SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 356



Danist sudah selesai mengurus semuanya, dan saat ini jenazah Ayahnya akan dibawa pulang, disemayamkan sebentar dirumah sebelum akhirnya dimakamkan. Danist berharap Ariel juga nanti mau datang untuk terakhir kalinya melihat Ayahnya. Danist masih sangat menyayangkan sikap Ariel yang seperti ini, kenapa sedikit saja tidak mau mengerti dengan keadaan yang terjadi.


Sambil terisak, Elea menghubungi Cahya dan memberitahu apa yang terjadi saat ini pada Ayah mertuanya. Cahya sangat shock dengan kabar itu karena malam nanti dia dan Aditya sudah berencana untuk menjenguk Ayah Ariel, sayangnya bukan menjenguk tetapi malah mengantar kepergian Ayah Ariel dan Danist untuk terakhir kalinya. Tidak lupa Elea meminta Cahya agar memberitahu Aditya dan bisa mengabarkan ini kepada Ariel, karena sejak tadi Ariel sangat sulit dihubungi. Setelah menerima kabar dari Elea, Cahya bergegas memberitahu Aditya agar bisa segera pulang dan pergi ke rumah Ayah Ariel.


Aditya bergegas mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya, kemudian memberitahu Maysa agar membatalkan semua jadwalnya sore nanti karena Ayah Ariel meninggal dan sekarang dia harus pergi. Maysa sangat terkejut mendengar itu, kemudian dia juga meminta ijin kepada Aditya bahwa setelah menyelesaikan pekerjaannya di ijinkan untuk datang juga kesana. Tentu saja Aditya memberinya ijin untuk itu, tak lupa Aditya juga mengungatkan agar Maysa memesan karangan bunga atas nama perusahaan.


*******


Seorang pria datang ke kantor Ariel dan di sambut oleh sekretaris Ariel. Pria itu adalah perwakilan dari perusahaan Ayah Ariel, berniat datang untuk menemui Ariel dan memberitahunya tentang kabar meninggalnya pak Andi karena Ariel sangat sulit untuk dihubungi. Pria itu disambut oleh sekretaris Ariel, dan menanyakan ada keperluan apa datang menemui Ariel. Pria itupun menjelaskan kedatangannya bahwa Ayah Ariel meninggal dunia dan jika berkenan meminta agar Ariel diberitahu tentang hal ini karena ponselnya mati. Sekretaris Ariel meminta pria itu untuk menunggu.


"Permisi pak...!!!" Dengan sopan dia mengetuk pintu ruangan Ariel.


"Masuklah!!!" Jawab Ariel dari dalam.


"Seorang pria datang ingin menemui bapak, dia membawa kabar jika Ayah bapak meninggal dunia dan meminta bapak agar sekarang bisa pulang! Karena sejak tadi mereka berusaha menghubungi bapak by phone tapi tidak tersambung"


"Meninggal dunia???" Tanya Ariel tetapi dengan ekspresi datar Ariel melanjutkan lagi pembicaraannya. "Biarkan saja, suruh dia pergi, aku tidak ingin menemui siapapun dan tidak ingin diganggu, oh iya jangan pernah menyambungkan telepon dari siapapun kepadaku jika mereka memiliki alasan yang sama, aku tidak ingin diganggu!"


Sekretaris Ariel membungkukkan punggungnya kemudian keluar dari ruangan itu. Setelahnya dia memberitahu kepada pria yang datang itu bahwa Ariel tidak ingin di ganggu untuk saat ini.


*****


Aditya dan Papanya sedang dalam perjalanan menuju rumah Ayah Ariel diantar oleh supir. Sedangkan Cahya sudah berangkat bersama Mamanya, sementara anak-anaknya ada di rumah bersama Ibu Cahya. Adityaencoba menghubungi Ariel tetapi sama sekali tidak tersambung, ponsel Ariel sepertinya tidak diaktifkan. "Shiiitt...... Aku masih belum bisa menghubunginya.... Sedang apa dia sebenanrnya, disaat seperti ini malah sulit sekali untuk dihubungi..." Gerutu Aditya.


"Hubungi saja kantornya, jika ponselnya tidak aktif" Sahut Tuan Harry.


"Ah iya, papa benar...." Aditya kemudian berganti menghubungi kantor Ariel.


"Halo...! Ini Aditya"


"Oh selamat siang pak Aditya, ada yang bisa saya bantu???" Tanya sekretaris Ariel.


"Apa Ariel ada, jika ada bisakah kau sambungkan teleponnya?"


"Ada perlu apa ya pak??? Pak Ariel sedang sibuk dan tidak bisa diganggu sama sekali"


Sekretaris Ariel terdiam sesaat tetapi kemudian dia meragu karena tadi dia juga sudah memberitahu Ariel tentang hal itu. "Ehhhh... Begini pak Aditya, tadi ada seorang laki-laki datang dan mengatakan bahwa dia dari perusahaan pak Andi, kemudian menyuruh saya mengatakan hal yang sama seperti pak Aditya katakan tadi pada pak Ariel, tetapi Pak Ariel mengatakan dia tidak peduli lalu menyuruh saya mengusir laki-laki itu dan dia tidak ingin diganggu siapapun saat ini, maaf ya pak....!"


Telepon Aditya kemudian ditutup, Aditya bergumam kesal tentang sikap Ariel yang sangat keras kepala. Jelas-jelas dia sudah tahu tentang hal ini tetapi malah masih memilih untuk mengabaikannya. Ariel benar-benar keterlaluan sekali.


Sampailah Aditya di kompleks perumahan tempat tinggal Pak Andi, terlihat beberapa mobil bak terbuka menurunkan karangan bunga disekitar rumah itu. Suasana rumah juga mulai ramai oleh para pelayat. Randy ternyata juga sudah datang bersama mertuanya dan sedang duduk bersama Danist juga.


Aditya melihat dengan jelas raut wajah Danist yang tampak sedih. Bagaimanapun perlakuan Ayahnya dulu kepadanya juga Mamanya tidak membuat Danist membencinya sama sekali. Danist mau memaafkan dan menerima dengan baik. Sungguh sikap yang luar biasa, sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh orangtua, tugas anak adalah memaafkannya. Aditya heran kenapa Ariel sama sekali tidak bisa sedikitpun menyingkirkan egonya untuk terakhir kalinya agar Ayahnya bisa pergi dengan tenang dan justru sikapnya saat ini sangatlah tidak bisa dicontoh.


Randy berbisik di telinga Aditya menanyakan apakah dia berhasil menghubungi Ariel. Aditya tidak berkata apapun dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kurasa kita harus menunggu sampai Ariel datang, setidaknya dia bisa mengantar Ayah untuk terakhir kalinya" Gumam Danist.


Aditya dan Randy saling berpandangan, mereka tidak bisa mengatakan apa usaha yang sudah mereka lakukan tadi untuk membuat Ariel agar mau datang.


"Ya, kita coba tunggu dia!" Ucap Randy, terdengar dari suaranya dia ragu tetapi tidak ada salahnya berharap Ariel benar-benar akan datang.


Sudah lebih dari 2 jam menunggu, tidak ada tanda-tanda Ariel datang. Randy sendiri masih berusaha menghubungi ponsel Ariel, begitu juga mencoba lagi melakukan hal yang sama seperti Aditya dengan menghubungi sekretaris Ariel, tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Seseorang mendekati Aditya yang berdiri, dan tampak membisikkan sesuatu kemudian Aditya menganggukkan kepalanya.


"Dan....! Kita harus segera membawa Ayahmu ke pemakaman, sebelum hari mulai menggelap" Gumam Aditya pada Danist.


"Tapi pak Aditya, Ariel belum datang!"


Aditya kembali menggelengkan kepalanya. "Tanpa Ariel pun tidak masalah, jangan sampai kita menunggu terlalu lama, kasihan om Andi, jika Ariel terlambat datang itu bukan salah kita, kabar ini sudah tersebar bahkan banyak perusahaan yang mengirim karangan bunga menandakan bahwa mereka sudah tahu akan hal ini, kurasa Ariel juga sudah mengetahuinya dan harusnya dia dudah datang sejak tadi, ayo lakukanlah"


Danist pun menuruti perkataan Aditya, karena memang ada benarnya, tidak baik jika membiarkan Ayahnya terlalu lama menunggu.


*****


Sampai di pemakaman, Danist turun ke liang lahat bersama dengan Aditya juga seorang pemuka agama. Menurunkan pelan jenazah pak Andi, kemudian menyuruh Danist sebagai anggota keluarganya untuk berkenan mengumandangkan Adzan untuk almarhum. Danist sempat melihat ke atas diantara kerumunan orang-orang, berusaha mencari Ariel tetapi tidak menemukannya. Danist juga melirik ke Aditya, dengan berat hati Aditya memejamkan matanya memberi Danist kode agar segera melakukan kewajibannya sebagai seorang anak untuk Ayahnya. Danist kemudian melakukannya sambil menahan airmatanya dan suaranya terdengar bergetar.


Danist mengingat semua kenangannya bersama Ayahnya, setelah mengetahui kebenarannya bahwa pak Andi adalah Ayahnya, lelaki itu selalu mengatakan maaf padanya dan menyesali semua yang pernah dilakukannya dulu. Walaupun sempat ada pemaksaan tentang pembagian asetnya tetapi Danist mencoba memahaminya dari sisi lain, dimana mungkin itu memiliki tujuan yang baik untuknya. Hanya saja Danist tidak ingin membuat keadaan semakin buruk jika dia menerimanya, karena Ariel akan semakin marah dan membencinya yang nanti tidak akan baik untuk Gienka. Dan selama itu pula, Ayahnya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kebahagiaan kepadanya walaupun Danist sendiri merasa bahwa sebenarnya itu tidak perlu, karena yang terpenting adalah hubungan Ayahnya dan Ariel harus diperbaiki lebih dulu. Sayangnya Ariel tidak mau mendengarkan penjelasan apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan disaat seperti ini Ariel juga tidak mau datang.


Sampai akhirnya prosesi pemakaman itu selesai, dan sama sekali Ariel tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan beberapa kali Aditya ataupun Cahya mendengar lirih orang-orang yang menanyakan tentang keberadaan Ariel saat ini. Aditya hanya bisa menghela napasnya panjang dan tidak bisa lagi berkata apapun tentang sikap buruk Ariel saat ini. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh sahabatnya itu saat ini.