tidak pernah melihat milik lelaki sebelumnya dan dia.. perasaan di dalam dirinya tidak bisa dijelaskan, tetapi tiba-tiba Chika sedikit merasa takut.
Adri rupanya melihat rasa takut di mata Chika. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Chika lagi dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung istrinya dengan tak kalah lembutnya,
"Jangan takut sayang..! Aku tahu ini pengalaman pertama kita dan aku mungkin akan sedikit menyakitimu, tapi kau harus percaya kalau aku akan melakukannya dengan lembut"
Adri menempatkan diri di antara kedua paha Chika, perlahan Chika mulai membuka dirinya untuk Adri, lelaki itu setengah menindihnya. Chika mulai bisa merasakan milik Adri yang besar dan keras menggesek miliknyanya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh. Adri kemudian mengarahkan jemarinya ke area milik Chika dan sedikit bergerak disana memastikan bahwa dibawah sana sudah basah.
Adri menatap Chika lembut, tapi ada api di sana, api yang penuh napsu, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut, memperkenalkan bagian dirinya yang keras dan bergairah kepada Chika.
"Rasanya akan sakit, kau harus menahannya" Adri berbisik parau. "Kau boleh mencakarku atau mengigitku untuk melampiaskan sakitmu, tetapi kau harus tahu, betapapun sakitnya itu, aku tidak akan berhenti, karena aku harus melakukannya. Kau mengerti sayang?"
Chika menganggukkan kepalanya, menatap Adri percaya. Lelaki itu lalu mendesakkan pinggulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki tubuh Chika. Tetapi Chika terasa sangat sempit sehingga Adri harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Adri menekankan dirinya dengan kuat, membuat Chika merasakan rasa nyeri yang amat sangat di area miliknya.
Chika menjerit, mencakar lengan Adri meminta lelaki itu berhenti. Tetapi Adri tidak bisa berhenti. Dia menemukan penghalang itu, dan dia harus menembusnya. Akhirnya dengan satu tekanan kuat, penghalang itu terkoyak, diiringi erangan kesakitan Chika.
Mereka berbaring bersama dalam diam. Adri sudah membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Chika, menyatu sepenuhnya, tetapi lelaki itu tidak bergerak, memberi kesempatan Chika untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Dikecupnya airmata yang keluar dari sudut mata Chika,
"Maafkan aku sayang!! Aku tidak bermaksud menyakitimu"
Adri berbisik pelan sambil mengecup bibir Chika dengan sangat lembut.
Chika membuka matanya dan menatap Adri, menemukan kelembutan dan penyesalan di sana. Air matanya turun dan Adri mengecupnya lagi.
"Aku akan bergerak lagi" Suara Adri terdengar serak. "Mungkin pada awalnya akan tidak nyaman" Adri mulai menggerakkan pinggulnya, membuat Chika mengernyit.
Adri terus bergerak dengan pelan, Chika masih meringis menahan sakit, tetapi dia yakin lama kelamaan gerakannya nanti akan membuat istrinya nyaman.
"Apa masih sakit?" Adri memandang Chika dengan cemas.
Tetapi Chika sudah tidak begitu merasakan sakit lagi, tubuhnya mulai menerima tubuh Adri di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan hangat, dia menggelengkan kepalanya. Adri tersenyum menerima jawaban Chika, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang sedikit cepat dan menjadi semakin cepat, sesuai dengan gai rah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersenggal.
"Oh ya ampun, kau nikmat sekali" Adri berbisik parau ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Chika juga mulai bergerak mengikuti Adri membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Adri pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Chika akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Adri juga mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat.
Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia yang luar biasa dasyat. Adri memeluk Chika erat-erat, jemarinya menelusuri punggung istrinya, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.
Chika menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Adri, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Pencapaian itu membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Adri penuh cinta. Adri tersenyum kemudian mengecup kening Chika dengan lembut. "Terima kasih sudah menjaganya hanya untukku. Akhirnya kita bisa melakukan ini, aku sangat mencintaimu"
"Aku senang bisa memberinya untukmu, aku juga sangat mencintaimu" Gumam Chika.
Adri perlahan menarik tubuhnya, dan Chika kembali merintih karena merasa sakit. Dan mereka kemudian tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta.